Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 28 Kebenaran Kejadian di Pesta


__ADS_3

Iris datang ke ruang kerjaku, membuka pintu dengan keras. Kurasa ini gara-gara beberapa hari yang lalu.


"Seharusnya Kak Diana bilang dulu kalau orang yang harus dihibur adalah Raja." Iris meninggikan suaranya.


Sudah kuduga. Ini salahku juga, tetapi saat itu keadaannya sangat panik hingga membuatku lupa. 


"Maafkan aku, Iris," jawabku tertunduk.


"Apa Kak Diana tahu kalau aku salah tingkah begitu melihat Raja menangis? Aku benar-benar tidak tahu cara menghiburnya. Rasanya aku seperti orang bodoh," gerutu Iris.


Mereka tidak dekat, baru bertemu kemarin, tetapi Diana tidak punya cara lain selain menghibur Eric melalui orang lain, kebetulan yang lewat adalah Iris. 


"Aku benar-benar minta maaf Iris." Kusatukan tanganku di depan kepala.


"Akan kumaafkan dengan syarat, apa aku boleh tanya sesuatu?" Suara Iris lebih tenang.


"Tentu saja."


"Apa penyebab Raja menangis? Kenapa Kak Diana bisa berada di sana? Lalu kenapa Kak Diana pergi meninggalkannya?" Iris terdengar bersemangat. Rasa ingin tahunya terpancar dari matanya.


"Aku yang membuat Raja menangis. Alasannya tidak dapat kukatakan ini menyangkut harga diri seorang Raja. Begitu lampu mati Raja menarikku keluar, kukira dia Keith jadi aku diam saja. Lalu aku pergi meninggalkannya karena tidak mungkin Keith sendirian tanpa diriku," jelasku panjang lebar.


Aku tidak mungkin mengungkap perasaan temanku pada orang lain. Apalagi kepada adik tunanganku, bisa-bisa terjadi kericuhan. 


Iris memejamkan mata sambil mengetuk-ngetuk-dagunya. Dia membuka mata sambil tersenyum. 


"Baiklah, aku menerima permintaan maaf Kak Diana."


"Terima kasih dan jangan pernah menceritakan tentang Raja menangis kepada siapa pun, Iris," kataku penuh penekanan.


Bisa bahaya kalau penyihir Kerajaan Sunborn tahu kalau Rajanya ternyata menangis di tempat umum. Eric akan diremehkan lalu sifatnya yang terkenal dingin dan tegas akan dipertanyakan. Ini akan menimbulkan kekacauan. Meski Raja haruslah sempurna tetap saja dia adalah manusia, pasti bisa berbuat salah.


"Aku tidak akan menceritakannya Kak Diana. Itu menyangkut privasi seseorang," katanya bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Kuhela napas panjang. Aku melanjutkan pekerjaanku. Ngomong-ngomong di mana Keith?


"Apa kamu sendirian, Iris?" tanyaku sambil mencari-cari Keith.


"Benar Kak Diana. Oh ya aku hampir lupa. Kak Keith bilang kalau tidak dapat menemui Diana beberapa hari ini. Dia harus menjaga Kak Stella, karena Tuan Frostein sedang mencari pelaku yang meracuni putrinya," ucapnya sambil memegang kepalanta.


Aku mengetuk-ngetuk jari ke meja. Mereka teman semasa kecil, sudah pastinya Keith akan membantu temannya. Jika aku melarangnya, ini malah akan berdampak buruk untukku. Hanya saja aku resah meninggalkan mereka berdua.


"Apa kamu mau menemaniku untuk mengunjungi Stella, Iris?" tanyaku.


"Tentu saja, Kak Diana," jawab Iris sambil tersenyum.


Aku membalasnya dengan menyeringai.


Takkan kubiarkan kamu menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan pertunangan kami Stella.


***


Kami telah sampai di kediaman Frostein. Kediaman yang bagus dengan desain berwarna biru muda. Kedatangan ini sangat mendadak jadi tidak ada yang menunggu di depan. Iris mengenal letak kediaman ini, jadi aku tidak perlu pemandu lain.


Dengan pelayan sebanyak ini seharusnya Keith tidak perlu menjaga Stella. Namun, pelayan-pelayan itu sama sekali tidak bisa bertarung. Mungkin itulah kekhawatiran Tuan Frostein yang sebenarnya hingga meminta Keith melindungi putrinya. Atau malah Stella membujuk ayahnya untuk meminta Keith melindunginya.


Racun yang diminum Stella menangkal ramuan sihir sehingga dia pulih lebih lama. Dia menggunakan obat-obatan dari dokter.


