Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Extra 2 POV Iris Gadis yang Mendekati Raja


__ADS_3

"Siapa tamu yang kamu temui kemarin?" tanyaku begitu tiba di ruangan Raja.


"Bukan urusanmu. Cepatlah bekerja." Dia sama sekali tidak melihatku terus membaca dokumennya.


"Aku mengerjakan dokumen-dokumen ini tetapi kamu malah bermesraan dengan gadis lain. Mau jadi apa negara ini jika Raja seperti ini?" omelku.


Aku sama sekali tidak tahu kalau sifat Raja semenyedihkan ini. Kutarik kembali bahwa Raja itu baik. Aku sudah tidak betah dan ingin mengundurkan diri saja. Berada di istana membuatku lebih cepat tua.


Dia mendongak ke arahku. "Aku bertemu tamu penting dari negara lain. Aku menemuinya untuk urusan pekerjaan dan bukan untuk bermesraan. Puas?"


Aku salah sangka. Wajahku memanas. Kenapa saat di dekatnya aku selalu marah-marah? "Di mana peralatan eksperimenku. Apa sudah datang?" Kualihkan pembicaraan.


Dia berpaling ke arah yang lain. Raja lupa memesannya. Aku  mendesah berat. Rasanya aku ingin berteriak dan mengumpatinya. Dia selalu bisa membuatku kesal.


"Ramuan apa yang harus kubuat? Aku akan kembali ke kediamanku saja untuk membuatnya. Lagipula aku tidak punya pekerjaan di sini."


Kepalanya berputar cepat dan dia berbicara sangat cepat. "Kamu bisa bekerja di sini. Aku punya bahan-bahan membuat ramuan. Kamu pernah melihatnya di lemari itu," tunjuknya.


"Jika membuatnya langsung di gelas ramuan akan cepat basi. Perlu botol sihir untuk menyimpannya. Di ruanganmu aku hanya bisa membuat ramuan yang langsung minum. Kurasa aku dan dirimu tidak sakit. Jadi saranmu bukan ide bagus."


Sorot mata Raja terlihat kecewa. Tak ada kata yang diucapkannya. Kurasa dia ingin ditemani di sini. Dia hanya mencari-cari alasan saja agar kubuatkan ramuan. Aku juga tidak ingin berada di rumah sendirian, tetapi lebih baik menyibukkan diri dengan membuat ramuan daripada disuruh-suruh olehnya.


"Aku akan membantumu setengah jam lalu membuat ramuan di kediamanku. Apa yang harus kubuat?" tanyaku.


Meski masih terlihat kecewa, kekecewaannya mulai berkurang. Bibirnya sedikit tersenyum. "Apa saja yang bisa membuatku terkejut."


Aku menatapnya dengan lelah. Ada satu ramuan yang terpikirkan di otakku, yaitu ramuan peningkat kekuatan sihir. Hanya saja kakakku melarangku membuat ramuan ini untuk orang lain selain dirinya dan Kak Diana. Dia tidak ingin orang tidak bertanggung jawab bertambah kuat  contohnya saja, Derek. Namun, dia adalah Raja. Seorang Raja juga membutuhkan kekuatan sihir yang kuat untuk melindungi rakyatnya.


"Aku akan membuatkanmu satu ramuan yang bisa membuatmu terkejut, tetapi dengan satu syarat. Apa kamu bisa dipercaya dan bertanggung jawab?"


"Itu bukan syarat tetapi pertanyaan." 


"Jawab saja pertanyaanku."


"Aku bisa dipercaya dan bertanggung jawab." Raja menatapku lekat-lekat.


"Aku akan membawakanmu ramuan besok. Kuharap kamu tidak terkejut dan tidak menyebarkannya pada orang lain."

__ADS_1


"Baiklah aku berjanji." Raja melakukan sumpah penyihir.


Sebenarnya ini tidak perlu, tetapi dia ingin mendapatkan kepercayaanku. Jadi kubantu dia seperti biasa. Aku tidak sabar mengejutkannya dengan ramuanku besok.


***


Kulangkahkan kaki keluar dari kereta kuda. Aku sudah membawa ramuan peningkat kekuatan yang kubuat kemarin. Aku ingin melihat wajah terkejut Raja. Ekspresi yang diperlihatkannya padaku baru sedih, marah, tidak berdaya, sedikit kegembiraan, takut dan tatapan yang melihatku dengan jijik. Aku belum pernah melihatnya tertawa lepas dan terkejutnya. Mungkin orang yang sudah melihat semua itu hanya Kak Diana. 


Ada gadis yang bersembunyi di balik pilar mengamati Raja yang berjalan ke ruang kerjanya. Aku mengenal gadis itu. Dia adalah temanku. Kenapa dia ada di sini? Kuhampiri dirinya menepuk bahunya.


