
Raja tidak mengatakan apa pun hanya terus memelukku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku menangis? Ataukah menanyakan jawabannya? Sayangnya aku terlalu takut.
Kulepas pelukan Raja. Kepalaku terus menunduk tidak berani menatap matanya. Aku tak sanggup melihat ekspresi di wajahnya.
"Aku harus kembali," kataku lirih.
Aku bangkit berlarian menuju aula pesta. Selain langkah kakiku, kudengar suara langkah kaki lain di belakangku. Aku tidak mau menoleh ke belakang, Raja pasti mengikutiku.
"Tunggu, Iris Skyrise!" teriak Raja.
Ini kali kedua dia memanggil namaku. Tentu dengan nama lengkap. Kakiku masih melangkah menjauhinya.
"Berhenti, Iris Skyrise! Ini perintah!" teriaknya lebih keras.
Aku tetap berlari. Tiba-tiba tubuhku terhenti. Ada dua lengan yang memelukku dari belakang. Napasku pendek-pendek begitu pula dengan napasnya. Aku berusaha mengatur napasku. Bisa kurasakan jantungnya yang berdebar keras di punggungku. Mungkin karena dia berlarian mengejarku. Sempat kukira dia merasakan hal sama. Lebih tepatnya hayalanku belaka.
"Apa kamu tidak ingin melihat wajahku?" tanya Raja masih terengah-engah.
Aku menggeleng. Entah mengapa mulutku membisu. Padahal biasanya dengan cepat aku membantah setiap perkataannya.
"Apa kamu tidak ingin mendengar jawabanku?" tanya Raja lagi.
Aku menggeleng lagi. Sebenarnya aku penasaran tetapi hatiku terlalu takut menerima kenyataan pahit.
Bisa kurasakan dia menghela napas panjang. "Satu-satunya orang yang berani menentangku, memarahiku dan terus berdebat denganku hanya kamu. Awalnya terasa menyebalkan, tetapi setelah terbiasa aku ingin mendengar omelanmu, semua kepedulianmu. Orang yang selalu melihat kelemahanku hanya kamu."
Aku terus mendengarnya tanpa berusaha lari lagi. Dia menarik napas lagi. "Hanya dua orang yang mengisi pikiranku, yang pertama ada Diana, sekarang aku sudah tidak memikirkannya lagi. Dan yang kedua adalah dirimu. Aku tidak berani mengatakannya karena kupikir kamu membenciku dan aku takut kalau ditolak lagi. Aku juga mencintaimu, Iris."
Aku tidak salah dengar bukan? Kubalikkan tubuhku melihat wajahnya. Dia menangis lagi. Sungguh Raja yang cengeng. Kuseka air mata di pipinya. Dia menggenggam tanganku lalu menciumnya.
Ada yang mengalir di pipiku. Tangannya mengelus pipiku. Aku memejamkan mata merasakan kehangatan tangannya. Dia menyentuhkan dahi kami.
"Katakan sesuatu Iris," katanya lirih.
"Aku masih tidak percaya ini bisa terjadi," jawabku.
"Begitu pula denganku."
Kubuka mataku perlahan. Dia tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya.
"Aku mencintaimu, Yang Mulia."
"Panggil namaku."
Dia memelukku dengan erat. Kubalas balas pelukannya. Bisa kudengar jantungnya yang masih berdegup kencang. Dia mengecup puncak kepalaku.
"Aku mencintaimu, Eric."
Eric melepas pelukan. Menatap mataku lagi. Wajah kami mulai berdekatan. Kututup mataku. Napasnya semakin mendekat.
__ADS_1
"Iris, kamu di mana?" teriak seseorang.
Kami segera menjauh. Wajahku masih terasa panas. Aku tidak bisa melihat wajah Eric dengan jelas, tetapi dia pasti sama malunya denganku. Aku berbalik menyusul arah suara itu.
"Aku di sini Kak Diana," balasku.
