Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 39 Pernyataan Cinta


__ADS_3

Kubuka mataku perlahan. Langit-langit di atas bukanlah kamarku.


"Diana," teriak Keith.


Tubuhku terasa sakit semua. Kutolehkan kepalaku ke samping. Keith duduk di samping kasur sambil memegangi tanganku. Iris berdiri di belakangnya tampak khawatir.


Aku mengingat kejadian sebelum pingsan. Pertemuan dan pertarunganku dengan Derek. Pembunuhku dan pembunuh penyihir di kerajaan. Segera kubangkitkan tubuhku.


"Aku butuh kertas dan pena. Aku harus menghubungi Eric," kataku tergesa-gesa.


Wajah Keith dan Iris mengeras. Keith berusaha menenangkanku.


"Istirahatlah dulu, Diana. Lukamu memang sudah sembuh tetapi tetap saja tubuhmu belum pulih sepenuhnya," katanya dengan lembut.


"Tidak, pembunuh itu. Aku harus segera memberitahu-," kata-kataku tersendat.


Napasku terasa sesak. Kupegangi dadaku yang terasa sakit.


"Kak Diana." Iris berteriak khawatir.


Dia segera mengambil ramuan sihir yang terletak di meja rias. Lalu meminumkannya kepadaku. Napasku sudah lebih teratur. Rasa sakitku sudah hilang.


Keith melihatku dengan raut wajah yang sangat kacau. Genggaman tangannya semakin erat. "Tenangkanlah dirimu, Diana. Bicaralah pelan-pelan."


"Jadi siapa yang membuatmu begini? Apakah pembunuh orang terlantar itu?" lanjut Keith.


"Benar dia adalah pembunuh itu. Pembunuh yang kita tangkap sebelumnya hanyalah umpan. Dialah otak sebenarnya. Orang itu adalah Derek Rockyard," terangku dengan suara berat. Dia akan kubalas, tetapi tidak dalam kondisi seperti ini. Akan kupulihkan diriku lalu meningkatkan kekuatan sihirku.


Mata Keith melebar. Amarah menyelimutinya. Aku tidak pernah melihatnya semarah itu. 


"Orang yang ditolak waktu pesta gelar kepala keluarga Kak Diana, benar?" tanya Iris.


"Itu benar. Kemarin dia datang melamarku lagi. Tentu saja aku menolaknya. Kami bertarung dan aku kalah. Kekuatan sihirnya semakin kuat karena menyerap sihir korban-korban yang mati mengenaskan itu." Aku mengangguk sambil menjelaskan panjang lebar.


Masalah tentang kami yang mengulang waktu tetap kurahasiakan dari mereka. 

__ADS_1


"Kekuatannya bertambah dengan menyerap kekuatan penyihir lain?" Keith bertanya seakan tidak percaya.


"Itu benar, sihir uniknya adalah transfer sihir," balasku.


Keheningan terjadi di antara kami. Keith menggertakkan giginya.


"Aku akan mengambilkan kertas dan pena untukmu. Iris bawakan makanan untuk Diana. Kamu istirahatlah terlebih dahulu, Diana," perintahnya.


"Baik, Kak." 


Iris segera keluar. Keith masih berada di sini. Dia menatapku tajam karena aku tidak menuruti perintahnya. Aku pun segera berbaring. Merasa perintahnya telah dipatuhi, dia segera keluar untuk mengambilkan keperluanku, sorot matanya tidak berubah. Baru kali ini aku melihat sisinya yang seperti itu. Dia terlihat menakutkan. 


Iris kembali dengan membawa makanan. Aku bersandar di dipan kasur untuk makan. Tangan Iris menyendok bubur itu lalu mengarahkannya padaku.


"Aku bisa melakukannya sendiri," tolakku.


"Orang terluka tidak boleh bekerja terlalu keras," balasnya sambil menatapku tajam.


Makan bukanlah aktivitas yang berat. Dia menganggapku seperti anak-anak Tubuhku masih lelah, aku tidak mau berdebat lebih lanjut jadi kuturuti saja.


"Aku dan Kakak sangat khawatir melihat Kak Diana kemarin. Kami takut kalau Kak Diana pergi menjemput Ibu, terutama Kakak. Dia berteriak-teriak memanggilku meski sebenarnya kami masih bertengkar." Iris bercerita sambil memasukkan bubur ke mulutku.


Mereka berdua bertengkar? Kenapa? Belum sempat kuhabiskan bubur ini di dalam mulutku dan bertanya, Iris melanjutkan. 


"Alasan kami bertengkar itu rahasia. Pada akhirnya kami berbaikan kembali hari ini."


