Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Kiriman lagi


__ADS_3

Menjelang magrib, bunda raina sudah berada di kamar Ara. Sholat magrib bersama dengan Ara, sekarang sudah menjadi salah satu rutinitas nya, sejak Ara memintanya untuk mengajarinya mengaji.


Setelah sholat magrib bunda Raina mengajari Ara mengaji.


" Duh anak bunda yang cantik ini sudah banyak kemajuan ya, hafalan nya juga sudah banyak."


" Alhamdulillah, ini semua berkat bunda, yang sudah dengan sabar dan telaten mengajari Ara."


" Bunda senang sayang bisa membantu mu."


" Pak El belum pulang ya bun?"


" Belum Ra, kayaknya dia pulang malam lagi, akhir - akhir ini dia sibuk, lembur terus. Kenapa nanyain? kangen ya? hehehe?"


" Nggak sih bun, tapi sudah lama aja Ara nggak melihat pak El."


Gimana mau ketemu Ra, El lembur terus, sebenarnya setiap pulang juga habis mandi selalu mengecek kamar mu, tapi kamu sudah tidur. Itu juga bunda tau nya ngintip diam - diam, kalau terang - terangan mungkin Rafael nggak mau ngaku, hehehe. Tapi bunda belum bisa cerita ke kamu.


" Dia pulangnya malem, saat dia pulang mungkin kamu sudah tidur."


" Oh begitu."


" Ya udah bunda ke kamar dulu ya Ra, mau tadarus di kamar."


" Iya bunda, maaf ya Ara merepotkan bunda."


" Tidak sayang."


Setelah bunda Raina keluar, Ara kembali sendirian.


Mbak Linda sibuk nggak ya? pengen banget telpon mbak Linda.


Tok tok tok.


Ada yang mengetuk pintu kamar Ara.


" Iya, silahkan masuk."


" Assalamualaikum, "


" Waalaikum salam, eh pak Rio. Masuk pak."


Rio baru saja pulang, setelah mendengar apa yang terjadi dengan Ara dari sang bunda, Rio dan juga istrinya menjenguknya.


" Bagaimana keadaan mu Ra?"


" Alhamdulillah sudah baikan kok pak."


" Oh iya selama kamu disini belum pernah ketemu ya, kenalin ini istriku."


" Hay Ara, aku Salma."


" Halo bu Salma, salam kenal."


" Panggil saja aku mbak Ra, aku belum setua itu dipanggil ibu, hehehe."


" Iya mbak,"


" Kita turut prihatin atas apa yang sudah kamu alami Ra, maaf kita baru bisa menjenguk sekarang," Kata Rio.


" Nggak papa pak, malah Ara yang ingin minta maaf, Ara jadi merepotkan keluarga bapak, bukanya membantu tapi malah merepotkan."


" Jangan bilang begitu Ra, kami tidak ada yang merasa direpotkan, justru kehadiran mu menghidupkan suasana dirumah ini."


" Bunda juga antusias banget, kalau menceritakan soal kamu, bunda terlihat sangat bahagia." Imbuh Salma.


" Cepat sembuh ya Ra, tuh sahabat kamu, heboh minta libur terus, pasti karena ingin menemani mu, hahaha."


" Ya udah kita permisi dulu, kamu istirahat ya Ra, oh iya ini aku bawa oleh - oleh buat kamu, semoga kamu suka ya," Salma memberikan paper bag kepada Ara.


" Makasih ya mbak,"


" Iya Ra, kita pamit ya, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam,"


Mbak salma cantik banget, jadi adem kalau melihat yang berhijab, bisa nggak ya suatu saat nanti aku berhijab seperti mbak Salma itu.


Ah iya jadi penasaran oleh - oleh apa yang di bawain mbak Salma.


Ara membuka paper bag nya, dan mengeluarkan yang ada di dalamnya.


Ternyata gamis cantik serta dengan pasmina yang senada dengan gamisnya.


Ini bajunya cantik sekali, bagus lagi. Pasti mahal. Warnanya juga soft, selera mbak salma keren. Duh nggak sabar pengen memakainya.


Tapi kapan ya? ah besok Ara sudah harus belajar jalan nih, Ara diam - diam harus belajar jalan, sudah nggak terlalu sakit sih, kangen juga pengen bantuin simbok.


