
Aku membuntuti Trevor. Sepertinya peringatanku waktu itu kurang menyakinkan. Dia sama sekali tidak takut bahkan berani meminta Derek datang ke pesta gelar kepala keluargaku. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Meski salah satu kakinya terseret-seret, sepertinya sudah hampir sembuh.
Trevor masuk ke dalam sebuah toko sihir. Lalu keluar dengan membawa ramuan sihir. Dia meminumnya lalu wajahnya terlihat lebih baik. Pasti kesembuhan kakinya yang cepat berkat ramuan itu.
Aku terus mengikutinya sampai di tempat yang sepi. Dia mulai menyadari bahwa dirinya sedang diikuti. Trevor mempercepat langkahnya. Aku dapat mengejarnya. Kini sedang berada di depannya.
Trevor berbalik lari ke arah yang lain. Aku menarik tangannya lalu memelintirnya ke belakang.
"Kenapa kau melakukan ini Diana?" Dia meringis kesakitan.
"Kurasa kau sudah tahu alasan aku melakukan hal ini. Berhentilah berpura-pura," kataku sinis.
"Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau bicarakan," elak Trevor.
Aku berdecak. "Kau menyuruh Derek datang ke pestaku. Berhentilah menggangguku melalui dirinya." Suaraku semakin meninggi.
Aku merobohkan tubuh Trevor dengan tangan kirinya masih kutarik. Napas Trevor semakin memburu akibat kesakitan.
"Maafkan aku, lepaskan aku Diana. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan memberitahu Derek untuk tidak menemuimu lagi," jawabnya ketakutan.
Benarkah kamu berjanji? Atau itu cuma di mulutmu saja agar aku melepaskanmu? Aku tidak mempercayaimu Trevor. Kamu pasti akan menggangguku lagi. Lalu saat itu matamu akan menjadi taruhannya.
"Sudah dua kali dia menemuiku, tetapi sepertinya peringatanku waktu itu sama sekali tidak kau indahkan. Aku akan memberi hukuman kepadamu agar jera." Aku menyeringai.
Aku menarik lengan dan membengkokkan siku kanannya dengan keras hingga berbunyi bersamaan dengan teriakan Trevor.
"ARGH!"
Aku membungkam mulut Trevor agar tidak ada seorang pun yang curiga. Dia menggeliat kesakitan.
"Wajah dan Matamu akan menjadi targetku, jika kau berani mengusikku lagi," ancamku.
Kubuat dia pingsan agar tidak membuat masalah semakin runyam. Lantas kubawa Trevor pergi ke kediaman Rockyard. Aku menggeletakkan Trevor di depan kediaman agar ada yang melihatnya. Dengan begitu dia akan diobati. Walau pasti tetap terasa sakit. Aku tidak akan membunuhnya sampai puas menyiksanya.
Sudah waktunya aku ke istana untuk bertemu dengan Eric. Ada yang ingin dia bicarakan. Aku sama sekali tidak bisa menebaknya. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan kepadanya juga. Aku pulang ke rumah dengan teleportasi, naik kereta kuda menuju istana.
__ADS_1
***
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan Eric?" tanyaku sambil memakan camilan.
"Itu soal pembunuhan penyihir di kerajaan. Aku mendapat laporan hampir setiap minggu ada penyihir yang hilang lalu ditemukan tewas dengan banyak luka," jelas Eric dengan serius.
Aku mengetuk-ngetukkan jari. Mungkinkah saat ajal menjemputku di kehidupan sebelumnya aku dibunuh oleh pembunuh para penyihir itu? Dia menyerang kediaman Moonlight lalu menculikku dan membunuhku. Kuharus berterima kasih kepadanya karena berkat dirinya aku bisa kembali ke masa lalu, tetapi pembunuh tetaplah pembunuh. Dia harus dibasmi pada kehidupan yang sekarang. Suatu saat pembunuh itu bisa menarget diriku.
"Berapa orang yang sudah dibunuh?" tanyaku.
"Sudah tiga orang. Aku harus bertindak cepat agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan." Eric mengangkat tangannya sambil membuka tiga jarinya.
"Mengerikan, apa perlu kubantu?"
Semakin banyak orang yang terlibat maka semakin cepat dia ditangkap. Kerajaan dan hidupku akan damai. Meski terbebas dari Trevor ternyata ada juga kejadian seperti ini. Mungkin sebenarnya di kehidupanku yang sebelumnya pernah terjadi pembunuhan ini tetapi aku tidak mengetahuinya. Trevor pasti menyembunyikannya.
