Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 43 Pembunuh Kabur


__ADS_3

Mata biru itu menoleh ke arah Derek dengan tatapan tajam seolah-olah ingin membunuhnya, berbeda ketika mata kami saling bertemu tadi.


"Jadi kau mau membunuhku juga di kehidupan kali ini?" Derek tersenyum miring.


"Tidak seharusnya kau hidup, banyak nyawa yang menghilang karenamu." Keith mengeluarkan bola sihir berwarna hitam. 


"Apa kau pikir bisa mengalahkanku? Ini tidak seperti waktu itu Skyrise. Kekuatan sihirku lebih kuat daripadamu," ejeknya.


Entah berapa orang yang sudah dia serap, tetapi Keith tidak sendirian.


"Jangan lupakan aku, orang gila." Bola-bola sihir sudah berada di sampingku.


Masalah Keith bisa kuurus nanti. Aku perlu membereskan orang ini dulu. Tidak ada waktu untuk bermain-main melawan orang gila ini. Dengan menggabungkan kekuatan, ada kemungkinan kami bisa mengalahkannya.


"Pasangan yang sangat serasi, tetapi kalian tidak akan bisa mengalahkanku." Derek menjentikkan jarinya mengeluarkan puluhan bola sihir. 


Ini lebih banyak daripada saat melawanku sebelumnya. Waktu itu dia sama sekali belum serius melawanku, tetapi aku juga sama. Kelengahanku kemarin tidak akan terulang lagi.


Kami bertiga melancarkan bola sihir kepada musuh masing-masing. Keith berusaha menghindari bola sihir Derek. Sedangkan Derek berlindung dari serangan kami. Aku segera berteleportasi di belakangnya lalu melancarkan jarum es. Pelindung Derek mulai retak, jarum esku berhasil mengenainya walau hanya satu. Mengabaikan rasa sakitnya, Derek menghempaskanku dengan sihir angin. Pelindung segera kukerahkan sebelum tubuhku tertabrak tembok. Keith menghentikan pergerakan Derek dengan rantai. Aku memanfaatkan kesempatan ini dengan membuat pusaran api mengitarinya. Seharusnya dengan ini dia sudah kalah. 


Jarum es melesat ke arahku. Secara reflek aku menghindarinya tetapi jarum itu berhasil mengiris lenganku. Derek masih berdiri meski tubuhnya terluka. Keith tanpa berbelas kasih menyerangnya dengan jarum yang dibuat dari bola sihir. Derek menahannya dengan pelindung sambil menyeringai. 


Kenapa dia masih bisa tersenyum walaupun tersudut seperti ini? Apa yang dia rencanakan?


Kukumpulkan seluruh kekuatanku pada satu bola sihir. Jarum sihir milik Keith menembus pertahanan Derek, tetapi pembunuh itu mampu menyerang balik dengan membuat jarum es yang tumbuh di kaki Keith. Keith meringis kesakitan.

__ADS_1


Bola sihirku semakin besar. Ini sudah cukup kuat, lalu kuarahkan bola sihirku pada pembunuh itu. Keith membuat rantai sihir kembali. Derek yang tidak mampu bergerak menciptakan pelindung tetapi perbuatannya sia-sia. Sihirku menebus pertahannya, membuatnya babak belur. 


Aku dan Keith mendekatinya. Kekalahan Derek sudah dipastikan tetapi dia masih menyeringai.


"Ha... Ha... Ha..." Suara tawa Derek terdengar hingga seluruh ruangan. 


Dia merogoh mencari sesuatu. Jangan-jangan ramuan sihir. Jika dia memulihkan diri, keadaan akan berbalik merugikan kami. Aku segera berteleportasi ke sana, mencengkeram tangannya. Ternyata kosong. Aku tertipu. Bola sihir dikerahkan kepadaku. Tubuhku melesat jatuh. Tanpa disangka langit-langit mulai bergemuruh, ini ulah Derek. Kediaman ini akan runtuh. Jadi ini rencananya dari tadi.


Derek segera melarikan diri. Ketika hendak bertelepotasi sekali lagi kakiku tertancap jarum es yang dilontarkannya. Konsentrasiku buyar, tubuhku kehilangan keseimbangan. Keith bergegas menghampiriku dengan terbang, membiarkan Derek kabur. Pembunuh yang sudah ada di depan mata malah lenyap begitu saja. Ini menyebalkan. Padahal tinggal sedikit lagi.


"Apa yang kau lakukan? Seharusnya kejar saja pembunuh itu," protesku.


