Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Awal yang bahagia


__ADS_3

🎼🎼🎼🎼🎼


Cinta luar biasa


Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak ku sangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang ku punya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandang mu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang ku punya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Oh-ho huu


Terimalah lagu ini


Hm-mm


Dari orang biasa


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang ku punya hanyalah hati yang setia


Yang ku punya hanyalah hati yang setia


Terimalah cintaku yang luar biasa


Hm-mm


Tulus padamu


Gadis manis berparas cantik itu sedang mencuci piring sambil bersenandung, menyanyikan lagu Cinta Luar Biasa dari Andmes Kamaleng.


Gadis itu memang sangat suka bernyanyi, suara yang ia miliki pun sangat indah.


Gadis itu tak sadar, bahwa ada sepasang mata yang memperhatikannya dari tadi dan menikmati suaranya yang membuatnya terpukau.


Grep!


Laki-laki itu mendekat dan memeluk gadisnya dari belakang.


" Cinta ku padamu juga luar biasa, tak kalah tulus dari mu dek." Bisik si laki - laki itu.


" Eh ada kamu mas, ngagetin aja. Udah selesai mandinya?"


" Udah dari tadi dek. Aku baru tahu, ternyata suara kamu bagus banget si dek," puji sang laki - laki.


" Nggak ah, biasa saja kok."


" kok aku baru tau ya kalau suaramu bagus banget."


" Udah dari dulu kali mas, hehehe,"


" Masak sih?"


" Iya, mas. Em apa mas bakal setia sama Ara, Ara anak orang nggak punya loh mas." Celetuk sang gadis.


" Ya terus? kenapa tiba - tiba nanya gitu?"


" Mas nggak malu punya pacar anak orang nggak punya kaya aku ini?"


" Kenapa harus malu? mas pengen banget kamu jadi istrinya mas dek, bukan hanya sekedar pacar."


" Ara juga pengen tapi nggak secepatnya ya mas? Ara masih pengen kerja cari duit dulu."


" Iya nggak papa dek. Akan mas tunggu sampai adek siap, sebenarnya walaupun kita nikah pun aku nggak keberatan kalau kamu masih mau kerja."


" Tapi aku pengen nya, habis nikah fokus ngurusin mas aja. Kalau aku masih kerja takutnya malah nggak bisa ngatur waktunya buat mas."


" Iya deh, mas nggak akan maksa. Mas akan tunggu sampai kamu siap."


" Apa mas bisa nunggu sampai aku siap? nanti mas nggak sabar dan malah cari yang lain lagi."


" Mas bukan orang seperti itu Ra, mas sudah terlanjur cinta sama kamu."


" Ah masak?"

__ADS_1


" Mas nggak akan lepasin kamu, nggak akan ku biarkan kamu pergi dan lepas dari genggaman ku."


" Apa pun yang terjadi?"


" Iya apa pun yang terjadi."


" Makasih ya mas, udah selalu memberikan yang terbaik buat Ara, sudah baik sama Ara, sabar menghadapi Ara yang manja ini."


" Iya, karena aku cinta kamu, apa pun akan aku lakukan untuk mu."


" Makasih mas,"


" Jangan tinggalin mas ya Ra."


" Selagi mas nggak ninggalin Ara, Ara akan tetap bersamamu mas."


" Mas akan pegang kata - kata mu ini."


" Iya, ya udah kan udah selesai, piring kotornya juga udah aku cuci semua, sekarang antar aku balik kerja yuk mas?"


" Sekarang banget ya dek? nggak bisa agak nanti aja, kan aku masih kangen, masih pengen denger kamu nyanyi lagi loh."


" Besok lagi kan bisa mas. Ayok lah sebentar lagi aku udah mulai kerja nih, nanti telat. Aku nggak mau ya kenal omel si bos. Kamu nggak tega kan kalau aku kena marah?"


" Oke, oke sayang, yuk tak antar sekarang."


Laki - laki itu pun melepaskan pelukannya, berganti mengandeng tangan sang gadis cantiknya berjalan keluar rumah, dan mengantarnya bekerja.


