Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 27 Hanya Teman


__ADS_3

"Aku mencintaimu, Diana."


Telingaku sudah kubuka lebar-lebar tidak mungkin aku salah dengar. Dia pasti sedang bercanda sekarang.


"Ini tidak lucu, Eric," sangkalku.


"Aku bersungguh-sungguh Diana. Aku mencintaimu. Sudah lama aku memendam perasaan ini. Kamu selalu berada di sisiku saat aku sedang sedih, terutama saat kehilangan kedua orang tuaku. Aku tahu kalau kamu hanya melihatku sebagai teman. Jadi aku diam saja, tetapi ini sama sekali tidak tertahankan. Aku tidak ingin melihatmu dekat dengan pria lain." Eric menatapku nanar.


Mata Eric sama sekali tidak berbohong. Rasa sedih dan marah menjadi satu. Dia benar-benar mencintaiku.


Kalau begitu kenapa? Kenapa dia sama sekali tidak pernah menemuiku di kehidupan sebelumnya?


***


Masa lalu


Sudah sebulan sejak aku kehilangan penciumanku. Awalnya aku merasa sedih, rasanya aneh tidak bisa mencium harumnya bunga atau aroma makanan yang lezat. Namun, lama-kelamaan sudah terbiasa. Indera penciuman tidak terlalu berpengaruh bagiku. 


Aku berjalan menuju ruang kerja kakakku. Dia memegangi kepalanya. Sepertinya banyak yang mengganggu pikirannya.


"Ada apa, Kak?" tanyaku mendekatinya.


"Tidak ini bukan apa-apa, Diana." Kakakku menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kepala pelayan memalingkan kepala. Mereka terlihat aneh. 


"Jujur saja padaku, jika ada sesuatu Kak. Mungkin saja aku bisa membantu," desakku.


"Soal itu..." Kakakku menghela napas melanjutkan perkataannya, "Muncul rumor yang tidak mengenakkan tentangmu Diana."


"Rumor apa?"


"Bahwa kalau kamu adalah gadis cacat," jawab kakakku dengan berat hati.


Begitu ya itu alasannya kakakku terlihat sedih seperti ini. Dia mendengar kalau adiknya dikatai cacat, tetapi rumor itu tidak sepenuhnya salah juga.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Lagipula juga rumor paling-paling akan menghilang dengan sendirinya." Aku menanggapinya dengan santai.


"Aku akan berusaha meredam rumor ini. Terkadang rumor bisa berkembang menjadi lebih buruk. Takutnya malah akan mempengaruhi nama baik keluarga kita."


Kakakku benar, karena aku menyandang nama Moonlight, sudah pasti apa pun yang terjadi denganku disangkut pautkan dengan nama keluarga.

__ADS_1


"Baiklah, apa ada yang bisa kubantu, Kak?"


"Maukah kamu tidak keluar dan tetap di kediaman ini saja, Diana?"


"Kenapa?" 


"Orang-orang bisa tahu kalau rumor itu benar dan masalah akan semakin panjang."


Perkataan kakakku benar. Aku akan berusaha untuk tidak keluar. Akan kuhabiskan waktu di kediaman ini dengan membaca buku.


"Baiklah, apa ada lagi?"


"Lalu, kamu tidak boleh mengirim surat kepada siapa pun, Diana. Ini semua demi kepentinganmu."


Ini sepertinya mudah. Temanku satu-satunya adalah Eric. Kami dulunya sering mengirim surat, tetapi sekarang sudah tidak. Dia pasti sibuk.


"Aku akan menuruti semua permintaan Kakak," jawabku mantap.


"Maaf, kalau mulai sekarang kamu tidak  boleh berhubungan dengan dunia luar lagi." Kakakku tertunduk, dia menggosok matanya. Kurasa dia ingin menangis tetapi menahannya.


"Itu tidak masalah. Jangan menangis, Kak."


"Aku tidak menangis, Diana." Kakakku menatapku, terlihat matanya berair.


***


Ini gila. Berdiam diri benar-benar membosankan. Buku di kediaman ini hanya sedikit. Aku sudah membaca semuanya. Tidak ada yang bisa kulakukan selain makan, tidur lalu berkeliling di kediaman yang tidak berubah ini.


Kuputuskan akan keluar nanti malam untuk membeli buku dan berjalan-jalan untuk melepas penat. Lagipula kakakku tidak tahu. Lalu tidak akan ada orang yang mengenalku. 


