
Masa lalu
Sudah seminggu sejak aku bertunangan dengan Keith. Dia orang yang baik, ramah dan sering bercanda denganku. Pertemuan pertama kami memang sedikit aneh dan sama sekali tidak romantis. Aku tak tahu bagaimana perasaannya kepadaku, tetapi aku menyukainya. Aku tidak sabar bertemu dengannya lagi.
Menghabiskan waktu di kamar adalah sesuatu yang membosankan. Terkadang aku menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak berguna yaitu menulis surat untuk Keith. Menanyakan kabarnya, bagaimana harinya, ingin cepat bertemu dan mengetahui segala sesuatu tentang dirinya. Kenapa itu tidak berguna? Karena aku langsung membakarnya setelah surat itu jadi. Tak pernah sampai ke penerima. Aku terlalu malu untuk mengirimkannya pada Keith.
Kakakku tidak mengizinkan aku berhubungan dengan dunia luar. Dia melarangku berkirim pesan dengan orang lain. Sejujurnya aku sedikit penasaran dengan keadaan Eric. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Namun, aku tahu kesibukannya oleh karena itu aku tidak ingin menganggunya dengan tiba-tiba berteleportasi ke istana.
Hari sudah malam, aku bersiap untuk tidur.
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara apa itu? Itu bukan suara ketukan pintu kamarku. Aku membuka mataku, sambil merasa was-was. Mataku tertuju pada pintu balkon. Pintu itu terbuat dari gabungan kayu dan kaca yang digunakan untuk melihat pemandangan di luar kamar. Alasan pandanganku terarah pada pintu itu, karena ada orang yang berdiri di sana.
Kenapa Keith mengunjungiku malam-malam begini? Aku segera bangkit membukakan pintu untuk Keith.
"Kenapa kamu di sini, Keith?" Itulah tulisan yang kusodorkan pada Keith.
"Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan Diana."
Dia bisa melakukannya saat bertemu denganku besok. Lagipula sekali pun jalan-jalan, kami hanya berkeliling kediamanku. Pemandangan yang sama tiap hari. Aku menulis sesuatu di buku catatan.
'Malam-malam begini?'
"Benar, tanpa sepengetahuan kakakmu. Aku ingin kamu melihat seperti apa dunia luar sekarang. Pasti kamu bosan berada di kamar ini, Diana."
Itu ide bagus, tetapi bagaimana caranya? Kita tidak mungkin naik kereta kuda akan menimbulkan kecurigaan. Satu-satunya cara adalah teleportasi. Ngomong-ngomong bagaimana cara Keith bisa ke atas sini? Kurasa dia menggunakan sihir penguatan kaki untuk melompat.
'Bagaimana caranya?'
"Aku akan menunjukkannya padamu. Jadi kamu mau?" tanya Keith memastikan keinginanku.
Aku mengangguk bersemangat. Ini menegangkan tetapi sekaligus menyenangkan. Rasanya seperti sedang menjalin hubungan rahasia.
Keith menggandeng tanganku, mendekatkan tubuhku pada tubuhnya. Kuharap dia tidak menyadari kalau jantungku berdegup kencang. Tangannya berada di bagian belakang lutut dan punggungku. Belum sempat kubereaksi, dia sudah menopang dan mengangkatku. Aku digendong olehnya. Dia tersenyum ke arahku.
__ADS_1
"Pegangan yang kuat, Diana."
Aku mengalungkan lengan pada lehernya. Dalam hati kuterus bertanya-tanya apa yang akan Keith lakukan.
Keith naik ke pinggir balkon. Aku menutup mataku bersiap-siap meluncur ke bawah. Namun, tidak terasa hentakan kaki yang menyentuh tanah.
Aku membuka mata pelan-pelan. Pemandangan di sekitarku berubah. Ini bukan di kediamanku. Kami berada di langit, melayang-layang di udara. Aku menatap Keith dengan tanda tanya besar.
"Ini adalah sihir unikku, Diana. Aku bisa terbang," jawab sambil tersenyum melihatku, seolah-olah tahu apa yang ingin kutanyakan.
Lalu kami berkeliling, menikmati pemandangan di sekitar. Ini pertama kalinya aku melihat dari ketinggian seperti ini. Sungguh pengalaman yang luar biasa.
"Sangat indah, bukan?"
