Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 53 POV Iris Mengobati Raja


__ADS_3

Aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di istana. Jantungku berdebar-debar karena rasa senang. Mataku tidak bisa lepas dari keindahan dan kemewahan istana. Rasanya aku ingin tinggal di sini. 


Aku hampir lupa tujuanku untuk datang ke sini. Bertemu dengan Raja. Sebenarnya aku merasa takut karena pertemuan terakhir kali sikapku sangat lancang. Namun, dia juga salah. Dia ingin menghancurkan tempat penuh kenangan milikku.


Aku segera menemui penjaga istana untuk mengantarku ke ruang kerja Raja. Mereka sempat menanyaiku macam-macam, tetapi aku berhasil beralasan dengan ingin menyembuhkan Raja. Meski dalam kondisi tidak baik ternyata Raja masih berusaha mengerjakan semua tugasnya. Seharusnya orang sakit harus beristirahat. Segala sesuatu yang dikerjakan saat sakit tidak akan membuahkan hasil yang baik.


Aku sudah sampai di depan ruang kerja Raja. Penjaga istana kembali ke tempatnya kembali. Kubuka pintu yang berada di hadapanku.


Pemandangan yang berada di depan mataku, benar-benar mengerikan. Tumpukan dokumen berserakan di mana-mana. Buku-buku di rak tidak tertata rapi. Ada tumpukan buku di lantai yang roboh tetapi tidak dibenarkan.


Bagaimana bisa orang bisa bekerja di tempat seperti ini?


"Ada apa kamu datang ke sini?" ujar Raja ketus. Lingkaran hitam terlihat di bawah matanya. Matanya terlihat sayu dan kelelahan. Namun, ini tidak membuatku mundur untuk memarahinya.


"Bagaimana kamu bisa betah di tempat seperti ini?" tanyaku dengan nada tidak percaya.


"Bukan urusanmu." Raja kembali meneruskan pekerjaannya.


"Kenapa di sini sangat kacau? Apa seorang Raja tidak punya ajudan?"


"Benar," jawabnya singkat.


"Jangan-jangan kamarmu juga seperti ini," ejekku. Semua yang ada di pikiranku kukatakan padanya.


"Jangan seenaknya menghinaku. Pelayan membersihkan kamar tidurku." Suara Raja meninggi. Dia menatapku tajam.


Aku menghampirinya. "Akan kubersihkan ruang kerjamu."


"Untuk apa?"


"Aku tidak kuat melihat kekacauan ini," gerutuku. 


"Aku tidak butuh bantuanmu."


Aku tetap melakukannya. Buku-buku kurapikan. Dokumen-dokumen kuurutkan sesuai tanggal. Debu-debu yang berada di ruangan ini ikut kubersihkan. Meski Raja menolak tawaranku, dia diam saja melihatku. Sepertinya dia sudah kelelahan hingga tak mampu berdebat denganku.

__ADS_1


Sudah selesai. Ruangan ini terlihat lebih rapi dan bersih. Aku merasa bangga atas jerih payahku. 


Raja masih berkutat pada dokumen-dokumennya. Aku mengambil dokumen itu menjauhkannya dari meja kerja Raja.


"Semua itu masih belum kuselesaikan, kembalikan." Raja menunjuk kertas yang kubawa.


"Aku tidak mau, orang yang sakit seharusnya istirahat."


"Jangan mengganggu pekerjaanku." Raja menghampiriku merebut kertas yang berada di tanganku.


"Memaksakan diri untuk bekerja saat sakit tidak baik untuk tubuh dan pikiranmu. Penyakitmu akan semakin memburuk. Ditambah semua pekerjaanmu tidak ada yang benar. Kamu hanya membuang-buang waktu." Aku mengambil kertas itu kembali.


"Jangan suka mencampuri urusan orang lain." Raja berusaha mengambil kertasku tetapi kutahan.


"Sebagai rakyat yang baik, aku hanya mengingatkan raja."


