
Aku berusaha melupakan kejadian kemarin dengan berdiam diri di ruang kerjaku, mengerjakan dokumen-dokumen. Namun, aku tidak sendiri. Bukan kepala pelayan yang menemaniku, tetapi kakak beradik Skyrise. Mereka menyantap makanan dan teh di depanku sambil menungguku menyelesaikan pekerjaan.
Ini pertama kalinya Iris ke sini. Keith mengajaknya berkeliling sebelum datang ke ruang kerjaku. Begitu melihatku sedang sibuk, mereka berbicara dengan berbisik. Entah mengapa mereka malah di sini dan tidak pulang. Apa keperluan mereka sangat penting hingga menungguku seperti ini?
Kuletakkan pena dan dokumen yang kukerjakan. Keith mendongak ke arahku.
"Apa sudah selesai, Diana?"
"Tinggal sedikit lagi. Aku bisa mengerjakannya nanti. Ada apa kalian ke sini?"
"Apa kamu akan datang ke pesta kelahiran anak pertama Keluarga Jordy?"
Itu adalah pesta saat aku melihat Keith dan Stella berpelukan di kehidupanku yang sebelumnya dan saling menyatakan cinta. Aku sudah mendapat undangannya, tetapi masih terpojokkan di sudut mejaku. Datang ke sana malah mengingatkanku pada sesuatu yang ingin kulupakan. Jadi intinya aku tidak akan datang
"Tidak."
"Kenapa, Kak Diana?" tanya Iris.
Tidak mungkin aku menyampaikan alasanku kepada mereka. Kejadian itu mungkin tidak akan terjadi di masa kini. Hanya saja aku tidak senang mengingat hal itu.
"Aku terlalu sibuk," elakku.
"Bukannya kamu bilang kalau pekerjaanmu hampir selesai?" sergah Keith.
"Benar, tolong luangkan waktu untuk bersenang-senang juga Kak Diana," imbuh Iris.
Mereka terlalu ikut campur dalam urusanku. Mau aku ikut atau tidak adalah keputusanku, tetapi aku tidak bisa menang dari Iris. Dia terlaku pemaksa dan tidak gampang menyerah. Pasti setelah ini dia akan menerorku apabila tidak ikut.
"Baiklah. Aku akan ikut." Pada akhirnya aku kalah.
"Hore." Teriak kedua kakak beradik ini secara bersamaan.
"Dengan syarat, Iris harus mau kubelikan gaun untuk dipakai pesta itu."
Aku tidak akan membiarkan mereka menang semudah itu.
"Tidak perlu, gaun yang dibelikan Kak Diana beberapa hari yang lalu bisa kupakai di pesta." Iris mengibas-ibaskan kedua tangannya.
"Itu benar, gaun itu sudah bagus untuk Iris," timpal Keith.
"Kalau begitu aku tidak akan pergi." Aku melanjutkan pekerjaanku.
__ADS_1
"Eh."
"Apa?"
Keith dan Iris berteriak secara bersamaan. Mereka berdiskusi sebentar. Aku sama sekali tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Kutaruh pena dan kuletakkan dokumen yang kukerjakan tadi ke bagian yang sudah selesai. Semuanya sudah tuntas.
Iris memandangku, membuka mulutnya. "Baiklah, Kak Diana aku mau," katanya ragu-ragu.
Aku tersenyum simpul. "Baguslah kalau begitu."
***
Aku melangkahkan kaki turun dari kereta kuda. Keith membantuku turun. Iris berdiri di sampingnya tersenyum ke arahku. Dia memakai gaun yang kebelikan. Itu sangat cocok untuknya.
Sejujurnya aku tidak tidak ingat apakah Iris ikut ke pesta ini di kehidupanku yang lalu atau tidak. Yang terngiang di kepalaku hanyalah Stella. Tentu dia datang ke sini. Menurutku Stella akan menggangguku dan Keith. Aku siap meladeninya.
"Kamu sangat cantik hari ini, Diana," puji Keith.
Kubalas Keith dengan pujian juga, "Kamu juga tampan, Keith."
"Bagaimana denganku?" Iris tidak mau kalah.
"Tetap saja tidak bisa menandingi, Kak Diana."
Wajahku terasa panas. Dia terlalu membesar-besarkannya. "Sudahlah, ayo masuk."
