
"Kalau begitu kenapa kamu membatalkan pertunangan kita, Keith?"
Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Semua tindakan dan ucapannya sama sekali tidak sejalan.
"Aku ingin kamu bebas, Diana. Kamu tidak perlu memberikan uang kepadaku lagi. Pertunangan kontrak itu hanya memberatkanmu."
Itukah alasanmu? Kalau begitu kamu bisa menjelaskannya padaku dulu sebelum membatalkan pertunangan kita Keith. Kamu selalu menyembunyikan sesuatu dariku.
"Apa ada lagi?" tanyaku ketus.
"Di samping itu aku ingin melihat bagaimana perasaanmu padaku, ternyata tidak sama. Aku tahu kamu hanya bertunangan denganku demi menghindari lamaran-lamaran itu, tetapi perasaanku padamu benar-benar tulus."
Semua itu hanya pendapatmu Keith. Perasaanku padamu. Aku... aku... sial kenapa selalu seperti ini.
Kupejamkan mataku menenangkan diri. Mataku perlahan terbuka melihat tatapan yang Keith tujukan kepadaku. Tatapan yang sangat lembut dan hangat.
"Memangnya dengan cara apa kamu mengetahui perasaanku, Keith?"
"Kamu selalu melihat Raja, Diana. Bahkan setelah pertunangan kita dibatalkan, kamu langsung bertunangan dengannya. Sebenarnya kalian saling menyukai tetapi kamulah yang tidak sadar, Diana. Sebenarnya di lubuk hatiku yang terdalam, meski tahu kalau hal itu mustahil, aku ingin kamu mendatangiku kembali," aku Keith masih menatapku lekat-lekat.
Kamu salah Keith. Kamu sama sekali tidak mengerti diriku.
"Untuk apa kamu memberitahuku semua ini, Keith?" tanyaku sambil menggigit bibirku. Aku menahan semua kata hatiku yang ingin keluar melalui mulutku.
"Aku ingin mencobanya Diana, untuk mendapatkanmu. Bukan melalui pertunangan palsu tetapi dengan kerja kerasku sendiri. Dengan begitu aku akan bangga menggenggam tanganku di sampingku."
Pipiku basah. Wajah Keith mengeras, ia menghampiriku. "Diana?"
Aku menangis. Kubalikkan tubuhku karena tidak ingin Keith melihat diriku yang seperti ini. Itu benar. Pada kehidupanku kali ini aku tetap mencintainya. Tidak lebih tepatnya perasaanku padanya dari dulu tidak pernah berubah. Aku berusaha menghilangkan rasa cintaku dengan bersikap tidak ramah padanya tetapi pada akhirnya diriku luluh. Balas dendamku mulai hilang perlahan bersama rasa benciku. Meski aku ingin membuatnya merasa sakit hati, tetapi di saat-saat terakhir aku ragu. Aku tidak ingin membuatnya tersakiti.
Eric hanyalah perlarianku belaka. Aku ingin melupakan semua perasaanku pada Keith dengan membuka lembaran baru, tetapi sangat sulit bagiku. Butuh waktu lama untuk menghapus perasaanku.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku menerimanya? Lalu bagaimana dengan Eric? Tidak aku tahu apa yang harus kulakukan. Yang dicintai Keith hanyalah diriku yang sempurna tidak lebih.
"Aku anggap percakapan ini tidak pernah terjadi, Keith," jawabku dengan suara gemetar.
__ADS_1
Inilah keputusanku. Balas dendamku sudah tercapai. Dengan ini Keith akan merasakan rasa sakit yang pernah kurasakan. Meski ada setitik rasa tidak rela di hatiku. Jika dia juga mempunyai perasaan yang sama di kehidupan sebelumnya mungkin aku akan menerimanya, tetapi kenyataannya tidak.
"Begitu ya, aku akan menerima semua keputusanmu, Diana. Aku harap kita bisa berteman, kalau tidak bisa, bertemanlah dengan Iris, itu sudah cukup untukku," balas Keith di belakangku. Kuyakin wajahnya sangat terpukul.
Terdengar suara langkah kaki yang menjauhiku. Tubuhku berbalik dengan sendirinya melihat punggung orang yang kucintai dan sekaligus kusakiti. Jika seandainya kita bertemu di kehidupan selanjutnya kuharap keadaan kami tidak akan sepelik ini. Dengan begitu cinta kami bisa bersatu. Namun, itu hanyalah angan-angan belaka. Mungkin saja tidak terwujud.
Air mataku terus mengalir tanpa henti. Aku tidak akan menyesali keputusanku hari ini. Tidak akan.
***
Kutatap langit pagi yang cerah. Semalam aku sama sekali tidak bisa tidur setelah mendengar pernyataan cinta Keith. Iris yang terbangun mendekatiku menuju balkon.
"Kak Diana bangun pagi sekali," ujar Iris sambil mengusap matanya.
