
Banyak orang berdatangan di alun-alun ibu kota. Mereka ingin melihat eksekusi pembunuh penyihir yang mengegerkan kerajaan. Tersangka pembunuhan penyihir diikat pada tiang. Tak tampak penyesalan di wajahnya. Raja sendiri yang menjadi eksekutornya. Kegeraman Raja ikut dirasakan oleh orang-orang di sekitar.
Raja berbisik pada pembunuh itu. Pembunuh itu malah tertawa tanpa rasa takut. Dia berteriak, "Aku tidak mempunyai kata-kata terakhir." Api langsung menyambar tubuh pembunuh itu. Kobaran api semakin tinggi, panasnya mencapai penonton. Semua orang berteriak mengutuk pembunuh itu.
Aku terdiam melihat pemandangan di depan mataku. Meski yang lain bisa tenang, tetapi tidak denganku. Alasan orang yang membunuhku mengulang waktu belum kuketahui. Kerajaan bisa dalam bahaya bila orang itu berbuat sesuka hati.
Jika pembunuhku mengacau kerajaan maka sudah tanggung jawabku untuk menangkapnya. Meski tak tahu kapan dia mulai bergerak. Aku pasti akan mengalahkannya.
Keith menggenggam tanganku dengan erat. Aku menoleh ke arahnya berusaha untuk tersenyum. Yang terpenting adalah menjalani hari dan meraih tujuan utamaku.
Sesudah eksekusi itu selesai, aku dan Keith diundang ke istana. Eric memberikan penghargaan kepada kami.
"Ini adalah bentuk apresiasiku kepada kalian yang telah menangkap pembunuh itu." Lencana itu Eric pasangkan pada jubah penyihir kami. Kami menunduk menerima lencana itu.
Pencapaian ini akan membuatku semakin disegani pada kalangan bangsawan. Meski usiaku masih muda, aku tidak akan diremehkan seperti Trevor. Semuanya tidak luput dari campur tangan Keith.
Ini menggelitik hati nuraniku. Aku berniat menyakitinya tetapi dia selalu membantuku. Sekilas ada keraguan di hatiku untuk balas dendam kepadanya. Namun, tetap saja apa yang dia lakukan di kehidupanku sebelumnya aku tidak bisa memaafkannya. Balas dendamku harus tetap berjalan.
Sekarang aku dan Keith berada di kediamannya dihujani berbagai pertanyaan oleh Iris tentang kasus pembunuhan itu.
"Siapa pembunuh itu?"
"Siapa saja korbannya?"
"Bagaimana cara kalian menangkapnya?"
"Dari mana lencana kalian?"
Keith menjawab pertanyaan adiknya satu persatu sambil kubantu. Dia seperti kewalahan menanggapi adiknya. Iris mengangguk-angguk sambil mendengarkan cerita kami.
"Kalian keren sekali. Seandainya saja aku juga bisa bertarung seperti itu." Iris menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Aku pernah berada di kondisi yang sama dengan Iris. Saat merasa tidak berguna dalam keluarga. Trevor meminta kekuatan sihirku, dan aku menurutinya. Berharap diriku akan berguna. Padahal sebenarnya aku lebih hebat daripada dirinya. Hanya karena dia anak tertua bukan berarti aku harus menuruti semuanya.
Keith mengelus-elus kepala adiknya. "Kamu punya kelebihanmu sendiri, Iris. Berkatmu Ibu bisa bertahan hingga sekarang."
"Tetap saja, kemampuanku kurang, aku tidak bisa menyembuhkan Ibu," jawab Iris lirih.
"Kamu sudah mengusahakan yang terbaik Iris. Jangan bersedih." Keith menepuk kedua bahu adiknya.
Kesedihan Iris mulai terganti dengan keceriaan. Dia tersenyum.
Seandainya aku mempunyai kakak seperti Keith, tak perlu kurasakan penderitaan kehilangan panca inderaku. Aku iri pada mereka.
"Maafkan aku, Kak Diana. Suasananya jadi sedih begini, seharusnya kita bersenang-senang karena pencapaian kalian." Iris terkekeh.
"Tidak apa-apa, Iris. Apa kamu ingin jalan-jalan beli sesuatu? Akan kubelikan apa pun yang kamu mau.
Aku juga butuh teman untuk melihat-lihat pakaian. Iris adalah teman yang tepat.
Keith menatapku menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Diana."
Iris menggangguk senang. "Aku mau, Kak Diana."
Keith memegang kepalanya, sambil mendesah berat. Pada akhirnya dia tersenyum.
