Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 36 Pertunangan Kontrak Baru


__ADS_3

Berada di ruang kerja untuk mengerjakan dokumen-dokumen menjadi keseharianku sekarang. Tidak ada lagi canda tawa dengan Iris ataupun Keith di sini. Sejak pertunanganku dengan Keith dibatalkan, kakak beradik Skyrise tidak datang ke sini. Aku juga tidak datang ke sana karena akan mengingat ibu mereka.


Lalu kudengar Stella sering datang ke kediaman Skyrise. Pasti dia sangat senang karena kemenangannya. Tak ada yang mengganggunya lagi untuk mendapatkan Keith. Keith juga bisa mendapat cinta masa kecilnya. Aku tak tahu apakah Keith menganggap Stella sebagai teman atau perempuan. Dia benar-benar tidak bisa ditebak. Dari caranya memperlakukan Stella kupikir dia menghindarinya karena pertunangan kami, tetapi tatapan Keith waktu itu seperti orang yang mencintai kekasihnya.


Atau mungkin akulah yang tidak bisa membedakannya. Bahkan setelah bertemu Keith berulang kali, aku salah paham atas perasaannya padaku. Dia hanya melakukan semuanya sesuai kontrak tidak lebih.


Di kehidupanku kali ini aku tidak marah kepadanya. Meski tidak bisa balas kepada Keith aku sedih atau kesal. Dia sudah cukup menderita.


Sekarang aku merasa kesepian. Aku melihat keluar jendela. Orang terlantar yang kupekerjakan menjalan tugasnya dengan baik. Tidak ada tanda-tanda bermalas-malasan. Bahkan ketika aku pergi kepala bilang padaku kalau orang itu telah bekerja dengan baik.


Meski membosankan aku harus melaksanakan tugasku untuk menjaga orang terlantar lagi. Eric memerintah penyihir istana menggantikan bangsawan yang merasa lelah atau dilanda bencana seperti Keith. Kami sudah melaksanakan tugas dengan baik jadi Eric membebaskan kami dari tugas selama seminggu lebih sejak Ibu Keith kritis hingga meninggal. 


Kali ini aku akan sendirian menjaga orang terlantar itu. Aku menghela napas panjang. Hari-hariku bakal tidak menarik. Ketukan pintu terdengar. Kepala pelayan masuk menyampaikan sesuatu, "Nona, Anda kedatangan tamu. Beliau sudah menunggu di ruang tamu."


Siapa dia? Apakah Derek? Atau malah Iris? Atau Keith? Siapa pun itu aku harus menemuinya.


"Baiklah aku akan ke sana. Siapkan camilan dan teh untuknya."


"Baik, Nona." Kepala pelayan menunuduk, segera pergi menjalankan perintahku.


Aku menuju ruang tamu. Orang yang duduk di sana tidak seperti yang kuperkirakan. Aku tidak mengira dia akan ke sini. Langkahku yang sempat terhenti, kulanjutkan kembali hingga mencapai kursi di hadapan orang itu. Aku duduk sambil menatap mata orang itu keheranan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Diana?" tanya orang itu sambil memicingkan mata.


"Tidak kusangka kamu akan datang ke sini Eric," jawabku sambil memiringkan kepala.


Eric tidak pernah datang ke sini sudah lama sekali. Terakhir kali adalah saat ayahku masih hidup. Beliau membicarakan sesuatu dengan Raja.


"Kudengar kalau pertunanganmu dibatalkan," ucapnya dengan suara rendah.


"Itu benar," jawabku singkat. Desas desus menyebar cepat sekali.


"Kalau begitu, sekarang aku boleh mendekatimu bukan?" 


Eric menepati ucapannya waktu. Dia bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hatiku. Kurasa tidak ada salahnya memberinya kesempatan. 


"Lakukanlah sesukamu, Eric."

__ADS_1


"Terima kasih, Diana." Eric tersenyum lebar ke arahku.


Aku membalas senyumnya. Aku harus melangkah ke depan, bukan terus melihat ke masa laluku. Perbuatan Eric dan Keith di masa lalu akan kucoba maafkan. Waktu itu aku terlampau marah hingga tidak bisa berpikir jernih. Segala perbuatan mereka menurutku salah tanpa melihat dari sisi mereka. Namun, untuk tindakan Trevor aku masih belum bisa memaafkannya.


"Apa ada orang yang memberikan surat lamaran padamu, Diana?" tanya Eric.


"Belum ada, kurasa gosip tentang pertunanganku yang dibatalkan belum beredar luas."


Jika sudah, pasti banyak lamaran yang menghampiri diriku. Derek juga pasti akan datang ke sini.


