Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 42 Semakin Mendekati Kebenaran


__ADS_3

Mata Eric terbuka lebar. "Jika aku melakukan kesalahan akan kuperbaiki, Diana. Tolong jangan akhiri pertunangan ini."


"Tidak, ini bukan salahmu. Yang salah adalah aku. Aku tidak bisa melanjutkan ini."


Semakin aku menjalani ini, yang ada malah Eric akan semakin mencintaiku. Rasa sakit yang dia terima akan semakin hebat, aku tidak ingin terjadi.


"Kenapa?" Eric merendahkan suaranya sambil berkaca-kaca.


"Berada bersamamu membuatku teringat orang lain. Aku tidak bisa melupakannya," jawabku lirih.


Eric melepas tanganku perlahan. Gertakan giginya terdengar sangat keras. Sorot matanya membara tetapi terlihat kesakitan. "Ini yang kutakutkan, Diana. Kamu jatuh cinta padanya. Apa tidak ada ruang untukku di hatimu?"


"Aku tidak tahu, Eric. Ini menyakitkan bagiku. Aku tidak ingin menyakitimu dengan memberi harapan palsu." Aku menggeleng pelan. Mataku terasa panas. Aku berusaha menahan air mata ini agar tidak keluar. 


"Asalkan ada harapan untuk mendekatimu dan membuatmu jatuh hati padamu, aku tidak apa-apa tersakiti." Eric tersenyum dengan berlinang air mata.


Kugigit bibir bawahku. Air mataku tak terbendung lagi. "Kumohon biarkan aku sendirian, Eric. Aku butuh waktu melupakannya. Apabila dia sudah tidak ada dipikiranku, kamu boleh mencoba mendapatkan hatiku."


Eric bergeming. Bibirnya gemetar. Napasnya tidak teratur. Aku tidak sanggup melihat matanya lagi. Kubalikkan tubuhku sambil menyeka peluh yang ada di pipiku.


"Baiklah bila saat itu tiba, kuharap kamu memberikan jawaban yang aku inginkan Diana," suara Eric terdengar lirih. 


'Kuharap begitu Eric'


Terdengar suara langkah Eric naik ke kereta kuda. Kubalikkan tubuhku untuk melihatnya. 


"Maafkan aku," gumamku. Ucapan itu tidak akan terdengar olehnya. Eric juga sama sekali tidak melihatku. Ini perbuatan sia-sia tetapi aku ingin mengatakannya untuk membuat hatiku lega. Aku telah menjadi gadis yang kejam bagi Eric.

__ADS_1


Kereta kuda semakin menjauh. Kulihat langit malam. Bulan bersinar terang, tetapi tidak denganku. Aku adalah bulan yang selalu tertutup oleh awan kesedihan.


***


Aku berada di kediaman Rockyard. Mencari Derek adalah satu-satunya cara menghilangkan Keith dari pikiranku. Di samping itu kejadian Eric kemarin juga ingin kulupakan.


Ada satu penyihir istana berjaga di sini. Pasti sebagai persiapan bila sewaktu-waktu datang ke sini kembali. Penyihir-penyihir istana dan kepala keluarga pasti mencari tempat persembunyian Derek di seluruh penjuru Kerajaan. 


Kulangkahkan kaki masuk ke dalam dengan harapan menemukan sesuatu yang mungkin dilewatkan oleh penyihir istana. Kediaman ini benar-benar kosong. Perabotnya hilang, entah dibawa oleh penyihir istana untuk diperiksa atau telah dijual oleh Derek. 


Trevor pernah mengatakan kalau di kediaman Rockyard terdapat ruang rahasia. Sayangnya dia tidak tahu di mana tempatnya. Derek tidak memberitahu Trevor meski mereka berteman.


Mungkin aku tidak akan menemukannya tetapi tidak ada salahnya mencoba. Ruangan demi ruangan kutelusuri untuk mencari sesuatu yang mencurigakan tetapi hasilnya nihil. Semua dinding kuperiksa dengan teliti berharap ada tombol rahasia untuk membuka ruang rahasia, tetapi sia-sia.


Aku menyerah dan hendak pulang. Terdengar suara aneh di kakiku. Kuinjak-injak lantai di ruang tamu ini. Suaranya berbeda dengan lantai yang lain. Aku bersujud sambil mendekatkan telingaku sambil mengetuk-ngetuk lantai tempatku berdiri tadi. Seperti ada udara kosong di bawah sini.


Aku masuk ke dalam sana sambil menggunakan sihir api untuk penerangan. Lorong ini begitu sempit hingga aku sampai pada sebuah pintu. Kubuka pintu itu.