***


Hari ini aku menulis surat untuk Eric berharap dia bisa membacanya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku merindukannya. Mungkin rasa rindu ini berbeda dengan yang kurasakan pada Keith. Aku hanya butuh teman cerita. Ini benar-benar menyakitkan. Aku perlu melepas semua kepedihan ini.


Kuberanikan diri menemui kakakku memintanya mengirimkannya kepada Eric. Dia melihat kesedihanku lalu berjanji akan mengirimkannya. Namun, tidak ada balasan. Eric pernah tidak datang. Meski kutunggu dia tidak datang. Apa dia malu memiliki teman yang cacat sepertiku?


Meski mendengar temannya seperti ini kenapa dia tidak pernah meluangkan waktu untukku? Kenapa dia selalu mementingkan pekerjaannya? Ini memuakkan. Semua orang sama saja. Hanya karena aku seperti ini, semua orang menjauh. Aku tidak akan memaafkan mereka.


***


Masa sekarang

__ADS_1


Aku tidak menyalahkan Eric karena dia tidak menemuiku saat menerima suratku. Ada kemungkinan Eric tidak pernah menerimanya. Trevor tidak pernah mengirimkan surat itu.


Yang kupertanyakan adalah kenapa Eric tidak pernah datang menemuiku jika dia mencintaiku. Setidaknya dia datang ke kediamanku meski hanya sekali. Dia bisa berdalih ingin membicarakan sesuatu dengan Trevor lalu menemuiku.


"Katakan sesuatu Diana." Eric memegang tanganku.


Kulepaskan tangannya. "Maafkan aku, tetapi perasaanmu tidak bisa kuterima Eric. Aku hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih."


Benar itulah yang terpenting. Aku sama sekali tidak mencintainya. Dia hanyalah temanku. Dan aku tidak bisa menerima cinta darinya.


"Aku tahu Diana. Berilah aku kesempatan untuk mendekatimu, membuatmu jatuh cinta padaku," katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Aku tidak bisa Eric. Aku dan Keith terikat kontrak, kami harus terlihat mesra di depan umum. Selama kontrak ini berlangsung aku tidak ingin adanya rumor buruk menerpa kami. Kami tidak boleh berduaan dengan lawan jenis selain pasangan sendiri." Aku berusaha setenang mungkin.


"Kalau begitu aku akan menunggumu sampai kontrak ini selesai. Selama apapun pasti akan kutunggu."


Mata Eric berkaca-kaca melihatku. Aku memejamkan mata, menguatkan hati. Dia masih temanku, menyakitkan melihatnya seperti ini.


"Aku anggap pembicaraan kita sudah selesai, Eric" kataku lirih sambil membuka mata. Aku menjauh darinya.


Dia berteriak di belakangku. "Aku anggap kamu memberiku kesempatan Diana. Akan kudapatkan hatimu, setelah kamu berpisah dengannya." Suaranya gemetar. Dia menangis.


Maafkan aku, Eric. Aku tidak bisa menghiburmu.


Aku tidak berani melihat ke belakang. Kulangkahkan kaki menjauh dari sana. Di perjalananku aku bertemu dengan Iris yang berlarian.


"Kak Diana dari mana saja?" tanyanya terlihat tergesa-gesa


"Aku tadi berbincang dengan temanku di taman. Ada apa Iris?" tanyaku.


"Ada keributan di pesta cepat ke sana, Kak Diana." Iris terlihat panik.


"Baiklah. Apa aku boleh minta tolong untuk menghibur temanku yang sedang sedih menggantikanku Iris?" Aku berbicara cepat sekali tak tahu Iris mengerti atau tidak.


Iris mengangguk. Dia berlari ke arah taman. Aku segera menuju ke aula pesta.


Sebenarnya ada apa?


Semua orang berkumpul berkerumun di satu tempat di dekat minuman. Mereka saling berbisik tidak jelas. Aku menerobos kerumunan itu melihat Stella yang terkapar. Tuan Frostein memegangi kepalanya. Mulut Stella mengeluarkan darah. Keith terlihat khawatir berjongkok di dekat mereka.


Aku segera menghampiri Keith. "Apa ada, Keith?"

__ADS_1


"Stella diracun, Diana." 


Ini tidak pernah terjadi di kehidupan sebelumnya. Apa ini gara-gara aku mengulang waktu?


__ADS_2