Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 30 Pencarian Informasi


__ADS_3

Setelah menenangkan Iris kami kembali ke kediaman Skyrise terlebih dahulu. Kami membiarkan Iris beristirahat sedangkan aku dan Keith melanjutkan perjalanan ke istana untuk memberitahu kejadian mengerikan tadi. Hari sudah sore, semoga saja Eric tidak sibuk.


Selama perjalanan Keith diam saja. Aku tahu kalau ini sangat mengguncang kami, karena pelaku pembunuhan itu masih hidup. Mungkin saja kami salah tangkap dan teror ini masih berlangsung.


Kami telah sampai di istana, meminta bertemu dengan Raja. Penjaga istana menyuruh kami pulang, karena Raja tidak mau menemui tamu yang tidak diundang. Kami bersikeras tidak mau pulang, karena ini adalah hal mendesak. Penjaga istana menyerah dan mengantar kami ke ruang kerja Raja.


Eric masih mengerjakan berkas-berkas negaranya. Dia melirik ke arah kami yang berdiri di hadapannya.


"Ada keperluan apa datang ke sini tanpa pemeberitahuan terlebih dahulu?" tanyanya dengan nada rendah.


"Kami tadi menyaksikan mayat seperti korban pembunuhan yang waktu itu, Yang Mulia," jawabku dengan tergesa-gesa.


"Apa?" Eric menggebrak mejanya. Lalu berdiri dengan tatapan tidak percaya.


"Itu benar, Yang Mulia. Kami akan mengantar Anda," imbuh Keith.


Eric, Keith dan aku menuju tempat mayat itu terkapar. Kami sampai di sana sudah malam. Aku dan Keith mengawasi keadaan sekitar sedang Eric memeriksa kondisi mayat itu. Eric menggunakan sihir api untuk memberinya penerangan yang jelas. Dia mengerutkan wajahnya.


"Bagaimana, Yang Mulia? Apakah pelakunya sama?" tanyaku.


"Tidak pelakunya berbeda. Sihir yang digunakan memang jarum es tetapi daya sihirnya berbeda. Pelaku yang kalian tangkap dulu memiliki daya sihir yang sama dengan korban-korban sebelumnya. Kalian tidak salah tangkap. Ini kasus pembunuhan baru," jelas Eric sambil memegang kepalanya.


Namun, kenapa cara membunuh korban hampir sama yaitu dengan sihir es? Apa sebenarnya mereka berkelompok? Ada berapa banyak anggota pembunuh itu? Tidak ini cuma asumsiku belaka.


"Luka cabikan hewan buas yang terdapat pada mayat ini apakah hewan yang dikendalikan oleh Penyihir Hewan dan Alam, Yang Mulia?" tanya Keith.


Aku melupakan hal itu. Mungkin saja ada dua penyihir yang menyerang korban, buktinya dari luka yang diderita korban.


"Tidak, ini dari hewan buas biasa. Aku hanya bisa mendeteksi sihir dari jarum es," jawab Eric geram.

__ADS_1


Itu artinya pelaku membunuh korban lalu meninggalkannya di hutan agar perbuatannya dapat disamarkan dengan gigitan hewan buas. Semuanya dilakukan pelaku untuk mengacaukan penyelidikan. Untungnya Eric tidak tertipu.


"Apa perintah Anda selanjutnya, Yang Mulia?" tanyaku.


Eric menatapku dengan sendu. Dia masih terpukul karena jawabanku waktu itu. Aku juga tidak menemuinya setelah kejadian di taman kediaman Jordy. 


"Tolong cari informasi tentang korban ini. Aku akan memberitahu Kepala Keluarga yang lain untuk membantu," jawab Eric.


"Baik, Yang Mulia," jawabku dan Keith secara bersamaan.


Kami kembali menuju rumah kami masing-masing dengan membawa pikiran yang kalut. Kedamaian yang kami rasakan hanyalah semu belaka. Ternyata bayang-bayang keributan masih mengitari Kerajaan.


***


Keith memintaku menemaninya menyelidiki di ibu kota. Jarak ibu kota dengan lokasi ditemukannya korban cukup dekat jika dibandingkan dengam kota lain. 


