
Tidak ada yang menyambutku di kediaman ini. Aku sudah memberi kabar kepada Kepala Keluarga Moonlight tentang kedatanganku, seharusnya ada yang mengantarku. Dia benar-benar bertindak seenaknya sendiri, mentang-mentang punya banyak uang.
Aku memasuki kediaman Moonlight dengan celingukan, berharap bertemu dengan pelayan yang lewat. Namun, sia-sia aku tidak melihat siapa pun. Bagaimana caranya aku tahu tata letak kediaman ini kalau tidak ada yang membimbingku?
Lalu aku melihat seorang gadis berambut silver dan mata emas sedang mengamatiku. Untung ada pelayan yang lewat. Aku langsung menghampirinya menanyakan tempat ruang kerja kepala keluarga, tetapi dia tidak menjawab malah merogoh sesuatu di sakunya. Kenapa pekerja di sini juga seperti ini?
Sebelum prasangka burukku meluas, dia menulis sesuatu lalu menyodorkannya padaku. Catatan itu mengatakan dia akan mengantarkan aku ke ruang kerja kepala keluarga. Aku berusaha mencerna kejadian tadi sambil berjalan di belakangnya. Pelayan ini bisu. Sayang sekali padahal dia memiliki wajah yang cantik.
Tiba-tiba dia berhenti, menulis di catatannya lagi. Dia memberikannya padaku. Dia menanyakan siapa diriku dan keperluanku di sini. Aku bertanya-tanya siapa pelayan ini? Kenapa bisa lancang sekali?
Aku berusaha untuk tidak marah dan memakluminya. Mungkin dia merasa was-was atau sifatnya memang seperti ini. Aku memperkenalkan diriku dan tujuanku kemari.
Dia mengambil catatan itu, menggoreskan pena di sana, lalu menyerahkannya padaku lagi. Permintaan maaf atas kelancangaannya tertuliskan di sana. Syukurlah dia tahu. Ternyata dia masih punya sopan santun. Aku salah paham, gadis ini hanya takut dengan orang yang tidak dikenal karena tidak bisa berteriak.
Aku memaafkannya, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dia berhenti di depan pintu. Pasti ini ruang kepala keluarga. Dia mengetuk pintu, lantas membukanya. Dia masuk terlebih dahulu lalu aku mengikutinya.
Kepala Keluarga Moonlight menghampiriku meminta maaf karena tidak menyambutku. Pasti itu hanyalah alasannya belaka. Aku melirik sepintas ke pelayan yang berdiri di dekat kami. Dia menatap kami berdua lekat-lekat.
"...sebagai gantinya adik saya sudah mengantar Anda," ucap Kepala Keluarga Moonlight
Aku menoleh ke arah pela-, bukan, adiknya. Apa aku tidak salah dengar? Bukannya anak perempuan keluarga Moonlight buta dan wajahnya jelek? Rumor itu salah, tidak sepenuhnya salah, karena dia memang bisu atau cacat. Bodohnya aku tidak mengenalinya padahal warna mata dan rambutnya sama dengan kakaknya.
Aku meminta maaf kepadanya. Dia memaafkanku. Tanpa sadar bibirku tersenyum melihatnya. Tunanganku. Mata emasnya sangat indah seperti bulan purnama. Jantung berdebar saat dia menatap mataku. Aku jatuh cinta kepadanya.
***
Aku sering berkunjung ke kediaman Moonlight hampir setiap hari. Untuk memberikan ramuan kepada Trevor atau pun bertemu dengan Diana. Setiap malam aku merindukan Diana. Aku ingin menemuinya, berbicara, menghabiskan waktu dengannya.
Aku mengajaknya berbincang-bincang di taman sambil menyantap kue yang kubawa dari sebuah restoran. Iris yang memberi saran, "Gadis bangsawan biasanya menyukai makanan manis dan bunga." Aku mengikuti sarannya, jadi kue ini sudah tersaji di depan kami. Buket bunga yang kubawakan diletakkan di samping kursi Diana. Dia terlihat senang saat menerimanya tadi.
Diana tidak terlihat antusias memakan kue itu. Senyumnya dipaksakan. Iris salah tentang kue.
"Apa tidak enak, Diana?"
__ADS_1
Dia menggeleng mencari catatan yang biasa dibawanya.
'Seharusnya rasanya enak tetapi aku tidak mencicipi rasa makanan.'
Mataku melebar. Dia tidak bisa merasakan makanan. Aku menunduk. "Maafkan aku. Aku tidak tahu, Diana."
Dia terlihat panik mengibas-ibaskan kedua tangannya. 'Tidak apa-apa. Kamu bisa memakan semuanya.'
Kedua sudut bibirnya terangkat untuk menenangkanku. Sangat manis. Aku menyukainya saat tersenyum. Rumor tentang sifatnya yang buruk tidak benar. Meski dalam kondisi seperti itu, dia terlihat kuat dan senang. Ini membuatku semakin jatuh hati padanya.
Tanganku menyentuh tangannya tanpa sepengetahuanku. Begitu menyadari hal ini aku segera menariknya. Mungkin dia tidak menyukai hal ini. Aku harus menahan diri untuk tidak berbuat macam-macam kepadanya.
***
Karena tidak sabar bertemu dengan Diana lagi, aku mendatangi saat malam hari. Dia bertanya-tanya kenapa aku datang ke sini. Aku mengajaknya untuk terbang bersamaku. Diana dengan senang hati menerima tawaranku. Dia terlihat bosan berada di kediamannya. Trevor tidak pernah mengizinkannya keluar karena takut rumor buruk tentang Diana bertambah lagi yang bisa mencoreng nama keluarga mereka.
