Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 32 Masalah yang Bertubi-Tubi


__ADS_3

"Maafkan aku, semua bangsawan sudah kuperiksa tetapi mana mereka tidak ada yang sesuai dengan pelaku," ucap Eric dengan enggan.


"Tidak maafkan saya karena membuang waktu Anda, Yang Mulia," jawabku dengan kecewa. Perkiraanku melenceng.


"Masih ada kemungkinan salah satu bangsawan memberitahu pembunuh itu tentang penjagaan terhadap orang terlantar. Ini sulit untuk dilacak karena tidak mungkin bertanya kepada mereka satu persatu. Mereka akan merasa dicurigai," balas Eric berusaha menenangkanku.


Aku ingin mengusulkan pada Eric untuk menyampaikan pada bangsawan menghentikan penjagaan mereka. Sebagai gantinya penyihir istana yang menjaga orang terlantar itu sembunyi-sembunyi. Dengan begitu pelaku akan merasa aman, kembali menculik dan membunuh targetnya. Rencanaku ini sangat berisiko karena jumlah penyihir istana tidak mencukupi sehingga perlindungan terhadap target akan berkurang. Korban malah akan semakin banyak.


Aku tidak jadi mengutarakan ini pada Eric, karena takut dugaanku salah lagi. Dampaknya akan mempengaruhi reputasi Eric, dia akan dicap sebagai Raja yang mengorbankan orang-orang tidak bersalah.


"Terima kasih. Saya undur diri, Yang Mulia." Aku menunduk.


Keith yang ikut menemaniku juga memberi hormat pada Raja. Kami meninggalkan istana. Dalam perjalanan pulang aku memberi tahu Keith tentang semua yang ada pikiranku, agar bebanku sedikit berkurang.


Dia memegang dagunya. "Memang ada benarnya, tetapi sangat berisiko Diana," ujar Keith dengan berat hati.


Sudah kuduga. Aku berusaha memikirkan rencana lain tetapi tidak berhasil.


"Apa kamu ada rencana Keith?" tanyaku.


"Tidak ada, Diana," jawabnya dengan berart hati.


Keith juga ikut berpikir tetapi ide bagus sama sekali tidak muncul.


Kami menghela napas panjang secara bersamaan. Sangat sulit untuk melacak jejak pembunuh itu. Seandainya ada bukti penting. Atau jika pelaku pada kasus sebelumnya masih hidup kami bisa bertanya kepadanya hubungannya dengan kasus ini. Mungkin kami bisa mendapat petunjuk.

__ADS_1


Lama-kelamaan penjagaan kepada orang terlantar itu menjadi keseharian kaum bangsawan. Tidak terpikirkan untuk menangkap pelakunya lagi tetapi hanya berusaha menghindari jatuhnya korban. Kami sadar bahwa pelaku masih berkeliaran tetapi petunjuk dan bukti tidaklah banyak. Semangat kami mulai luntur.


Aku ingin menangkap pelakunya tetapi asalkan dia tidak berkutik, menurutku sudah cukup. Kemungkinan orang itu adalah pembunuhku di kehidupanku yang sebelumnya juga tidak besar. Aku tidak ingin kecewa seperti saat menangkap pembunuh penyihir kaum bangsawan. Jadi aku tidak menganggap penting hal ini lagi.


Aku menjalani hariku seperti biasa. Sekarang aku berada di kediaman Skyrise berbincang dengan Keith di taman. Topik pembicaraan tentang menangkap pembunuh jarang kami bahas lagi. Kami membahas hal lain yang lebih menyenangkan.


"Apakah kamu ingin berlibur, Diana?" tanya Keith tiba-tiba.


"Boleh juga, Keith," jawabku cepat.


Menyegarkan otak dari masalah-masalah pelik ini adalah ide yang bagus. Mungkin jalan keluar akan terpikirkan setelah kami liburan. Aku mulai membayangkan tempat-tempat bagus yang ingin kukunjungi.


"Kamu ingin ke mana, Diana?"


"Ke pantai, festival atau gunung kurasa."