***


Tengah malam, tidur Ara terusik dengan suara - suara aneh dikamar Ara.


Ara terbangun, melihat di sekeliling kamarnya tidak ada apa - apa.


Ara merasakan badan Ara mulai sakit lagi.


Kenapa aku merasa seperti ini lagi.


Rasa yang familiar bagi Ara. Ara segera berwudhu dengan tertatih, dia memaksakan turun dari ranjang dan berwudhu.


Ara duduk kembali di ranjang, lalu mengenakan mukena. Ia meruqiah dirinya seperti yang bunda ajarkan kepadanya.


Ara merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya, keringatnya bercucuran.


" Uhuk, "


Ara kembali memuntahkan darah. Mukenah nya pun berlumuran darah. Ara sudah merasakan tubuhnya lebih baik, namun lemas tenaganya banyak terkuras.


Ara terbaring sejenak, untuk mengumpulkan tenaga.


Ara ingin haus namun air putih yang ada di meja kamarnya habis.


Mau tidak mau Ara harus ke dapur.


Ara mendorong sendiri kursi rodanya ke dapur, namun saat ingin mengambil gelas, dia harus berdiri karena Ara tidak bisa menggapainya jika dia duduk di kursi roda.


***


Rafael yang baru saja pulang dari kantor, saat membuka pintu ia merasakan bahwa ada yang janggal dengan hawa dirumahnya.


Hawa ini kenapa tidak asing ya? ada makhluk jahat yang memasuki rumah ini.


Rafael langsung teringat dengan Ara.


Ara!! ah semoga tidak terjadi sesuatu dengan mu.


Rafael berjalan cepat menuju kamar Ara. Ia langsung panik ketika Ara tidak berada di kamarnya, di kamar mandi juga tidak ada.

__ADS_1


Apa mungkin Ara tidur di kamar bunda ya.


Rafael mengetuk kamar bunda.


" Ada apa El? "


" Ara di kamar bunda?"


" Tidak ada El, Ara di kamarnya, ada apa?"


" Ara tidak ada di kamarnya, di kamar mandi tidak juga tidak ada," Rafael menjelaskan dengan wajah yang panik dan khawatir.


Dari raut wajah El bunda sudah bisa menebak bahwa mungkin terjadi sesuatu dengan Ara.


" Kursi rodanya ada El? bunda bantu mencarinya."


" Coba kamu cek ke dapur."


" Baik bunda."


Dengan langkah yang cepat Rafael menuju ke dapur.


Benar saja Ara berada di dapur, dia sedang berdiri dan memegang gelas. Melihat mukena yang Ara kenakan berlumuran darah, kekhawatiran Rafael bertambah.


" Ara? kamu ngapain?"


Rafael mendekati Ara.


" Pak El." Panggil Ara dengan suara yang lemah.


Tiba - tiba pandangan Ara menjadi buram, tubuhnya menjadi lemas, sehingga gelas yang di pegangannya terjatuh.


El dengan cepat menangkap tubuh Ara yang hampir terjatuh.


Ara pingsan di pelukan Rafael.


" Ara bangun Ra? Ra bangun." Rafael berusaha membangunkan Ara.


Wajah Ara pucat, keringatnya bercucuran. Rafael mengendong Ara ke kamarnya.


Bunda yang melihat Rafael tengah membopong Ara, mengikutinya ke kamar Ara.


" Astagfirullah El, Ara kenapa?"


" Nanti El jelaskan, bunda tolong temenin Ara disini, tolong bunda bangunkan Ara, El ke kamar sebentar."


" Baik El."


Rupanya gelas yang dijatuhkan Ara, membangunkan Rio dan juga Salma.


" Apa yang terjadi dengan Ara bun?" tanya Rio yang penasaran dengan kondisi Ara.


" Bunda juga tidak tau." Jawab bunda sambil membangunkan Ara.


" Kenapa tadi El sangat panik dan buru - buru, apa karena ini?"


" Iya Yo."


Salma mendekat dan juga ikut membangunkan Ara.


Kenapa bunda dan Rafael sangat cemas, apa yang sebenarnya terjadi dengan Ara?


Beberapa lama kemudiaan El datang dan sudah berganti pakaian, memakai koko putih dan sarung serta mengenakan peci.