Keith bersujud sambil menyingkirkan es dari kakiku. "Keselamatanmu lebih penting, Diana."


Runtuhan bangunan mulai berguguran. Meski membuat pelindung kami tidak akan selamat. Aku menggenggam tangan Keith lalu berteleportasi ke kamarku. Karena panik, hanya tempat ini yang terlintas di pikiranku.


"Apa kamu baik-baik saja Diana?" tanyanya khawatir.


Segera kujauhkan tubuhku darinya. "Berhentilah berpura-pura baik, baj*ngan. Apa kau senang mempermainkan, membodohi, dan membohongiku selama ini?" suaraku semakin tinggi.


Dia pasti menikmati melihatku seperti orang bodoh yang menghamburkan uang demi ibunya. Aku hanyalah sebatas sumber uang baginya. Pasti dia mengulang waktu karena berusaha menyelamatkan ibunya, tetapi tidak ada yang berubah. Ibunya tetap meninggal.


"Itu tidak benar, Diana. Aku benar-benar peduli padamu." Suara Keith memelan berusaha menyakinkanku.


Aku tidak mempercayainya. Dia pandai sekali mengucapkan kata-kata manis.

__ADS_1


"Omong kosong! Selama ini, kau hanya kasihan padaku karena kecacatanku!" teriakku. 


"Aku mencintaimu, Diana. Dari kehidupan sebelumnya hingga sekarang." Mata Keith berkaca-kaca.


"Jangan berbohong! Pergilah! Aku membencimu!" Kudorong tubuhnya.


Keith mundur perlahan dengan kernyitan dahi dan tatapan tersakiti. Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipiku. Semua kenangan yang terlintas di pikiranku bersama dengannya berubah menjadi kepedihan belaka.


Aku memutar tubuhku karena tidak ingin dia melihatku menangis seperti ini. Dua lengan menyelimuti tubuhku. Keith menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Kamu boleh membenciku sepuasnya, tetapi biarkanlah aku tetap di sampingmu, Diana. Biarkanlah aku melindungimu," ucap Keith dengan suara gemetar dan penuh keputus asaan.


Aku berusaha melepaskan pelukanya tetapi malah semakin erat. Dia tidak melepasku meski aku meronta-ronta. Pelukannya sama sekali tidak mengendur.


"Aku tidak perlu bantuanmu! Melihatmu saja membuatku sakit, Keith!" Aliran dari mataku semakin tidak terbendung. Aku terisak-isak. 


"Kumohon, Diana. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," jawab Keith lirih.


"Kalau begitu kenapa kau meninggalkanku waktu itu? Kenapa kau tidak datang menyelamatkanku? Dunia penuh kehampaan dan tanpa suara itu menyiksaku. Aku terus menunggumu hingga kematianku." Suaraku gemetar mengatakan hal ini.


Aku berharap pahlawanku akan datang meski kemungkinannya hanya sedikit. Rasa cintaku dan harapanku padanya masih tersisa hingga sekarang. Bodohnya aku.


"Maaf, maafkan aku. Seharusnya aku datang lebih cepat. Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu hingga kamu kehilangan inderamu lagi Diana. Seandainya aku lebih kuat pasti kamu bisa segera keluar dari jeratan kakakmu. Aku terlalu bodoh menganggap dirimu sudah aman karena kakakmu sudah kubunuh. Lalu aku kehilanganmu karena kelengahanku. Seharusnya aku tetap di sampingmu agar Derek tidak membunuhmu saat berada di kediamanku." Air mata Keith membasahi bajuku.


Dia terlihat bersungguh-sungguh. Namun, bisakah aku mempercayainya? Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya? Kepalaku tidak bisa mencerna semuanya. Aku tidak mampu membalasnya. Pikiranku terlalu penuh.

__ADS_1


Keith menunggu jawabanku tetapi begitu tak ada kata yang terucap dari mulutku dia melanjutkan, "Aku akan menjelaskan semuanya, Diana. Tentang Trevor, bagaimana kami bisa bekerja sama hingga aku bertunangan denganmu, perasaanku yang sebenarnya, kebenaran yang tidak kamu ketahui, kematianmu, dan alasanku mengulang waktu."


Tanpa mendengar persetujuanku, dia menceritakan semuanya padaku perlahan. Aku mendengarnya dengan saksama sambil mencengkram kuat lengannya yang memelukku. Kebenaran yang mungkin menyakitkan akan terungkap.


__ADS_2