
Ibu Keith telah melewati masa kritisnya. Napasnya lebih teratur dan wajahnya tampak lebih tenang. Masa-masa kritis tadi terasa sangat lama bagi kami yang berada di kamar Ibu Keith. Kami bernapas lega. Walaupun tahu sebenarnya ini hanya sementara saja. Kami tidak tahu kapan hal ini akan terjadi lalu.
"Apa aku boleh menginap di sini?" tanyaku. Aku tidak ingin sewaktu-waktu Ibu Keith kritis lagi dan tidak melihatnya. Lebih tepatnya aku tidak ingin melewatkan saat-saat akhir beliau yang bisa terjadi kapan saja.
"Boleh saja, Diana," jawab Keith yang masih cemas.
"Aku akan mengemasi barang-barangku terlebih dahulu. Besok aku akan menginap," balasku.
"Terima kasih, Kak Diana." Iris menggenggam tanganku dengan kedua tangannya yang gemetaran.
Aku merasa dekat dengan Iris, dia kuanggap sebagai teman dan adikku sendiri. Kupeluk dia dengan lembut. "Aku akan menginap di sini sampai keadaan ibu kalian benar-benar membaik."
Iris menerimanya lalu melepasnya sambil tersenyum penuh kepedihan. Air mata mengalir di pipinya. Aku mengusapnya. Tak ada kata-kata penghiburan yang dapat kuucapkan. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi.
Keith mengantarku sampai di depan kediaman Skyrise, meski biasanya ikut sampai ke kediamanku. Aku tahu alasannya. Dia tidak ingin meninggalkan ibunya apabila berpulang tiba-tiba.
"Sampai jumpa, Diana. Hati-hati dijalan," ujarnya lirih.
"Sampai jumpa, Keith," balasku lirih.
Aku naik ke kereta kuda. Aku menatap pemandangan di luar jendela sambil menerawang. Selama perjalanan, pemikiran-pemikiran buruk mulai memenuhi kepalaku. Walau berusaha memikirkan hal yang lebih menyenangkan tetapi tetap saja tidak teralihkan. Aku berharap yang terbaik untuk ibu Keith.
***
Aku sudah menginap di kediaman Skyrise selama seminggu. Tidak terjadi apa pun antara aku dengan Keith. Nyonya Skyrise masih terbaring di tempat tidur tak sadarkan diri. Meski beliau memang terlihat membaik, tetapi kesadarannya belum pulih.
Suasana di kediaman ini terlihat sangat suram. Keceriaan Keith dan Iris tidak terlihat di wajah mereka. Kami bertiga makan bersama dengan bersungut-sungut.
Biasanya napsu makanku yang menggelora menjadi ciut sekarang. Aku hanya menyatap satu atau dua kali gigitan. Iris pun juga sama. Dia baru makan satu suapan. Keith sama sekali belum menyentuh makanannya.
"Aku sudah selesai." Keith meninggalkan ruang makan.
Aku mengikutinya. Dia menuju ruang latihan. Beberapa hari ini dia sering berada di sana untuk menyibukkan diri. Aku menjadi lawan latihan atau terkadang hanya melihatnya berlatih.
Kali ini dia ingin berlatih sendirian. Dia selalu meminum ramuan yang dibuat oleh Iris sebelum berlatih. Aku tidak menanyakan fungsi ramuan itu karena suasana hatinya sedang buruk.
"Ini untuk meningkatkan kekuatan sihir, Diana," jawab Keith yang menyadari tatapanku.
Dia tahu kalau aku mengamatinya beberapa hari ini. Mungkin dia berharap kalau aku bertanya. Sayangnya aku tidak berani.
__ADS_1
"Bukannya kekuatan sihir tidak bisa bertambah karena merupakan bakat sejak lahir?" tanyaku.
Itulah alasan Trevor memerlukan transfer kekuatan sihir dariku.
"Memang sebenarnya tidak bisa, tetapi Iris bisa menciptakan ramuan ini. Aku sudah meminum hampir tiga bulan dan kekuatan sihirku bertambah," jelas Keith.
Iris memang berbakat. Dia pasti berharap dengan bakatnya bisa menciptakan formula ramuan baru untuk menyelamatkan Ibunya. Sekarang dia pasti berada di ruang eksperimennya. Namun, selama seminggu ini tidak ada perkembangan yang berarti. Ramuannya tidak membuat ibunya segera terbangun.
"Apa tidak dijual di pasaran? Pasti akan mendapat untung yang banyak. Banyak orang yang akan membeli ramuan ini."
