
Aku telah tiba di istana. Keith sudah menungguku di depan pintu gerbang. Dia mengulurkan tangan, membantuku turun dari kereta kuda. Aku merangkul tangannya agar hubungan kami terlihat mesra di mata orang-orang.
Terdengar bisikan orang-orang yang melihat kami. Aku tidak menghiraukan mereka. Ini malah bagus bagiku. Keharmonisan kami akan semakin tersebar ke seluruh kerajaan.
Ini pertama kalinya aku datang pada pertemuan Kepala Keluarga. Ada perasaan bersemangat yang memenuhi hatiku. Keith juga menyadarinya, dia tersenyum ke arahku. Kuhela napas panjang untuk menenangkan hatiku. Aku harus bersikap seperti Ayahku, terlihat tegas dan bijaksana.
Kami sudah sampai di aula pertemuan. Para kepala keluarga duduk melingkari meja. Derek sudah menempatkan diri. Aku dan Keith duduk di meja yang berjauhan dengan Derek. Lalu pria berambut pirang membuka pintu. Aku memandangi pria itu cukup lama. Ciri-ciri pria itu seperti gadis yang kukenal.
"Beliau Ayahnya Stella, Tuan Frostein," celetuk Keith di telingaku.
Keith pasti memperhatikanku karena pandanganku terpaku pada pria itu. Dia menyadari pertanyaan yang ada di kepalaku.
"Begitu ya, apakah beliau salah satu penyihir hewan dan alam juga?" bisikku.
"Benar, sama seperti Stella," balas Keith.
Kami berbicara dengan volume yang sangat kecil, karena tidak ingin sampai terdengar oleh ayahnya Stella. Setelah itu, kami tidak membicarakan apa pun lagi, karena takut suara bisikan kami terdengar oleh yang lain.
Kepala Keluarga mulai memenuhi meja bundar itu, hingga menyisakan satu kursi yang paling mewah. Eric membuka pintu, seluruh kepala keluarga berdiri sambil menunduk kepadanya, kami memberi hormat kepada Sang Raja. Eric berjalan lalu duduk di kursi yang mewah itu. Kami semua duduk lalu menatap ke depan.
Eric membuka suara. "Saya senang seluruh Kepala Keluarga dapat hadir di sini. Pertemuan kali ini akan membahas yang penting, yaitu pembunuhan penyihir yang terjadi akhir-akhir ini," tegas Eric tanpa basa-basi.
Para Kepala Keluarga saling berbisik. Kericuhan terjadi pada pertemuan ini, seperti dugaan Keith. Aku bisa mendengar beberapa bisikan itu dengan jelas.
"Aku sudah mendengarnya, tetapi tidak kusangka Raja tidak bisa mengatasinya."
"Kenapa Raja menyembunyikan kasus ini?"
"Pasti Raja mengundangkan kita di sini untuk membantunya."
Eric pasti bisa mendengar hal ini. Dia terlihat sangat kesal. Tangannya dia banting ke meja. Seisi ruangan langsung terdiam.
"Jika kalian tidak bisa diam. Keluarlah dari sini." Eric meninggikan suaranya.
__ADS_1
Wajah ketakutan menghiasi ruangan ini. Mereka sudah keterlaluan. Yang mereka tahu hanyalah bersenang-senang tanpa tahu usaha Eric untuk mencari pembunuh itu. Begitu ingin dimintai tolong, mereka malah mengoceh tidak jelas.
"Saya menyembunyikan kasus ini karena tidak ingin terjadi kekacauan di Kerajaan. Saya mengundang kalian untuk membantu dalam penyelidikan pembunuhan penyihir ini. Apa kalian keberatan untuk dimintai bantuan?" Eric menatap tajam kami semua.
Ini adalah peringatan sekaligus mempertanyakan loyalitas Kepala Keluarga pada Raja. Orang yang keluar dari sini artinya sumpah kesetiaannya pada Raja hanya di mulut saja. Lalu orang itu bisa dicurigai sebagai pembunuh atau kaki tangan pembunuh penyihir itu.
Semua orang terdiam. Eric melanjutkan perkataannya, "Saya anggap kalian setuju. Korban pembunuhan memiliki ciri-ciri luka yang hampir sama, yaitu bekas tusukan sihir jarum es."
Semua orang kembali berbisik. Aku ingin berteriak di aula ini. Tidak bisakah kalian diam dan mendengarkan perkataan Eric terlebih dahulum
Eric mengangkat tangannya lagi. Mereka semua langsung terdiam sebelum Sang Raja marah lagi.
