Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 24 Perasaan


__ADS_3

Semuanya terlihat pelan dalam kepalaku. Air mata Iris mulai menetes. Keith menggenggam tangan Ibunya dengan erat. Bahu ibu Keith yang naik turun karena napasnya sesak. Mereka semua terlihat menderita, terutama Keith. Seharusnya aku senang melihatnya, tetapi hatiku ikut tercabik-cabik. 


Aku tidak mengerti kenapa Trevor dan pembunuh itu bisa merasa senang menyaksikan penderitaan orang lain. Hati mereka telah mati. Meski aku senang melihat Trevor tersiksa, itu karena dia telah membuatku sengsara. 


Ibu Keith dan Iris sama sekali tidak bersalah kepadaku. Mereka tidak tahu apa-apa tentang urusanku dan Keith di kehidupanku sebelumnya. Tak perlu mereka merasakan kepedihan karena kesalahan orang lain.


Waktu kembali mengalir seperti biasa.


"Iris cepat ambilkan obat Ibu!" teriak Keith dalam kepanikan.


Iris mengangguk berbalik menuju pintu. Kuraih tangan Iris lantas pemandangan kamar ibu mereka berubah menjadi ruang eksperimen. Tak mampu menalaah situasi, Iris celingukan.


"Cepat, Iris!" 


Teriakanku menyadarkan dirinya. Iris segera meraih botol yang berisi ramuan berwarna biru. Dia kembali kepadaku. Tangannya yang mulai dingin kupegang erat. Kami segera berteleportasi kembali ke kamar Nyonya Skyrise.


Iris segera meminumkan ramuan yang dicarinya tadi pada ibunya. Selang beberapa lama, wajah Ibu Keith mulai membaik. Kernyitan dahi karena kesakitan tak terlihat. Napas beliau juga teratur.


Kami yang berada di ruangan itu bernapas lega. Keith melihat ke arahku dan Iris bergantian. "Terima kasih," ucapnya lirih.


Inilah keputusanku. Aku tidak akan melukai keluarga Keith. Balas dendamku hanya pada Keith. Aku tidak sama dengan Trevor yang mengorbankan orang tak bersalah demi mencapai tujuannya. Hati nuraniku masih ada itulah yang membedakanku dengan Trevor. 


Akan kutunggu sampai Ibu Keith sembuh atau kemungkinan terburuk beliau akan menjemput suaminya. Setelah itu, aku akan meninggalkan Keith. 


Nyonya Skyrise tertidur dengan wajah yang tenang. Iris memegang erat tangan ibunya yang rapuh. Menciumnya berkali-kali. Kakaknya memegang kedua pundaknya untuk memberikan semangat walaupun sebenarnya dia juga sedih.


Iris tanpa sepatah kata meninggalkan ruangan ini. Aku mengikutinya tetapi ditahan oleh Keith. 


"Biarkan, Iris sendiri." Suara Keith terdengar pelan hingga kunyaris tidak mendengarnya.


Kejadian seperti ini pasti telah terjadi berulang-ulang. Mereka bersikap ceria untuk melupakan kepedihan yang bisa terjadi kapan saja. Keluarga yang membuatku iri ini punya masalah pelik yang sulit untuk dipecahkan. Aku akan membantu meringankan beban mereka walau hanya sedikit.


Aku menggeleng, melepas tangan Keith. Kulangkahkan kaki menuju kamar Iris. Tanganku mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu. Pintu itu terbuka menampakkan wajah Iris sangat kacau. 

__ADS_1


"Boleh aku masuk?" tanyaku.


Iris mengangguk. Aku masuk ke kamarnya. Iris tak banyak bicara, tertunduk di pinggir kasur. 


"Kalau mau menangis, menangis saja." Kurangkul Iris sambil mengelus-elus kepalanya.


Iris membalas dengan pelukan yang erat. Isakan tangisnya terngiang-ngiang di telingaku.


"Tak perlu menyalahkan diri sendiri Iris. Keadaan ibumu bukan salahmu atau siapa pun. Tidak ada yang membencimu bila kamu gagal. Kerja kerasmu yang menurutmu tidak membuahkan hasil, tetap dihargai oleh Ibumu. Kamu sudah berusaha keras demi mengobati beliau."


Itulah kata-kata yang terucap dari mulutku. Aku tidak mahir dalam menghibur orang. Aku juga tak tahu apakah Iris akan terhibur oleh perkataanku. Yang kuinginkan hanyalah dia melepaskan semua yang mengganjal di hatinya agar merasa lega. 


