
Aku berhasil menangkap pembunuh penyihir itu. Dia berusaha menculik anak keluarga bangsawan yang kulindungi. Tanpa perlawanan berarti dia kalah. Pembunuh itu kubawa ke istana. Penyihir istana menyeretnya di depan Raja. Aku pulang tanpa menunggu Raja selesai mengintrogasi pembunuh itu. Kembali pada Diana dan Iris lebih penting.
Begitu menelapakkan kaki di kediamanku kukerjapkan mata berkali-kali. Muncul asap dari dari belakang kediamanku. Kakiku segera berlarian mencari Iris dan Diana.
Apa ada penyusup?
Langkahku terhenti. Mataku tertuju pada tubuh Iris yang terkapar tak sadarkan diri bersimbah darah di ruang tengah. Aku segera bersujud di dekatnya. Kuguncang tubuh Iris. "Iris, apa kamu tidak apa-apa? Katakan sesuatu Iris." Tidak ada jawaban. Kucoba dengarkan detak jantungnya dan memeriksa napasnya. Tak ada suara jantung dan napas yang berhembus. Aku menggenggam erat tubuh adikku sambil menangis.
Kenapa kamu meninggalkanku duluan Iris?
Adik yang terkadang membuatku kesal. Adik yang menyemangati dan mendukungku di saat aku bersedih. Adik yang ingin kulindungi. Sekarang tidak bernyawa. Senyum, tawa, kemarahan, kesedihannya tak bisa kulihat lagi.
Tanganku berlumuran darah. Darah Iris masih terasa panas. Pasti pembunuh itu masih berada di sini. Aku mengusap air mataku, bangkit mencari pembunuh itu. Kuharap dia belum menyentuh Diana, tetapi harapanku sirna.
Kulihat sebuah jarum es terhunus di dada Diana. Pembunuh itu mengangkat tubuh Diana dengan mencekiknya. Tangan pembunuh itu menjatuhkan tubuh orang yang kucintai tanpa belas kasihan. Mataku tidak sanggup terlepas dari pemandangan mengerikan ini.
Pembunuh itu mengusap darah yang ada di dekat mulutnya. Kukepalkan tanganku dengan erat. Kutatap wajah pembunuh itu, dengan amarah.
"Derek Rockyard!" teriakku.
Darahku telah sampai pada puncak didihnya. Derek langsung kubunuh dengan bola sihirku. Dia tidak sempat melawan. Mati dengan cepat. Aku tidak sudi melihat mayat pembunuh itu. Aku juga tidak tahu alasannya melakukan hal ini. Kemungkinan besar untuk membalaskan dendam temannya.
Segera kudekati Diana menyandarkan kepalanya di dadaku. "Diana bangunlah, Diana. Kamu harus hidup, jangan tinggalkan aku." Meski tahu ini hal yang sia-sia, kata-kata tetap terucap oleh mulutku. Kusentuh wajahnya yang semakin memucat dan dingin. Air mataku menetes di wajahnya.
Kupeluk tubuhnya sambil mengerang dengan keras.
"Argh!"
Air mataku sama sekali tidak mau berhenti. Dalam sehari aku kehilangan dua orang yang kusayangi. Aku tidak sanggup untuk hidup lagi. Aku ingin menyusul mereka.
__ADS_1
Kubuat jarum sihir di depan leherku. Sudah siap untuk mengakhiri hidupku sendiri.
Di kehidupan selanjutnya aku berharap bisa lebih kuat untuk melindungi orang yang kusayangi. Atau jika seandainya waktu bisa terulang....
Masih ada cara, sihir mengulang waktu. Jarum sihirku menghilang. Aku menggendong Diana menuju ke rumah Gauri. Selama perjalanan terus kutatap wajahnya. Tak ada senyum atau pun tangis yang terlihat. Wajah tanpa emosinya terus menemaniku hingga sampai.
