Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 58 Kekalahan Derek


__ADS_3

Lanjut POV Iris


Raja terkesiap. Aku meminumkan ramuan ke Raja melalui mulutku. Ini berlangsung sangat singkat. Kujauhkan wajahku dari Raja. Dia menatapku penuh kebingungan sambil mempertahankan pelindungnya. 


"Kamu harus bisa mengalahkannya," kataku sambil berlarian ke belakang. 


Luka Raja telah sembuh. Dia mengeluarkan bola api untuk menyerang Derek. 


"Larilah," perintahnya.


Konsentrasi Derek buyar. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dengan kaki terpincang-pincang. Ramuan tadi adalah ramuan penyembuh terakhir yang kusimpan. Jadi aku harus segera berlari ke tempat yang aman selagi Derek disibukkan dengan Raja. Tinggal sedikit lagi aku sampai di dalam bangunan istana. Bangunan ini telah dipasang pelindung yang lebih kuat. Semua penyihir ramuan sudah sampai di sana. Hanya tinggal diriku saja yang masih tertinggal.


Derek mengarahkan bola api ke arahku. Sebelum mengenaiku bola api itu menghilang digantikan asap. Raja melancarkan sihir es untuk mematikan bola api Derek.


Aku telah sampai di bangunan istana. Aku akan berterima kasih pada Raja setelah ini. Atau mungkin aku akan dihukum karena merebut ciuman Raja.


***


POV Diana


Leluhur Derek hilang menjadi serpihan debu. Mereka telah mengalami kematian untuk kedua kalinya. Sungguh menyedihkan.


Aku dan Keith berhasil mengalahkan mereka. Kami menghela napas beristirahat sejenak. Kepalaku terus berpikir. Derek adalah orang yang mempunyai banyak tipu muslihat. Mungkin saja dia menjalankan rencananya dibalik layar, tetapi pasukannya tidak terlalu hebat. Jika Derek ingin menjadi Raja seharusnya dia menyerang Eric secara langsung. Pasukannya tidak bisa mengalahkan Eric. Atau bagaimana jika pasukannya hanya sebagai pengalih.


"Keith kita harus kembali ke barisan belakang."


"Kenapa Diana?"


"Ini pengalihan belaka. Tujuan sebenarnya adalah membunuh Eric secara langsung."

__ADS_1


Keith terkesiap. Dia segera memegang tanganku. Aku berteleportasi ke pintu gerbang istana, tempat Eric mungkin berada.


Pemandanganku di depan mataku berubah dalam sekejab. Eric dan Derek sedang bertarung. Eric sangat kewalahan. Untungnya kami tidak terlambat. Kami segera membantu Eric.


Kubuat sihir tornado api yang mengitari Derek. Keith melancarkan bola-bola sihirnya. Serangan kami berhasil melukai Derek. Namun, Derek malah menyeringai.


"Sungguh menyedihkan kalian bertiga harus menyatukan kekuatan untuk mengalahkanku. Ini sudah membuktikan bahwa akulah yang pantas menjadi Raja."


"Tidak akan ada orang mengikuti dirimu Derek. Orang yang kejam sepertimu hanya akan membuat ketakutan merajalela di hati rakyatmu," kata Eric.


"Benarkah? Kita lihat saja begitu aku menjadi Raja. Sayang sekali kau akan melihatnya secara langsung dari alam baka Eric." Derek meminum sebuah ramuan. Luka-lukanya segera sembuh.


Dia menyerang kami bertiga dengan sihir angin. Aku hampir terhempas apabila tidak menghentikan waktu. Meski sudah bertarung dengan Eric, dia masih punya kekuatan melimpah. Jika tidak dibunuh hari ini dia akan semakin bertambah kuat. Kami tidak akan bisa mengalahkannya lagi. 


Aku melancarkan jarum es kepadanya dalam kondisi waktu berhenti. Namun, waktu berjalan kembali sebelum jarum es itu mengenainya. Ada sesuatu yang mengalir di hidungku. Aku mengusapnya, ternyata darah.


Keith menghampiriku setelah terdorong ke belakang tadi. Dia memegang erat ke dua lenganku sambil membuat pelindung untuk menangkal serangan balik Derek. "Jangan terlalu memaksakan diri Diana."  


Eric menyerang Derek dengan bola api yang besar dari samping. Keith pun ikut menyerangnya dengan jarum sihir. Pelindung sihir yang diciptakan Derek mulai retak.