"Kalau begitu, bagaimana bertunangan saja, Diana?" 


Mataku membesar. Belum sempat kujawab, Eric melanjutkan, "Pertunangan kontrak saja. Aku akan mendekatimu perlahan. Kalau kamu benar-benar jatuh cinta padaku maka pertunangan ini jadi sungguhan. Jika tidak kamu bisa membatalkannya kapan saja."


Ini adalah ide yang bagus tetapi ada yang mengganjal di hatiku. Pertunangan kontrak dengan Eric hanya menguntungkan diriku. Aku bisa terbebas dari pelamar-pelamar itu, tetapi dia tidak mendapat apa pun. "Tidak ada yang bisa kuberikan padamu, Eric. Kamu sudah mempunyai segalanya."


"Ada yang belum kupunya yaitu dirimu, Diana. Kamu bisa membuka hatimu untukku," katanya lembut.


Aku menghela napas, memantapkan pikiranku. "Baiklah, kita tulis surat perjanjiannya."


Eric mengangguk. Kertas dan pena melayang ke arahku. Aku menulis beberapa syarat yang mirip dengan surat pertunangan kontrakku dengan Keith.


Pihak pertama dan pihak kedua setuju untuk bertunangan dengan syarat:


1. Bersikap harmonis di depan orang lain.


2. Saat masa kontrak pihak pertama dan kedua harus membantu satu sama lain.


3. Salah satu pihak dapat membatalkan kontrak tanpa persetujuan pihak lain apabila ada yang melanggar persyaratan kontrak.


4. Pihak pertama datang ke istana tiap minggu sekali. Pihak kedua datang ke kediaman Moonlight seminggu sekali atau bila tidak sibuk.


5. Memberitahu keadaan satu sama lain. Agar bila salah satu pihak mengalami kesusahan pihak lain bisa membantu.


^^^Pihak pertama : Diana Moonlight^^^


^^^Pihak kedua : Eric Sunborn^^^

__ADS_1


Tidak ada lagi perihal memberikan uang, karena Eric sama sekali tidak membutuhkannya. Aku menyerahkan surat ini pada Eric. Dia membacanya dengan seksama. Lalu mengembalikannya padaku.


"Aku setuju, Diana."


"Kalau begitu mari kita tanda tangani ini."


Kami membubuhkan tanda tangan pada surat pertunangan kontrak ini. Dengan ini kami sudah bertunangan.


Senyum lebar Eric terus mengembang. "Dengan ini aku bisa menggandeng tanganmu dan merangkulmu bukan?" tanya Eric malu-malu.


"Tentu saja, saat di depan umum kalau saat berduaan begini aku masih menganggapmu sebagai teman, Eric." Kutekankan hal ini padanya.


"Baiklah aku tahu. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Terima kasih telah memberiku kesempatan Diana." Dia tetap tersenyum meski tadi aku menarik garis batas padanya.


Sekarang akulah yang membatasi diri dengan dirinya. Selama ini Eric menciptakan tembok tak terlihat di antara kami untuk menjaga perasaanku. Karena terbakar cemburu dia merobohkan tembok itu untuk mendapatkan cintaku.


"Bukan, masalah Eric."


"Kalau begitu kapan kita berkencan?" tanyanya dengan bersemangat.


Aku menaruh jariku di pelipisku untuk berpikir. Festival yang tidak bisa kudatangi dengan Keith, sepertinya itu ide bagus.


"Bagaimana kalau saat festival di ibu kota minggu depan?" usulku.


"Ide bagus, Diana. Aku akan ke kediamanmu untuk menjemputmu," jawab Eric kegirangan.


"Baiklah Eric."


Aku ikut merasa senang, tetapi ada yang kurang.


"Mulai sekarang akan kuluangkan waktu untuk datang ke kediamanmu, Diana."


"Aku juga akan ke istana. Oh ya, mulai besok aku akan menjaga orang terlantar itu."


"Baik, Diana. Sebenarnya aku berharap pembunuh itu bisa ditangkap, tetapi sepertinya akan sulit. Dengan mencegahnya juga tidak masalah."


Eric pasti sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Tentang rencana yang sangat berisiko itu mungkin akan kukatakan padanya saat festival saja pelan-pelan. Aku dia memikirkannya dengan matang. Semoga dengan rencanaku dia terpikirkan rencana yang lebih baik lagi.

__ADS_1


"Kuharap pembunuh itu segera ditangkap agar Kerajaan damai kembali," kataku lirih.


Eric mengangguk berpamitan pulang. Dia mengandeng tanganku saat keluar dari ruang tamu. Senyum merekah di bibirnya. Aku berusaha ikut tersenyum. Hatiku merasa resah.


__ADS_2