"Pembunuh penyihir itu adalah sesama penyihir yaitu Penyihir Petarung. Lalu korbannya juga Penyihir Petarung. Bisa saja target selanjutnya ada di antara kita."
Beberapa Kepala Keluarga terlihat tenang sedangkan yang lainnya ricuh. Menurutku mereka yang tenang, tidak mempunyai anggota keluarga dengan jenis Penyihir Petarung. Sedangkan yang ricuh, Penyihir Petarung pasti dimiliki oleh keluarga mereka, atau mungkin mereka sendirilah Penyihir Petarung. Mereka ketakutan menjadi sasaran berikutnya.
"Meski Penyihir Ramuan dan Penyihir Hewan dan Alam tidak termasuk dalam target selanjutnya, saya harap kalian ikut membantu."
Kepala Keluarga yang tenang tadi, menunduk setuju kepada Eric. Dugaanku benar.
Semua Kepala Keluarga termasuk aku menyahut, "Baik, Yang Mulia."
"Apa ada pertanyaan?" tanya Eric.
Derek mengangkat tangannya. Eric mempersilakan Derek bertanya.
"Apakah ada ciri spesifik lain selain pembunuh itu adalah Penyihir Petarung, Yang Mulia?" tanya Derek.
"Hanya itu yang bisa saya temukan," jawab Eric.
"Baiklah, terima kasih, Yang Mulia." Derek menunduk.
Entah mengapa Derek terlihat bersemangat sekali untuk menangkap penyihir ini. Kurasa dia ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah Kepala Keluarga yang kuat dan bisa diandalkan sehingga tidak dipandang sebelah mata oleh Kepala Keluarga yang lain.
__ADS_1
Keith mengacungkan tangannya. Eric menatapnya tajam sambil membiarkannya Keith berbicara. "Apa ada petunjuk lain untuk target selanjutnya, Yang Mulia? Apakah pembunuh itu tidak meninggalkan bukti penting yang bisa menandakan bahwa orang itu adalah pelakunya?"
"Tidak ada bukti yang ditinggalkan di lokasi pembunuhan. Saya hanya bisa mengira pembunuh itu menyasar orang-orang yang tidak terlihat penting di keluarga bangsawan," tutur Eric.
Ciri-cirinya hampir sama denganku dulu. Kemungkinan pembunuh itu sama dengan pembunuhku di kehidupan sebelumnya semakin besar. Aku benar-benar akan membuat pembunuh itu buka mulut.
"Terima kasih, Yang Mulia." Keith membalas Eric dengan tatapan tajam.
Entah mengapa mereka berdua sepertinya tidak bisa akur. Sikap bermusuhan Eric tunjukkan saat pesta gelar kepala keluargaku. Keith ikut-ikutan bersikap seperti itu karena membalas sikap Sang Raja yang tidak ramah.
"Apa ada pertanyaan lain?" Eric mengedarkan pandangannya pada kami.
Aku tidak mempunyai pertanyaan yang penting. Hal yang mengusikku sudah ditanyakann oleh Keith. Merasa tidak ada pertanyaan lagi, Eric menutup pertemuan kali ini.
"Kalian bisa pulang. Saya menunggu kabar terbaik tentang pembunuh itu." Eric berdiri meninggalkan ruangan ini.
Kepala Keluarga yang masih berada di sini keluar kembali ke kediamannya masing-masing. Keith menggenggam tanganku. Kami meninggalkan aula pertemuan ini berdua.
Ada orang yang menarik lenganku yang bebas. Ternyata Eric belum kembali ke ruang kerjanya. Kenapa dia menungguku di sini?
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Diana," kata Eric menatapku lurus.
Aku menoleh ke arah Keith mengisyaratkan kalau tidak bisa menolak permintaan ini. Keith mengangguk pelan.
"Baiklah," balasku.
Kami masuk kembali ke aula pertemuan tadi. Eric duduk di kursinya tadi, sedangkan aku duduk di kursi sebelahnya.
"Ada apa Eric?" tanyaku.
Aku tidak tahu apa yang ingin Eric bicarakan denganku. Mungkin sebenarnya dia sudah tahu pembunuhnya tetapi tidak mengatakannya? Kurasa tidak. Jika seperti itu tidak mungkin dia terlihat kesal.
"Aku tahu kalau pertunangan kalian cuma sandiwara saja, Diana."
__ADS_1
Tanganku kukepalkan erat-erat. Bertambah satu lagi orang yang mengetahui pertunangan kami hanyalah kontrak belaka.