Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 7 Pertunangan Kontrak


__ADS_3

Surat Pertunangan Kontrak


Pihak pertama dan pihak kedua setuju untuk bertunangan dengan syarat:


1. Bersikap harmonis di depan orang lain.


2. Pihak pertama akan memberikan sejumlah uang pada pihak kedua sesuai kesepakatan.


3. Saat masa kontrak pihak pertama dan kedua harus membantu satu sama lain.


4. Salah satu pihak dapat membatalkan kontrak tanpa persetujuan pihak lain apabila ada yang melanggar persyaratan kontrak.


5. Kontrak dapat dibatalkan apabila pihak pertama dan kedua sudah tidak mempunyai keuntungan dalam pertunangan kontrak.


^^^Pihak pertama : Diana Moonlight TTD^^^


^^^Pihak kedua : Keith Skyrise^^^


Keith membaca kertas itu dengan saksama sambil memegang dagu. Aku tahu Keith akan menyetujuinya. Dulu dia bertunangan denganku karena membutuhkan uang untuk membiayai pengobatan ibunya. Trevor pasti memberikan sejumlah uang kepadanya. Dia meninggalkanku karena tidak butuh uang pengobatan untuk ibunya lagi.


Aku menulis surat kontrak ini agar bisa membuang Keith sewaktu-waktu. Tidak mungkin aku bersama dengannya hingga menikah. Di masa depan dia bisa mencintaiku tetapi tidak dengan aku yang cacat. Aku tidak ingin menikahi orang yang hanya mencintaiku dari fisik saja. 


Keith membuka suara sambil melihat kertas itu. "Jadi begitu, kamu membutuhkan tunangan untuk menjauhkanmu dari para pelamar itu."


"Benar, lagipula aku tahu kamu membutuhkan banyak uang untuk mengobati ibumu," jawabku dingin.


"Dari mana kamu tahu kalau ibuku sakit?" Keith meletakkan surat kontrak kami sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Aku punya banyak informan," ujarku singkat.


Aku mengetahuinya dari Keith saat kehidupan sebelumnya. Ibunya sedang sakit parah. Dia dan adiknya berusaha untuk mengumpulkan uang. Keith yang tidak ingin adiknya menikah dengan bangsawan lain, mengorbankan diri bertunangan dengan seorang gadis cacat. Gadis itu adalah aku.


"Begitu ya, kita juga harus bersikap harmonis." Dia menunjuk poin pertama dalam surat kontrak.


"Saat di depan orang saja, terutama saat pesta. Aku tidak ingin ketahuan kalau hubungan kita pura-pura. Bila tidak harmonis pelamar-pelamar itu akan kembali melamarku."


Itu salah satu alasannya. Alasan tersembunyi adalah membuat Keith tanpa sadar jatuh cinta padaku. Aku akan membuatnya terlena akan kepalsuan. 


"Itu benar. Poin yang ketiga itu juga menguntungkan satu sama lain," katanya sambil mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Berapa uang yang kamu inginkan?" tanyaku padanya.


"Sesuai kemampuanmu saja. Kalau bisa tiap bulan. Aku juga tahu kalau kamu kesulitan karena kematian ayahmu dan kakakmu yang menghilang," katanya lembut dengan tatapan prihatin.


Berhentilah berpura-pura peduli padaku. Aku tahu sebenarnya kamu menginginkan sekali banyak uang.


"Sepuluh ribu keping emas tiap bulan bagaimana?" tawarku.


Matanya langsung terbelalak. Apa kurang? Haruskah kutambah lagi jadi seratus ribu?


"Tidak kusangka keluarga Moonlight mempunyai uang sebanyak itu. Lima ribu keping emas saja cukup." Keith mengibas-ibaskan tangannya. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya jumlah yang kukatakan tadi lebih besar dibandingkan yang ditawarkan oleh Trevor pada kehidupan sebelumnya. Namun, tidak tahu juga. Trevor tak pernah memberitahu hal ini padaku.


"Baiklah, lima ribu keping." 


Aku membuka tanganku, menggunakan sihir untuk memindagkan benda. Pena melayang ke arah kami. Aku menuliskan jumlah itu di surat kontrak kami. Lalu kuletakkan pena itu di meja.


"Apa aku boleh menambahkan sesuatu di surat ini?" tanya Keith.


Aku mengulurkan tangan untuk mempersilakan dia mengatakan tawarannya. "Menambahkan apa?"


