Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 34 Perpisahan


__ADS_3

Ini kedua kalinya aku menghadiri pemakaman. Nyonya Skyrise tampak tersenyum di peti mati. Senyum tanpa beban seperti yang diperlihatkannya kepada kami dua hari yang lalu. Aku tidak menyangka itu adalah hari terakhir melihat beliau masih bernyawa. Tidak ada tanda-tanda beliau akan meninggal. Mungkin sebenarnya beliau sudah tahu kalau hari itu adalah ajalnya, sehingga bersikap kuat sambil menyampaikan pesan akhirnya kepada kami.


Setelah berbicara denganku, beliau memanggil anak-anaknya satu persatu. Aku tak tahu apa yang disampaikan beliau pada mereka, tetapi kuyakin Keith dan Iris juga tidak sadar kalau itu adalah hari terakhir bersama ibu mereka. Kami bertiga sempat menghabiskan waktu dengan beliau sambil tertawa.


Kini beliau terbaring di peti mati. Semua rasa sakitnya telah hilang dan tak perlu merasakannya lagi. Beliau hidup dengan damai bersama suaminya di alam lain.


Iris menangis di pelukan Keith. Keith berusaha tegar, meski wajahnya memancarkan kesedihan yang mendalam. Sedangkan aku berada di sini hanya bisa ikut berduka. Tak ada air mata yang mengalir di pipiku. Aku merasa sedih, tetapi tidak ada yang mau keluar. Kurasa tubuhku tidak mau merespon apa kata hatiku.


Aku melihat Stella mengusap matanya dengan sapu tangan. Tentu saja dia datang ke sini, karena ibu orang dicintainya meninggal. 


Peti Nyonya Skyrise telah tertutup tanah. Beliau dimakamkan di sebelah suaminya. Di batu nisannya tertulis.


...Di sini bersemanyam ...


...Ibu kami tercinta...


...Camellia Skyrise...


Upacara pemakaman telah selesai. Orang yang melayat mulai kembali ke kediamannya masing-masing. Stella masih berada di sini bersama denganku dan kakak beradik Skyrise. 


"Ayo pulang Iris, Ibu pasti tidak ingin kita bersedih terus-terusan seperti ini," kata Keith melepas pelukan adiknya. 


"Baik Kakak." 


Iris melepas kakaknya dengan enggan. Dia mengusap air matanya. Lalu berjalan menuju kereta kuda mengikuti aku dan Keith. 


Dia berhenti, berbalik ke belakang melihat nisan ibunya. Keith meneruskan langkahnya meski tahu adiknya terhenti. Pasti sulit merelakan kepergian ibunya. Aku pun pernah merasakannya ketika kehilangan ayahku. Senyum, tawa, perhatian beliau tidak bisa kurasakan lagi. Bahkan kadang-kadang aku masih merindukannya sekarang.


Iris terisak-isak kembali. Aku menghampirinya berusaha memberikan penghiburan, tetapi Stella mendahuluiku. Dia memeluk dan menepuk-nepuk punggung Iris. Iris sesegukan di pelukannya.


Tak sanggup melihat pemandangan ini, aku melanjutkan langkahku menuju kereta kuda. Aku naik ke kereta kuda. Keith mumunggungiku melihat ke arah jendela. Bahunya naik turun, dia sedang menangis. Tak ingin dilihat oleh orang-orang di menangis di sini sendirian. Dia telah menahannya sejak tadi. Saat Iris berbalik, Keith tak kuasa menahan tangisnya makanya dia tidak menghibur adiknya.

__ADS_1


Aku duduk di sebelahnya menepuk bahunya. Dia berbalik ke arahku lalu menangis memelukku. Aku memeluknya dengan erat. Tanpa sadar air mataku ikut menetes. Melihat banyak kesedihan hari ini membuatku tubuhku tak tahan untuk tidak menangis. 


Keith melepas pelukannya menyeka air matanya dan air mataku. Kami berdua menangis cukup lama. Dia turun untuk menjemput adiknya. Tangis Iris sudah terhenti dan Stella tak ada di sana sudah pulang. Iris masih memandangi nisan ibunya dari kejauhan. Keith menyetuh bahunya. Iris menggenggam tangan Keith lalu kembali ke kediamannya bersama kami.