"Tidak masalah."


Sudah lama aku tidak pernah festival. Terakhir kali, aku pergi bersama ayahku dan Trevor. Aku mengingatnya dengan jelas hingga sekarang. Ayahku membelikan berbagai makanan kepada kami. Lalu kami melihat pertunjukan sihir yang menawan. Aku terpana melihatnya saat itu. Trevor tidak terlihat tertarik tetapi menikmati saat-saat itu. Hubungan kami tidak separah sekarang. Entah mulai kapan kedengkian dalam hati Trevor semakin membesar hingga membuatnya ingin mengorbankan aku dan sampai membunuh ayah. Masa-masa indah ketika kami masih kecil rasanya hanya kenangan yang tak berarti baginya.


Ada bagusnya untuk mengajak Iris juga. Semakin banyak orang yang ikut semakin baik.


"Iris juga akan ikut bukan?" tanyaku.


Wajah Keith tampak sedikit kecewa. Kenapa dia begitu? Bukannya seharusnya dia senang bila adiknya ikut?

__ADS_1


"Aku akan coba membicarakan hal ini dengannya. Kurasa dia pasti akan senang bila ikut," jawab Keith berusaha terlihat gembira.


"Ngomong-ngomong kapan festival diadakan di ibu kota?" tanyaku.


"Masih lama sekitar sebulan lagi. Bagaimana kalau di kota dekat kediamanku, Diana? Festival akan diadakakan seminggu lagi," saran Keith.


Kota di dekat kediaman Skyrise tidak sebesar ibu kota. Festival yang diadakan di sana mungkin tidak sebesar dan sebagus di ibu kota, tetapi tidak ada salahnya datang ke sana. Yang terpenting bisa bersenang-senang.


"Boleh saja."


Keith terlihat senang. Aku tersenyum ke arahnya. Senyum kami pudar begitu melihat salah satu pelayan mendatangi kami dengan tergesa-gesa. Firasat buruk mendatangiku.


"Tuan, Ibu Anda sedang kritis," kata pelayan itu dengan cepat.


Kami terasa disambar petir, langsung berdiri bergegas ke kamar Ibu Keith. Iris sudah berada di dalam meminumkan ramuan buatannya pada ibunya. Pasti dia beritahu terlebih dahulu lalu segera bertindak.


Namun, wajah Ibu mereka sama sekali tidak membaik. Beliau masih tampak kesakitan. Kernyitan terlihat jelas serta keringat bercucur deras dari kening beliau. Napas beliau juga tidak teratur. Ramuan yang dibuat Iris mulai tidak manjur. Bukan karena kemampuannya yang berkurang tetapi tubuh Ibunya sudah mencapai batas.


Iris terus menggenggam tangan Ibunya, sambil bergumam, "Ibu..." Berharap masa kritis akan segera terlewati. Keith berdiri di samping Iris dengan kecemasan terlihat jelas di wajahnya. Dokter tidak dipanggil karena ramuan sihir yang efeknya cepat saja tidak bisa membuat ibu mereka membaik apalagi obat dokter.


Aku berusaha menghibur mereka, walau tahu perasaan mereka tidak akan membaik. "Jangan khawatir, pasti akan baik-baik saja."


Kata-kataku sama sekali tidak berdasar.  Aku pun takut kemungkinan terburuk terjadi.  


Keith dan Iris tersenyum mendengar perkataanku, tetapi aku tahu mereka berusaha terlihat kuat. Walau sebenarnya tangis ditahan daritadi.

__ADS_1


Ajal ibu mereka semakin dekat. Mereka tidak menduganya akan terjadi secepat ini. Mereka sudah tahu hal ini akan terjadi, tetapi tetap saja belum siap kehilangan seorang ibu.


Kurasa keinginan untuk berlibur tidak akan terwujud. Merawat ibu mereka adalah prioritas utama. Aku tidak ingin Ibu mereka meninggal. Beliau baik kepadaku. Apalah daya kematian sama sekali tidak terelakkan. Kami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2