
Aku terdiam melihat kejadian yang ada di depanku. Bagaimana bisa Derek menghidupkan orang mati? Bukankah sihir uniknya adalah transfer sihir? Jangan-jangan sihir unik orang lain bisa dicurinya.
"Ha... ha... ha..." Derek bangkit sambil tertawa keras.
"Kalian tidak akan pernah mengalahkanku," lanjutnya.
Mayat hidup itu segera menyerang kami. Aku berlari ke arah Keith dan Eric sambil menghindari serangan-serangan itu. Aku segera berteleportsi ke istana setelah berhasil meraih tangan mereka. Melarikan diri merupakan satu-satunya jalan yang tepat. Kami tidak mungkin mengalahkan mereka semuanya. Kami kalah jumlah.
"Sial." Eric meninju tangannya ke lantai.
Tentu saja ia merasa kesal. Buronan yang sudah ketemu malah dirinya tidak berbuat apa pun yang berarti. Aku tidak menyalahkannya. Kami bertiga tidak akan sanggup menang dengan kondisi seperti ini.
Aku mendekati Eric. "Maafkan aku, tetapi jika tetap berada di sana kita bisa mati."
"Aku tidak menyalahkanmu, Diana. Derek menjadi sangat kuat, dia bahkan bisa membuat pasukannya sendiri dari orang mati," ujar Eric masih menatap tanah.
"Saya harap kita bisa mempersiapkan diri, Yang Mulia. Kemungkinan Derek akan menyerang lagi, mungkin bukan sekarang," ucap Keith.
Benar Derek pasti perlu memulihkan diri terlebih dahulu. Setelah mengumpulkan kekuatan dia akan menyerang istana, melakukan pemberontakan. Kami hanya bisa menunggu sambil memperkuat pertahanan istana. Bila gegabah mencari Derek sendiri-sendiri, dia akan memiliki tumbal baru. Semua penyihir akan bersatu untuk mengalahkan Derek.
***
Eric telah mengumpulkan semua penyihir di depan istana. Bukan cuma sihir petarung. Penyihir ramuan dan penyihir hewan dan tumbuhan ikut membantu. Penyihir ramuan menyiapkan ramuan-ramuan penyembuh untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka. Penyihir hewan dan tumbuhan membantu penyihir petarung dari belakang.
Stella berada di belakag ayahnya. Rambutnya dipotong sebahu. Seperti karena ingin memulai hidup baru atau menyerah pada Keith. Setelah pertarunganku dengan Stella, dia tidak pernah menemui Keith sama sekali. Ini bagus, tidak ada yang menggangguku dengan Keith lagi.
Aku memalingkan wajahku ke lapangan di depan mata. Pasukan mayat Derek mulai berdatangan. Mereka mulai menyerang. Penyihir petarung terdepan membentuk sihir pelindung. Sedangkan penyihir petarung yang di belakang termasuk diriku dan Keith menyerang menggunakan bola sihir kami.
Pertarungan terjadi sangat sengit. Derek masih belum muncul di mana pun. Dia pasti berada di barisan paling belakang mengendalikan semuanya.
__ADS_1
Aku dan Keith mulai menerobos ke belakang pasukan mayat-mayat itu. Kami mencari-cari Derek sambil mengalahkan mayat-mayat itu satu persatu. Mayat-mayat ini tidak terlalu kuat. Mereka hanya banyak dijumlah saja. Mungkin ada batasan untuk membangkitkan penyihir kuat. Kekuatan sihir Derek pasti terbatas.
Aku sampai di belakang pasukan. Tak ada batang hidung Derek. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tetapi pembunuh gila itu tidak ada. Apakah Derek bersembunyi?
"Awas, Diana!"
Itu adalah suara teriakan Keith. Aku menoleh dan segera membuat pelindung sihir. Leluhur keluarga Rockyard menyerangku. Keith segera menghampiriku mengeluarkan bola sihirnya.
Kami bertarung dengan mereka sambil berpikir di mana Derek bersembunyi.
***
POV Iris
Korban-korban mulai berjatuhan. Ini mengerikan. Di pihak kami, penyihir-penyihir dapat kehilangan nyawa. Sedangkan di pihak Derek tidak ada yang mereka korbankan. Mereka telah mati meski harus mengalami kematian dua kali. Jika keadaan ini terus berlanjut korban akan semakin banyak.