Kami sudah tiba di kamar Stella. Iris masuk terlebih dahulu, begitu Stella melihatku di belakang Iris wajahnya jadi suram. Dia tidak suka kedatanganku. Berbeda dengan Keith yang terlihat senang duduk di kursi samping kasur.


"Tidak kusangka kamu akan kemari, Diana," celetuk Keith.


Stella menggumamkan sesuatu. Kurasa dia berpikiran hal yang sama dengan Keith. Sebenarnya aku tidak ingin kemari, tetapi meninggalkan kedua orang ini berduaan dapat menimbulkan benih-benih cinta di dalam diri Keith lagi.


"Tidak ada salahnya, aku menjenguk korban keracunan, Keith. Lalu aku membawa kue potong untuk Stella," jawabku sambil tersenyum ke arah Stella. Lalu memberikan bungkusan yang kubawa pada Stella.


Stella menerimanya dengan senyuman meski terpaksa. "Terima kasih, Diana."

__ADS_1


Dia memanggil pelayan untuk menyimpan bungkusan yang kuberikan padanya dan menyiapkan camilan dan teh untuk kami. Aku dan Iris duduk di kursi tamu. Lalu kecerewetan Iris berlangsung. "Bagaimana bisa Kak Stella keracunan? Apa pelakunya sudah ditangkap? Bagaimana keadaan Kak Stella sekarang?"


Rentetan pertanyaan itu dijawab Stella dengan tenang. "Saat itu, aku yang merasa haus menyesap minumanku. Setelah itu, kepalaku terasa pusing lalu aku tak sadarkan diri. Sepertinya seseorang menaruh racun dalam minumanku saat listrik padam, karena tindakan semua orang di pesta tidak terlihat. Pelakunya belum tertangkap. Sekarang aku sudah baikan, terima kasih atas perhatianmu, Iris."


Iris mengerutkan wajahnya. Lalu bertanya lagi, "Apa tidak ada orang yang Kak Stella curigai?"


Stella menaruh jarik telunjuknya di pelipisnya. "Tidak ada orang yang terpikirkan."


"Begitu, ya." Iris tertunduk terlihat kecewa. Rasa ingin tahunya belum terpuaskan.


Hebat sekali Stella bisa mengarang cerita dan berpura-pura seperti itu. Kurasa dia pantas jadi pemeran pentas drama. Dia pikir bisa membohongi semua orang, tetapi tidak denganku.


"Sudahlah Iris, jangan menanyai-nanyai Stella banyak hal. Dia butuh istirahat. Biar aku yang menjaga Stella, Keith. Kamu istirahat sebentar. Lalu Iris awasi kakakmu di luar agar benar-benar istirahat." Aku tersenyum pada mereka penuh arti.


"Baik," jawab mereka bersamaan.


Kakak beradik Skyrise keluar dari kamar Stella. Kini aku bisa berbicara leluasa dengan gadis ini.


"Kamu pintar sekali berbohong ya," sindirku.


"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Diana. Kurasa kamulah yang pintar berbohong," balasnya.


"Aku sudah memeriksa kondisi aula pesta. Kabel listrik terputus karena dimakan tikus. Untungnya Kepala Keluarga Jordy memasang daya cadangan bersumber dari sihir agar dapat mengantisipasi kejadian seperti listrik padam. Jadi saat itu pesta dapat dilanjutkan meski terjadi keributan," tuturku sambil bersendekap.


Karena kejadian Stella keracunan berbeda dengan kehidupanku yang sebelumnya, aku menyelidikinya. Aku khawatir kalau ini terjadi karena sihir mengulang waktu, sehingga timbul korban tidak bersalah. Ternyata dugaanku salah. 


"Apa yang ingin kamu katakan Diana?" Strlla terlihat gugup.


"Kamu menggunakan sihirmu untuk memerintahkan tikus mengigit kabel listrik hingga terputus. Lalu memanfaatkan kegelapan dengan menuangkan sendiri racun dalam minumanmu. Semua itu kamu lakukan demi mendapat perhatian Keith, benar bukan?" tuduhku.


Stella menggertakkan giginya. Lalu tersenyum mengejekku. "Itu benar, Diana."


Stella memanfaatkan kebaikan Keith agar merasa dikasihan. Keith pasti tidak tega melihat temannya yang keracunan. Keith akan membantu Stella tanpa mengharap apa pun. Dia akan memprioritaskan kesehatan temannya terlebih dahulu. 

__ADS_1


Sayangnya niat buruk Stella diketahui olehku, akan kuputarbalikkan ini untuk menyerangnya. Dia salah memilih musuh.


__ADS_2