Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 31 Perkiraan Kasus Orang Hilang


__ADS_3

Aku berada di aula pertemuan istana, menghadiri pertemuan kepala keluarga. Hari ini kami membahas penculikan dan pembunuhan orang terlantar di kerajaan. Bila sampai diadakan pertemuan ini artinya kasus ini benar-benar gawat. Kurasa penculikan dan pembunuhan terjadi pada orang terlantar bukan hanya di ibu kota saja.


"Aku mendapat laporan bahwa banyak orang terlantar yang hilang di ibu kota. Namun, ternyata bukan cuma di ibu kota tetapi di kota lain juga," ucap Eric membuka pertemuan kali ini.


Dugaanku benar. Semua kepala keluarga tercengang mendengar hal ini. Teror ini masih berlanjut. Mereka juga merasa cemas. 


"Mereka dibunuh dengan cara yang hampir sama dengan kasus pembunuhan yang lalu, yaitu dengan jarum es," lanjut Eric.


Sekilas ingatan tentang korban mengenaskan itu terlintas di kepalaku. Aku tak tahu dengan korban yang lain, tetapi pasti keadaan mereka juga mengerikan.


"Pelaku kasus pembunuhan penyihir yang lalu dengan kali ini, berbeda. Aku sudah memeriksa daya sihir yang digunakan pada korban orang terlantar berbeda dengan pelaku kasus pembunuhan penyihir kalangan bangsawan," tutur Eric dengan nada yang berat.


Semua Kepala Keluarga mendengarnya dengan saksama. Mereka sama sekali tidak saling berbisik seperti pertemuan yang lalu. Ini menguntungkan Eric karena melancarkan jalannya pertemuan. Kurasa mereka akan kemarahan Sang Raja.


"Aku minta bantuan kalian untuk mengawasi orang terlantar ini untuk menangkap pelakunya. Sekaligus membuat mereka merasa aman. Apa ada yang keberatan?" Eric mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.


Suasana hening seketika. Semua kepala keluarga pasti akan melaksanakan perintah Raja walaupun sebenarnya mereka enggan.


Eric melanjutkan, "Sepertinya tidak ada. Apa ada pertanyaan?" 


Aku mengajukan pertanyaan, "Apa korban orang terlantar selain di Ibu Kota juga ditemukan, Yang Mulia? Apakah pelaku juga orang yang sama dengan kasus ini?"


"Ada beberapa yang dicurigai sebagai korban yang tersebar di berbagai hutan yang sepi. Sayangnya untuk mengidentifikasi sihir pelaku sangat sulit karena mayat korban sudah membusuk," jawab Eric.


Pembunuh itu bergerak dalam bentuk kelompok atau sendirian tidak bisa dipastikan. Jika daya sihir pelaku yang terdapat korban orang terlantar sama, bisa dibilang pelaku melakukan hal ini sendirian. Namun, apabila berbeda artinya ada kelompok yang ingin menimbulkan kekacauan di kerajaan. Mereka adalah orang yang senang melihat penderitaan orang lain. Entah pelaku bergerak dalam kelompok atau sendirian yang terpenting mereka harus ditangkap.


"Baik, terima kasih, Yang Mulia," balasku.


"Apa ada pertanyaan lain?"


Tak ada jawaban. Eric mengakhiri pertemuan ini. Aku dan Keith segera keluar untuk berdikusi di kereta kuda selama perjalanan pulang.


"Menurutmu pembunuh ini berhubungan dengan kasus sebelumnya atau tidak, Keith?"

__ADS_1


"Kurasa ada, kemungkinan besar mereka bekerja sama."


Ternyata Keith sepemikiran denganku.


"Jika sihir pelaku pada korban lain bisa teridentifikasi mungkin jumlah orang yang bekerja sama bisa diketahuiku."


"Itu benar, Diana."


Aku menghela napas panjang. "Kurasa akan sulit untuk menangkapnya. Targetnya terlalu umum dan tersebar di berbagai tempat," kataku lirih.


Keith mengiyakan pernyataanku. Kami melihat pemandangan di luar jendela. Tanpa sadar sebenarnya kami sedang dipermainkan.


***


Semua kepala keluarga menempatkan anggota keluarganya berjaga di tempat orang terlantar secara bergantian di berbagai kota. 


Aku dan Keith berjaga di salah satu gang dekat toko baju Ibu Kota. Orang terlantar yang kami jaga ini sama sekali tidak ramah. Kami memberi makanan pada orang itu dengan harap dia akan bersikap lebih baik. Memang dia bersikap lebih baik tetapi hanya sebentar saja. Pada akhirnya dia mengusir kami. Kami bersembunyi sambil mengawasinya dari pagi hingga larut malam. Namun, tidak ada orang mencurigakan yang muncul. Hari pertama kami pulang dengan kekecewaan.


