Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Extra 3 POV Iris Pesta Gelar Kepala Keluarga Skyrise


__ADS_3

Raja tersenyum mendengar tawaran itu. Mereka berpandangan cukup hingga waktu terasa sangat lama bagiku. Aku ingin segera mendengar jawaban Raja. Jika tidak mungkin aku akan gila. Tidak, kurasa aku sudah gila karena berani mengatakan hal ini pada tamu itu.


"Maaf, kerajaan kami tidak kekurangan apa pun hingga harus bekerja sama dengan kerajaan lain. Lebih baik Anda kembali saja ke kerajaan Anda."


Sontak Raja dan tamunya menoleh ke arahku. Tatapan tidak percaya dan bingung dilontarkan mereka. Aku ingin menarik lagi kata-kataku dan lari menyembunyikan wajahku. Aku bodoh, sangat bodoh. Namun, jika tidak kukatakan hatiku tidak akan lega.


"Begitu ya, saya minta maaf mengganggu Anda, Yang Mulia." Gadis itu bangkit menuju pintu meninggalkan ruang tamu.


Raja tidak mengejarnya. Kurasa Raja memang tidak ingin menerima tawaran tamu tadi. Seharusnya aku membiarkan Raja sendiri yang menolak, tetapi mulutku tidak bisa kukendalikan. Dia masih menatapku dengan tatapan aneh itu. Lalu dia buka suara. "Ternyata kamu hebat sekali dalam mengusir orang."


"Jika kamu ingin menolaknya seharusnya katakanlah lebih cepat," protesku.


"Tadi aku hendak mengucapkan penolakan tetapi kamu sendiri yang mendahuluiku. Yang terpenting masalah sudah selesai."


Dia bangkit keluar dari ruangan, aku pun mengikutinya. Tak ada obrolan yang terjadi di antara kami. Otakku tidak dapat mencari topik pembicaraan kali ini, mungkin karena aku terlalu malu.


Kami berbelok ke arah yang salah. Aku menghentikan langkahku.


"Bukannya ruang kerjamu di sebelah sana?" tunjukku ke jalan samping kananku.


Dia berpaling ke arahku sambil tersenyum. "Ruang eksperimenmu sudah jadi. Aku akan menunjukkannya."


Raja segera melanjutkan langkahnya. Aku berteriak kegirangan lantas menyusulnya. Bisa kulihat Raja menggeleng-gelengkan kepalanya. 


Kami sudah sampai di ruang eksperimenku yang baru. Ruangan ini lebih besar dibandingkan di kediamanku. Botol-botol ramuan berjajar di sebelah kanan ruangan. Lemari berisi bahan-bahan eksperimen berada di sebelahnya. Ada yang kurang. Buku-buku tentang ramuan. Namun, aku sangat senang mendapat ruangan baru seperti ini.


Senyumku terus mengembang. Aku melihat-lihat lemari bahan-bahan ramuan. "Terima kasih, Yang Mulia. Ramuan apa yang ingin Anda minum?"


"Rasanya aneh jika kamu bersikap formal terhadapku. Bicaralah seperti biasa saja. Ramuan apa saja boleh."


"Kalau begitu tidak apa-apa bukan jika kamu menjadi orang yang menguji ramuan-ramuan baruku?" Kutolehkan kepala kepanya.


Tidak mungkin aku meminta kakakku untuk menguji ramuanku. Sekarang dia pasti bermesraan dengan Kak Diana dan aku tidak ingin merepotkannya lagi.


Raja mengernyitkan dahi. "Kurasa aku salah mempekerjakanmu."


Aku memasukkan ramuan-ramuan ke botol. Lalu memprosesnya. Kusimpan pada salah satu nakas. "Bercanda, suruh saja salah satu penyihir istana untuk mencobanya."


Raja menghembuskan napas lega. Dia takut aku akan memasukkan sesuatu yang akan meracuninya. 


"Kapan penobatan gelar kepala keluargamu?" tanya Raja.


Kakakku sudah melepas gelarnya sebelum menikah dengan Kak Diana. Penobatan kepala keluargaku kuniatkan kulaksanakan setelah Kakak dan Kak Diana menikah.  Karena terlalu sibuk, aku tidak sempat memikirkan hal ini. 


"Apa sekarang saja bisa?" tanyaku.

__ADS_1


Dahi Raja mengernyit lagi. Entah berapa kali dia melakukan itu. "Baiklah datanglah ke ruang singsasana. Kamu sudah hafal sumpahnya bukan?"


"Tentu saja."


Kami berdua berjalan menuju ruang singgsana. Raja mengambil buku sihir. Kusujudkan diriku di hadapan Raja, kepalaku menunduk. Raja menaruh buku sihir itu di bahuku.


"Aku melantikmu sebagai Kepala Keluarga Skyrise yang baru, Iris Skyrise."


Kurasa ini pertama kalinya dia menyebut namaku. Raja memindahkan buku ke bahuku yang lain menanyakan sumpahku. Aku mengucapkan sumpah setia kepada Raja. Dia mengangkat buku sihirnga. Aku mendongak ke arahnya. Dia mengembalikan buku itu ke tempat semula. Kurasa sudah selesai. Jadi aku pun berdiri.


Setelah ini Raja akan menyebarkan berita bahwa aku telah menjadi kepala keluarga. Tidak ada yang melihatku di sini.


Entah mengapa rasanya biasa saja.


"Kamu sama sekali tidak serius bahkan tanpa persiapan sama kali. Tentu saja tidak ada perasaan senang," jawab Raja ketus.


Sepertinya kata-kata di dalam pikiranku terlontarkan dari mulutku. 


