Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 47 POV Keith Terlambat


__ADS_3

Aku meminta Iris membuat ramuan penguat kekuatan sihir untuk diriku. Tanpa sepengetahuan Iris aku memasukkan bahan-bahan untuk membuat ramuan ini lebih ampuh meski ada efek sampingnya. Aku harus segera menyelamatkan Diana. Muntah-muntah tiap hari tidak ada apa-apanya. 


Namun, Iris mulai menyadarinya. Tubuhku semakin mengurus. Ia memergoki memuntahkan makanan. "Apa Kakak sudah gila? Berhentilah memaksakan diri. Jika Kakak terus begini aku tidak akan membuatkan ramuan penguat kekuatan sihir lagi," omel Iris penuh kekhawatiran.


"Jangan begitu Iris, aku benar-benar membutuhkannya. Aku harus segera membunuh Trevor dan menyelamatkan Diana," pintaku kepadanya dengan mata berkaca-kaca.


"Sebelum Kakak membunuh Trevor, Kakak akan mati duluan karena kekurangan gizi. Kumohon jangan seperti ini, keluargaku satu-satunya sekarang hanya tinggal Kakak. Jangan tinggalkan aku sendirian." Iris marah mulai menitikkan air mata.


Aku melupakannya, Iris juga merupakan adikku yang berharga. Amarahku kepada Trevor membutakanku. Aku memeluknya untuk menenangkannya. "Maafkan, aku Iris." 


"Kakak tidak boleh datang ke ruang eksperimenku lagi," ujar Iris dengan nada kesal.


"Baiklah Iris." Aku menurutinya dengan terpaksa. Tidak ada cara untuk mengelabuinya lagi.


Hari-hariku meminum ramuan penguat sihir terasa sangat lama. Aku terus berlatih dan berlatih. Setelah merasa cukup kuat aku mendatangi kediaman Moonlight.


Tempat yang kutuju adalah ruang kerja Trevor. Pintu terbanting dengan keras, kutatap tajam kakak kandung Diana yang tidak pantas disebut dengan kakak ini.


Dia masih bersantai duduk di kusi kerjanya. Dengan sorot mata meremehkanku, dia berkata, "Tidak ada keperluan lagi kau datang ke sini, Skyrise."


"Masih ada, aku akan membunuhmu, Baj*ngan." Sihir jarum es kulancarkan padanya.


Trevor menciptakan pelindung tetapi langsung retak begitu terkena seranganku. Dia terkesiap berusaha menghindar tetapi semuanya sudah terlambat. Bola sihirku sudah menunggu berada di belakangnya. Kubuat jarum dari bola sihir itu. Jarum itu menghunus dada Trevor dengan dalam. Darah dimuntahkan dari mulutnya. Ini adalah balasan karena telah membuat Diana menderita dan membuatnya membenciku.


Kudekati Trevor. Dia terbatuk-batuk.


"Ampuni... aku..." suaranya semakin memelan.


"Tidak ada pengampunan bagimu." Kubuat jarum dari sihirku. Kuakhiri hidup Trevor dengan ini. Darah terciprat ke wajahku. Aku menyekanya.


Mayat Trevor menyakiti mataku. Kubakar Trevor hingga tidak bersisa. Aku tidak peduli apabila dihukum setelah ini. Yang terpenting Diana bisa hidup dengan damai.


Aku segera menuju kamar Diana. Dia masih tertunduk seperti terakhir kali aku ke sini. Aku tersenyum ke arahnya meski tahu dia tidak bisa melihatku lagi.


"Kamu sudah aman Diana. Kakakmu telah mati," ucapku dengan lembut.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak bergerak. Tak ada kemarahan, kesedihan atau kebahagiaan yang terlihat darinya. Ketakutan mulai menjalariku. Aku mendekatkankan jariku ke hidungnya. Napasnya masih terasa.


"Apa kamu mendengarku Diana? Kalau dengar anggukkan kepalamu," kataku dengan suara gemetar.


Diana sama sekali tidak bergerak. Aku mundur secara perlahan. Dalam posisi tersujud aku memukul-mukul lantai. 


"Argh!"


Teriakanku memenuhi ruangan. Lama-kelamaan semakin lirih. Air mataku mulai menetes ke lantai. Indera pendengaran Diana telah menghilang. Ini salahku.


Aku terlambat menyelamatkanmu. Maaf, Diana. Jika seandainya aku lebih kuat mungkin kamu masih bisa mendengarku.


Aku mengusap air mataku.


Pasti ada cara untuk mengembalikan semua inderamu. Kalau tidak ada aku akan menemukannya.


Aku bangkit mendekatinya. Lalu menuliskan sesuatu di tangannya.


"Kamu sudah aman, Diana."


Dia bergerak sebentar merasa kebingungan tetapi tidak membalasku. Aku tidak berniat mengatakan siapa diriku padanya. Akan kuberitahu setelah semua inderanya kembali.