Hari kedua kami berjaga di gang dekat toko roti. Jalanan memang ramai tetapi tidak ada tanda-tanda adanya penculik. Aku menghela napas panjang. Ini sangat membosankan. 


"Tidak apa-apa serahkan padaku, Diana," jawab Keith bersemangat.


Entah mengapa dia masih bisa bersemangat di keadaan yang membosankan ini. Sebagai balasannya aku akan membelikannya roti.


Aku berjalan ke toko roti sambil mengamati keadaan di sekitar. Orang-orang berlalu lalang menuju tujuannya masing-masing. Mereka tidak memperhatikan orang di gang yang sedang kesusahan. Orang itu bukanlah bagian dari hidup mereka. Mereka tidak akan mempermasalahkannya apabila orang itu tidak mengusik kehidupan yang damai. Sekali pun mengganggu kehidupan mereka, wajah orang itu akan dilupakan. Pembunuh itu dapat melihat celah ini untuk melakukan kesenangannya tanpa disadari orang-orang. Benar-benar licik.


Aku masuk ke toko roti membeli tiga roti. Untukku, Keith, dan orang yang terlantar. Tidak ada salahnya berbuat baik pada orang itu. Apabila orang itu mempunyai itikad yang baik akan kupekerjakan di kediamanku.


Aku memberikan roti dan air pada pada orang terlantar itu. Dia berterima kasih dan berjanji akan membalas budi. 


"Kalau ingin balas budi bekerjalah di kediamanku," jawabku.


Dia bersujud di hadapanku. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Nona."

__ADS_1


Roti milik Keith keserahkan dan aku memakan memilikku sambil menunggu penculik datang. Keith tersenyum ke arahku. Namun, meski kami terus menunggu, pembunuh itu tidak muncul.


Kami kembali keesokan harinya ke tempat lain. Sekarang giliran Keith membawa orang terlantar ke kediamannya. Orang itu menangis sambil memuji Keith, karena nasibnya akan berubah. Waktu yang kami habiskan jadi tidak terasa karena membantu orang lain. Tetap saja tidak ada penculikan.


Keadaan ini berlangsung selama seminggu. Entah pembunuh itu sudah menghentikan aksinya gara-gara salah satu rekannya tertangkap atau karena sudah bosan.


Rasanya bukan gara-gara itu. Seolah-olah pembunuh itu sudah tahu rencana kami sebelumnya sehingga dia tidak beraksi. Apakah salah satu komplotan dari pembunuh itu adalah bangsawan? Ataukah malah bangsawan itu terlibat langsung dalam pembunuhan? Ini hanya asumsiku belaka. 


"Menurutmu bagaimana Keith?" tanyaku sambil bersandar di tembok gang.


Keith bersendekap, dia juga menyandarkan tubuhnya di tembok seberangku. "Perkiraanmu ada benarnya, Diana. Semenjak diumumkannya kasus ini, pembunuh itu sama sekali tidak melancarkan aksinya. Seperti sudah tahu adanya penjagaan."


"Aku akan menyampaikan hal ini pada Eric, Keith," kataku.


Ada perubahan di wajah Keith. Dia tampak murung. "Apa aku boleh menemanimu?"


Terlihat selalu bersama-sama setiap waktu dapat dibilang pasangan romantis. Tidak ada salahnya pergi dengan Keith. Lagipula berduaan dengan Eric akan menyebabkan kecanggungan di antara kami. "Tentu saja, Keith."


Wajahnya masih terlihat murung walau hanya sedikit, Keith. segera menutupinya dengan tersenyum. Kurasa dia juga bosan karena pelakunya tidak segera tertangkap.


"Baik, Diana."


Setelah selesai berjaga kami menuju istana. Keith menggenggam erat tanganku saat berada di istana. Dia segera melepasnya begitu sampai di ruang kerja Raja. Hal pribadi dan pekerjaan harus dipisahkan, Keith tahu akan hal ini.


Aku menyampaikan pemikiranku pada Eric. Eric mendengar pendapatku tanpa menyela. Kurasa dia juga setuju denganku.


"Aku akan memeriksa mana sihir bangsawan-bangsawan yang terlibat pada kasus ini. Akan kupanggil bangsawan-bangsawan itu dengan dalih meminta laporan terperinci, sehingga tidak akan ada yang curiga mana sihir mereka diperiksa," tutur Eric.


"Terima kasih, Yang Mulia." Aku menunduk.


"Tidak akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena telah memberi ide ini, Nona Moonlight. Aku akan mengabarimu hasilnya." Eric tersenyum ke arahku.


Dia bersikap seperti biasa denganku. Kejadian waktu itu perlahan dapat dilupakan olehnya. Syukurlah dengan begini aku tidak akan merasa canggung bila bertemu dengannya.

__ADS_1


Aku berharap dugaanku benar. Ternyata tidak.


__ADS_2