Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Bertengkar


__ADS_3

Di rumah Frans.


Frans sedang tiduran di sofa, hari ini Frans libur ngantor. Libur kali ini dipakainya untuk bersantai dirumah.


Rupanya kepergian sang pujaan hati membuat sebagian semangatnya hilang. Kerinduan yang teramat sangat sudah pasti dirasakannya, apa lagi sudah beberapa hari tidak melihat Ara membuatnya gelisah dan cemas.


Rasa cintanya yang terlalu besar buat Ara membuatnya terobsesi ingin memiliki Ara untuk dirinya sendiri, sehingga kepergian Ara membuatnya cemas berlebihan, apa lagi tak kunjung ada kabar kapan Ara akan kembali.


Jarak mereka yang sekarang jauh, membuat Frans menjadi parno dan berfikiran yang tidak - tidak tentang Ara. Frans takut Ara akan meninggalkan dirinya dan menikah dengan orang lain. Hal itu membuatnya cemburu buta.


Tapi Ara tidak mengetahui hal itu, Ara tidak menyadarinya. Bagi Ara perlakukan dan kecemburuan Frans ke dirinya itu merupakan hal yang wajar bagi sepasang kekasih yang terpaut jarak.


" Ra mas kangen, kapan kamu balik ke sini?"


Tanya Frans lewat panggilan telepon yang sedang mereka lakukan.


Ibu Lani memang cukup lama dirawat dirumah sakit, Ara ingin ibunya benar - benar pulih dulu baru pulang kerumahnya.


" Ibuk masih dirawat mas. Sabar ya, oh iya Ara sudah menyuruh mbak Linda membuatkan surat pengunduran diri. Ara udah nggak kerja lagi di sana mas. Mungkin kita jadi susah untuk ketemunya."


" Loh kok jadi begini sih Ra? kenapa kamu nggak tanya dulu sama aku, dan main mengambil keputusan begitu saja? Ini bukan alasan kamu untuk ninggalin Aku kan Ra. Jangan - jangan kamu sudah menjalin hubungan dengan laki - laki lain?"


" Kamu ini apa - apaan sih mas, jangan ngawur deh Ara sayangnya cuma sama kamu, kan mas juga sudah tau itu, ya mau gimana lagi mas, bos nya Ara pasti juga nggak kasih izin kalau Ara ambil cutinya kelamaan, kasihan juga kan mbak Linda di sana nggak ada yang bantuin kalau bos nggak cari karyawan baru. Kita masih bisa ketemu kok mas, walaupun Ara sudah nggak lagi kerja di sana, nanti kalau ibuk sudah sembuh Ara pasti kesitu kok mas, Ara juga kangen sama mas. Tolong dong mas jangan berpikiran yang tidak - tidak."


" Kalau sayang ya cepetan balik kesini!!"


" Belum bisa mas, kan Ara masih harus ngerawat ibuk sampai ibuk sembuh dulu."


" Sampai kapan Ra? berapa lama lagi?. Itu kelamaan Ra. Itu pasti cuma alasan kamu saja karena nggak ingin ketemu lagi dengan ku kan?"


" Nggak gitu mas, kan tadi Ara sudah jelasin, ya udah sekarang gini aja, kalau mas nggak percaya, mas ingin nikahin aku kan? Oke aku sekarang siap. Kalau mas memang beneran serius, mas dateng ke rumah, mas bilang sama orang tua ku tentang niat baik mas itu. Ara akan tunggu dirumah. Kapan mas mau kesini kasih tau Ara? Ara kirimin alamat rumah Ara, Ara tunggu ya mas."


Ara pun langsung mematikan ponselnya karena sebal dengan Frans atas tuduhan macam - macam nya. Ara benar - benar dibuat pusing. Ara juga sebenarnya lelah, tidur dirumah sakit tidak membuatnya nyaman, belum lagi Ara memikirkan kondisi ibunya yang masih belum stabil sepenuhnya, dan lagi Ara yang masih harus segera mencari pekerjaan lagi.


" Halo, Ara!!! ah sial dimatiin!!! berani - beraninya dia. Arrgghhhh!!!" Teriak Frans sambil membanting ponselnya ke lantai.


