Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 22 Pembunuh Penyihir Tertangkap


__ADS_3

Aku berjaga di kediaman York sesuai rencana Keith. Bisakah aku mempercayai Keith? Aku tidak tahu dia mempunyai sisi licik seperti itu. Bagaimana jika dia tidak memberitahuku dan menangkap pembunuh itu sendirian? Dia akan mendapat ketenaran. Kalau begitu bagaimana jika aku tidak memberitahunya, lalu menangkap pembunuh itu sendirian? Aku akan diakui sebagai Kepala Keluarga yang hebat. Namun, semua ini adalah rencana Keith. Sama saja aku mencurinya.


Pikiranku berkecambuk. Sudah dua jam aku memikirkan hal ini. Pembunuh itu juga tidak datang-datang. Mungkin dia tidak datang hari ini. Atau malah dugaan Keith salah. Atau Keith sudah menangkapnya lantas tidak memberitahuku. Menunggu membuatku kesal, membuatku kepikiran hal-hal lain.


Aku mengamati kamar putra kedua Keluarga York sambil duduk di atas pohon. Putra Kedua sedang tertidur pulas tanpa tahu bahaya yang sedang menghampirinya. Pengamanan di sini memang diperketat tetapi bukan berarti dia bisa tenang saja hingga tertidur seperti itu. 


Tiba-tiba ada sesuatu yang bersinar dari sakuku. Aku meraihnya. Batu sihir untuk menghubungi Keith. Batu ini sangat kecil dan hanya bisa digunakan sekali saja. Batu ini sangat langka, karena sangat sulit diproduksi dan hanya segelintir orang yang mempunyainya. Aku mengalirkan sihir pada batu ini untuk menyalakannya. 


"Pembunuh itu datang ke kediaman Xavier, Diana. Cepatlah ke sini," perintah Keith.


"Baiklah." 


Prasangkaku ternyata salah. Keith sama sekali tidak berniat menipuku. Aku langsung berteleportasi ke kediaman Xavier. Keith mengangkat tangannya untuk memberitahuku keberadaraannya. Dia bersembunyi di bawah pohon. Aku segera menghampirinya.


"Apa kamu sudah menghubungi Tuan Frostein, Keith?" tanyaku.


"Sudah, beliau menuju ke sini, tetapi kedatangannya bakal terlambat. Beliau menyerahkannya padaku untuk menangkap pembunuh itu," tutur Keith.


"Apa pembunuh itu hanya satu orang atau berkomplotan?"


"Tadi aku hanya melihat satu orang."


Aku mengangguk. Kami menunggu pembunuh itu keluar, lalu segera meringkusnya. 


Baru saja dibicarakan pembunuh itu keluar membawa Putri Ketiga Keluarga Xavier. Dia celingukan untuk melihat suasana. Aku hendak menerjang tetapi dihalangi oleh Keith. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menangkapnya. 


Pembunuh itu sudah keluar dari pintu gerbang kediaman. Keith memberi tanda untuk menyerang pembunuh itu. Sihir es dikeluarkan oleh untuk membatasi pergerakan pembunuh itu.


Pembunuh itu segera melepaskan diri. Aku melancarkan jarum es mengarahkannya pada kakinya. Dia berhasil menghindarinya tetapi ada satu yang mengenainya. Tubuhnya roboh. Pembunuh itu menyerang kami dengan sihir jarum es. Pelindung kami ciptakan untuk menangkal serangannya.


Pembunuh itu melarikan diri meninggalkan korbannya. Tentu nyawa lebih penting dibandingkan tujuan awalnya. Namun, itu adalah kesalahan. Aku tidak perlu menahan diri lagi karena takut melukai Putri Ketiga. Bola sihir kukeluarkan untuk menyerang pembunuh itu. Dia menciptakan pelindung sambil menghindarinya. Tindakannya sia-sia. Bola sihirku mampu memecah pertahanannya.


Pembunuh itu jatuh tersungkur. Keith segera memasang rantai sihir agar pembunuh itu tidak bisa menggunakan sihirnya, lalu membuatnya pingsan. Kami berhasil menangkap penyihir itu.

__ADS_1


"Sekarang bagaimana, Keith?"


"Kita tunggu Tuan Frostein datang ke sini, setelah itu serahkan pembunuh ini pada Raja."


Aku mengangguk. Kami beristirahat duduk di bawah pohon di dekat sana. Dengan ini kerajaan ini akan kembali damai. Namun, entah mengapa hatiku tetap tidak tenang. Pembunuh ini terlalu mudah ditangkap. Bagaimana jika kami salah tangkap? Semoga saja tidak. Aku takut ini seperti pembunuhan ayahku, yaitu mengadili orang yang salah. Namun, Eric pasti akan mengintrogasinya terlebih dahulu. Ini dapat menghilangkan kemungkinan itu.