Kami naik kereta kuda menuju ke ibu kota. Tentunya dengan Keith. Dia ingin melindungi kami apabila terjadi sesuatu. Sebenarnya menurutku itu tidak perlu, karena aku bisa melindungi diriku sendiri dan Iris, tetapi Keith tetap memaksa.
Iris mencoba berbagai gaun. Aku memilih beberapa yang cocok untuknya. Ketika aku hendak membayar, Keith meminta Iris memilih satu gaun saja. Iris sama sekali tidak menggerutu. Dia merasa tidak enak padaku dan menuruti Keith. Pada akhirnya Iris hanya mendapat satu gaun.
Aku mencoba beberapa gaun, tetapi tidak sesuai dengan seleraku. Sedangkan, kakak beradik ini memintaku untuk mencoba semua gaun di sana. Mereka mengatakan semuanya cocok denganku. Apa mereka tidak bisa menilai sesuatu dengan baik? Kenapa semuanya bagus? Mana mungkin aku akan membeli semuanya? Kurasa salah mengajak mereka menemaniku. Pada akhirnya aku tidak membeli apa pun.
Kami menuju toko sepatu, toko aksesoris dan lain-lain. Keith hanya mengizinkanku membelikan satu barang di setiap satu jenis toko. Aku menuruti perkataan Keith, karena meski kupaksa Iris untuk membeli barang lain, dia sama sekali tidak mau. Tak ada yang kubeli di toko yang lain. Semuanya tidak menarik. Hari ini, aku mengeluarkan hanya untuk Iris.
__ADS_1
Kami makan di restoran. Aku membungkuskan beberapa camilan untuk mereka. Keith hendak membayar makanan kami, tetapi aku melarangnya. Hari ini dia sudah banyak melarangku, sudah sepatutnya aku nembalas.
Ketika sampai ke kediaman Skyrise, hari sudah malam. Sudah saatnya aku kembali ke kediamanku. Keith menarik tanganku saat aku naik ke kereta kuda untuk pulang.
"Ini sudah terlalu malam, apa kamu mau bermalam di sini, Diana?" tanya Keith malu-malu.
"Ehem... ehem... apa yang ingin Kakak lakukan?" goda Iris.
"Aku tidak akan melakukan apapun. Anak kecil sepertimu jangan berpikiran yang macam-macam." Keith meninggikan suaranya. Telinganya memerah.
Kurasa tidak masalah untuk bermalam di sini. Aku yakin Keith tidak akan berbuat macam-macam.
"Aku bukan anak kecil. Umurku hanya terpaut empat tahun dari Kakak dan aku sebenarnya bisa menikah, tetapi Kakak selalu melarangku berpacaran," gerutu Iris.
Itu artinya Iris dua tahun lebih muda dari pada aku. Saat ini umurnya 17 tahun. Keith 21 tahun sedangkan aku 19 tahun.
"Bagiku kamu masih seperti anak-anak Iris, laki-laki akan kesal padamu karena sikap kekanak-kanakanmu," balas Keith sambil terkekeh.
Mereka malah bertengkar sendiri dan melupakan aku di sini. Aku bahkan belum menjawab pertanyaan Keith tadi. Kuhela napas panjang. Keith mendengarku helaan napasku langsung menoleh ke arahku.
"Maafkan kami, Diana. Jadi bagaimana?" Dia menggaruk kepala bagian belakang.
"Kurasa semalam cukup. Aku akan kembali besok pagi."
Keith tersenyum cerah. Iris pun ikut gembira. Sepertinya Keith sudah jatuh cinta padaku. Sekarang hanya tinggal cara untuk meninggalkannya. Aku harus menuntaskan urusanku dengan Trevor terlebih dahulu agar Derek tidak menggangguku.
Seorang pelayan keluar dari kediaman Keith. Pelayan itu berlari seperti dikejar sesuatu, berhenti di depan kami. Napasnya tersengal-sengal. "Tuan, Nona, Nyonya terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah."
Wajah Keith dan Iris langsung pucat. Mereka langsung berlari menuju kamar ibunya. Kegembiraan yang mereka rasakan tadi langsung sirna. Aku mengikuti mereka dari belakang.
"Ibu!" teriak Keith dan Iris secara bersamaan saat masuk ke kamar Ibu mereka.
__ADS_1
Ibu mereka memegangi mulutnya yang mengeluarkan darah. Keith dan Iris yang panik langsung menghampirinya.
Jika aku meninggalkan Keith sekarang, itu artinya keuangan keluarga Skyrise akan memburuk. Kematian Ibu Keith akan semakin cepat. Keith akan menderita. Apa yang harus kulakukan?