"Kenapa kamu ada di sini, Cessie?"


Cessie berjengit lalu menoleh ke arahku. Dia bernapas lega. Sepertinya dia lega tidak terpergok oleh pengawal istana.


"Aku lupa kalau kamu sekarang bekerja di istana Iris."


"Jadi kenapa kamu berada di istana?" Kuulangi pertanyaanku.


"Aku ingin bertemu dengan Raja, tetapi kuyakin dia tidak ingin menemuiku. Apa kamu bisa membantuku membujuk Raja untuk bertemu denganku?" Matanya memohon-mohon padaku.


Biasanya aku mudah luluh dengan mata itu, tetapi yang kurasakan saat ini kemarahan. Seharusnya Cessie berjuang sendiri mendapatkan hati Raja bukan meminta bantuanku. 


Aku melanjutkan perjalananku ke ruang kerja Raja, meninggalkan Cessie yang kecewa. Kubuka pintu dengan keras dan membanting botol ramuan yang kubawa ke meja tetapi tidak sampai pecah. Raja melihat botol ramuan dan wajahku secara bergantian.


"Ini ramuan yang kamu minta. Mari kita ke lapangan latihan istana."


"Kenapa harus ke sana?" Dia terlihat kebingungan.


Aku berbalik menuju pintu. Kutolehkan wajah ke arahnya. "Kamu bisa melihat efek ramuan ini di sana."


"Ramuan apa ini?"


"Peningkat kekuatan sihir." Aku berjalan keluar menuju lapangan latihan istana.  Raja mengikutiku dari belakang. Tanpa bertanya apa-apa lagi.


Kami sudah sampai. Raja meminum ramuanku sambil melirikku. Setelah habis, dia mengangkat bahu. Wajahnya mengatakan tidak mendapat efek apa-apa.


"Cobalah buatlah sihir apa pun. Kamu akan melihat perbedaannya," saranku.

__ADS_1


Dia menurutiku mengeluarkan sihir bola api. Bola apinya besar sekali melebihi sihir kakakku dan Kak Diana. Baru pertama kali kulihat sihir bola api sebesar ini.


Raja melancarkannya ke seberang menabrakkan bola api itu ke papan. Papan itu hangus tidak bersisa. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan tidak percaya.


"Aku tidak salah mempekerjakanmu." Raja tersenyum ke arahku. Lebih baik dia sering-sering tersenyum daripada marah atau murung seharian. Senyumnya sangat indah.


Kubalas senyumnya. "Kamu ingat janjimu bukan?"


Dia mendekatiku. "Tentu saja, tidak akan kusebarkan. Bisa bahaya orang seperti Derek muncul lagi."


Senyumku memudar. Sorakan muncul di belakangku. Kupalingkan wajah ke belakang. Ada tiga gadis bangsawan termasuk Cessie yang melihat Raja menggunakan sihir tadi. Mata mereka berbinar-binar melihat kekerenan Raja. Kenapa aku berpikir kalau Raja keren?


Senyum Raja ikut memudar. Wajahnya mengeras sambil berjalan mendekati tiga gadis itu. Raja mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Ketiga gadis itu terlihat kecewa. Mereja mulai meninggalkan lapangan istana.


Aku bernapas lega. Tubuhku mendekatinya. "Apa perlu kubuat ramuan peningkat sihir untukmu lagi besok?"


"Seminggu sekali saja sudah cukup."


"Baiklah. Apa peralatanku sudah sampai?"


"Belum, besok baru sampai."


"Apa yang harus kulakukan hari ini?"


"Seperti biasa bantu aku mengerjakan dokumenku."


Aku tersenyum ke arahnya lagi. Kami melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Aku mulai menyukai pekerjaan ini.


***


Tamu yang ditemui oleh Raja datang lagi. Kali ini aku mengantarnya ke ruang tamu istana. Entah mengapa rasanya aku menjadi ajudan Raja saja. Penyihir ramuan istana menjadi pekerjaan sampinganku. 


Tak lama Raja datang. Dia duduk di hadapan tamunya. Tamu itu tersenyum ke arahnya.


"Ada keperluan apa Anda kemari?" tanya Raja tanpa basa basi.


"Saya ingin bekerja sama dengan Anda, Yang Mulia. Bagaimana kalau kita menikah untuk memperkuat hubungan kedua kerajaan?" tawar tamu itu.

__ADS_1


Pernikahan antar kerajaan akan menguntungkan kedua kerajaan. Mungkin saja Raja akan menerima tawaran ini karena sangat menggiurkan. Kucengkeram tanganku dengan tangan yang lain. Aku tidak setuju. Raja tidak boleh menikah dengan orang yang tidak dicintainya.


__ADS_2