Iris bersikap sok rahasia, tetapi walau aku bertanya pada Keith sepertinya dia juga tidak akan menjawabnya. Iris menyodorkan sendok di depan mulutku lagi. Ini adalah suapan terakhir. Aku melahapnya. 


Keith datang membawa kertas dan pena, menyerahkan keduanya padaku. Aku segera menuliskan identitas pembunuh itu. Kualirkan sihirku pada surat itu agar Eric segera membukanya dan menyadari bahwa ini dariku, karena pasti cap lilin yang dibubuhkan adalah milik Keith. Mereka tidak akur dan kemungkinan Eric membacanya sangat sedikit, jadi untuk berjaga-jaga aku melakukan itu.


Kuserahkan surat itu pada Keith. 


"Aku akan segera mengirimkannya pada Raja. Iris kamu jaga Diana. Pastikanlah dia beristirahat. Lalu Diana jangan berani-berani berteleportasi ke kediamanmu. Kamu belum pulih benar," peringat Keith.


Hari ini suasana hatinya benar-benar buruk. Dia tidak tersenyum sama sekali. Mungkin melihat kondisiku kemarin membuatnya marah pada Derek, atau karena pembunuh itu masih berkeliaran bebas, atau karena keduanya. Tatapannya sangat tajam hingga bisa membunuh orang. 

__ADS_1


"Baik, Keith," jawabku singkat.


Kedua orang ini tidak akan membiarkanku ke mana-mana. Sepertinya aku harus berdiam diri di sini sampai benar-benar pulih.


***


Sudah tiga hari aku di kediaman Skyrise. Aku sudah pulih dan besok Eric akan menjemputku. Sebenarnya dia ingin menemuiku setelah mendapat suraku, tetapi Keith melarangnya. Keith meminta Eric untuk fokus menangkap Derek. Sedangkan perihal pulihnya diriku diserahkan kepada Keith karena ada Iris sebagai Penyihir Ramuan. Keselamatanku juga terjamin karena Keith akan melindungiku. Pada akhirnya Eric mengalah. Aku mendengar semua itu dari mulut Keith. Kurasa dia bicara jujur.


Aku sama sekali tidak bis berkutik karena ada penjaga yang terus berada di sampingku. Iris menemaniku seharian siang dan malam. Di hanya keluar saat mengambil makanan, membuat ramuan, dan mandi. Dia tidur di sampingku memastikan kalau aku tetap berada di sini keesokan harinya. Rasanya aku bagai tahanan yang dikekang. Setidaknya besok aku bisa bebas. 


Hari sudah malam. Iris sudah tertidur di sampingku. Meski mataku terpejam, tetapi aku tidak bisa tidur. Sepertinya dengan berkeliling di kediaman ini bisa membuatku mengantuk. Sebisa mungkin kubergerak perlahan sehingga tidak membangunkan Iris dari tidurnya. Seandainya ketahuan tidak masalah, aku sudah pulih. Mereka tidak akan marah besar.


Lorong kamar tamu kulewati. Aku mengingat-ingat setiap kenanganku saat berada di sini, bersama Keith, Iris dan Ibu mereka. Tanpa sadar kakiku membawaku ke taman. 


Tempatku dan Iris atau Keith sering berbincang-bincang. Angin malam menerpaku. Kupeluk tubuhku yang merasa kedinginan. Seharusnya aku membawa baju hangat. 


Tiba-tiba tubuhku merasa hangat. Baju hangat telah tersampir dibahuku. Kuberpaling pada orang yang memberiku baju ini. Ternyata Keith.


"Aku hanya jalan-jalan sebentar. Rasanya suntuk berada di kamar tiga hari," jelasku sebelum diomeli oleh Keith.


"Aku tidak akan memarahimu, Diana. Kamu boleh jalan-jalan sebentar tetapi jangan sampai larut malam," balas Keith menatap mataku.


Sepertinya suasana hatinya sudah membaik. Amarahnya mulai reda. 


"Baik."


Aku menjauh darinya melihat-lihat bunga yang ditanam di sini. Bunga-bunga ini memang tidak sebanyak di kediamanku, tetapi tetap saja terlihat indah. Keith hanya memandangiku tidak beranjak dari tempatnya tadi.


"Ada yang ingin kukatakan padamu, Diana," katanya dengan lembut.


Kubalikkan tubuhku. Dia tersenyum ke arahku. Ini senyum pertamanya sejak tiga hari kemarin. 


"Katakan saja, Keith."


"Aku mencintamu Diana."

__ADS_1


Angin malam kembali berhembus. Rasa dinginnya munusuk kulitku hingga mencapai hatiku.


__ADS_2