Gadis manis, manja, mempunyai paras cantik, bertubuh mungil, berambut panjang, bermata bulat, bulu mata panjang nan lentik, berkulit putih itu adalah Narmilani Farasmitha. Biasa dipanggil Ara, dan laki - laki yang bersamanya adalah Frans Afandi, dia adalah pacarnya Ara.


Frans adalah laki - laki yang Ara kenal selama Ara bekerja di kota J. Laki - laki dengan tubuh tinggi, kekar dengan dada bidang nya. Frans berparas rupawan nan mempesona, idaman semua wanita.


Dengan sikap nya yang dewasa, dan selalu bisa memanjakan Ara. Ia mampu menakhlukkan hati Ara yang juga merupakan gadis cantik jelita.


Frans mampu meluluhkan hati Ara, membuat Ara menjatuhkan pilihan untuk menjadikanya kekasih hati, diantara sekian banyak lelaki yang mendekati Ara selama ini. Frans merupakan pacar pertama Ara.


Memang banyak laki - laki yang berusaha mendekati Ara bahkan banyak juga yang suka menggoda Ara, namun tidak ada satupun dari mereka yang mampu menakhlukkan hati Ara.


Hanya Frans yang mampu menakhlukkan hati Ara.


Frans sangat mencintai Ara, begitu pun dengan Ara dia juga sangat mencintai Frans.


Mereka sudah menjalin hubungan sekitar 5 bulan.


" Makasih ya mas, udah mau mengantar Ara,"


" Iya sama - sama sayang, nanti mau dijemput jam berapa?"


" Nggak usah mas, aku nanti pulang sendiri aja."


" Tapi aku masih kangen loh, gimana dong? gimana kalau nanti malam makan dirumah aku aja?"


" Em gimana ya?"


" Ayok lah Ra, mau ya? nggak enak makan kalau nggak ada kamu."


" Ih masak sih, hehehe."


" Iya dek. Aku nggak makan deh kalau kamu nggak mau."


" Ih lebay deh mas. Ya udah deh iya mau."


" Nah gitu dong. Ya udah nanti aku jemput ya?"


" Oke."


Ara, bekerja sebagai pegawai di mini market di kota J. Karena ekonomi keluarga yang terbatas, Ara memilih bekerja dari pada harus meneruskan kuliah.


Ara terlahir di keluarga yang sederhana, di sebuah desa dipinggiran kota J. Ara merupakan putri cantik dari bapak Nariman dan ibu Lani, anak pertama dari 3 bersaudara.


Ara bekerja untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarga dan juga membatu membiayai sekolah ke dua adik nya. Adiknya yang pertama perempuan, bernama Narmilani Kiarasati, biasa di panggil Kia. Kia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dan adiknya yang terakhir adalah laki - laki bernama Narmilano Setya Aji, yang juga masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


Ara tidak bisa membuat orang tuanya bangga. Ia berharap adik - adik yang akan melakukannya.


Ara memilih bekerja agar bisa membantu menyekolahkan adik - adiknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.


Ara ingin kelak adiknya menjadi orang yang sukses.


Yang bisa membanggakan kedua orangtuanya serta dirinya.


******


Ara berjalan santai menuju pintu, setelah keluar dari pintu Ara menatap ke depan, rupanya sudah ada sang pujaan hati yang sedang menunggu dirinya.


Ara lalu berjalan cepat menghampirinya.


" Hay mas, udah lama nunggunya?"


" Belum kok, baru saja nyampe."


" Oh, syukurlah kalau begitu.


" Capek banget ya dek?"


" Yah lumayan mas, hari ini sibuk banget, banyak barang yang dateng juga, kaki Ara sampai pegal hehehe."


" Kalau gitu kita beli makanan aja ya, nggak usah masak. Kasian kamu nanti malah tambah capek."


" Iya, makasih mas, udah perhatian sama Ara."


Beruntungnya aku punya kamu mas, kamu baik banget, pengertian lagi. Makasih mas.