"Dasar-" kata-kata Raja terhenti. Dia memegangi kepalanya dan keseimbangannya goyah.


Aku memeganginya agar tidak terjatuh. "Lihat saja, kamu bahkan tidak bisa berdiri dengan benar. Istirahatlah terlebih dahulu," omelku.


"Tidak ada dokter atau penyihir ramuan."


"Kenapa?"


"Aku tidak mempercayai mereka."


Amarahku mulai naik ke ubun-ubun. Jangan-jangan dia tidak mempunyai ajudan karena tidak percaya kepada orang. Jika melakukan segala sesuatu sendirian malah akan membebani diri sendiri. Masih untung dia mau mempekerjakan pelayan, dan penyihir istana. Jika tidak mungkin dia akan melakukan semuanya sendirian.


"Dasar bodoh."


Raja melotot ke arahku sambil menunjukku. "Kamu berani menghina Raja?"


"Aku hanya mengatakan kenyataan."


Ketika hendak membalasku, dia memegangi kepalanya lagi. Seperti aku juga keterlaluan membuat orang sakit marah-marah.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan?" tanyaku khawatir.


Dia hanya memandangiku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Bagaimana caranya aku bisa membantumu jika kamu tidak ingin dibantu," gerutuku.


"Aku tidak butuh bantuanmu," balasnya ketus. Ia masih memegangi kepalanya, mengernyit kesakitan.


"Sikapmu seperti ini malah akan menghambat dirimu sendiri dan orang lain. Pembunuh itu masih berkeliar di luar sana, tetapi kamu sangat keras kepala tidak mau disembuhkan. Apa kamu malah senang jumlah rakyatmu berkurang, sehingga tidak perlu repot-repot mengurus mereka?!" Aku mulai mengomel panjang lebar pada Raja bebal ini. 


"Cukup! Berhenti berbicara. Kepalaku pusing, tubuhku lelah, dan aku tidak bisa tidur. Puas?!" teriaknya.


Amarahku mulai reda. Aku tersenyum berusaha menenangkan diriku sendiri dan Raja. "Baiklah, aku akan membuatkanmu ramuan. Kalau khawatir akan diracun, kamu boleh melihat seluruh proses pembuatan ramuanku."


Raja diam saja. Aku anggap dia ingin melihat proses pembuatan ramuan. "Apa kamu punya bahan-bahan untuk membuat ramuan?" lanjutku.


"Ada di lemari sebelah sana." Raja menujuk lemari yang berada di pojokan.


Aku segera ke sana membuka lemari itu. Untungnya Raja menyimpan beberapa bahan yang berguna. Sepertinya selama ini dia mengobati diri sendiri dengan memakan bahan-bahan ini langsung. Memang bisa menyembuhkan, tetapi akan lebih lama dibandingkan dibuat menjadi ramuan sihir.


Aku mengambil gelas miliknya. Kumasukkan akar-akar yang dapat meredakan rasa pusing dan kelelahan. Aku menunjukkan bahan-bahan itu pada dirinya. Kuproses semuanya dengan sihir. Ramuan sihir sudah siap.


Aku memberikan ramuan itu padanya. Dia meminumnya dengan ragu-ragu. Setelah habis, wajahnya terlihat lebih cerah. Ramuanku manjur.


"Aku akan kembali besok untuk memeriksa keadaanmu."


"Terserahmu saja." Dia memalingkan muka.


Aku kembali keesokan harinya, membuatkan ramuan sihir untuk Raja lalu pulang. Setelah kurasa cukup aku berpamitan untuk berhenti menemuinya lagi.


"Sepertinya kamu sudah sembuh. Aku tidak akan kembali lagi."


Dia tidak menatapku, memandang kertasnya. Aku mendengus kesal. Syukurlah aku tidak perlu datang ke sini lagi. Begitu aku sampai di pintu, terdengar sesuatu.


"Terima kasih."

__ADS_1


Aku tersenyum tanpa berbalik. Setidaknya dia tahu berterima kasih.


__ADS_2