Selama perjalanan, tak ada percakapan di antara kami. Kami semua masih berduka karena kehilangan Nyonya Skyrise. Begitu sampai di kediaman Skyrise. Keith mengatakan sesuatu pada adiknya, "Kamu bisa masuk dulu ke dalam Iris. Ada yang ingin kubicarakan dengan Diana."


Iris mengangguk pelan. Dia meninggalkan kami. Keith menatap mataku sambil tersenyum pedih. "Terima kasih, Diana. Sebenarnya aku tidak ingin terlihat lemah oleh orang lain, terutama olehmu, tetapi berkatmu aku merasa lebih lega."


"Tidak masalah Keith." Aku berusaha membalas senyumnya.


"Aku akan ke kediamanmu besok. Ada yang ingin kukatakan, kalau hari ini sepertinya tidak pantas," katanya sambil menggaruk kepalanya.


Aku juga sama. Aku tidak sanggup untuk mengatakannya hari ini karena hanya akan menambah kesedihan Keith. Akan kukatakan besok. Aku akan membatalkan pertunangan kami besok.


"Baiklah, akan kutunggu kedatanganmu besok, Keith."


***


Keith sudah tiba di depan kediamanku. Aku menyambutnya. Kami menuju ruang tamu.


"Ternyata di sini atau pun di kediamanku rasanya benar-benar sepi," celoteh Keith tiba-tiba tampak sedih.


Kehilangan ibunya pasti membuat kediaman Skyrise tidak seperti biasanya. Keceriaan yang ada di sana berubah menjadi kesedihan.


"Mau bagaimana lagi, hanya ada aku seorang di sini," balasku.


"Apa kamu membenci kakakmu, Diana?"


"Aku membencinya dia telah membunuh ayahku."


Alasan lain aku tidak bisa mengatakannya pada Keith.

__ADS_1


Keith tertunduk lalu mendongak ke arahku. "Apa kamu tahu alasan dia melakukan itu?"


"Dia iri padaku karena kekuatan sihirku lebih besar. Aku dipastikan menjadi kepala keluarga selanjutnya, jadi dia berusaha merebutnya dengan memanipulasi surat wasiat ayahku. Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal ini Keith?"


Itu benar hari ini Keith sangat aneh. Kurasa ini akibat kehilangan ibunya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu perasaanmu pada kakakmu saja. Maafkan aku kalau bertanya aneh-aneh," katanya sambil terkekeh.


"Jangan menyalahkan dirimu atas yang terjadi pada ibumu, Keith. Itu bukan salahmu dan Iris tidak akan menyalahkanmu," kataku berusaha memahami jalan pikirannya. 


Kurasa dia ingin bertanya perasaan adik kepada kakak saat orang tua mereka meninggal. Hanya saja keadaan keluargaku dan Keith berbeda. Mereka sangat akur sedangkan aku dan Trevor saling membenci satu sama lain.


"Aku tahu, Diana," jawabnya lirih, senyumnya memudar.


Keheningan terjadi di antara kami. Ini adalah saatnya aku menyudahi pertunangan kontrak kami. Sebelum aku sempat membuka mulut Keith mendahuluiku.


"Lebih baik, pertunangan kita dibatalkan saja, Diana," kata Keith dengan nada berat.


Aku terkejut mendengarnya. Aku terdiam. Tidak kusangka Keith yang membatalkan pertunangan kami. Selama ini aku telah salah paham, perhatiannya yang ditujukan kepadaku hanyalah sebagai teman saja. Sama seperti di kehidupanku yang dulu.


"Begitu ya. Aku juga setuju Keith," jawabku.


"Setelah ini kuharap kita masih bisa berteman, Diana. Sesekali datanglah ke kediamanku untuk menemui Iris." Keith berusaha mencairkan suasana yang canggung ini.


"Baiklah, Keith." Aku tersenyum ke arahnya.


"Terima kasih, atas bantuanmu, Diana. Selamat tinggal."


"Selamat tinggal, Keith."


Keith berdiri meninggalkan ruangan ini. Aku mengantarnya sampai di depan. Dia berpamitan kepadaku sekali lagi mengucapkan perpisahan. Kulihat kereta kuda Keith yang perlahan menghilang.

__ADS_1


Pada akhirnya aku tidak bisa membalaskan dendamku. Kejadian ini sama seperti kehidupanku sebelumnya. Dia meninggalkanku setelah ibunya meninggal.


__ADS_2