Hewan-hewan berdatangan ke arahku sambil membawa penyihir petarung yang terluka. Aku menyembuhkan mereka satu persatu. Demikian pula penyihir ramuan yang lain.
Penyihir petarung berusaha menghentikan Derek, tetapi mereka kalah. Kekuatan Derek terlalu besar. Dia mampu menghempaskan mereka semua. Pandangannya teralih ke arah penyihir-penyihir ramuan.
Dia menciptakan bola-bola sihir lalu melontarkannya kepada kami. Raja berada di depan kami membuat pelindung.
"Lawan aku, pengecut!" teriak Raja.
Raja mulai mengeluarkan bola-bola sihirnya. Derek menyiapkan puluhan jarum sihir yang siap dilontarkan.
Penyihir-penyihir ramuan mulai meninggalkan tempat, karena tidak ingin terlibat pertarungan antara Raja dan Derek. Begitu pula denganku.
Langkah tersenggal. Tubuhku roboh. Salah satu jarum sihir Derek mengenai kakiku. Aku segera bangkit berlarian menahan rasa sakit. Aku tertinggal. Penyihir-penyihir ramuan berada jauh di depanku.
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang Raja terlihat kewalahan melawan Derek. Dia terluka.
"Berhentilah menyerang mereka dan lawan aku dengan adil Derek Rockyard," ucap Raja dengan geram.
"Seorang penjahat tidak akan berbuat baik bukan? Lagipula pertarungan ini tidak ada aturannya. Salahmu sendiri berusaha melindungi mereka, Eric Sunborn," ejek Derek sambil menyeringai.
Tentu saja seorang Raja akan melindungi rakyatnya. Sekali pun Derek menjadi Raja, tidak ada satu pun orang yang akan mengikutinya karena kekejamannya.
Aku masih terus berlari tetapi kakiku yang lain terkena bola sihir lagi. Aku meringis kesakitan. Kali ini sulit sekali bagiku untuk berdiri. Kakiku terus berdenyut.
"Sialan, kau." Raja segera menghampiriku berada di depanku.
Derek menciptakan bola sihir dan mengarahkannya pada kami. Raja membuat pelindung untuk melindungi kami berdua. Kami berdua berhasil selamat, tetapi Derek terus menyerang. Pelindung Raja mulai retak. Dia tidak bisa bertahan lagi.
"Tinggalkan aku, Raja," pintaku.
Sebenarnya Raja bisa menghindarinya, tetapi karena terus melindungiku dia terus berada di sini. Jika terkena serangan Derek Raja akan kalah. Kerajaan ini akan hancur. Tewasnya satu orang dapat menghancurkan nasib banyak orang.
Namun, bila aku yang mati, nasib orang-orang itu bisa selamat. Asalkan nyawaku berguna, aku tidak apa-apa bila mati daripada menjadi beban seperti ini.
"Apa kamu gila? Kamu menyuruh Raja meninggalkan rakyatnya? Jangan bercanda," teriaknya. Kedua tangan Raja masih mengarah ke depan untuk mempertahankan pelindung.
"Kamu bisa mati, Raja."
"Aku akan lebih merasa bersalah jika membiarksn rakyatku mati."
Kenapa dia keras kepala sekali? Dia sangat menyebalkan. Nyawa banyak orang lebih penting daripada satu orang. Apa dia tidak bisa memikirkannya? Tetapi kalau ingin jujur aku tidak ingin mati. Ada banyak hal yang belum kulakukan.
Aku mengambil salah satu ramuan penyembuh yang kusimpan. Aku berdiri bersusah payah. Kudekati Raja hendak memberikan ramuanku. Tangannya masih mengarah ke depan. Dia tidak bisa meminum ramuan untuk memulihkan diri. Jika salah satu tangannya meraih ramuanku, bisa saja pelindungnya hancur. Kematian akan menghampiri kami.
__ADS_1
Hanya ada satu cara. Aku mengarahkan botol ramuanku ke mulutku. Kakiku melangkah mendekati Raja hingga jarak kami sangat dekat. Dagunya kupegang hingga mulutnya terbuka. Kuarahkan mulutku ke mulutnya.