Kulihat Kak Diana mengedarkan pandangan. Begitu melihatku, dia menghampiriku. Kakakku mengikuti di belakangnya.
"Kenapa kamu meninggalkan pesta, Iris?" tanya kakakku.
"Aku ingin menghirup udara segar. Lagipula aku tidak bisa berdansa dengan siapa pun gara-gara kakak," kataku sinis.
Sebenarnya ada satu lelaki yang lolos dari mata kakakku. Kak Diana berpaling ke arah yang lain. Dia berjalan melewatiku. "Sedang apa kamu di sini Eric?"
"Aku tersesat," jawab Eric asal-asalan.
Dia tidak pintar berbohong. Kak Diana hanya diam saja. Kurasa Kak Diana mulai mencurigai Eric. Daripada Kak Diana dan Kakak menanyai kami macam-macam lebih baik kukatakan saja.
"Kami berpacaran."
Semua orang menoleh ke arahku. Kak Diana dan Kakak menatapku seolah-olah tidak percaya. Lantas sorot mata Kakakku berubah marah menatal Eric. Dia menghampirinya. Aku berlarian mencegahnya.
"Tunggu tenangkan dirimu Kak."
"Aku tidak bisa tenang. Apa kamu mendekati adikku lalu setelah itu akan mencampakkannya karena aku telah merebut Diana?" teriak Kakakku marah. Kak Diana sampai menahan Kakakku agar tidak meninju Eric. "Jangan melibatkan aku, Keith. Dengar dulu penjelasannya."
"Aku benar-benar mencintainya. Ini tidak ada hubungannya dengan Diana. Apa pun akan kulakukan agar kamu bisa mempercayaiku."
Hebat sekali, dia berani menantang kakakku. Kakakku mengerang kesal. Dia berpikir dengan keras sambil ditenangkan oleh Kak Diana. Kugenggam tangan Eric untuk menyemangatinya. Dia tersenyum ke arahku. Kakakku menghampiri Eric lagi.
"Jangan pernah buat adikku menangis. Kalau tidak ingin kuhancurkan istanamu."
Kakakku berbalik menuju ke aula pesta. Kak Diana mengikutinya sebelum itu dia berpaling ke arah kami.
"Aku mendukung kalian. Akan kutenangkan dirinya."
Kak Diana berlalu. Aku dan Eric bernapas lega. Kami saling berpandangan dan tertawa. Ini pertama kali kulihat dia tertawa.
"Apa aku diterima?" tanyanya.
"Kurasa iya," jawabku.
Kami kembali ke pesta saling bergandengan tangan. Sepertinya nanti akan banyak orang yang membicarakan kami.
***
Setelah pesta kepala keluargaku berlangsung, gadis-gadis yang mendekati Eric tidak pernah datang lagi. Tentu saja, Raja sudah dimiliki oleh seseorang. Jika mereka berani datang tidak akan kubiarkan mereka.
Kakakku mulai menerima Eric. Meski awalnya sedikit sulit, tetapi berkat Kak Diana yang terus menengahi, mereka jadi akur. Kami berempat jadi sering berbincang-bincang di ruang kerja Eric. Aku dan Kak Diana membicarakan masalah perempuan. Sedangkan kakakku dengan Eric membicarakan masalah laki-laki. Ini sangat menyenangkan.
__ADS_1
Sekarang aku berkencan dengan Eric. Dia mengajakku ke sebuah pegunungan. Kami melihat danau yang memiliki bermacam-macam warna di salah satu puncak. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi. Tenaga Eric banyak sekali. Dia sama sekali tidak terlihat kelelahan. Aku saja sudah kelelahan sejak berada di danau. Kami bahkan sampai beristirahat di sana.
Dia menggendongku. Aku merangkul lehernya. Dia menggunakan sihir agar langkah kakinya menjadi lebih cepat. Seharusnya kami begini daritadi. Kurasa dia ingin melihatku kelelahan atau menghabiskan banyak waktu denganku.
