
"Kamu siapa?" tanyaku sambil berusaha melepas tangannya dari lenganku.
Dia langsung terkesiap lalu melepas tangannya. Wajah, warna rambut dan matanya mirip seseorang.
"Maafkan aku, Kak Diana. Aku Iris Skyrise adik dari Kak Keith," jawabnya sambil memperkenalkan diri.
Pantas saja sangat mirip dengan Keith. Ternyata adik Keith. Aku belum pernah bertemu dengannya pada kehidupan sebelumnya. Ngomong-ngomong kenapa dia bisa mengenaliku?
"Bagaimana caranya kamu tahu ini aku? Kita belum pernah bertemu sebelumnya." tanyaku bingung.
"Ah, kakakku menceritakannya padaku. Bahwa dia bertunangan dengan Kak Diana. Dia bercerita kalau Kak Diana sangat cantik. Rambut berwarna silver yang terurai panjang dan terlihat sangat halus. Lalu warna mata emas yang berkilauan dan tatapan mata yang tegas. Kakakku berkata kalau bertemu dengan Kak Diana aku pasti bisa mengetahuinya. Ternyata memang benar Kak Diana terlihat sangat menawan, aku mudah mengenali Kak Diana," ceritanya panjang lebar.
Pipiku memanas. Aku tidak tahu Keith bercerita tentang aku pada adiknya. Apa dia sudah jatuh hati padaku? Sepertinya belum mendalam. Pasti ini hanya kesan pertama yang baik. Setidaknya rencanaku berjalan baik walau ada kendala tidak terduga. Namun, aku tidak tahu kalau sememalukan ini dipuji oleh orang lain.
Sepertinya Keluarga Skyrise mudah sekali memuji dan punya sifat yang ramah. Lalu, Sifat rela mengorbankan diri demi orang yang dikasihinya.
"Begitu ya, terima kasih," jawabku sambil memalingkan muka.
"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Diana Moonlight," lanjutku sambil menatapnya setelah menenangkan diri.
"Kak Diana bisa memanggilku Iris. Jadi kenapa Kak Diana ke sini?" tanya Iris.
Entah mengapa dia penasaran sekali dan suka ikut campur dengan urusan orang. Menurutku Iris tipe orang yang suka bergosip dan punya informasi paling terbaru.
"Aku sedang membuntuti orang, tetapi sudah selesai. Jadi aku beristirahat di sini, Iris."
"Siapa yang Kak Diana buntuti?"
"Trevor."
Iris menganga dan menutupi mulutnya dengan tangannya.
"Kak Diana sudah tahu di mana orang yang memanipulasi surat wasiat keluarga Moonlight?"
Aku tidak berniat menutupi kalau sedang mengusik Trevor. Reputasiku akan buruk bila menyiksa orang, tetapi yang kusiksa adalah Trevor. Pasti semuanya akan setuju karena Trevor adalah yang membunuh ayahku dan berusaha memanipulasi surat wasiat. Aku akan membuat Trevor mengaku pada semua orang. Tidak akan ada yang berempati padanya.
"Sudah, alasan aku tidak langsung menangkapnya adalah aku berniat membuatnya ketakutan. Lalu membuatnya mengaku bahwa sebenarnya dia orang yang membunuh Ayahku."
Mulut Iris bertambah lebar. Aku tidak menyangka adik Keith seekspresif ini.
"Orang itu yang membunuh kepala keluarga Moonlight sebelumnya? Gila sekali membunuh ayahnya sendiri demi mendapat gelar kepala keluarga hingga memanipulasi surat wasiat," kata Iris mengejek Trevor.
"Semua bukti sudah dilenyapkan olehnya. Penyesalanku adalah tidak menanyai orang yang dituduh membunuh Ayahku. Aku akan membuat Trevor mengaku," jawabku menggebu-gebu.
Entah mengapa aku jadi terbawa suasana oleh Iris. Aku menyadarinya. Lalu berusaha kembali ke sikapku yang biasanya. Iris sepertinya tidak peduli pada sikapku.
__ADS_1
"Kak Diana memang keren. Aku akan mendukung Kak Diana. Jika perlu bantuan hubungi aku atau Kakakku." Iris menggenggam tanganku dengan kedua tangan.
"Terima kasih," jawabku singkat.
"Apa Kak Diana sibuk?"
"Tidak, kenapa?"
"Maukah datang ke kediaman kami sekarang?"
Secepat itu? Kurasa tidak masalah juga datang ke kediaman Skyrise. Orang-orang akan melihatku dekat dengan adik Keith, menandakan hubungan kedua keluarga yang hamornis.
"Boleh saja."
"Kak Diana ke sini naik apa?"
"Aku pakai sihir."