"Lebih baik kita juga saling mengunjungi kediaman satu sama lain tiap minggu sekali," cetusnya.


"Tambahkan saja," balasku singkat.


Aku menyodorkan pulpen dan kertas padanya. Dia menuliskan ide tadi menjadi poin yang keenam. Setelah selesai, dia meletakkan pena.


"Apa ada lagi?" tanyaku.


Jari telunjuknya diangkat setinggi kepala. "Oh ya, kita harus tahu keadaan satu sama lain. Tidak mungkin jika salah satu di antara kita sakit kita tidak mengetahuinya bukan?" Dia menggoyang-goyangnya jari telunjuknya itu.


Aku menyodorkan tanganku padanya. "Baiklah, tambahkan saja."


Ternyata dia pintar juga. Dia mampu mengetahui kekurangan surat kontrak ini. Sudah pasti, dia pernah berpengalaman dalam berpacaran. 


Dia menuliskan poin ketujuh. Lalu memperlihatkannya padaku. Aku memeriksanya, jika dia menuliskan sesuatu yang lain. Apa yang dia tulis sesuai ucapannya.


"Apa ada yang ingin kamu tambahkan lagi?" Sepertinya masih banyak yang ada dipikirannya. 


"Kurasa tidak ada." Dia menggelengkan kepala.

__ADS_1


Dugaanku salah.


"Pada poin yang keempat dan kelima, apa kamu setuju?"


Kedua poin ini belum kami bahas dari tadi. Justru kedua poin inilah yang paling penting dari rencanaku.


"Aku setuju. Poin keempat untuk berjaga-jaga bila salah satu pihak mengkhianati pihak lain. Dengan kata lain sebagai jaminan kepercayaan. Lalu poin kelima karena pertunangan ini merupakan kontrak belaka sudah pasti akan berakhir," jelasnya.


Itu adalah saat aku akan membuangmu.


"Sepertinya kita sudah setuju. Kalau begitu tanda tanganilah surat pertunangan kontrak kita." Aku meletakkan surat kontrak kami sambil tersenyum.


Keith meraih pena. Dia hendak menandatangi surat itu, tetapi berhenti. Dia menatap mataku. "Sebelum itu, aku ingin bertanya kenapa kamu memilihku di antara pelamar yang lain?"


Karena aku ingin membuatmu menderita. Lalu, sebenarnya kamu dapat dipercaya. Kamu tidak pernah melakukan kekerasan padaku atau mengata-ngataiku cacat. Kamu selalu membantuku walaupun hanya sebuah kepalsuan. Lalu karena lelah berpura-pura, kamu meninggalkan aku.


"Kamu beruntung, aku memilih acak dan namamu yang terpilih," jawabku berbohong.


"Baiklah, aku akan berusaha semaksimal mungkin," jawabnya bersemangat.


Pandangan Keith beralih pada surat pertunangan kontrak kami, lalu menandatanginya. Dengan ini kami bertunangan. Dia menyodorkan surat pertunangan kepadaku. Aku meraihnya dan menyimpannya.


"Jangan lupa menghubungiku bila Tuan Rockyard datang lagi, Diana," katanya sambil tersenyum.


"Tenang saja, Keith. Kalau pun kamu tidak datang aku bisa mengusirnya sendiri," jawabku ketus.


Sepertinya aku harus berusaha menahan amarahku kepadanya. Jika terus-menerus bersikap tidak ramah, bisa-bisa dia malah menjauhiku. Rencanaku akan gagal.


Dia tidak menyadari keketusanku. Meraih tangan kananku, lalu menciumnya.


"Senang bertunangan denganmu, Diana."


Tahan dirimu Diana. Tahan diri jangan marah.


"Sampai bertemu, Keith." Aku berusaha tersenyum.


Keith membalas senyumanku. Dia membungkuk sopan lalu pergi. Aku mengantarnya sampai ke depan kediamanku. Dia naik kereta kuda. Aku melihat punggungnya yang semakin mengecil. Dia berbalik sambil melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaian tangannya dengan enggan.


Kereta kuda itu semakin jauh. Aku melihat langit biru. Sepertinya hari itu hari yang cerah seperti ini. Kuyakin karena aku sempat melihat keluar jendela waktu itu. Saat pertama kali aku bertemu dengan Keith.

__ADS_1


__ADS_2