Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 41 Kepingan Puzzle


__ADS_3

Saat membutuhkan jawaban atas pertanyaanku, aku selalu ke sini. Rumah Gauri. Pertanyaan berputar-putar terus di kepalaku. Gauri pasti akan menjawabnya kali ini.


Kuketuk pintu rumahnya. Tak lama penyihir yang disegani ini membukakan pintu. Dia sudah tidak asing lagi dengan wajahku. Tatapan matanya masih sama seperti dulu lembut dan tegas.


"Ada yang ingin saya tanyakan," ujarku sebelum dia menanyakan keperluanku di sini.


"Masuklah."


Kami telah duduk saling berhadapan. 


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Tentang penyihir waktu."


Perlu kupastikan siapa penyihir waktu sebenarnya.


"Tidak ada yang bisa kukatakan tentang itu."


Gauri masih menutup mulutnya seperti biasa. Aku tidak akan menyerah sampai dia membuka mulutnya.


"Sihir unik dari penyihir waktu adalah menghentikan waktu benar bukan?" ujarku.


Mata Gauri bergetar sedikit. Dia terkejut dengan perkataanku. Tentu saja dia bingung dari mana aku bisa tahu semua ini. Mulutnya masih tertutup rapat.


"Selain itu dia bisa berteleportasi," lanjutku.


Benar penyihir waktu itu adalah aku. Aku baru menyadarinya saat bertarung dengan Derek. Tiba-tiba semuanya berhenti, lebih tepatnya aku menginginkan waktu berhenti saat itu, tak kusangka itu benar-benar terjadi. 


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Gauri yang mulai tertarik terhadap pembicaraan ini.


"Saya tidak menyadarinya ternyata sayalah penyihir waktu."


Keheningan terjadi di antara kami. Gauri masih mencerna perkataanku. Dia mengelus-elus pelipisnya.


"Jika Anda tidak percaya akan kubuktikan." Aku berteleportasi ke belakangnya.


Meski terkejut Gauri tetap tenang. Tentu saja karena ini juga merupakan sihir uniknya. 


Dia menghela napas. "Baiklah, aku percaya."


Aku kembali ke tempat dudukku lanjut melanjutkan, "Seperti yang Anda pernah katakan sebelumnya, kalau mengulang waktu membutuhkan darah penyihir waktu dan penyihir biasa. Jika orang yang merapalkan mantra adalah penyihir waktu yang lain apakah sihir itu tetap berjalan sebagai mana mestinya?"

__ADS_1


"Tentu saja bisa, penyihir waktu yang lain tidak akan mengingat kehidupan sebelumnya. Yang mengingatnya hanyalah penyihir-penyihir yang mengorbankan darahnya," balas Gauri dengan tenang.


Ternyata benar. Itu bisa menjelaskan semuanya. Derek membunuhku karena membutuhkan darah penyihir waktu dan saat itu aku sama sekali tidak berkutik. Setelah itu dia mendatangai Gauri memaksanya merapalkan mantra sihir mengulang waktu. Itulah sebabnya dia memaksaku menikahinya agar bisa melenyapkanku sewaktu-waktu.


Aku tak tahu apa tujuan Derek mengulang waktu. Lalu hubungannya dengan Trevor membuatku bertanya-tanya. Apakah Trevor tahu semuanya? Apakah dia bekerja sama dengan Derek? Akan kutanyakan saat bertemu dengannya.


Trevor yang tidak berani menatapku saat meminum darah pasti hanyalah beralasan belaka. Jika meminumnya di depanku pasti tidak akan berefek apa-apa. Dia perlu ke bertemu dengan Derek untuk melakukan ritual transfer sihir.


"Apakah ada sihir unik lain dari penyihir waktu yang tidak kuketahui?" tanyaku.


Aku perlu mengetahui kekuatanku agar bisa menggunakannya dengan maksimal. Akan kugunakan senjata rahasia ini mengalahkan Derek. 


"Kita bisa menuju masa depan lalu kembali ke masa kini. Namun, itu sama sekali tidak kusarankan karena sia-sia. Masa depan sangatlah banyak. Aku pernah mencobanya. Masa depan yang kulihat berbeda dengan yang kujalani sekarang," balas Gauri sambil menerawang ke depan.


Dia pasti memiliki masalah hingga ingin mengetahui masa depannya. Kurasa kebijaksanaannya sekarang diakibatkan mengetahui yang seharusnya tidak diketahui. 


Masa depan bergantung pada pilihan-pilihan diambil. Contohnya saja, apabila menerima permintaan Trevor maka aku akan menjadi cacat. Jika menolaknya, aku akan menjadi seperti ini. 


"Terima kasih atas informasinya, Penyihir Gauri." Aku menunduk.


