
Masa lalu
Semenjak aku melihat Keith dan Stella saling berpelukan dan menyatakan cinta mereka, hubungan kami tidak seperti sebelumnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya menanggapi semua perbuatan Keith padaku. Tanpa sadar aku menjauhi dirinya, meskipun dia sering menemuiku. Namun kami tidak pernah keluar pada malam hari lagi karena aku selalu menolak ajakannya. Dia kembali dengan kecewa.
Hari ini kami berjalan-jalan di taman. Aku melihat bunga-bunga yang bermekaran. Jika aku masih bisa membau pasti akan harum sekali. Tanganku meraih bunga mawar yang terlihat indah. Jariku terkena durinya. Aku meringis.
"Kamu tidak apa-apa, Diana?" Keith segera mendekatiku melihat gelagatku yang kesakitan.
Aku menggeleng. Meski begitu dia tetap khawatir melihat jariku yang berdarah. Lantas membawaku ke kamarku. Aku duduk di sisi ranjang.
"Tunggu sebentar, aku akan mengobatimu, Diana," katanya cemas.
Aku mengangguk. Keith segera keluar mencari obat-obatan. Walau tidak mencintaiku, dia tetap bersikap baik kepadaku. Pasti dia hanya merasa kasihan padaku yang seperti ini.
Tak lama dia datang membawa kapas, plester dan obat-obatan. Dia membersihkan lukaku terlebih dahulu lalu membubuhkan obat penyembuh luka dan memplester jariku yang terluka. Dia tidak perlu sampai berbuat seperti ini. Ini terlalu berlebihan, dia bisa menyerahkannya pada pelayan tak perlu mengobatinya sendiri. Ini yang membuatku tidak bisa melupakan rasa cintaku padanya.
Dia mengelus-elus jariku yang terluka. Lalu menatap mataku dengan nanar. Aku tersenyum ke arahnya. Tanganku masih dipegang olehnya, jadi tidak bisa kutulis kata terima kasih.
Tangan Keith membelai rambutku dengan lembut. Dia mencium rambutku. Lalu mengelus pipiku. Aku tak tahu kenapa dia seperti ini, tetapi perhatiannya ini membuatku senang.
Dia membaringkan diriku di atas ranjang. Wajahnya berada di atasku. Tatapannya membuatku terlena. Bibir kami saling berdekatan. Aku menutup mataku perlahan. Meski ini hanyalah pura-pura setidaknya aku ingin merasakan kasih sayangnya. Aku bisa merasakan napasnya yang semakin dekat. Kami akan berciuman.
Sebelum itu terjadi Keith berhenti. Aku membuka mataku. Dia menatapku dengan marah. Lalu menggertakkan giginya. "Sialan."
Dia segera pergi membanting pintu dengan keras. Aku masih mematung di atas ranjang, berusaha meresapi apa yang terjadi.
Bahkan diriku tidak terlihat menarik di matanya. Aku menutup mataku dengan lenganku. Air mataku terus mengalir tiada henti. Ini menyakitkan, aku ingin segera melupakannya. Aku tidak bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Semuanya sia-sia.
***
__ADS_1
Setelah itu tidak datang menemuiku selama berhari-hari. Aku menulis surat kepada Eric untuk menceritakan semua rasa sakit yang kurasakan. Aku ingin merasa lega dan ada orang yang menghiburku. Namun, tidak ada jawaban.
Aku marah pada semua orang. Kenapa semuanya meninggalkanku? Aku tidak punya salah apa pun pada mereka. Hanya karena tidak bisa mencium bau dan berbicara, mereka seperti ini. Aku hanya ingin berkorban demi keluargaku yang lebih baik, cuma itu.
Lalu, tibalah ritual transfer kekuatan sihir yang ketiga. Aku menjalannya dengan tidak bersemangat seperti biasanya. Entah indera apa yang akan hilang setelah ini.
"Maafkan aku, Diana," kata kakakku sambil mengambil gelas yang berisi darahku.
Aku mengangguk sambil tersenyum ke arahnya. Benar yang peduli kepadaku hanya kakakku saja. Hanya ini yang bisa kuberikan padanya.