Aku tidak bisa mengatakan sihir teleportasi, karena ini adalah sihir rahasia milikku seorang.
"Kalau begitu kita naik kereta kuda milikku saja."
"Baiklah."
Iris langsung menggandengku menuju kereta kudanya. Semoga tidak terjadi hal yang menyebalkan hari ini.
Ini pertama kalinya aku datang ke kediaman Skyrise. Selama perjalanan Iris tidak bicara sama sekali. Dia seperti menahan mabuk. Begitu sampai dia meminum semua ramuan. Wajahnya menjadi lebih baik.
Iris mengajakku ke taman untuk berbincang-bincang, sebagai pengganti dia tidak bisa bicara di kereta kuda. Dia meminta pelayan untuk membawakan kami teh dan camilan. Begitu hanya kami berdua, dia mulai mengoceh.
"Kak Diana sangat keren."
Dia sudah mengatakannya tadi di restoran.
"Tidak biasanya, anak kedua terutama perempuan bisa menjadi kepala keluarga."
Itu karena aku mempunyai sihir yang lebih kuat daripada Trevor.
"Kakakku bilang kalau Kak Diana mengusir pelamar dengan gagah berani tanpa rasa takut."
Keith melebih-lebihkannya.
Aku tidak membalas semua ucapan Iris. Cuma mendengarnya saja. Dia terlalu memujiku.
Pelayan membawa teh dan camilan. Iris mempersilakan aku untuk mencicipinya sambil tersenyum. Aku menyesap teh dan memakan camilan. Memang enak, tetapi aku tidak ingin terlihat rakus di depan orang lain. Aku hanya bisa seperti itu di depan Eric, dia sudah lama mengenalku.
__ADS_1
"Jadi apa yang Kak Diana sukai dari Kakakku?"
Aku tersedak karena mendengar pertanyaan Iris. Aku menghabiskan tehku untuk menelan camilan yang tersangkut di tenggorokanku. Sungguh pertanyaan yang tidak terduga dan sangat blak-blakkan.
"Aku baru pertama kali bertemu dengan kakakmu kemarin. Aku belum bisa mengetahuinya, tetapi aku menyukainya," jawabku berbohong.
"Begitu ya, aku harap Kak Diana tidak salah paham gara-gara Kakak, karena dia baik pada semua orang. Aku yakin Kakak menyukai Kak Diana," kata Iris menyakinkanku.
Sudah terlambat, dulu aku salah paham. Dia baik kepadaku karena aku cacat dan tunangannya. Tidak ada perasaan yang melebihi perhatian dan peduli. Cuma itu.
"Aku tidak akan salah paham," jawabku.
Jika dia mencintaiku saat ini aku akan membuatnya merasakan apa yang dinamakan harapan palsu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya seseorang di belakangku.
Kami berdua tersentak karena kedatangannya tanpa suara. Aku menoleh ke arah orang itu. Keith.
"Apa kalian membicarakan tentang aku?" tanya Keith lagi karena tidak mendengar jawaban dari kami.
"Rahasia," jawab Iris sambil tersenyum tengil.
Hubungan kakak dan adik yang harmonis. Berbeda denganku.
"Aku akan mengantar Diana pulang, Iris. Kamu pasti bercerita panjang lebar kepadanya hingga membuatnya lelah," kata Keith.
Perkataan Keith ada benarnya. Aku lelah dan ingin pulang, tetapi karena barusan datang tidak enak hati pulang dengan terburu-buru.
"Eh, begitu ya. Maafkan aku, Kak Diana. Kapan-kapan berkunjung lagi ke kediaman kami ya?" Mata Iris berkaca-kaca menginginkanku datang ke sini.
Aku tidak bisa menolaknya karena memang dalam surat kontrak kami akan berkunjung ke kediaman masing-masing
"Baik, Iris."
Keith menyodorkan lengannya padaku. Aku merangkulnya karena kami harus bersikap harmonis di depan orang lain.
Dia mengantarku ke kereta kuda. Setelah aku masuk, dia ikut masuk. Kenapa dia ikut masuk? Bukannya sampai di depan pintu saja sudah cukup?
"Aku ingin memastikan kalau kamu benar-benar sampai di kediamanmu dengan selamat Diana," jawabnya seolah-olah tahu yang ada pikiranku.
Aku tidak mungkin mengusirnya karena pelayan di kediaman Skyrise bisa tahu kalau hubungan kita cuma palsu.
"Baiklah."
Kereta kuda ini melaju. Tiba-tiba dia bertanya, "Oh ya, kapan pesta untuk mengadakan gelar kepala keluargamu, Diana?"
__ADS_1
Tanganku memegang dahi. Aku melupakannya.