Salah satu yang Ara sukai dari Frans adalah perhatiannya. Frans memang sangat memanjakan dan perhatian sama Ara.


" Ya udah kamu mau makan apa?" tanya Frans


" Em apa ya? bakso aja deh, tapi dibungkus, terus makan dirumah."


" Siap sayang."


" Tapi pengen sate juga."


" Ya apa pun yang kamu mau, yuk kita beli."


" Semuanya?"


" Iya sayang semua. Apa pun yang kamu mau."


" Em makasih sayang." Jawab Ara kegirangan.


Mereka pun menyusuri jalanan kota, berboncengan motor, kedua tangan Ara memeluk Frans dari belakang dengan begitu romantisnya.


Romansa keduanya memang lagi ada ditahap sayang - sayang nya. Yah membuat mereka merasa seakan dunia ini hanya miliknya saja.


Setelah keduanya sampai dirumah Frans, Ara langsung bergegas mandi, lalu menyiapkan makanan untuk mereka.


Ara sudah terbiasa dirumah Frans, bahkan dirumah Frans ada beberapa setel baju Ara. Rumah Frans sudah seperti rumahnya sendiri, dengan sesuka hati Ara keluar masuk, membersihkan bahkan memasak dan yang lainya. Ara tampak nyaman dirumah Frans, itu membuat Frans sangat senang, karena Frans memang mempunyai rencana untuk mempersuntingnya.


Setelah selesai menyantap makan malamnya, di meja makan, mereka mengobrol ringan sebelum Ara pamit pulang ke kosan.


" Sudah kenyang belum dek?"


" Sudah, kenyang banget malahan, hehehe."


" Masih mau apa lagi?"


" Banyak, tapi besok lagi aja, sekarang udah kekenyangan."

__ADS_1


" Dek nggak menginap saja?"


" Nggak lah mas, Ara capek mau istirahat di kosan."


" Istirahat disini kan bisa Ra, ada kamar tamu tuh."


" Nggak lah mas, Ara pulang saja ke kosan."


" Mau pulang sekarang apa nanti?"


" Sekarang aja mas."


" Ya udah yuk mas antar, udah malam ini."


" Makasih mas,"


" Oh iya, besok mas nggak bisa jemput ya Ra, mas ke kantor nya masuk pagi."


" Iya mas, nggak papa. Ya udah yuk jalan, Ara udah ngantuk banget nih."


" Makanya tidur sini aja kalau gitu."


" Nggak mau, ya udah kalo nggak mau antar Ara pulang sendiri saja."


" Mau kok sayang, ya udah iya yuk berangkat."


Jarak rumah Frans dan kosan Ara tidak terlalu jauh, tidak membutuhkan waktu lama untuk menempuhnya, apa lagi jika ditempuh mengunakan sepeda motor, hanya butuh waktu sekitar 10 menit.


" Makasih buat makanannya dan udah di jemput, udah di anterin juga sampai rumah, makasih banget ya mas." Kata Ara sambil tersenyum.


" Kamu suka?"


" Iya lah, hehehe, suka banget dong mas."


" Apa pun itu asal kamu suka, mas akan lakukan dan memberikannya untuk mu." Kata Frans sambil membelai rambut Ara.


" Makasih mas, semoga mas bahagia dan sehat selalu, nggak bosan sama Ara yang manja ini."


" Nggak akan bosan sayang. Udah gih masuk, terus istirahat."


" Mas nggak mau mampir dulu?"


" Mas boleh mampir?"


" Boleh dong, yuk masuk."


" Mau di gendong apa jalan sendiri?"


" Apaan sih mas, Ara udah gede masih bisa jalan sendiri, Ara juga berat, kasian mas nanti capek."


" Badan mungil mu itu berapa sih beratnya?"


" Nggak tau, Ara nggak pernah nimbang."


" Makan yang banyak biar nggak mungil."


" Nggak lah mas, Ara suka kok sama badan Ara gini."


" Iya, bikin gemes, rasanya nggak sabar jalan di belakang kamu, pengen tak gendong tau nggak."


" Ya sabar dong mas, nih udah sampai kok."