"Aku terlalu sibuk untuk mempersiapkan semuanya. Kamu menyuruhku ini itu tanpa membiarkanku beristirahat untuk menunggu-nunggu hari ini," protesku.


"Berhentilah mendebatku." 


Aku mengabaikannya menuju ruang eksperimenku. Kubalikkan tubuhku karena lupa mengatakan sesuatu.


"Apa kamu akan datang ke pesta gelar kepala keluargaku?"


Aku tersenyum lantas melanjutkan langkahku. Mungkin setelah ini akan ada banyak lamaran yang tertuju padaku. Akhirnya ada lelaki bangsawan yang mendekatiku.


***


Itulah yang kupikirkan. Namun, kakakku berada di sampingku melarangku berdansa dengan lelaki lain selain dirinya. Dia bahkan meninggalkan Kak Diana di pojokan. Kak Diana tersenyum ke arahku sambil menujukkan gelas winenya. 


Ini menggelikan aku sudah menjadi kepala keluarga tetapi kenapa kakakku terus mengambil keputusan terhadap diriku? Aku bisa mengambil keputusan sendiri. Aku tahu yang baik bagiku. Apakah dia ingin aku menua tanpa ada yang menemaniku?


"Kenapa Kakak terus berada di sini?" tanyaku kesal.


"Aku ingin menilai orang-orang yang berani berdansa denganmu Iris," jawab Kakakku.


"Ingin menilai atau malah menakut-nakuti?" Aku berusaha untuk tidak marah. Kuatur suaraku agar tidak terlalu keras. Padahal aku bintang utama di pesta ini, tetapi malah terasa dikekang.


"Hanya lelaki baik yang pantas denganmu Iris," katanya.


"Lelaki yang baik tidak akan meninggalkan istrinya dengan terus di samping adiknya," sindirku.


Aku melangkahkan kaki ke balkon. Langkahku terhenti. Kakakku tidak mengikuti. Kutolehkan kepala sedikit ke belakang, dia menghampiri Kak Diana. Setidaknya dia menanggapi perkataanku.

__ADS_1


Aku telah sampai di balkon, menghela napas panjang. Rasa aku ingin berteriak saja. 


"Kenapa kamu malah di sini?" tanya seseorang.


Aku kenal suara ini. Kubalikkan badan. Raja berdiri depan pintu balkon. Dia menatapku sedikit kebingungan.


"Kakakku melarangku berdansa dengan lelaki lain. Sungguh menyebalkan," gerutuku. 


Raja berpikir sebentar. Lantas tangannya terulur kepadaku. Aku menatap tangan dan wajahnya secara bergantian.


"Kamu mengajakku berdansa?" tanyaku.


"Seharusnya kamu bersenang-senang hari ini. Aku akan mengabulkan permintaanmu," jawabnya sambil tersenyum.


"Kamu pernah menolakku berdansa sekarang malah mengajakku," ujarku sinis.


"Kamu tidak pernah memintaku berdansa denganmu, Diana-lah yang menyarankanku berdansa denganmu. Jadi itu tidak masuk hitungan," dalihnya.


"Baiklah," kataku sambil meraih tangannya.


Raja menaruh salah satu tangannya di pinggangku. Tangan yang lain berpegangan dengan tanganku. Tanganku yang bebas kutaruh di pundaknya. Lantas kami mulai menggerakkan kaki secara bersamaan. 


Rasa senang sekali bisa berdansa dengan lelaki lain selain kakakku apalagi dengan Raja. Jarang sekali ada gadis yang berdansa dengannya. Hanya ada satu orang yang pernah kulihat berdansa dengan Raja, yaitu Kak Diana. Sekarang ada dua, yaitu aku.


Kami saling bertatapan. Mata emasnya sangat indah. Tubuhku berputar lantas dia menangkapku. Wajah kami sangat dekat. Jantungku berdegup kencang sekali.


Kujauhkan diriku darinya untuk mengambil napas. Rasanya tadi aku tidak bisa bernapas. Kucengkeram pinggiran balkon sambil memunggi Raja. Ini gila. Kenapa aku bisa seperti ini? 


"Sialan," umpatku.


"Kali ini kamu mengumpat padaku. Aku sama sekali tidak mencari masalah denganmu," kata Raja sedikit meninggikan suara.


Kubalikkan badanku, menatap wajah Raja yang kebingungan. Sejujurnya aku juga bingung pada diriku sendiri. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini. 


"Aku tidak mengumpat padamu. Aku mengumpat pada diriku sendiri," kataku.


"Kenapa?"


Karena aku jatuh cinta pada orang yang menyedihkan sepertimu.


Raja melebarkan matanya. Kata-kataku dalam hatiku terucap oleh mulutku. Aku bisa gila. Kulewati Raja. Dia masih bergeming. Aku menuju taman untuk menenangkan diri. Kedua tanganku menutupi wajahku. Ini memalukan. Aku menyatakan cinta malah lari seperti ini. Hanya saja aku belum siap mendengar jawabannya. Belum siap untuk ditolak, padahal baru hari ini aku menyadarinya.


Tiba-tiba ada yang duduk di sampingku. Dengan ragu-ragu tangannya menepuk-nepuk punggungku. Rasanya aku pernah mengalami ini. Bukan aku yang mengalaminya, tetapi orang menyedihkan yang menangis karena ditolak. Dulu aku menghiburnya sekarang malah aku yang dihibur.


Kubuka tanganku dan menatap orang yang mendengar pernyataan cintaku tadi. Dia menghentikan tepukan tangan di punggungku lantas memelukku. Aku membalas pelukannya. Apakah aku boleh berharap mendapatkan cintanya?

__ADS_1


 


__ADS_2