Iris tertidur dalam pelukanku. Aku tidak tega meninggalkannya, berada di sisinya. Tak lama aku pun ikut tertidur.


***


Otakku meminta bertemu dengan Gauri. Tubuhku pun mengikutinya. Sekarang, aku berada di Rumah Gauri duduk berhadapan dengan Penyihir Tertua di Kerajaan.


"Ada apa kamu datang kemari?"


Mungkin saja jika jangka waktu hidup Ibu Keith bertambah, penyakitnya akan sembuh. 


"Ada," jawab Gauri singkat.


"Bagaimana caranya?"


"Caranya dengan memindahkan jangka waktu hidup penyihir ke penyihir yang lain. Lebih baik jangan dilakukan. Kehidupan orang yang mengirimkan jangka waktu hidupnya kepada orang lain akan berkurang."


Mirip dengan transfer sihir. Ini cara yang yang bagus agar Ibu Keith semakin sehat. Aku akan mengorbankan hidup Trevor untuk Ibu Keith. Orang seperti Trevor tidak pantas hidup. Hidup akan lebih menyenangkan bila orang sebaik Ibu Keith berumur panjang.


"Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk melakukan sihir itu?"


"Aku sudah mengatakannya jangan. Bukan hanya orang yang mengirimkan jangka waktu hidupnya yang menderita, tetapi orang yang menerimanya juga akan menderita." Gauri sedikit meninggikan suaranya.  

__ADS_1


"Kenapa?" Salah satu alisku terangkat. Kenapa orang yang akan berumur panjang juga akan menderita?


Gauri menghela napas. "Jika orang yang menerima jangka waktu hidup mengidap penyakit, maka rasa sakitnya akan semakin tak tertahankan. Jika orang yang menerimanya sehat-sehat saja, maka dia akan terkena penyakit yang tak dapat disembuhkan hingga mati. Penderitaan mereka akan semakin berat."


Keith dan Iris pasti pernah memikirkan hal ini. Mereka tidak menggunakan sihir ini karena akibatnya malah membuat ibu tersayang mereka semakin menderita.


Tidak ada jalan lain selain menerima kepergian Ibu Keith dengan lapang dada. Tak ada yang tahu kapan beliau akan meninggalkan anak-anaknya. 


"Maafkan, saya. Lalu terima kasih," jawabku sambil tertunduk.


"Apa ada pertanyaan lain?"


"Tak ada. Saya pamit dulu." 


Sebenarnya aku ingin tahu kekuatan penyihir waktu tetapi Gauri tetap tidak akan membuka mulutnya. Aku tidak ingin repot-repot melakulan hal yang sia-sia.


Aku meninggalkan rumah Gauri kembali ke kediaman Skyrise. Mereka pasti sudah menungguku untuk makan pagi. Atau malah mereka mencariku yang tiba-tiba menghilang.


Aku menuju ruang makan. Keith yang berada di depan ruang makan berlarian ke arahku. 


"Ke mana saja kamu, Diana? Aku sudah mencari-carimu di mana saja tetapi tidak ketemu." Napas Keith tidak teratur. Sepertinya dia bersusah payah mencariku tadi.


"Aku kembali ke kediamanku sebentar untuk ganti baju," jawabku setengah berbohong setengah benar.


Sebelumnya aku memang ke kediamanku. Rencana menginap di sini sangat mendadak, karenanya aku tidak membawa keperluanku. Jadi aku kembali ke sana untuk berganti baju sebelum ke rumah Gauri. 


"Ternyata begitu. Sebelumnya, aku minta maaf karena keributan semalam, Diana. Lalu, karena kepanikan itu kamu sampai menggunakan sihir teleportasimu di depan Iris." Nada bicara Keith mulai tenang. Kepanikannya sudah hilang.


"Tidak apa-apa, lagipula kemarin sangat mendesak, Keith."


"Aku akan meminta Iris menutup mulutnya tentang sihir unikmu. Sebelum itu apa kamu mau makan bersama kami, Diana?" Keith tersenyum.


Kubalas senyumannya. "Tidak ada salahnya aku makan dulu sebelum pulang."

__ADS_1


Keith mengajakku masuk. Iris bernapas lega melihatku. Kami makan dengan tenang. Kekacauan semalam rasanya cuma angin lalu saja atau sebenarnya mereka hanya berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi agar dapat menjalani hari tanpa kesedihan.


Begitu pula denganku. Aku berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Bahkan perasaanku sendiri.


__ADS_2