*Kenapa Ara jadi tiba - tiba minta dinikahin? jangan - jangan benar di sana Ara sudah punya pacar, dan karena ingin menikah dengan pacarnya jadi Ara meminta hal yang nggak mungkin ini. Ini hanya sebagai alasan saja.


Aku memang ingin secepatnya menikahi Ara, tapi tidak mendadak begini, uangku pun belum cukup karena kemarin habis aku pakai untuk melunasi rumah ini. Aku belum siap kalau harus menikahi Ara dalam waktu dekat ini, tapi kalau aku nggak nikahin Ara secepatnya nanti dia dinikahin orang lain. Ahhh Apa mungkin Ara tau kalau aku memang nggak bisa menikahinya sekarang, makanya dia buat syarat ini, dan kalau aku nggak bisa menikahi secepatnya dia akan menikah dengan lelaki pilihannya. Nggak, nggak, nggak boleh!!!! itu nggak boleh terjadi!


Bagaimana pun Ara itu milik ku, harus jadi milik ku. Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka orang lain pun juga tidak boleh memilikinya. Ara milik ku, yah,, Ara itu hanya milik ku*.


" Ha ha ha ha Ara kamu yang memaksaku berbuat seperti ini, aku akan membuatmu kembali padaku, dengan cara ku." Gumam Frans dengan raut wajahnya yang sudah merah padam karena amarahnya.


Saat ini Frans sangat marah, hingga membuatnya tidak bisa berfikiran dengan jernih.


Yah amarah telah menguasainya. Jika amarah yang sudah mengendalikan, maka bukan hal baik yang akan dilakukan.


Saat ini yang Frans pikirkan hanyalah cara untuk membuat Ara kembali ke sisinya.


***


Di rumah sakit.


Ara duduk di kursi di samping ibu nya sambil memijat - mijat keningnya, yah apa yang di pikirkan membuat kepalanya pusing.

__ADS_1


" Kamu kenapa Ra?" tanya bu Lani, melihat putrinya yang sepertinya sedang tidak baik - baik saja.


" Nggak papa buk, kepala Ara pusing, mungkin tadi malam Ara salah tidur." Jawab Ara ngasal. Sebenarnya juga nggak sepenuhnya salah, karena memang Ara merasa lelah, tapi yang membuatnya pusing adalah tuduhan dari Frans yang ditudingkan kepadanya.


" Pasti kamu masuk Angin karena kurang istirahat, karena merawat ibuk."


" Iya nggak lah buk, capek apa, orang disini cuma makan tidur, makan tidur."


" Pulang aja yuk ra, ibuk sudah nggak betah, badan ibuk juga sudah enakan kok."


" Ah pasti itu cuma alasan ibuk saja karena nggak betah disini kan? kalau dokter udah ngebolehin ibuk pulang baru kita pulang."


Di tengah - tengah perbincangan mereka, dokter pun datang untuk memeriksa keadaan ibu Lani.


" Gimana dok keadaan ibuk saya?" tanya Ara.


" Udah jauh lebih baik, Ibuk anda sudah boleh pulang hari ini."


Mendengar perkataan dokter, membuat senyum ibu Lani secerah mentari. Yah ibu Lani sangat senang akhirnya sudah di perbolehkan pulang. Tidak ada yang lebih nyaman selain rumah sendiri. Bu Lani juga sudah rindu berkumpul dengan suami dan anak - anaknya.


" Bener kan Ra ibuk sudah sembuh, sudah boleh pulang. Kamu sih nggak percaya." Kata ibu Lani kepada Ara.


" Iya buk iya. Makasih ya dok."


" Sama - sama mbak, oh iya walaupun sudah sembuh ibuk harus jaga kesehatan, jangan terlalu capek dan makan yang teratur ya buk."


" Iya pak dokter, sekali lagi terimakasih."


" Iya buk sama - sama."


Ara pun segera menelpon sang bapak untuk menjemput mereka.


***


" Ibuk makan dulu, minum obat terus istirahat ya?"