Aku mengangguk tanpa menatap wajah Keith. Pandanganku tidak dapat teralihkan dari keindahan yang kusaksikan sekarang. Tak akan kulupakan selama hidupku. Aku terus berterima kasih pada Keith karena telah menujukkan pemandangan yang seperti ini. Kuharap dia akan mengajakku untuk terbang seperti ini lagi.
***
Aku menatap Keith. Tidak kusangka dia akan membawaku terbang sama seperti di kehidupanku sebelumnya. Untuk apa dia melakukan semua ini?
"Ke kediamanmu," jawab Keith singkat.
Jadi itu alasan Keith memintaku menyuruh kereta kudaku kembali. Dia ingin mengantarku dengan terbang seperti ini.
"Apakah ini sihir unikmu?"
Aku berpura-pura tidak tahu, meski sebenarnya sudah mengetahuinya. Keith belum pernah menceritakan tentang hal ini di kehidupanku yang sekarang.
"Benar sihir unikku adalah terbang. Kalau sihir unikmu apa Diana?"
Aku pernah mengatakannya pada Keith saat kehidupanku sebelumnya. Haruskah aku menceritakan sihir unikku pada Keith? Namun, sihir unik adalah rahasia dari penyihir. Bisa dibilang sebagai kartu as yang disembunyikan. Keith sudah memperlihatkannya padaku. Tidak mungkin aku menutupi hal ini.
"Aku bisa berteleportasi."
"Sepertinya kita bisa lebih cepat sampai jika memakai sihir teleportasi saja."
__ADS_1
"Tidak ada salahnya untuk melihat pemandangan dari atas."
"Baguslah kalau kamu senang."
Benar aku merasa senang. Aku sudah lama merindukan keindahan ini. Pemandangannya berbeda, dulu aku sering melihat ini saat malam hari. Sedangkan sekarang, pada hari terang. Aku menyukai keduanya. Saat terang, hehijauan mampu menyejukkan hati, dan warna-warni dunia terlihat. Bila malam, gemerlap cahaya lampu dan langit malam yang semakin dekat membuatku terlena. Meski begitu aku tidak ingin menunjukkan kegembiraanku.
Tanpa kusadari kami sudah sampai di kediamanku. Keith mencium tanganku, tersenyum padaku lalu berpamitan. Dia kembali ke kediamannya dengan terbang. Aku memandang sosoknya yang semakin menghilang di telan langit.
***
Hari ini aku kedatangan tamu yang sama sekali tidak terduga. Bukan Derek. Bukan pula Keith. Apalagi Trevor. Pelamar-pelamar lain juga bukan, karena mereka tidak mungkin berani mendekatiku gara-gara aku sudah bertunangan dengan Keith.
Jadi siapa? Dia adalah....
"Ada keperluan apa kamu datang ke sini, Stella?"
Aku tidak bisa menebak alasan Stella datang ke sini. Kita sama sekali tidak dekat. Ada satu yang terlintas di benakku, yaitu Stella marah karena dirinya tidak bisa datang ke kediaman Skyrise sesuka hati gara-gara peringatanku kepada Keith.
Stella berhenti menyesap tehnya, melihat ke arahku. "Aku tahu kalau pertunanganmu dengan Keith hanyalah pura-pura saja."
Kurasa kami benar-benar kurang harmonis dan romantis hingga orang-orang dapat menyadarinya. Sudah ada dua orang yang bisa menebaknya yaitu Ibu Keith dan Stella.
"Kami bertunangan sungguhan," elakku.
Jika aku langsung membenarkannya maka Stella akan menang. Mungkin saja ini hanyalah gertakannya saja.
"Kalian tidak mungkin bertunangan sungguhan, karen belum pernah bertemu satu sama lain sebelumnya. Lalu, kamu tidak mencintai Keith, yang kamu perlukan hanyakah tameng untuk melindungimu dari lamaran lelaki lain."
Sulit untuk membodohi orang yang mencintai Keith. Aku menyerah.
"Baiklah, aku akan mengakuinya. Kami hanya bertunangan secara kontrak. Apa yang akan kamu lakukan dengan kenyataan ini?"
"Aku akan menghancurkan pertunangan kontrak kalian. Akan kubuat Keith terbebas darimu."
Tatapanmu yang sangat tajam bagaikan pisau yang mampu menusuk diriku. Namun, aku sama sekali tidak takut, Stella.
__ADS_1