Frans mengekor di belakang Ara. Hingga sampai di dalam kamar Ara.


" Mas mau minum apa?"


" Nggak Ra mas udah kenyang."


" Oh ya udah,"


Ara pun langsung menjatuhkan dirinya di kasur.


" Lelah banget ya?"


" Iya mas."


" Berhenti kerja aja ya, biar mas yang kerja."


" Nggak, nggak. Ngomong apa sih mas? ngaco deh. Ara belum jadi istrinya mas."


" Ya mas nggak tega aja liat kamu kelelahan gini Ra."


" Ya namanya juga kerja mas, capek itu sudah resiko. Ara memang manja, tapi soal bekerja Ara nggak selemah itu, belum saatnya Ara bergantung sama kamu mas,"


" Yah mas bangga sama kamu. Tapi kalau lelah banget jangan di paksain ya Ra, kalau lelah banget izin libur."


" Iya mas,"


" Ya udah kamu istirahat ya, mas pulang dulu."


" Oke, mas hati - hati pulangnya, Ara antar sampai depan ya?"


" Nggak usah Ra, kamu langsung tidur ya, istirahat, assalamualaikum cinta."


" Iya mas. Waalaikumsalam mas."


Setelah Frans keluar, Ara mencari posisi yang nyaman, dan memejamkan mata.


" Hem, akhirnya ketemu kasur juga, hari ini capek banget."


Belum juga Ara terpejam, ponsel Ara berbunyi.


Siapa sih, baru juga mau tidur.


Ara mengambil ponsel nya, dan melihat siapa yang menelponnya.


Kia, ada apa malam - malam begini Kia nelpon? semoga nggak ada apa - apa.


" Halo assalamualaikum."


" Waalaikum salam mbak."


" Ada apa Ya, jam segini nelpon mbak, nggak ada apa - apa kan?" tanya Ara langsung.


" Kia cuma mau ngasih tau mbak, ibuk sakit mbak."


" Ibuk sakit apa Ya, kok baru ngabarin sekarang? sejak kapan ibuk sakit?" tanya Ara khawatir.


" Udah dari beberapa hari yang lalu sih mbak, mau ngabarin mbak nggak di bolehin ibuk, takutnya mbak kepikiran."


" Ibuk memang selalu saja begitu. Emang ibuk sakit apa? sudah dibawa berobat belum?"


" Katanya kepalanya sakit mbak, tapi nggak mau dibawa ke dokter, makanya Kia telpon mbak, tolong mbak bantu bujuk ibuk agar mau ke dokter ya?"


" Ya sudah, besok mbak tanya ke bos dulu, mudah - mudahan di kasih izin libur secepatnya, biar mbak bisa pulang."


" Ya mbak, mbak hati - hati di sana jaga kesehatan ya. Misalnya mbak nggak pulang nggak papa, ada aku sama bapak yang ngerawat ibuk, yang penting mbak bantuin bujuk ibuk aja agar mau ke dokter, siapa tau kalau mbak Ara yang bujuk ibuk mau dibawa ke dokter."


" Iya Kia, makasih ya udah di kabarin, mbak coba bujuk besok, sama sekalian nanti mbak usahakan pulang kok. Jaga ibuk dulu ya Ya?"


" Ya mbak, jangan kepikiran ya mbak? ibuk cuma sakit kepala kok, karena Kia kasian kalau nggak di obatin kan nggak sembuh - sembuh, makanya Kia minta bantu mbak buat bujuk ibuk. Ya sudah mbak pasti capek banget ya, istirahat ya mbak, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Mudah - mudahan bisa di kasih izin pulang cepat, besok aja sekalian bilang sama mas Frans lah kalau mau pulang. Hari ini capek banget mau tidur.


Yah memang pekerjaan Ara hari ini sangat menguras tenaganya, apa lagi harus bolak balik ke rumah Frans, tapi tidak apa, karena bisa bertemu dengan cintanya itu membuatnya bahagia.

__ADS_1


Frans memang menjadi salah satu semangat Ara ditengah - tengah letih nya bekerja.


__ADS_2