
"Aku tahu kalau pertunangan kalian hanya pertunangan kontrak saja," ujar ibu Keith memecah keheningan di antara kami.
Bagaimana Ibu Keith bisa tahu? Apa Keith yang memberitahunya?
Melihat wajahku yang bertanya-tanya ibu Keith melanjutkan perkataannya, "Bukan Keith yang memberitahuku. Aku hanya menebaknya. Pasti sulit bagimu kehilangan orang tua dan kakak yang mengkhianatimu. Kamu pasti butuh orang yang ada di sampingmu untuk menghindari lamaran-lamaran yang berdatangan."
Ternyata Keith sama sekali tidak pernah mengatakan pertunangan kontrak ini kepada siapa pun. Apakah kedekatan kami memang terlihat palsu hingga Ibu Keith menyadarinya? Tak ada cinta di antara kami. Kami hanya membutuhkan satu sama lain demi keuntungan diri sendiri saja.
"Itu benar," jawabku jujur.
"Aku tidak akan meminta kalian memutuskan pertunangan kontrak ini," ujar Ibu Keith lembut.
Mataku membesar, apa sebenarnya yang Ibu Keith rencanakan? Kenapa beliau tidak marah?
"Kenapa?" tanyaku.
"Kalian berdua bisa memutuskannya sendiri ke depannya. Aku hanya berharap kalian bisa akur walaupun sudah tidak bertunangan lagi."
Ibu Keith terlalu baik. Dia membiarkan kami mengambil keputusan sendiri. Namun, dia tidak tahu bahwa diriku hanya memanfaatkan pertunangan kontrak ini untuk menyakiti Keith. Aku tidak yakin kami bisa akur setelah pertunangan kontrak ini selesai. Keith pasti membenciku, aku juga membencinya. Yang ada di antara kami hanyalah perpecahan.
"Terima kasih, Ibu. Kami pasti akan akur," ucapku berbohong.
Ibu Keith tersenyum sambil merentangkan tangan. Aku masih duduk terdiam. Aku sama sekali tidak tahu maksud Ibu Keith. Melihat diriku yang sama sekali tidak beranjak, Ibu Keith meraih lenganku untuk mendekat. Lantas memelukku. Sebuah pelukan yang hangat. Kurasa jika ibuku masih hidup pelukannya akan terasa seperti ini.
"Aku tahu semua ini sangat berat untukmu. Kamu bisa membagikan bebanmu pada Keith dan Iris. Mereka akan membantumu, jangan menanggungnya sendiri."
Ibu Keith mengelus-elus punggungku. Mataku terasa panas. Air mata mulai membasahi pipiku. Aku mengingat semua penderitaan yang telah kulalui. Kematian ayahku, ritual transfer sihir, kehilangan inderaku satu persatu, menerima kenyataan kalau Keith tidak mencintaiku, Keith meninggalkanku, Trevor yang mengkhianatiku, hingga berada dalam kehampaan. Ibu Keith terus menghiburku, sama sekali tidak memedulikan fakta bahwa aku bukan anaknya.
Aku berusaha mengendalikan diriku. Mengatur napas dan mengusap air mataku.
"Alasan aku ingin kamu memanggilku Ibu agar dirimu merasakan kasih sayang seorang ibu. Kudengar ibumu meninggal saat melahirkanmu. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa ibumu pasti menyayangimu."
Aku tahu Ayahku selalu mengingatkanku bahwa Ibuku selalu menyayangiku. Beliau rela mempertaruhkan nyawa hingga meninggal demi diriku. Ayah semula merasa kesal karena harus kehilangan orang yang dicintainya. Namun, begitu melihat diriku yang mungil, beliau bertekad akan melindungi peninggalan orang yang dicintainya.
__ADS_1
Ada saat aku merindukan ibuku. Aku ingin melihat wajahnya. Ayahku menceritakan bagaimana rupa ibuku, lantas memperlihatkan lukisan ibuku. Ini bisa mengobati rasa rinduku. Walau aku tidak bisa melihatnya secara langsung, rasa senang menjalari hatiku.
Aku melepas pelukan Ibu Keith."Terima kasih, Ibu. Anda baik sekali."
"Untuk mencairkan suasana aku akan menceritakan sesuatu."
Aku tidak menjawab hanya mendengarkan beliau dengan saksama. Rasa penasaran menggelitik diriku, aku tidak sabar mendengar ceritanya.
"Apa kamu tahu kalau Keith bercita-cita menjadi pahlawan?" cerita Ibu Keith bersemangat.