"Kenapa Diana?" Keith daritadi mengamatiku. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Tidak ingin ketahuan memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, aku mengalihkan pembicaraan.


"Tidak apa-apa, langit malam ternyata indah juga ya." 


"Kamu benar." Keith tersenyum melihat ke arahku cukup lama lantas berpaling pada langit malam.


Aku masih tenggelam dalam pikiranku. Semoga saja perasaanku salah.


***


Keith dan aku membawa pembunuh itu kepada Eric. Kepala Keluarga Frostein menyerahkan urusan ini kepada kami karena kamilah yang menangkap pembunuh itu. 


"Terima kasih karena telah membantu menangkap pembunuh penyihir di kerajaan ini, Tuan Skyrise dan Nona Moonlight." Eric sedikit membungkuk. Kami bersujud menundukkan kepala, menerima ucapan terima kasih dari Raja.


"Bawa pembunuh ini ke ruang introgasi. Aku sendiri yang akan membuatnya mengakui semua perbuatan kejinya," perintah Eric pada penyihir istana.


Pembunuh itu diseret ke ruang introgasi yang terletak di sebelah penjara bawah tanah. Hanya Eric dan pembunuh itu yang masuk ke dalam ruangan itu. Aku dan Keith yang mengikuti mereka dari tadi menunggu di luar ruangan. Kami ingin tahu apakah orang yang ditangkap adalah benar-benar pembunuh itu. 


Eric keluar dari ruangan itu. Dia menghela napas panjang, sambil menatap kami. 


"Bagaimana penyelidikannya, Yang Mulia?" tanyaku.


"Kalian menangkap orang yang benar, pembunuh itu sudah mengakui semua kesalahannya. Aku sangat berterima kasih pada kalian," jawab Eric sambil tersenyum. Kami bernapas lega. Keadaan akan kembali damai. 


Dugaanku ternyata salah, tetapi perasaan tidak enak apa ini. Ada yang mengganjal di hatiku. Apakah karena aku akan mengetahui kebenaran dari kematianku di kehidupan sebelumnya? Jika seandainya seperti itu, aku siap menghadapinya.


"Maaf, Yang Mulia apa boleh saya menanyai pembunuh itu?" 

__ADS_1


Keith dan Eric terkesiap mendengar pertanyaanku. Eric memegang dagunya sebentar lalu berkata, "Baiklah, silakan Nona Moonlight." 


"Terima kasih, Yang Mulia."


Aku bersyukur Eric tidak melontarkan banyak pertanyaan kepadaku. Kulangkahkan kaki masuk ke ruang introgasi itu.


Pembunuh itu tertunduk di kursi. Kini aku berdiri di hadapannya. 


"Apa alasanmu menculik dan membunuh penyihir-penyihir yang terkucilkan?"


Aku mulai dulu dengan pertanyaan tentang kasus ini.


"Aku hanya ingin melihat mereka menderita. Itu membuatku senang," jawabnya sambil terkekeh.


Kukepalkan tanganku dengan kuat. Aku mengatur napas agar tidak lepas kendali. Pembunuh ini benar-benar gila. 


"Apa kah penyihir waktu?" 


Pembunuh itu menelengkan kepalanya. "Apa itu penyihir waktu?"


Jangan berpura-pura.


Aku mengangkat kepalanya hingga mata kami saling bertatapan. Aku mengulangi perkataanku. "Apa kamu penyihir waktu?"


"Aku tidak tahu yang sedang kau bicarakan." 


Bola matanya sama sekali tidak bergetar. Dia tidak berbohong.


"Kalau begitu apa kamu pernah mengulang waktu? Dan membunuhku di kehidupan sebelumnya?" Suaraku semakin meninggi.


"Apa yang kau bicarakan? Aku baru pertama kali bertemu denganmu di sini." Dia ikut meninggikan suaranya sambil meringis.


Aku melebarkan mataku. Dia berkata jujur. Kepalanya kujatuhkan kembali. Kakiku mundur secara perlahan. Suara gertakan gigiku terdengar keras.

__ADS_1


Jadi ini firasat buruk yang kurasakan. Pembunuh ini hanyalah faktor X atau efek samping dari pengulangan waktu. Kalau bukan pembunuh ini siapa yang mengulang waktu denganku? Siapa yang membunuhku di kehidupanku yang sebelumnya?


__ADS_2