"Aku akan berusaha mengatasinya sendiri, kalau tidak bisa baru kuminta bantuanmu dan penyihir yang lain, Diana," tutur Eric.
Eric selalu begitu, memikul semua bebannya sendiri. Dengan diriku saja dia tidak mau berbagi.
"Kamu juga berhati-hatilah, Diana. Jika bertemu dengan orang yang mencurigakan, kamu bisa melaporkannya padaku," katanya sambil tersenyum.
"Siap, Yang Mulia." Aku membalas senyumannya.
Kami terkekeh sebentar untuk melupakan masalah ini. Walau senyum Eric cepat memudar. Masalah ini pasti sangat membebani pikirannya. Haruskah aku menanyakan hal itu sekarang? Aku ingin menanyakan hal itu saat upacara penobatanku tetapi tidak sempat mengatakannya karena lupa. Kalau kutunda-tunda aku akan lupa menanyakan hal itu di masa depan.
"Apa kamu tahu tentang sihir yang dapat mengulang waktu, Eric?" tanyaku.
Itulah yang dari dulu ingin kutanyakan. Kenapa aku bisa mengulang waktu? Apakah karena sihir?
"Sihir mengulang waktu? Kurasa pernah dengar hanya saja aku tidak terlalu ingat detailnya. Sihir itu termasuk sihir unik. Bisa dibilang sangat langka. Kenapa kamu menanyakan hal ini, Diana?" Eric terlihat kebingungan dengan topik yang kuangkat.
"Aku hanya ingin tahu saja. Hebat sekali kalau bisa mengulang waktu," jawabku asal.
"Itu benar, dengan mengetahui masa depan kita dapat mengubahnya sesuka hati. Namun, akan mengerikan jika disalahgunakan orang." Wajah Eric terlihat mengeras.
__ADS_1
Seperti aku. Aku mengubah nasib sesuka hatiku. Bisa dibilang semua itu demi kepentinganku saja. Aku hanya tidak ingin menderita dan balas dendam kepada Trevor saja. Tidak ada niat untuk menyelamatkan dunia.
"Benar, pada dasarnya sihir itu bisa jadi hal baik atau jahat. Kalau kita menggunakannya untuk melindungi orang lain maka dunia akan damai, tetapi bila digunakan untuk menyakiti dan membunuh orang lama kelamaan akan terjadi kehancuran," balasku.
"Apa kamu berpikir untuk kembali ke masa ayahmu masih hidup, Diana?" tebak Eric.
Sebenarnya itu terpikirkan olehku apabila berhasil mengetahui caranya dan bisa dilakukan. Namun, aku mengurungkan niatku. Pasti Eric lebih menginginkan memakai sihir ini daripada aku, untuk kembali ke masa orang tuanya masih hidup.
"Kurasa tidak, lebih baik hidup di masa kini saja. Kita tidak tahu efek samping sihir mengulang waktu," jawabku.
Selama ini aku belum merasakan efek samping dari sihir mengulang waktu. Bisa dibilang tidak ada atau mungkin belum terasa. Kuharap tidak ada efek sampingnya.
"Aku tahu siapa orang yang mengetahui banyak jenis sihir. Kamu bisa menanyakan hal ini padanya, Diana."
"Siapa?"
"Penyihir tertua di kerajaan ini, yang hanya berdiam diri di rumahnya, Gauri."
Aku cukup terkejut mendengar hal ini. Ayahku pernah menceritakan tentang Gauri. Penyihir terkuat di kerajaan. Namun, karena usianya yang sudah tua, dia ingin pensiun menikmati masa tuanya di rumahnya. Semua penyihir menghormatinya.
"Apa kamu tahu letak rumahnya, Eric?"
"Aku tahu." Eric menuliskan alamat rumah Gauri lalu memberikannya padaku.
Aku menyimpannya baik-baik.
"Terima kasih, Eric."
"Kuharap kamu sering-sering mengandalkanku, Diana."
"Baiklah, jika butuh bantuan, aku akan menghubungimu. Itu berlaku pula sebaliknya."
"Baiklah."
Dengan ini pertanyaanku bisa terjawab. Aku akan menemuinya bila tidak sibuk. Ada hal yang lebih penting yaitu balas dendam.
__ADS_1