Mataku terbelalak melihat pemandangan di depan mataku. Kututup kuhidungku karena baunya sangat menyengat. Balas dendamku tidak akan terwujud. Ini menyebalkan, seharusnya akulah yang membunuhnya. Namun, aku tidak tahu apakah sanggup membunuhnya langsung, saat terakhir kali menyiksanya tidak ada kesenangan di hatiku.


Trevor telah tiada. Bukankah mereka berteman? Bagaimana bisa Derek melakukan ini pada Trevor? 


Kudekati mayat Trevor. Di wajahnya terdapat luka bakar yang telah kubuat. Luka tusukan jarum es berbekas di seluruh tubuhnya. Matanya masih terbuka lebar. Derek bahkan tidak membiarkannya istirahat dengan tenang. Entah sudah berapa hari Trevor tewas. Akan kulaporkan ini pada Eric. Tentunya melalui surat.


Saatnya kembali ke kediamanku. Kutinggalkan ruangan ini menuju ruang tamu. Aku terkejut melihat orang ini ada di depanku. Apa penyihir istana tidak melakukan tugasnya dengan becus? Orang ini menyeringai sambil bertepuk tangan.


Prok... prok... prok...

__ADS_1


"Hebat sekali kau bisa menemukan ruang rahasia di kediamanku, Diana. Tapi aku sudah menduganya. Apa kau suka hadiahku?"


"Kau membunuh temanmu sendiri. Apa kau sudah gila?" teriakku.


"Yang kulakukan hanya memanfaatkan mangsa sebaik-baiknya, Diana." Tak ada rasa belas kasihan atau penyesalan di matanya. Dia malah senang melakukan semuanya ini.


"Kalau begitu kenapa kau membantu Trevor di kehidupan sebelumnya?"


"Kami menginginkan kekuatan sihirmu, Diana. Dan kami berhasil membodohimu, tetapi ada sedikit gangguan. Raja sering menulis surat padamu untuk menanyakan keadaanmu, dia juga ingin berkunjung untuk menemuimu. Untungnya Trevor pandai berkelit dan membohonginya. Dia tidak jadi datang dan senang membaca surat yang ditulis Trevor. Trevor membohonginya kalau kau buta dan meminta menuliskan surat untuk dikirimkan padanya."


Jadi selama ini aku salah paham kepada Eric. Dia benar-benar mencintaiku di kehidupanku yang sebelumnya.


"Kalian benar-benar kejam. Sepasang teman yang egois dan gila," suaraku menggelegar ke seluruh ruangan.


"Teman? Dia hanya kumanfaatkan. Setelah berhasil menyerap seluruh kekuatanmu, akan kuserap kekuatan sihirnya. Dengan begitu sekali dayung dua tiga pulau terlampaui."


Derek akan mendapatkan kekuatan sihirku sekaligus milik Trevor. Baginya manusia hanyalah tumbal untuk meningkatkan kekuatan sihirnya. Akan kubunuh dia. Tidak akan kumaafkan. Orang seperti dirinya tidak pantas hidup. Sebelum itu aku harus mendengar alasan dia mengulang waktu. Entah seberapa sakit pikirannya.


"Kenapa kau mengulang waktu Derek? Kenapa kau membunuhku?" 


"Tidak ada alasan khusus, Diana. Secara ajaib aku mengulang waktu mungkin dewa merasa kasihan pada penyihir yang berbakat ini, sehingga memberikan kesempatan kedua untuk menjadi penyihir terkuat di dunia. Alasan untuk membunuhmu tentu saja karena ingin menyerap kekuatanmu Diana. Trevor terbunuh sebelum aku bisa menyerap kekuatannya."


Tunggu dulu kenapa jadi rumit begini. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi di kehidupanku yang lalu. Kalau bukan Derek yang memaksa Gauri untuk melakukan sihir pengulangan waktu lalu siapa?


Tidak mendengar satu patah kata dariku Derek melanjutkan, "Tentang mengulang waktu, mungkin kau tidak menyadarinya karena dirimu yang cacat tidak dapat mengetahui dunia luar. Ada tiga orang yang tindakannya berbeda di kehidupan ini. Yang pertama adalah aku, kedua kau, lalu yang ketiga... ah ternyata dia juga sudah datang ke sini." Derek menoleh ke arah pintu.


Kepalaku ikut berpaling. Kepalaku terasa kosong begitu melihatnya. Sosok itu. Tidak mungkin. Ini sangat tidak mungkin. Kenapa dia? 

__ADS_1


Mata biru itu menatap sayu diriku. 


__ADS_2