"Waktu sangat mengerikan. Kamu harus sebijak mungkin menggunakannya," peringatnya.


Aku segera kembali ke kediamanku. Semua pertanyaanku telah terjawab. Namun, ada satu yang mengusikku. Bahkan aku sendiri tidak tahu kalau diriku adalah penyihir waktu. Aku juga tidak pernah mengatakan sihir unikku pada Trevor. Bagaimana Derek bisa tahu? 


***


Eric mengajakku jalan-jalan hari ini. Dia membawaku ke ibu kota untuk menyegarkan pikiran. Seharusnya kita tidak melakukan ini. Derek masih berkeluaran di luar sana. Kerajaan tidak aman karena dia mengetahui masa depan. Sebenarnya aku tidak mau tetapi Eric memaksaku.


"Kamu harus beristirahat dan bersenang-senang, Diana. Masalah Derek tidak perlu dipikirkan, biar aku saja yang urus."


Dia mengatakan hal itu saat mengajakku  tadi. Mungkin dia ingin menghabiskan waktu denganku karena tidak bisa menemui beberapa hari yang lalu. 


"Apa ada gaun yang kamu inginkan, Diana?" tanyanya sambil menatapku dengan lembut.


Kami berada di toko pakaian sedang memilih gaun untukku. 


"Entahlah aku juga tidak tahu," jawabku asal-asalan.


"Cobalah satu persatu mungkin ada yang cocok dengan selaramu."


Aku mencobanya tanpa semangat. Berada di sini membuatku teringat saat Keith memaksaku memakai gaun dibantu dengan Iris. Kedua sudut bibirku tiba-tiba terangkat ke atas. 

__ADS_1


"Sepertinya kamu suka dengan yang satu ini. Aku akan membelikannya untukmu. Apa ada yang lain?" 


Mataku melebar dan senyumku segera memudar. "Tidak perlu Eric. Ini sudah cukup."


"Baiklah." Eric segera membayarnya lalu mengajakku ke tempat lain.


Berbagai perhiasan berada di depan kami. Eric memilih kalung yang cocok untukku. Lalu memakaikannya padaku.


"Kamu terlihat cantik, Diana," pujinya menyentuh pipiku.


"Terima kasih, Eric." Aku tersenyum palsu ke arahnya. 


Dia membelinya dengan hati yang gembira. Kulihat sosok lain darinya. Rambut merahnya berubah menjadi biru kehitaman. Kukerjapkan mataku berulang kali. Sekarang sudah kembali seperti semula.


Kami bergandengan tangan menuju restoran. Eric memesan banyak makanan untukku. Dia makan sambil tersenyum ke arahku. Wajahnya berubah menjadi orang yang kubenci sekaligus kucintai. 


"Kenapa tidak dimakan, Diana?" Dia makananku masih utuh.


"Akan kumakan, Eric." Kumasukkan makanan ke mulutku. Meski rasanya enak tetapi selera makanku sama sekali tidak kembali.


Makanan yang tersisa masih banyak. Dia membungkusnya untukku. Kugenggam erat kotak untuknya yang kusimpan dari tadi. 


Kami sudah tiba di depan kereta kuda. Kukeluarkan kotak itu. Eric menaikkan salah satu alisnya, penasaran dengan apa yang kubawa. Kotak itu kubuka. Bros dengan batu permata warna merah terpampang di sana.


"Ini untukmu," kataku sambil tersenyum.


"Terima kasih, Diana. Pasti akan kupakai." Bibirnya melebar hampir mencapai matanya. Ini pertama kalinya aku melihat Eric sesenang ini. Aku memberikan sebatas membalas pemberiannya waktu itu, tidak ada maksud lain.


Kami naik ke kereta kuda. Eric berbicara panjang lebar selama perjalanan. Semua percakapannya tidak mencapai otakku. Aku hanya menjawab seadanya saja.


Setelah mencapai kediamanku dia membantuku turun dari kereta kuda. Sebelum berpisah dia mencium tanganku. Gerakan mereka berbeda, tetapi kenapa selalu melihat orang lain? Kenapa meski saat bersama orang lain aku memikirkan Keith?


Kugenggam erat tangan Eric. Eric tersenyum ke arahku, dia salah paham. Aku melakukan ini bukan karena tidak ingin berpisah dengannya. 


Kupenjamkan mataku. Aku mempermainkan perasaan Eric, hanya demi keuntunganku. Meski tahu bahwa aku tidak akan mencintainya, kuminta dia berada di sisiku memanfaatkan rasa cintanya padaku. Aku sama saja dengan Keith di kehidupanku yang sebelumnya.


"Maafkan aku, Eric." Kubuka mataku perlahan.


"Untuk apa Diana?"


"Sebaiknya kita sudahi saja pertunangan palsu ini."

__ADS_1


__ADS_2