Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 50 Malam Indah


__ADS_3

"Aku tidak menyadari kalau Derek juga mengulang waktu. Sepertinya karena meminum darahmu, Derek dianggap sebagai penyihir waktu yang mengorbankan darahnya. Kakakmu tidak termasuk karena dia telah lama mati," tutur Keith panjang lebar.


Ceritanya sudah selesai. Aku mendengarkan semuanya. Sekarang aku mengerti. Ternyata Keith juga mencintaiku. Itu bukanlah perasaanku saja. Kepeduliannya padaku di kehidupan sebelumnya karena dia benar-benar mencintaiku. 


Orang menyelamatkanku di kehidupan sebelumnya adalah Keith. Dasar bodoh, seharusnya dia mengatakannya. Seandainya aku tahu mungkin kebencianku tidak akan sebanyak ini. Kesalahpahamaan ini sudah berakhir. Kesalahpahaman yang membuat kami saling menyakiti.


Tangisku pecah. Bukan karena kebencian atau kesedihan lagi, tetapi karena kebahagiaan. 


"Maafkan aku, Diana. Aku selalu membuatmu sedih," ucap Keith lirih. 


Posisi kami tetap sama. Dia masih memelukku dari belakang. Dadanya menempel dinpunggungku. Tangannya tidak mau melepaskanku. Dagunya masih berada di bahuku.


Aku menoleh ke arahnya mengecup bibirnya. Pelukannya melonggar. Bibir kami bertemu hanya sebentar. Kutatap matanya yang terkejut. Aku melepas pelukannya lalu berbalik untuk melihat wajahnya.


"Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku lagi, Keith Skyrise. Jika melakukannya aku akan menyiksamu seperti Trevor," kataku pelan sambil menempelkan bibirku ke bibirnya lagi. Lenganku kukalungkan ke lehernya. Kututup mataku. Aku ingin memfokuskan diri pada rasa lembut di bibirku. 


Keith yang daritadi diam karena berusaha mencerna situasi, sekarang mulai merangkul pinggangku. Dia membalas ciumanku. Kami terus melakukannya hingga melepasnya karena kehabisan napas.


Aku bisa merasakan hembusan dan helaan napas Keith di bibirku. Aku membuka mata perlahan. Dia tersenyum ke arahku sambil menyeka bekas air mataku. Tangannya terasa hangat. Aku juga membelai pipinya yang basah oleh air mata.


"Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu lagi seumur hidupku, Diana Moonlight."


Dia menciumku lebih dalam kali ini. Pasti dia sudah lama menahannya. Kakiku terus mundur dan terantuk kasur. Aku terjatuh. Keith tidak mau melepasku. Aku pun sama. Rangkulanku di leher Keith semakin erat. Kami sama sekali tidak mau berhenti melakukan hal ini semalaman.


***


Aku merasa ada sesuatu yang lembut menempel di keningku. Kubuka mataku di depanku Keith tersenyum cerah. 

__ADS_1


"Selamat pagi, Diana."


Aku membalas senyumannya. "Selamat pagi, Keith."


Keith membenamkan kepalaku ke dadanya. Aku bisa merasakan debaran jantungnya. Kuusap-usapkan kepalaku ke dadanya. Tak ada pemisah di antara kami. Tanganku menyentuh punggung Keith yang polos.  Aku merasa senang, sangat senang.


"Aku mencintaimu Keith." Aku memeluknya dengan erat.


Kata-kata yang sulit terucap, kini dapat kuucapkan dengan mudah.


Keith mengelus-elus punggungku. "Aku juga mencintaimu Diana."


"Kurasa kamu harus kembali ke kediamanmu Keith. Iris pasti khawatir kakaknya tidak pulang," kataku menjauhkan diri sambil menatap matanya.


"Baiklah, apa kamu juga ikut, Diana?" Dia membelai rambutku lalu menciumnya.


"Tentu saja, aku harus mengabarinya kalau kita bertunangan lagi." Aku mengusap-usap rambut Keith.


"Aku sudah membatalkannya dua hari yang lalu." 


"Kenapa?" Dia menatapku dengan tanda tanya besar.


"Rahasia." Aku meringis sambil memakai pakaianku.


"Apa karena kamu tidak bisa melupakanku?" Keith memelukku dari belakang.


"Entahlah sudah kubilang rahasia." Aku melepas pelukannya, keluar dari kamarku untuk membersihkan diri. Keith pasti sudah tahu jawabanku.

__ADS_1


Tak lama kami sudah siap. Dia tak mau melepaskan kaitan tangan kami. Aku terkekeh.


"Kita akan ke kediamanku dengan cara apa?"


"Apa saja boleh."


"Kalau begitu bagaimana kalau terbang?"


"Baiklah."


Aku segera melingkarkan tanganku ke leher Keith. Keith menggendongku lalu melompat ke udara. Dia tersenyum sepanjang perjalanan. Karena gemas, kucium pipinya. Dia berjengit.


"Sudah lama aku ingin melakukan hal itu saat terbang begini," godaku.


Dia menoleh ke arahku. "Aku juga ingin melakukan ini." Bibirnya menempel di bibirku sekejab.


Kami tersenyum satu sama lain, menikmati waktu berdua. Tanpa sadar kami sudah sampai di kediaman Skyrise.


Iris mondar mandir di depan gerbang sambil memegangi dagunya. Dia pasti menunggu Keith. Kami mendarat. Dia terkesiap langsung mendekati kami. Tangan kanannya mendarat di pipi Keith dengan keras. Tak mau kalah tangan kirinya menghantam kepala Keith.


"Kakak bodoh, setidaknya kalau pergi bilang-bilang dulu. Aku sangat khawatir." Mata Iris berkaca-kaca.


Keith memegangi kepala dan pipinya. "Maafkan aku, Iris."


"Sudahlah." Iris membuang muka.


Ia menarikku ke tempat lain, meninggalkan kakaknya. Aku tidak berani berkata-kata karena takut kena omelan Iris. Sebenarnya aku yang membuat kakaknya tidak bisa pulang. Kami berhenti setelah berada di ruang eksperimennya. Dia mengunci pintu. Aku menelan ludahku. Apa Iris akan menghukumku juga?

__ADS_1


"Kak Diana, kemarin Raja datang ke sini marah-marah," ucapnya dengan cepat.


"Apa?"


__ADS_2