
Hubunganku dengan Eric mulai tersebar. Yang kudengar adalah rumor buruk tentangku. Setelah dicampakkan oleh Tuan Skyrise, Nona Moonlight menggoda Raja. Ini gila aku tidak pernah menggoda Eric, dialah yang mengejarku. Kurasa karena terlalu cepat berganti pasangan aku jadi dicap sebagai perempuan murahan. Apa aku batalkan saja pertunangan ini? Kalau begitu Eric akan sakit hati karena dia telah kupermainkan.
Aku menghela napas panjang.
"Ada apa, Diana?" tanya Eric di sampingku.
Dia menggandeng tanganku. Kami berkeliling di festival.
"Aku mendengar rumor kalau diriku menggoda raja," jawabku enggan.
Eric terkekeh pelan lalu bersikap serius. "Akan kuredam rumor itu. Akan kusebarkan bahwa Raja tergila-gila padamu."
"Sudahlah tidak apa-apa, Eric. Yang terakhir lebih baik jangan dilakukan, karena citramu sebagai Raja yang tegas dan bijaksana akan luntur," tegasku sambil melihat ke arah depan.
"Baiklah, Diana." Eric terdengar kecewa. Dia malah senang disebut tergila-gila padaku.
"Ini pertama kalinya kamu ke festival ya?" celetukku.
"Benar, aku tidak mempunyai waktu untuk datang ke festival."
"Kalau begitu, bersenang-senanglah hari ini, Eric." Aku tersenyum ke arahnya. Lalu menariknya menuju gerai makanan.
Aku membeli berbagai makanan untuk Eric agar dia mencobanya. Dia pasti belum pernah memakan makanan seperti ini. Saat melihat betapa banyaknya makanannya yang kubeli dia geleng-geleng kepala. Dia mencobanya dengan enggan. Namun, begitu mencecap dengan lidahnya, dia terlihat senang.
"Ini sangat enak, Diana. Aku tidak menyangka makanan di sini seenak ini." Dia memakan makanan yang kuberi satu persatu.
Aku mengangguk sambil melihatnya melihat makan dengan lahap. Senang sekali melihat Eric bahagia seperti ini. Kehidupan di istana pasti sangat membosankan. Dia pasti suntuk dengan pekerjaan. Aku kagum dengan dirinya yang bisa bertahan hidup di istana selama ini.
Mata Eric tertuju pada salah satu gerai permainan. Aku mengajaknya ke sana. Beberapa papan berbentuk lingkaran dengan lingkaran merah di tengahnya bergeser ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Pemain harus mengenai lingkaran merah itu dengan jarum es untuk mendapat hadiah. Semakin kecil lingkaran yang kena hadiahnya semakin menarik.
Eric mencoba memainkannya. Dia mengeluarkan sihir jarum es sambil berkonsentrasi. Dia meluncurkan jarum esnya. Sihirnya mengenai lingkaran yang paling kecil. Dia mendapat hadiah sebuah batu permata. Tak tahu mau diapakan dia memberikannya padaku.
"Tidak perlu, Eric. Kamu yang memenangkannya," tolakku.
__ADS_1
"Aku bebas memberikannya kepada siapa pun, Diana. Jadi terimalah," paksanya.
Dia memegang tanganku menaruh batu permata berwarna merah itu di tanganku, lantas menggenggam erat tanganku.
"Baiklah."
Kali ini aku kalah, tetapi akan kubuatkan bros untuknya dengan ini.
Kami melihat parade pertunjukkan sihir. Sihir-sihir yang dilancarkan di udara menciptakan gemerlap cahaya. Sihir bukan cuma digunakan untuk melukai, melindungi, menyembuhkan, meracuni, berkomunikasi dengan orang lain. Sihir juga bisa menjadi seni.
Banyak anak-anak yang berjajar melihat parade ini. Mereka takjub melihat keindahan yang diciptakan oleh sihir. Orang tua mereka berdiri di belakang menjaga anak-anaknya.
Eric yang tidak pernah melihat sihir sebagai seni, terkesima sambil menatap langit. Dia seperti anak kecil saja. Kurasa dulu aku juga seperti ini.
"Indah bukan?" tanyaku sambil memandanginya.
Eric mengangguk masih terpaku pada gemerlap cahaya sambil berkata, "Benar-benar indah."