Begitu terbangun pada keesokan harinya. Pandanganku gelap. Aku yakin sudah membuka mata, tetapi sama sekali tidak terlihat cahaya. Pemandangan kamarku yang biasa kulihat setiap hari, sekarang hanyalah dunia hitam.
Tingggal dua kali ritual transfer sihir. Setelah itu aku bisa mati dengan tenang.
Aku tidak beranjak dari tempat tidur semenjak itu. Ketika membutuhkan sesuatu kupanggil pelayan dengan membunyikan lonceng.
Terdengar langkah kaki mendekatiku lalu duduk di kursi di samping kasur.
"Lama tidak bertemu, Diana."
Aku kenal suara itu. Itu adalah suara Keith. Tak kujawab, aku hanya tertunduk sambil bersandar di dipan ranjang.
"Maaf kalau aku baru datang sekarang. Setelah pertemuan kita terakhir waktu itu, ibuku tidak sadarkan diri. Aku harus merawatnya. Tak kusangka beliau akan meninggal secepat itu tiga hari yang lalu. Kemarin adalah hari pemakamannya. Aku sangat sibuk jadi hari ini baru bisa menemuimu," lanjutnya lirih. Dia terdengar sangat sedih.
Aku ingin mengucapkan turut berbela sungkawa tetapi tidak bisa. Tidak bisa pula menulis di kertas lagi. Hanya satu yang bisa kulakukan yaitu dengan menulis di tangan Keith, tetapi aku tidak mau menggenggam tangannya lagi. Rasanya menyakitkan bahwa tahu kalau dia tidak bisa menjadi milikku.
"Pertunangan kita dibatalkan, Diana. Maaf aku tidak bisa menemuimu lagi," katanya lirih.
Aku tercengang menoleh ke arah suaranya. Setelah tidak lelah menjalani pertunangan ini dan terus berpura-pura dia mencampakkanku. Rasa benciku meluap-luap hingga aku tidak bisa mengendalikan diri lagi.
__ADS_1
"Diana?" Keith mengayunkan lengannya di depan mataku. Dia baru sadar kalau sekarang aku buta.
Brak...
Sihir angin yang kukeluarkan menghempaskan Keith ke dinding. Aku menggunakan sihir telekinesis untuk membuka pintu lalu mengeluarkan Keith dari kamarku. Aku segera menguncinya.
"Maafkan aku, Diana. Aku tidak tahu kalau kamu telah kehilangan penglihatanmu," teriaknya sambil menggedor-gedor pintu.
Kalau kamu tahu setelah itu apa? Apa kamu akan berpura-pura mencintaku dan mengasihaniku hingga aku mati? Aku tidak perlu belas kasihanmu.
"Aku benar-benar minta maaf, Diana," katanya semakin pelan, gedoran pintu pun tidak terdengar lagi.
Aku menutup telingaku tidak ingin mendengar perkataannya sekali lagi. Itu semua hanya tipu muslihatnya. Aku tidak mempercayainya.
Tubuhku meringku di ranjang sambil menutup telinga. Tiba-tiba sebuah tangan menyikap tanganku. Aku segera mengeluarkan sihir angin lagi untuk menghempaskan orang ini, tetapi dia sama sekali tidak bergerak.
"Ini aku, Diana."
Ternyata kakakku. Sihir angin kubatalkan.
"Aku tahu apa yang terjadi tentang dirimu dan Keith. Dia hanya memanfaatkanmu, Diana. Pertunangan kalian hanyalah sebagai alat untuk mendapat pengobatan bagi ibunya. Jadi aku membatalkan pertunangan kalian sebelum dia semakin menyakitimu. Dia ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya dan aku mengizinkannya untuk mengucapkan selamat tinggal," kata kakakku khawatir.
Ternyata begitu. Keith menyampaikan perihal pembatalan pertunangan kami karena diberitahu kakakku. Aku menggenggam tangan kakakku lalu menuliskan sesuatu.
'Terima kasih, Kak.'
"Maafkan aku karena salah menilai orang Diana. Kukira dia adalah orang baik," ucap kakakku lirih.
Aku menggeleng berusaha menenangkannya. Ini bukan salah siapapun. Keith memang baik, terlalu baik hingga membuatku tersakiti karena mencintainya. Cintaku yang tak terbalas ini akan kucoba lupakan. Meski tahu ini akan sulit.
__ADS_1