"Tidak, walaupun sebenarnya kami sempat ingin mendapatkan uang dari ini tetapi tidak jadi karena bila berada di tangan orang yang salah, malah akan disalahgunakan."
Itu benar. Bila yang meminum ramuan penambah kekuatan sihir ini adalah orang jahat seperti pembunuh itu, Kerajaan akan semakin kacau.
"Apa aku boleh mencobanya, Keith? Tentunya tidak cuma-cuma, aku akan membayarnya."
"Boleh saja. Kamu tidak perlu membayarnya, Diana." Keith mengambil botol ramuan yang tersimpan kotak di sudut ruangan. Lalu memberikannya padaku.
Aku meminumnya, tetapi tidak terasa apa-apa. Mungkin efeknya akan terlihat bila menggunakan sihir. Kulancarkan sihir bola api. Daya rusaknya lebih kuat daripada biasanya walau perbedaannya hanya sedikit.
"Bagaimana, Diana?"
"Itu benar karena apabila bertambah banyak dengan tiba-tiba maka akan membebani tubuh."
"Begitu ya." Aku mengangguk.
Brak...
Suara pintu yang dibuka dengan keras mengagetkan kami. Iris berdiri di sana sambil tersenyum cerah. "Ibu sudah sadar."
Aku dan Keith saling bertatapan sambil tersenyum lalu bergegas menuju ke kamar Ibunya. Iris mengikuti kami di belakang.
Kami sudah sampai di kamar Nyonya Skyrise. Beliau bersandar di dipan kasur, tersenyum dengan lembut ke arah kami. Wajahnya sangat segar seperti benar-benar sudah sembuh.
Keith segera memeluk Ibunya. Ibunya menepuk-nepuk punggung putranya.
"Kamu sudah besar jangan sering bersedih karena Ibu. Jadilah panutan untuk Iris," omel Ibu Keith.
Keith melepas pelukannya sambil tersenyum. "Baik, Ibu."
__ADS_1
Ibu Keith melihat ke arahku. "Ternyata ada Diana, terima kasih sudah mendampingi mereka."
"Tidak perlu berterima kasih, ehm Ibu." Aku masih merasa canggung memanggil Ibu Keith dengan sebutan ibu meski sudah pernah melakukannya.
"Apa kalian berdua bisa meninggalkanku bersama Diana berdua? Ada yang ingin kukatakan kepadanya." Ibu mereka memandangi Keith dan Iris secara bergantian. Mereka berdua mengangguk, keluar dari ruangan ini.
Setelah hanya kami berdua yang berada di sini aku membuka suara. "Ada apa Ibu?
"Aku sangat-sangat berterima kasih kepadamu, Diana. Karena dirimu Keith dan Iris jadi lebih bahagia."
"Anda sudah mengatakannya tadi."
"Tidak ucapan terima kasihku kali ini menyangkut semuanya. Mereka sering bercerita tentangmu padaku. Kamu adalah orang menawan dan baik."
Itu tidak benar. Aku tidak sebaik itu, karena suatu hari Keith akan kusakiti. Bahkan aku menyiksa sendiri kakakku dan merasa senang melihat penderitaannya.
"Mereka adalah orang yang sangat cerewet terutama Iris," balasku.
"Itu benar, Iris adalah putriku yang sangat banyak bicara. Sewaktu kecil aku kewalahan meladeni rasa ingin tahunya yang besar."
Aku tersenyum mendengar cerita Ibu Keith.
"Sedangkan Keith adalah pelindung bagi keluarga kami yang mirip dengan ayahnya. Ayahnya meninggalkan aku lebih cepat daripada yang kuduga. Dia terbunuh saat melawan pemberontak dua tahun yang lalu. Entah mengapa sekarang aku merindukan dan ingin bertemu ayah mereka."
Senyumku memudar lalu berkata lirih. "Ibu..."
"Yang terakhir aku bercanda. Aku tidak ingin meninggalkan anak-anakku secepat ini," katanya sambil terkekeh pelan.
Hatiku lebih tenang. Aku takut beliau segera menyusul suaminya.
"Diana, aku berharap kamu bahagia dengan orang yang terkasihmu," lanjutnya.
Kata-kata Ibu Keith sangat tulus. Aku berusaha menahan air mataku dengan mengatur napas.
"Terima kasih, Ibu."
Aku tersenyum ke arah ibu yang baik hati ini. Aku juga ingin bersama orang terkasihku. Dia adalah.... Aku tidak bisa mengucapkannya. Aku hanya menyimpannya dalam hati.
Aku tak tahu ternyata tadi adalah percakapan terakhirku dengan Ibu Keith.
__ADS_1