"Aku hanya tidak sabar pulang ke rumah Iris," jawabku berbohong sambil tersenyum palsu.
Kuharap Iris tidak menyadari bahwa aku telah menangis semalam. Aku membasuh muka berkali-kali pagi ini untuk menyegarkan wajahku.
"Apa Kak Diana akan mampir ke sini lagi?" tanyanya.
"Baguslah, kakak pasti akan senang mendengar hal ini."
Senyumku memudar. Aku mendengar nama orang itu lagi. Kurasa sulit untuk menuruti permintaan Iris karena pasti aku akan bertemu Keith di sini.
"Bagaimana kalau kamu saja yang kediamanku Iris? Atau kita bertemu di luar saja." Aku lari lagi dari masalahku.
"Itu juga ide bagus," jawab Iris dengan semangat.
Syukurlah dia tidak sadar kalau aku menghindari Keith. Sampai perasaanku pada Keith benar-benar hilang, aku tidak akan menemuinya. Semua perasaanku akan kutujukan pada Eric.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap karena Eric akan menjemputku."
Aku mengemasi barang-barangku. Iris mengamatiku tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia meninggalkan kamarku untuk membersihkan diri agar bisa mengantar kepergianku.
Semuanya sudah siap. Aku sudah berpakaian dengan pantas. Kereta kuda Eric juga sudah datang. Kubawa barang bawaanku menuju gerbang kediaman Skyrise.
__ADS_1
Di sana Keith, Iris dan Eric sudah menungguku. Kuharap ini terakhir kalinya aku melihat wajah Keith dengan rasa cinta. Selanjutnya semoga tidak ada lagi perasaan seperti ini di hatiku saat bertemu dengannya.
Eric menggenggam erat tanganku sambil tersenyum ke arahku. Kubalas senyumannya meski hanya kepalsuan belaka. Bisa kulihat dari sudut mataku kalau Keith sedang cemburu. Selama ini mereka tidak akur karena merasa bersaing satu sama lain untuk mendapatkan hatiku. Bodohnya aku tidak menyadarinya.
Eric mengalihkan pandangannya pada Keith dan Iris. "Terima kasih karena telah merawat, Diana."
"Kami hanya membantu orang yang kesusahan, Yang Mulia," jawab Keith sambil menunduk.
"Kami undur diri terlebih dahulu," balas Eric.
Ketika kami hendak membalikkan tubuh, Iris membuka mulutnya. "Jika ada apa-apa kuharap Kak Diana meminta bantuanku dan Kakak. Kami akan siap sedia membantu Kak Diana."
Keith terkejut dengan tindakan adiknya. Dalam hatinya mungkin dia ingin mengatakan hal yang sama tetapi tidak berani.
Aku tersenyum ke arah Iris. "Baiklah, Iris."
Iris membalasku dengan senyuman cerah. Kulanjutkan langkahku, Eric membantuku naik ke kereta kuda. Setelah dia sudah berada di dalam kereta kuda melaju.
Kulihat dari jendela Iris melambaikan tangannya kepadaku. Kubalas lambaiannya. Keith menatapku nanar sambil tersenyum penuh kesedihan. Ini menyakitkan tetapi sudah kuputuskan untuk tidak menyesalinya.
Kuberpaling pada Eric. "Bagaimana dengan Derek, Eric?"
"Aku sudah mencarinya tetapi tidak ketemu, Diana. Kediamannya kosong," jawab Eric dengan menundukkan kepala menyesal.
"Bahkan Trevor sekali pun tidak ada?"
Eric mendongak ke arahku. "Kakakmu selama ini ada di sana?"
Aku lupa kalau tidak pernah membahas ini dengan Eric. "Itu benar, sejak meninggalkan kediaman Moonlight dia bersembunyi di sana. Aku mengetahuinya dan membiarkannya karena selama ini dia kutakut-takuti agar tidak tenang. Alasannya karena sebenarnya Trevor yang membunuh ayahku."
Eric melebarkan matanya. "Kenapa kamu tidak pernah memberi tahuku Diana?"
"Aku tidak mau kamu menganggapku kejam karena menyiksa Trevor, Eric. Bukti untuk mengungkap kejahatan Trevor tidak ada, jadi akan kubuat dia mengakui semuanya dengan mulutnya sendiri." Ada sebagian yang benar dan ada yang tidak. Kuyakin Eric akan mempercayai ucapanku.
Eric menggenggam erat tanganku. "Aku akan mendukungmu Diana. Kamu bisa meminta bantuanku bila perlu. Lalu tentang Derek akan kutemukan dia dan memberinya hukuman yang setimpal karena telah melukaimu dan membunuh rakyatku."
__ADS_1
Aku mengangguk ke arah Eric. Dia begitu mencintaiku. Aku akan mencoba mencintainya untuk melupakan rasa cintaku pada Keith.