Segera kudobrak rumah Gauri. Aku tidak punya banyak waktu. Semakin lama waktu berlalu, mungkin sihir mengulang waktu tidak akan bekerja.
"Gauri! Keluarlah, Gauri!" teriakku.
Gauri keluar dengan kesal, tetapi wajahnya cepat berubah menjadi kengerian.
"Apa kamu bodoh? Aku bukanlah penyihir ramuan atau penyihir penyembuh. Seharusnya kamu membawanya pada orang lain," omelnya.
"Dia sudah mati. Hanya kamulah yang bisa menyelamatkannya. Tolong lakukanlah sihir pengulangan waktu," pintaku dengan air mata terus membasahi pipiku.
"Aku tidak bisa melakukannya. Banyak orang yang mati setiap hari tetapi kamu tidak peduli. Hanya karena orang yang mati ini orang yang kamu kasihi, kamu ingin aku mengorbankan diri. Aku tidak mau. Aku bukanlah orang sebaik itu." Kerutan terlihat di seluruh wajahnya. Dia berbalik kembali ke kamarnya.
Kemungkinan Diana adalah penyihir waktu sangat kecil. Waktu yang terhenti saat itu mungkin hanyalah khayalanku, tetapi tidak ada salahnya mencoba. Aku akan melakukan apa pun untuk Diana.
"Baiklah."
Aku mendongak terus menerus berterima kasih kepadanya. Gauri menghela napas mendekati kami. Kubuat jarum es menusukkannya pada diriku sendiri. Darah bercucuran dari tubuhku. Mulutku mengeluarkan darah.
Gauri mulai merapal mantra. Kubelai pipi Diana sambil tersenyum. Aku mencium keningnya. Kubisikkan sesuatu padanya.
"Jika kita berhasil mengulang waktu. Saat itu kuharap kita bisa bersama Diana."
Tubuhku terasa lemas. Darahku semakin terkuras. Mataku semakin menggelap. Tanganku yang berada di pipi Diana, mulai terjatuh.
__ADS_1
***
Aku terbangun. Tubuhku bersimbah keringat.
Apakah aku berhasil mengulang waktu?
Kakiku langsung berlarian menuju kamar Iris. Kuketuk-ketuk pintunya dengan cepat.
"Aku sudah dengar, Kak. Bersabarlah sedikit," gerutu seseorang sambil membuka pintu.
Kesenanganku tidak bisa kututupi lagi. Aku langsung memeluk orang itu. Adikku masih hidup. Iris kebingungan segera melepasku.
"Kakak aneh sekali," katanya.
"Ini tanggal berapa?" tanyaku.
Iris mengucapkan tanggal setahun yang lalu. Senyumku merekah. Ibu masih hidup. Aku meninggalkan Iris segera menuju kamar ibuku.
Kupeluk ibuku sambil menangis. Beliau terkejut sebentar lalu menepuk-nepuk punggungku. Ibuku melihat wajahku yang penuh air mata. "Ada apa Keith?"
Wajah ibuku langsung mengeras. Benar, tanpa kata-kata beliau bisa tahu semuanya. Beliau bisa melihat masa lalu seseorang. Itu adalah sihir uniknya. Pertemuanku dengan Diana, kepergian ibuku, indera Diana yang kehilangan satu persatu, kematian Iris dan Diana, pasti dilihat semua olehnya.
Ibuku segera memelukku kembali. "Kali ini pasti akan baik-baik saja. Kamu sudah berjuang dengan keras, Keith."
"Terima kasih, Ibu."
Aku menangis cukup lama dipelukan Ibuku. Ada tangan lain yang tiba-tiba menyentuh bahuku.
"Kakakmu hanya sedang mimpi buruk, Iris. Jangan khawatir," kata Ibu dengan lembut.
__ADS_1
Aku melepas pelukan Ibuku sambil mengusap air mataku. "Benar hanya mimpi buruk."
Aku akan menyelamatkan semuanya kali ini.