Aku ikut menatap langit malam yang dihiasi cahaya sihir. Sungguh menentramkan hati dan melegakan pikiran yang kacau. Kurasa setelah ini aku baru bisa mengatakan rencanaku yang konyol.
"Terserah ke mana pun asal bersamamu, Diana."
Ternyata ada sisi lain tentang dirinya yang tidak kuketahui. Dia ingin menempel pada orang yang disukainya.
"Kita beristirahat dulu di alun-alun. Ada yang ingin kukatakan kepadamu," kataku.
"Baik, Diana."
Kami berjalan menuju ke alun-alun masih bergandeng tangan. Eric sama sekali tidak mau melepas tanganku.
Lalu kami bertemu dengan orang yang kukenal. Laki-laki berambut biru kehitaman dan gadis berambut pirang sedang berjalan berdampingan. Keduanya sempat terkejut melihat kami. Eric segera melepas tangannya lalu merangkulku. Dia menatap laki-laki itu dengan tajam. Mereka masih saja tidak akur.
Keith membalasnya dengan tatapan yang sama. Stella merangkul lengan Keith menunjukkan kemesraan mereka. Sekarang dia bisa bebas berbuat apa pun. Aku tidak bisa melarangnya karena Keith bukanlah siapa-siapaku.
__ADS_1
Mereka mendekati kami menyapa Eric. "Salam kepada, Yang Mulia."
Eric menerima salam mereka lalu melanjutkan perjalanan kami. Aku merasa ada yang menatapku dari belakang. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Punggung Stella dan Keith semakin menjauh menuju parade. Aku kembali melihat ke depan. Sepertinya cuma perasaanku saja.
Kami sudah tiba di alun-alun duduk kursi dekat air mancur. Orang-orang masih berlalu lalang menikmati jalannya acara festival. Mereka menuju tujuan masing-masing, entah ke gerai makanan, permainan atau melihat parade. Sedangkan aku duduk di sini merasa tidak mempunyai tujuan. Harusnya hatiku merasa senang.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Diana?" tanya Eric membuyarkan lamunanku.
"Ini tentang penjagaan orang-orang terlantar. Aku tahu ini sangat berisiko. Orang kita sangat terbatas. Bagaimana kalau kita berpura-pura menghentikan penjagaan? Lalu meminta penyihir istana untuk berjaga. Bangsawan yang terlibat dengan pembunuh itu tidak akan tahu rencana ini. Mungkin pembunuh itu akan muncul lalu kita bisa menangkapnya," tuturku ragu-ragu.
Eric terdiam sambil berpikir. Aku menlanjutkan perkataanku, "Tidak perlu dilakukan tidak apa-apa. Ini hanyalah usul belaka. Kalau memang akan memakan korban lebih baik lupakan saja.
"Aku akan memikirkannya semalaaman, besok akan kuberi tahu keputusanku, Diana," katanya menerima pendapatku.
"Terima kasih, Eric."
"Ini sudah malam, kita pulang saja bagaimana?" Dia berdiri sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Baik," jawabku singkat sambil meraih tangannya.
Eric mengantarku pulang ke kediamanku. Selama perjalanan tidak ada perkacapan di antara kami, tetapi bisa kulihat Eric sangat menikmati festival tadi. Setelah sampai di kediamanku. Dia keluar duluan untuk membantuku turun dari kereta kuda. Dia masih menggenggam tanganku seolah-oleh tidak ingin melepaskannya apa pun yang terjadi.
"Apa aku boleh memelukmu, Diana?" tanyanya malu-malu.
"Boleh saja."
Lagipula masih ada orang yang melihat kami.
Eric memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya.
"Aku sangat senang hari ini, Diana. Kuharap waktu bisa berhenti saja. Namun, jika begitu perasaanmu padaku tidak akan tumbuh. Jadi aku mengharapkan hal lain yaitu bisa menjalani hari seperti ini di esok hari," ujarnya di dekat telingaku.
Kuharap bisa semudah itu, tetapi perasaanku masih kering.
__ADS_1
Eric melepas pelukanku lalu tersenyum. Kubalas senyumannya. Dia berpamitan sambil mencium tanganku. Kereta kudanya perlahan menghilang. Senyum yang kupaksakan perlahan sirna.
Ini menyedihkan. Terutama diriku. Cinta yang diberikan temanku dengan tulus sulit untuk kubalas. Entah sampai kapan akan seperti ini.