Tangis bunda Raina pecah saat Ara tak kunjung bangun.


" Ara bangun sayang, ini bunda. Ara bisa mendengar bunda kan?"


Sebenarnya El juga cemas, namun ia berusaha menenangkan bundanya.


" Bunda kita tidak punya banyak waktu lagi, bunda ingin Ara bangun kan? mbak mas tolong bantuin aku ya, segera ambil wudhu dan Alqur'an kalian. Kita tidak punya banyak waktu, bunda sama mbak tolong bisa pindahkan Ara di bawah, tolong baringkan Ara di bawah."


Beralaskan selimut Ara di baringkan di lantai.


Setelah semuanya siap, mereka mulai melantunkan ayat suci.


Rafael membuka mata dan sudah berada di tempat lain, dia melihat sosok hitam itu membawa Ara dengan paksa. Ara terus meronta dan berteriak.


" Hey lepaskan Ara."


" Hahaha, tidak bisa, tuan ku menginginkannya."


" Lepaskan dia selagi saya masih bicara baik - baik."


" Tidak bisa, dia milik tuan ku."


" Pak El tolong Ara, Ara takut." Teriak Ara.


Rafael bertasbih, dan makhluk itu mulai berteriak kesakitan.


" Ah, hentikan, hentikan manusia bodoh."


Rafael tidak menggubrisnya, dia terus bertasbih. Sayup - sayup terdengar suara merdu lantunan orang mengaji.


Membuat makhluk hitam itu semakin kepanasan.


Tak lama kemudian makhluk hitam itu, menghilang.


Ara berlari memeluk Rafael.


" Sudah tidak apa - apa Ra. Mari kita kembali."


" Kemana pak?"


" Kerumah kita,"


" Bukan kah ini sudah dirumah kita."


Rupanya anak ini tidak sadar kalau sudah dibawa pergi.


" Rumah yang kamu lihat ini hanya ilusi Ra. Dengarkan aku, pejamkan matamu, dan ikuti suara arah suara itu, kamu mendengarnya?"


" Iya pak, salah satunya itu suara bunda."


" Ya udah kamu ikuti suara bunda ya."


" Iya pak."


Ara pun menurut dan mengikuti petunjuk dari Rafael.


***


Ara perlahan membuka mata, dilihatnya sekeliling ada bunda, Rafael, Rio dan Salma.


" Bunda," panggil Ara dengan suara yang lemah.


Mendengar Ara memanggilnya, bunda Raina menyudahi mengajinya.

__ADS_1


" Bunda,"


" Iya sayang, kamu sudah bangun. Dimana yang sakit sayang?"


" Bunda pak El."


Bunda Raina melihat Rafael belum membuka matanya.


Bunda Raina mendekati Rafael dan berbisik.


" Kembalilah nak, Ara mencari mu."


Tidak berselang lama, El lalu membuka matanya.


Setelah El membuka matanya, Rio dan Salma menyudahi melantunkan ayat sucinya.


Ara berusaha bangun, bunda Raina yang melihatnya segera membantunya.


Ara memeluk bundanya dengan erat, sambil menangis.


" Bunda tenangkan Ara dulu, kita tunggu diluar," Pamit Rio.


Rio dan Salma menunggu diluar kamar Ara, dan Rafael ikut menyusulnya.


" Apa yang sebenarnya terjadi El?" tanya Rio.


" Panjang mas ceritanya."


" Bisa ceritakan, aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan Ara."


Rafael pun menceritakan semuanya.


" Sedikit saja aku terlambat, mungkin Ara sudah tidak tertolong."


Ada kelegaan di wajah Rafael saat menceritakan tentang Ara. Rio yang menyadarinya, menyunggingkan senyum di bibirnya.


Bukan hanya bunda yang bahagia dengan kedatangan Ara, ternyata Ara juga mampu meluluhkan si jaka tua ini, hahaha. Syukurlah ternyata adik ku bisa membuka hatinya lagi. Batin Rafael.


" Mas, mbak maaf ya mengganggu istirahat kalian, terimakasih sudah bersedia membantuku."


" Sama - sama El, ya udah kita kembali mau kamar, besok pagi saja kita yang menemui Ara lagi."