Kami sudah sampai di puncak tertinggi. Di sana terdapat sebuah goa. Kulepas rangkulanku, aku mulai berjalan sendiri. Dia menggandeng tanganku ke dalam goa itu. Kami melewati tangga yang terus menurun hingga sampai pada sebuah kristal yang bersinar terang di sebuah tugu batu. Kristal itu warna dan bentuknya seperti matahari.
"Tempat apa ini?" tanyaku.
"Ini adalah jantung Kerajaan Sunborn. Raja pertama sering berlatih di sini. Kristal itu adalah buatannnya," jawab Eric.
"Tidak kusangka ada tempat seperti ini di Kerajaan."
"Hanya Raja-lah yang mengetahui tempat ini."
"Begitu ya."
Aku menatap kristal itu. Tanpa sadar kakiku terus mendekatinya. Tanganku menyentuh kristal itu. Terasa hangat. Eric mengaitkan tangan kami. Dia mengarahkan kepalaku untuk melihatnya. Senyumnya terus terpampang di mulutnya.
Dia mengeluarkan sebuah cincin sambil bersujud. Cincin itu dia kenakan di jariku. Tak mampu menahan lagi kegembiraanku, aku terus tersenyum.
"Maukah kamu menikah denganku Iris?"
"Kalau begitu bagaimana dengan keluarga Skyrise? Tidak ada yang mewarisi gelar kepala keluarga ini," godaku. Aku ingin melihat wajah cemasnya. Sebenarnya jawabanku adalah ya, tetapi aku tidak ingin terlihat mudah ditaklukan.
Kulihat wajahnya mengeras. "Bila anak kedua Diana dan Kakakmu lahir, anak itu bisa mewarisinya. Atau jika kita mempunyai anak kedua, anak itu juga bisa mewarisinya," jawabnya berusaha menyakinkanku.
"Bagaimana jika kita dan keluarga kakakku sama-sama hanya memiliki anak pertama saja?"
Eric mulai melepas tangannya dan terlihat kesal. Dia memunggungiku. Kurasa kusudahi saja sandiwaraku ini. Aku berjalan ke arahnya melihat wajah Eric. Dia menangis lagi. Kekasihku satu ini mudah tersakiti hatinya. Wajahnya sangat menggemaskan. Kucium air mata yang mengalir di pipinya sambil tersenyum.
"Kalau itu terjadi aku tetap akan menikah denganmu, Eric," tambahku.
Senyumnya kembali lagi. "Kamu menyebalkan."
Eric memelukku dengan erat. Kutepuk-tepuk punggungnya. Dia melepas pelukannya. Lalu menatapku lekat-lekat. Tangannya yang berada di tengkukku menarikku ke arahnya. Bibir kami saling menempel. Kupejamkan mataku. Dia mulai menciumiku dengan lembut. Sesekali tersenyum ke arahku. Dia berbicara di bibirku.
"Ini sebagai penggati ciuman pertama kita yang tidak romantis," katanya.
"Saat itu terpaksa, mau bagaimana lagi."
Kubalas setiap ciumannya. Aku terus mundur hingga punggungku menempel di dinding. Dia menautkan tangan kami dan menaruhnya di samping kepalaku. Ciuman kami semakin dalam. Eric sama sekali tidak mau berhenti. Aku bisa gila karena ini.
Dia menjauhkan wajahnya berusaha mengambil napas, begitu pula denganku. Dia menempelkan dahi kami sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu Iris."
"Aku juga mencintaimu Eric."
Kami melanjutkan ciuman hingga lupa waktu. Aku tidak sabar menjalani kehidupanku dengan Eric. Mungkin kami akan sering berdebat, tetapi pasti kami akan berbahagia. Akan kuceritakan ini semua pada Kak Diana dan Kakakku. Kami akan bersaing dengan mereka, siapa yang paling bahagia di antara kami.
__ADS_1