Kami bertanya hampir pada seluruh orang yang lewat mengenai penculikan atau orang hilang, tetapi mereka tidak mengetahui apa pun. Kami hampir menyerah dan ingin pulang. Lalu Keith menatap orang yang berada di gang. Aku ikut menoleh. Orang itu sangat lusuh dan bau, rambutnya acak-acakan. Bajunya compang-camping.


"Aku lupa. Beri aku makanan terlebih dahulu, mungkin ingatanku akan kembali," jawabnya sambil memperlihatkan giginya yang menguning.


"Baiklah," kata Keith.


Keith pergi ke toko roti untuk membelikan roti bagi orang tadi. Aku mengikutinya bertanya akan sikap Keith, "Apa kita mempercayai yang dikatakan orang itu?"


"Entahlah kita lihat saja nanti," jawab Keith seadanya.


Kami memberi orang dengan baju compang camping makanan yang dimintanya tadi. Orang ini makan dengan lahap sampai tersedak. Keith memberinya air. Dia segera meminumnya sampai mendesah lega. Setelah selesai dia baru membuka mulutnya. "Salah satu orang terlantar sepertiku yang berada di gang dekat toko baju khusus pria menghilang beberapa hari yang lalu kurasa."


"Begitu ya, terima kasih," balas Keith.

__ADS_1


Kami meninggalkan orang itu. Aku mendekati Keith mengutarakan apa yang ada di pikiranku. "Apa yang akan kita lakukan?"


"Kita akan bertanya pada orang-orang di sekitar toko baju khusus pria itu. Perlu dipastikan perkataan orang tadi benar atau tidak," kata Keith melihat ke depan.


Jika perkataan orang tadi benar kita akan sangat terbantu. Jika tidak kita harus mengorek informasi di tempat lain. 


Kami bertanya pada orang yang lewat di toko baju khusus pria yang diberitahu orang tadi. Semua orang mengatakan bahwa memang orang terlantar di gang dekat sini menghilang.


"Kalau begitu kenapa tidak melapor?" tanyaku pada orang-orang itu.


Jawaban mereka hampir sama. "Aku merasa terganggu. Dengan menghilangnya orang itu kehidupanku lebih nyaman karena ibu kota tidak kotor lagi gara-gara orang lusuh itu."


"Kapan hal ini terjadi dan apakah ini terjadi di tempat lain juga?" Itu pertanyaanku yang lain.


Mereka mengatakan kalau kejadian orang terlantar hilang seminggu yang lalu. Benar kata orang lusuh tadi. Kejadian orang hilang ini bukan hanya di sini saja tetapi di tempat pemukiman orang terlantar. 


Ketika kutanya sejak kapan hal ini terjadi, mereka menjawab sekitar sebulan lebih.


Ini gila ketika terjadi penculikan dan pembunuhan orang-orang ini tidak mau tahu, asalkan bukan mereka atau keluarga mereka yang jadi sasarannya. Hanya karena mereka tidak mengenal orang terlantar itu tidak laporan di istana. Ini menyebabkan pembunuh itu dapat berkeliaran dengan bebas.


Kami menyampaikan informasi ini pada Eric. Eric memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dia tampak sangat kesal dan ingin marah kepada orang-orang yang memberi kami informasi. Helaan napas Eric terdengar, dia berusaha mengatur emosinya.


"Terima kasih atas informasi kalian. Aku akan meminta penyihir istana untuk mencari tahu orang terlantar yang hilang di tempat lain," tutur Eric.


Aku dan Keith menjawab bersama-bersama, "Baik, Yang Mulia." 


"Apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia?" tanyaku.


"Aku akan memberitahu langkah selanjutnya pada kalian apabila mendapat informasi dari penyihir istana," perintah Eric.

__ADS_1


Aku menunduk, menaatinya. Keith dan aku undur diri. Pikiranku sedang melayang-layang. Apa alasan pembunuh itu menarget orang-orang terlantar? Apakah pembunuh itu juga adalah orang yang membunuhku di masa lalu? Tindakan pembunuh ini jelas sangat berhati-hati. Aku khawatir sulit untuk menangkapnya. Kuharap ini hanya perasaanku saja.


__ADS_2