"Benarkah?" tanyaku berusaha terkejut. Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut karena dari awal Keith sangat baik pada setiap orang. Dia ingin membantu semua orang. Namun, sifatnya yang seperti itu dapat membuat orang salah paham, kalau Keith mencintai orang yang diberinya kebaikan. Seperti diriku yang dulu.
"Dia selalu menanyakan pada Ayahnya cara menjadi pahlawan. Hanya penyihir kuatlah yang bisa melindungi orang lemah. Itulah cara agar menjadi pahlawan. Ayahnya memanfaatkan hal ini untuk memacunya berlatih sihir. Keith dengan polosnya menuruti Ayahnya."
Aku terkekeh pelan akibat cerita Ibu Keith. Senyuman yang kuperlihatkan pada Ibu Keith kali ini berbeda dengan biasanya. Ini adalah senyuman tulus tanpa paksaan sama sekali.
Tiba-tiba Keith masuk ke sini. Senyumku memudar dengan cepat. Aku berusaha menutupi kalau terlihat senang karena mendengar cerita tentang Keith.
"Ini rahasia di antara wanita. Kamu tidak perlu tahu," goda Ibu Keith.
"Ibu tidak menanyakan hal yang aneh-aneh bukan?"
"Tentu saja tidak. Kamu bisa menanyakannya pada Diana."
Aku gelagapan karena Ibu Keith tiba-tiba menanyakan pendapatku. "Kami hanya mengobrol biasa saja."
"Baiklah kalau begitu."
Keheningan terjadi di antara kami bertiga. Ibu Keith-lah memecahkan keheningan ini. "Aku sudah selesai berbicara dengan Diana. Pergilah nikmati waktu kalian berduaan."
Keith memandangku sebentar lalu menoleh ke arah Ibunya. "Kami pamit dulu Ibu."
Aku ikut menunduk sambil undur diri. Begitu sampai di luar, Keith langsung memegang pundakku. "Maafkan Ibuku, jika ada perkataannya yang aneh atau menyakiti hatimu, Diana."
__ADS_1
"Tidak, beliau sangat baik, aku sangat terhibur."
Keith menatapku lekat-lekat, mencari kehobongan di setiap kata yang kuucapkan. Usahanya sia-sia, aku berkata jujur.
Menyadari bahwa tidak ada kebohongan yang terucap Keith membuka suara. "Kamu terlihat lelah, apa kamu ingin pulang? Atau bertemu Iris terlebih dahulu?"
"Aku ingin melihat Iris sebentar lalu pulang."
Keith mengangguk, mengantarku ke ruang eksperimen. Keith mengetuk pintu, tak lama Iris muncul.
"Kak Diana ternyata ada di sini, apa Kak Diana ingin berbincang-bincang denganku?" tanya Iris begitu melihatku. Dia terlihat bersemangat. Ucapan Keith benar, Iris merasa senang ketika aku datang ke sini.
"Lain waktu saja ya, dia habis bertemu dengan Ibu. Kuyakin Ibu bertanya banyak hal hingga membuat Diana kelelahan," balas Keith menggantikanku.
"Kalau begitu lain kali saat datang ke sini lagi aku ingin menceritakan sesuatu pada Kak Diana."
"Baiklah, aku akan menantikannya, Iris," jawabku.
Aku berpamitan pada Iris. Kami sudah berada di luar kediaman Skyrise. Keith menggenggam tanganku dengan erat seperti ada yang ingin dia katakan.
"Apa kamu bisa menyuruh kereta kudamu untuk pulang sendiri Diana?"
"Kalau begitu bagaimana caranya aku kembali ke kediamanku? Apa kamu menyuruhku menginap disini, Keith?"
Ini terlalu cepat. Memang sepasang kekasih yang menginap di kediaman pasangannya tidaklah aneh di kerajaan ini, tetapi aku belum mempersiapkan diri. Aku tidak tahu cara menghadapi situasi ini.
"Bukan, ada yang ingin kutunjukkan padamu."
Tidak ada kebohongan di mata Keith. Pada akhirnya aku menurutinya. Aku meminta kusir untuk menjalankan kereta kuda kembali ke kediaman Moonlight tanpa diriku.
Begitu tinggal kami berdua. Keith menggendongku. Aku terkesiap langsung merangkul leher. Kuarahkan mataku ke bawah. Tanah, tempat menapak kaki kami tadi semakin menjauh.
Aku melihat wajah Keith. Dia tersenyum jahil. Kuedarkan pandanganku ke sekitar. Kami berada di langit. Kami terbang.
__ADS_1