Kami bertiga memasuki aula pesta. Semua pandangan tertuju ke arah kami. Aku tidak mengacuhkannya. Kami memberi selamat kepada Kepala Keluarga Jordy atas kelahiran anak pertamanya. Lalu mencari tempat yang nyaman. Iris bergabung dengan temannya bertukar gosip. Aku mengamati seluruh tamu yang hadir. Terlihat Stella dan ayahnya sedang berbincang-bincang tamu lain. Derek juga hadir di pesta ini berada di dekat makanan.
Tak lama Eric datang. Semua orang tertunduk karena kedatangan Sang Raja. Kepala Keluarga Jordin ikut menunduk. Dia mengangkat kepalanya begitu Raja berdiri di hadapannya. Eric mengucapkan selamat. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar lantas pandangan kami bertemu. Awalnya aku melihatnya tersenyum tetapi langsung memudar. Keith masih berada di sisiku menggenggam erat tanganku.
Eric menghampiri kami untuk menyapa. "Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Nona Moonlight dan Tuan Skyrise di ini."
"Salam kepada, Yang Mulia." Aku dan Keith membalasnya dengan bersamaan.
Meskipun Keith tersenyum, tetapi aku bisa merasakan tatapan tajam Keith dan Erix beradu. Entah apa alasannya mereka tidak akur.
Kepala Keluarga Jordin memberikan sambutan. Dia memulai pesta ini dengan bersulang. Aku menyentuhkan gelasku dengan Keith dan Eric yang berada di sini. Setelah itu dansa dimulai.
Kedua tangan terulur kepadaku. Tangan Keith dan Eric. Kenapa Eric tiba-tiba begini? Dia tidak mempunyai pasangan tetapi bukan berarti aku harus menuruti semua permintaan Raja. Aku sudah mempunyai pasangan yaitu Keith, tidak mungkin tunanganku kutinggalkan begitu saja.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bisa menerima tawaran Anda. Saya sudsh mempunyai pasangan. Sebagai gantinya, Anda bisa berdansa dengan Nona Skyrise. Dia juga tidak mempunyai pasangan malam ini."
__ADS_1
Iris yang baru sampai di dekat sini kebingungan, karena namanya tiba-tiba saja kusebut.
"Kurasa tidak perlu, Nona Moonlight." Eric menurunkan tangannya. Dia melewati Iris menuju dinding untuk bersandar di sana. Auranya terlihat sangat kesal. Kenapa Eric seemosional ini? Dulu dia tidak mudah marah seperti ini.
Aku meraih tangan Keith, berdansa dengannya. Tatapan Eric bisa kurasakan menusuk punggungku. Entah ditujukan kepadaku atau Keith.
"Terima kasih, Diana," tanya Keith sambil tersenyum cerah.
"Untuk apa?"
"Karena memilih berdansa denganku."
"Aku hanya tidak ingin muncul rumor Nona Moonlight lebih memilih berdansa dengan Raja dibandingkan tunangannya," jelasku sambil menatap Keith.
"Tetap saja, terima kasih."
Aku hanya menyelamatkan mukaku dan Keith di depan umum. Tidak lebih.
Tiba-tiba semuanya gelap. Orang-orang yang berdansa saling bertabrakan begitu juga dengan kami. Tangan kami berpisah tetapi Keith langsung menarikku menuju keluar. Kami sudah keluar dari aula itu. Aku hanya bisa melihat punggung Keith. Bayangannya yang disinari bulan terlihat aneh.
Kami sampai di taman. Taman yang mengingatkanku pada pernyataan cinta Stella dan Keith.
Lampu sudah menyala. Kutatap wajah orang di depanku. Ternyata bukan Keith. Dia adalah Eric.
"Ada apa ini Eric?" Kulepaskan tangan Eric.
Ternyata setelah aku berpisah dengan Keith, Eric menarikku keluar ke sini. Kejadian itu terlalu cepat hingga kusangka tangan yang membawaku keluar adalah milik Keith.
"Apa kamu benar-benar tidak bisa membatalkan pertunanganmu itu, Diana?" Eric menaruh kedua tangannya di bahuku.
Aku segera menurunkannya. Bila ada orang yang melihat kami, ini hanya akan menjadi masalah. "Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, tidak, Eric."
"Apa tidak bisa aku saja yang menjadi tunanganmu?" Eric meninggikan suaranya.
"Apa?"
Apa telingaku salah dengar?
"Aku mencintaimu, Diana."
Mataku terbelalak.Aku sama sekali tidak menyangka Eric akan berkata seperti itu.
__ADS_1