" Baik mas, ini juga aku mau masuk melihat keadaan Ara."


***


" Mas kenapa sih dari tadi senyum - senyum sendiri." Tanya Salma heran melihat suaminya.


" Aku senang mah, akhirnya ada yang bisa membuat Rafael membuka hatinya kembali."


" Maksud mas Ara?"


" Iya, kamu tau juga kan, bagaimana raut wajahnya tadi yang sangat menghawatirkan Ara, dan betapa leganya dia saat berhasil menolong Ara. Belum pernah aku melihat dia secemas tadi."


" Yang aku lihat Ara gadis yang baik mas."


" Yah semoga saja, Ara bisa menerima Rafael."


" Iya mas."


Dikamar Ara.


" Sudah sayang jangan menangis lagi, bunda akan menemani Ara tidur disini. Ara jangan takut lagi, ada bunda ada El juga yang menjaga mu disini."


" Ara takut bunda."


" Iya sayang, lepas dulu mukenah nya ya,"


Rafael datang membawa segelas air madu hangat untuk Ara.


" Minumlah dulu, setelah minum kamu akan lebih baik." Kata Rafael.


Bunda Raina membantu Ara memegang gelasnya, karena Ara masih gemetaran.


Berani sekali mereka masih menganggu mu Ra, kali ini mereka benar - benar sudah keterlaluan. Rupanya lelaki itu belum menyerah juga.


Untung lah Ra, aku bisa menyelamatkan mu, telat sedikit saja mungkin aku sudah bisa menolong mu. Maaf aku masih tidak bisa menjaga mu dengan baik.


Setelah Ara tenang, akhirnya Ara bisa tidur. Bunda Raina tidak tega meninggalkan Ara tidur sendirian. Bunda Raina berbaring di samping Ara, dan Rafael tidur di sofa. Rafael benar - benar ingin memastikan bahwa makhluk itu tidak datang lagi.


" Tidur lah nak, bunda akan menjaga mu disini. Beristirahatlah nak. El kamu tidur di sofa ya, jangan jauh - jauh dulu dari Ara, bunda tidak mau hal ini terjadi lagi sama Ara."


" Iya bun, aku juga akan menjaga disini, bunda istirahat ya? tenang saja bun ada aku."


" Iya El, bunda percaya sama kamu, juga istirahat ya, pasti kamu juga capek kan?"


" Nggak kok bun,"


****


Adzan subuh sudah berkumandang. Bunda Raina membangunkan Ara dan Rafael untuk sholat subuh.


" Ara sayang, bangun yuk, kita sholat dulu."


" Em iya bunda, tapi mukena Ara kotor."


" Pakai mukena bunda aja, bunda masih ada."


" Makasih bunda."


" Bunda bangunkan El dulu Ra."


Astaga pak El tidur di sofa, pasti nggak nyaman banget, nggak pakai selimut lagi.


Terimakasih pak, untuk yang kesekian kalinya bapak menolong Ara. Pasti capek banget habis pulang dari kerja langsung menolong Ara, maafin Ara ya pak, Ara terus merepotkan bapak.


" El, bangun sayang, sholat subuh dulu yuk."


" Eh sudah pagi ya bun? El wudhu dulu bun."


" Sholat berjamaah aja dikamar Ara ya El?"


" Iya bunda."


Selesai sholat subuh, bunda dan Rafael tadarus seperti biasa, Ara menyimak sambil berkaca - kaca.


Maafkan Ara ya Allah selama ini Ara sudah jauh dari mu, bimbing Ara terus agar istiqomah di jalanmu. Ara juga pengen bisa ngaji seperti bunda dan pak El. Mereka begitu fasih melantunkan ayat - ayat mu.


Suara bunda dan Rafael memang sangat merdu, jantung Ara berdetak dengan kencang matanya berkaca - kaca.


Aku harus lebih giat belajar lagi agar bisa seperti bunda.


Pak El sudah ganteng, baik, suaranya bagus, lelaki idaman banget. Seandainya aku bertemu dengan mu lebih awal pak, pasti bapak tidak perlu menunggu Ara untuk membuka hati Ara.


Ara akan berusaha untuk menerima bapak.


Tunggu lah sebentar lagi pak.

__ADS_1


__ADS_2