Tangannya dilingkarkan ke leherku. Kami sempat bertatapan sekilas membuat jantung berdegup kencang. Aku terus berusaha menenangkan diri. Aku takut dia mendengar suara jantungku yang tidak karuan ini. Dia sukses membuatku tergila-gila padanya.
Aku menurunkannya pada kota terdekat dengan kediamannya. Tidak tahan lagi, tanganku langsung menggandengnya dengan erat berkeliling kota. Dia tertawa tanpa suara karena merasa senang. Kami kembali ke kediamannya dengan berteleportasi. Ternyata itu adalah sihir uniknya. Kami berdua saling mengetahui sihir unik masing-masing, sudah seperti kekasih sungguhan saja. Kami memang bertunangan tetapi karena terpaksa. Aku mencintainya, tetapi perasaannya padaku aku tidak tahu. Kuharap dia juga mencintaiku. Aku mencium tangannya mengucapkan selamat tinggal padanya. Berharap besok malam akan berkeliling dengannya lagi.
***
Beberapa hari ini, Diana menjaga jarak denganku. Dia tidak menatapku dan menolak setiap kali aku mengajaknya jalan-jalan saat malam hari. Mungkinkah dia sudah bosan denganku? Ataukah marah denganku karena tidak datang beberapa hari yang lalu disebabkan menghadiri pesta?
Entah bagaimana caranya aku berharap bisa berbaikan dengannya lagi. Tiba-tiba Diana memegang jarinya. Darah mengalir dari sana. Aku sangat khawatir membawanya ke kamar untuk mengobatinya.
Aku meninggalkannya sebentar menuju ruang kerja Trevor mengambil obat-obatan karena tidak terlihat pelayan di mana pun. "Kenapa kamu ke sini dengan tergesa-gesa begitu?" tanya Trevor.
"Jari Diana terluka, aku butuh obat-obatan," jawabku dengan cepat, tidak bisa menutupi kekhawatiranku.
Trevor mengambil obat-obatan, kapas dan plester. Dia menyerahkan itu semua padaku. Aku hendak pergi tetapi dia menarik lenganku.
"Tenangkan dirimu, minumlah ini terlebih dahulu." Dia menyodorkan gelas berisi air putih.
__ADS_1
Aku segera menegaknya. "Terima kasih."
Kakiku segera melangkah dengan cepat menuju kamar Diana. Dia masih duduk di pinggir kasur. Aku segera mengobati jarinya yang terluka. Tanganku terus mengelus-elus jarinya. Aku tidak ingin melihatnya terluka.
Tangannya terasa lembut. Aku ingin merasakan kelembutannya lebih banyak lagi. Baunya sangat harum. Mungkin dari rambutnya. Aku meraih rambutnya yang indah. Terasa lembut di tanganku. Aku mencium rambu silver ini menikmati keharuman seperti bunga ini.
Tubuhku terasa aneh. Atau lebih tepatnya mataku. Hari ini Diana sangat cantik sekali. Tanganku membelai pipinya yang mulus. Wajahnya terasa hangat. Aku membaringkannya di kasur.
Kutatap matanya yang berada di bawahku. Lalu bibirnya. Aku ingin merasakannya. Sudah lama aku ingin menciumnya. Tidak bisa kutahan lagi. Bibirku semakin mendekatinya. Ini akan menjadi ciuman pertama kami.
Kenapa aku tiba-tiba seperti ini? Padahal tadi aku sangat khawatir, tetapi kenapa tiba-tiba aku sangat menginginkannya? Apa Diana akan membenciku karena telah merebut ciuman pertamanya?
Tubuhku terasa panas. Aku menghentikan tindakanku. Air dari Trevor. Jangan-jangan ini ulahnya untuk membuat Diana membenciku. Aku mengumpat. Darahku sudah mencapai ubun-ubun. Bila berada di sini sesuatu yang lebih parah akan terjadi.
Kusudahi semua ini keluar menuju ruang kerja Trevor. Aku meminum ramuan untuk menangkal racun yang dibawakan oleh Iris sambil melangkah keras. Untungnya Iris masih curiga pada Trevor bila tiba-tiba meracuniku. Tubuhku merasa lebih baik.
Kubanting pintu sambil mencengkeram kerahnya. "Apa yang kau masukkan dalam minumanku tadi?"
"Ternyata kau tahan juga. Padahal kukira kau sudah terlena dan berduaan dengan Diana," ucapnya dengan nada menyebalkan.
"Kenapa kau melakukan ini? Apa kau tidak apa-apa bila adikmu ternodai?" suaraku semakin meninggi.
"Aku ingin melihatnya hancur. Meskipun kau mengatakan hal ini, kurasa dia tidak akan mempercayaimu," jawabnya dengan sinis. Dia menyeringai lebar.
"Br*ngsek." Aku meninjunya tetapi dihalangi oleh sihir pelindung. Dia menghempaskanku dengan sihir angin. Tubuhku tertabrak tembok. Kugertakkan gigiku sambil mengeluarkan bola sihir.
"Jangan berani-berani melukaiku kalau tidak ingin uang yang kuberikan pada kalian berhenti. Lalu, aku juga akan menyiksa Diana," ancamnya.
Aku mendengus sambil membatalkan sihirku. Suatu saat aku pasti akan membalas perbuatannya. Aku keluar dari sini terhenti di depan kamar Diana. Tanganku hendak membuka pintu tetapi terhenti. Dia pasti membenciku sekarang. Aku hendak melakukan hal buruk kepadanya. Tanganku terkepal erat.
Aku pasti akan membawamu keluar dari sini Diana.
Namun, hari itu ibuku malah kritis.
__ADS_1