" Iya. Biar bapak saja yang ambilkan, kamu istirahat aja Ra." Sahut pak Nariman.


" Oh iya, udah ada nasi sama lauk belum pak? kalau belum, Ara masak dulu ya."


" Udah Ra, tadi pagi sebelum Adik mu berangkat sekolah dia sudah masak."


" Bagus deh kalau gitu,"


" Ya udah kamu istirahat saja, biar gantian bapak yang rawat ibuk."


" Iya pak, Ara pamit mau mandi dan istirahat dulu."


Ara lalu berjalan ke kamar, mengambil handuk serta baju ganti.


Setelah mandi Ara merasa tubuh dan pikirannya lebih baik.


Ara beristirahat di kamar Aji, Ara berbaring di tempat tidurnya.


Kamar ini masih sama seperti dulu, nyaman buat istirahat, menenangkan pikiran dan melepas lelah.

__ADS_1


Ara memang suka di kamar Aji dari pada kamar nya sendiri.


Kamar Aji yang luas, nggak penuh dengan barang dan pernak pernik, nggak seperti kamarnya sendiri dan kamar Kia.


Aroma kamar Aji juga sangat menenangkan, ntah pengharum apa yang di pakainya.


Karena rasa lelah yang dirasakannya membuat


tidak butuh waktu lama untuk Ara terlelap.


***


Karena saking pulas nya, Ara sampai tidak menyadari bahwa sang Adik sudah pulang.


" Mbak ini kebiasaan banget, suka tidur di kamar orang padahal sudah punya kamar sendiri," gumam Aji yang tak sengaja di dengar Kia saat Kia lewat di depan kamar Aji.


" Biarkan saja dek, liat tuh pules banget tidurnya, sampai kita pulang saja dia tidak bangun."


" Iya ya mbak, pasti mbak Ara capek banget, selama beberapa hari ini nungguin ibuk dirumah sakit."


" Iya, ya udah kita kemar ibuk yuk, kita tiduran aja di kamar ibuk, kamu nggak kangen apa sama ibuk udah berhari - hari nggak ketemu, jangan ganggu mbak Ara, biarkan dia istirahat disitu."


" Iya mbak, lagian juga mana tega mau ganggu tidurnya pulas banget begitu, ya udah ke kamar ibuk dulu sekalian tanya bagaimana keadaanya."


Mereka berdua pun ke kamar ibunya untuk bermanja dan melepas rindu karena sudah beberapa hari tidak bertemu.


" Ibukkkk, kia kangen." Teriak kia sambil berlari dan langsung memeluk ibunya.


" Ibuk juga kangen kamu, kamu nggak kelaparan kan selama ditinggal ibuk?"


" Ya nggak lah buk, kan Kia sudah bisa masak."


" Masak nggak enak aja bangga," kata Aji.


" Walaupun nggak enak tapi kamu juga doyan." jawab Kia.


" Terpaksa karena nggak Ada yang lain mbak." Elaknya.


" Udah, udah ini kenapa jadi ribut sih. sini Aji nggak mau peluk ibuk, nggak kangen sama ibuk."


" Ya kangen lah buk, ibuk sudah baikan kan? masih ada yang sakit nggak?."


" Nggak kok, ibuk sudah sehat, sudah sembuh." Jawabnya sambil tersenyum.


Di antara mereka memang Aji lah yang tidak manja ke pada ibunya. Tidak seperti ke dua kakaknya. Mungkin karena ia anak lelaki.


" Mbak, mbak Kia kengen nggak sama nasi goreng buatan mbak Ara?" tanya Aji kepada Kia.


" Aku mah kangen semua makanan yang dimasak mbak Ara, entah resep apa yang dia punya, hingga apa pun yang dimasak mbak Ara selalu enak."


" Iya sih, tapi nasi gorengnya yang paling aku suka."


" Gimana kalau nanti malem minta di buatin dek?"


" Ide bagus tuh mbak."

__ADS_1


" Ya tunggu mbak kamu bangun dulu, jangan di bangunin kasian dia pasti capek banget," kata ibu Lani.


" Iya buk," jawan Aji dan Kia serentak.


__ADS_2