"Kakak tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa, Iris. Diana sudah kehilangan hampir semua inderanya. Kita hanya berkomunikasi dengannya melalui tangannya," balasku lirih.


Iris menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Kurasa aku tahu apa yang ingin dikatakan Iris. "Mengerikan." Aku meminta Iris menyiapkan makanan untuk Diana. Dia segera pergi menuruti permintaanku.


Aku membawa Diana ke kamar tamu. Kusandarkan dia ke dipan kasur. Iris yang telah menenteng piring berisi makanan, menyuapinya. 


"Aku akan pergi sebentar. Tolong jaga Diana, Iris." Aku menepuk pundak Iris.


"Kakak mau pergi ke mana?" Iris menoleh ke arahku dengan tatapan sedikit kesal.


Mungkin Iris mengira aku ingin meninggalkan Diana karena kondisi Diana yang seperti itu.

__ADS_1


"Aku akan menemui Gauri menanyakan cara mengembalikan seluruh indera Diana."


Iris terlihat lebih tenang. Ternyata dugaanku tadi benar. "Kalau begitu cepat kembali, Kak."


Aku mengangguk kepada adikku lalu terbang dengan cepat menuju rumah Gauri.


***


"Apa benar-benar tidak ada cara untuk mengembalikan indera yang telah hilang karena transfer sihir?" tanyaku dengan suara meninggi.


"Aku sudah berulang kali mengatakannya. Tidak ada," jawab Gauri dengan tegas.


Aku memegangi kepalaku berusaha menenangkan diri. Kalau begitu Diana harus menderita selamanya seumur hidup? Bukannya aku tidak mau hidup bersamanya dengan kondisinya yang seperti itu, tetapi pasti menyakitkan tidak bisa mendengar, melihat atau pun mencicipi segalanya. Dalam lubuk hatiku yang terdalam aku ingin dia terus hidup. Aku tidak ingin kehilangannya. Benar aku sangat egois.


"Ada satu cara tetapi aku tidak mau melakukannya."


Aku langsung mendongak ke arah Gauri begitu mendengar ucapannya. "Kenapa? Dengan cara apa?"


"Aku harus mengorbankan diri, karena membutuhkan darah penyihir waktu."


Gauri bercerita tentang sihir mengulang waktu. Darah penyihir waktu, darah penyihir biasa dan ingatan yang masih terbawa ke masa lalu. Aku mengepalkan tangan dengan erat. Pada akhirnya tidak ada cara lagi.


***


Setelah itu, terjadi pembunuhan penyihir. Perbuatanku di kediaman Moonlight dianggap sebagai ulah pembunuh penyihir. Pembunuhan penyihir itu menyasar kaum bangsawan lebih tepatnya Penyihir Petarung. Aku merasa lega karena Iris dan Diana tidak perlu menjadi target. Memang Diana adalah Penyihir Petarung tetapi dia dianggap telah meninggal. Tidak ada yang tahu keberadaannya di kediamanku. 


Aku disibukkan dengan kasus pembunuhan penyihir ini. Penyihir yang terbunuh semakin banyak dan pembunuhnya tidak segera ditangkap. Ketika menyelidiki tempat kejadian lebih tepatnya kejadian palsu, aku melihat Raja menerawang ke kediaman Moonlight dengan tatapan sedih. Ketika kutanya Iris tentang hal ini, ternyata Diana dan Raja berteman. Raja bersedih karena kehilangan temannya. Namun, kenapa Raja tidak pernah mengunjungi temannya sekali pun? Apakah karena temannya cacat? Karena hal itulah, aku tidak memberitahu Raja tentang Diana.


Sekarang, Iris sibuk berada di ruang eksperimennya berharap bisa membuat ramuan yang mengembalikan indera Diana. Begitulah kesehariannya di pagi hari, sebelum aku pergi mencari pembunuh penyihir. Aku menyuapi Diana. Pasti membosankan makan makanan yang terasa hambar tiap hari. Tiba-tiba air matanya menetes.


Aku menggertakkan gigiku. Aku menyiksa Diana perlahan dengan membuatnya tetap hidup. Namun, suatu saat Iris akan berhasil. Kuyakin itu. 


Kumohon bertahanlah, Diana. 


Kuusap air mata Diana. Suara burung bercicitan di luar berhenti. Kutolehkan kepala ke arah balkon yang terbuka. Kepakan sayap burung-burung itu berhenti. Tak bergerak sama sekali di depan balkon.

__ADS_1


Aku terkesiap melepas tanganku dari pipi Diana. Waktu berjalan kembali. Kucoba menyentuh pipinya kembali tetapi tidak terjadi apa pun. Pasti tadi hanya perasaanku saja.


Iris telah datang ke kamar Diana. Aku segera pergi melaksanakan tugasku. Tanpa sadar itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.


__ADS_2