Aku memperhatikan setiap gerakan Derek. Mencari kelengahan yang bisa kumanfaatkan. Sisi belakang Derek terbuka lebar. Kubuat jarum es di punggung Derek. Saat pelindung Derek mulai hancur akibat serangan Keith dan Eric, aku melancarkan jarum esku.


Derek menyadarinya tetapi terlambat. Jarum-jarum es itu mulai menghujani tubuhnya. Darah menetes dari setiap tubuhnya. Kematiannya sudah di depan mata. Kami menang. Akhirnya aku berhasil membunuh pembunuh gila itu. Pembunuh yang membunuhku di masa lalu dan orang terlantar.


Tawa Derek seakan memecah kemenangan yang sudah kami dapatkan. Tubuhnya bersinar. Dia menyeringai ke arah Eric. Eric tercengang melihatnya.


"Cepat masuk ke istana! Dia hendak meledakkan tubuhnya!" teriak Eric.


Derek benar-benar sudah gila. Dia berniat mengajak seluruh orang di sini untuk mengikutinya ke alam baka. Aku tidak tahu seberapa besar dayah ledak sihir Derek, tetapi dari raut muka Eric pasti sangat besar. Bila sihir peledak diaktifkan maka tidak bisa dibatalkan lagi. Kepalaku menoleh ke arah pasukan penyihir. Orang-orang masih bertarung dengan mayat dan beberapa terkapar terluka. Mereka tidak akan sempat masuk ke istana. Aku tidak bisa membiarkannya. 

__ADS_1


Keith menyambar tanganku sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan Diana." Dia tahu apa yang ada di pikiranku.


"Aku harus melakukannya Keith. Percayalah padaku." Aku melepas tangannya.


Aku berlari ke arah Derek mencengkeram tangannya, berteleportasi ke tempat yang sepi. Tubuhnya semakin bersinar. Ketika hendak berteleportasi lagi dia tidak membiarkanku pergi. Terpaksa aku menghunuskan jarum sihir ke tangannya agar melepasku. Derek mengerang kesakitan. Aku menghempaskan dirinya dengan sihir angin dan mengikatnya dengan rantai.  


Dia meronta-ronta sambil berteriak-teriak. "Sialan kau Diana! Lepaskan aku!"


Cahaya dari tubuhnya semakin menyilaukan. Dia benar-benar akan meledak.


"Selamat tinggal, Derek. Terima kasih telah membunuhku." 


Dia terus memakiku sampai tidak terdengar lagi karena aku telah kembali ke istana. Kepalaku terasa pening. Darah di hidungku tidak mau berhenti. Kurasa aku benar-benar memaksakan diri. Keith menopang tubuhku yang hampir limbung.


"Kita harus segera mengobatimu, Diana."


Keith membopongku ke dalam istana. Aku menoleh ke arah penyihir-penyihir yang tadi bertarung. Mayat-mayat yang semula bertarung dengan mereka tergeletak. 


"Di mana Derek, Diana?" tanya Eric. Dia sama sekali tidak terlihat marah karena Keith membopongku.


"Aku meninggalkannya di hutan dekat kediaman Rockyard, Eric," jawabku letih.


"Terima kasih, Diana sekali lagi kamu menyelamatkan semua orang," ucap Eric.


Eric segera meninggalkan istana. Kurasa dia hendak memeriksa Derek benar-benar mati atau tidak. Bisa saja mayat-mayat itu tergeletak karena penyihir yang mengendalikan mereka berada di tempat jauh. Memastikan dengan mata kepala sendiri lebih baik.


Aku mendongak ke arah Keith yang penuh kepanikan. "Setelah ini apa yang akan kita lakukan Keith?"


"Entahlah, yang terpenting keselamatanmu sekarang yang terpenting, Diana." Dia berpaling ke arahku dan ke depan.

__ADS_1


Aku terkekeh pelan. Meski aku tidak bisa membunuh kakakku dengan tanganku sendiri, setidaknya aku sudah membalasnya dengan siksaan. Kesalahpahamanku dengan Keith sudah teratasi. Eric dan Stella juga bisa melepas kami. Derek sudah meninggal, pembunuh tidak lagi berkeliaran bebas. Hanya ada satu harapanku yang belum terwujud.


"Menikahlah denganku, Keith."


__ADS_2