Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Sosok itu lagi


__ADS_3

Di kamar Ara.


Mereka sudah menyelesaikan acara makan mereka.


" Mbak aku belajar gitar loh. Mau dengar nggak? ya walaupun belum mahir sih." Kata Aji.


" Boleh banget tuh dek, nanti mbak Ara yang nyanyi, kan mbak Ara suaranya bagus banget." Imbuh Kia yang sangat antusias.


" Ya udah bentar aku ambil gitarnya dulu."


Aji balik ke kamar Ara dengan membawa gitar. Aji menarik kursi mendekat ke Ara.


" Gitar siapa itu dek?" Tanya Ara.


" Gitar temen mbak, mbak Ara tau lagunya Andmesh nggak yang judulnya Hanya Rindu?"


" Tau dong."


" Aku baru hafal beberapa lagu, salah satunya itu."


" Ya udah yuk mulai." Kata Kia sangat bersemangat, sambil mengeluarkan hp nya bersiap untuk membuat vidio aksi dari kakak dan adiknya itu.


Jrengg,,,


Aji memulai memetik senar gitarnya, dan Ara mengeluarkan suara merdunya.


Saat ku sendiri, kulihat foto dan video


Bersamamu yang telah lama ku simpan


Hancur hati ini melihat semua gambar diri


Yang tak bisa ku ulang kembali


Kuingin saat ini engkau ada di sini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu


Segala cara telah kucoba


Agar aku bisa tanpa dirimu, hoo


Namun semua berbeda


Sulit ku menghapus kenangan bersamamu


Kuingin saat ini engkau ada di sini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah


Bukan diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu, ooh


Hanya rindu, ooh


Kuingin saat ini engkau ada di sini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar, Tuhan, tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan, ooh


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu, ooh


Hati ini hanya rindu, hmm


Ku rindu senyummu


Plok, plok, plok


Suara tepuk tangan dari Kia.


Kia sangat puas menikmati pertunjukan yang ada di depan itu.


" Keren,, suara mbak Ara bagus banget." Puji Kia.


" Terimakasih adik ku yang cantik." Balas Ara.


" Rindu siapa sih mbak, menghayati banget nyanyinya?" tanya Aji.


" Nggak ada dek." Jawab Ara mengelak.


Apa mbak Ara sudah punya pacar? jangan - jangan laki - laki itu yang ada di mimpi ku. Ah mudah - mudah bukan dan tebakan ku ini salah, lagian mungkin saja kan mbak Ara berpacaran tidak hanya sekali, dan bukan hanya dia lelaki satu - satunya di hidup mbak Ara. Tapi kenapa perasaan ku seperti bilang kalau sakit mbak Ara ada hubungan nya dengan laki - laki itu, dan laki - laki itu juga yang membuat mbak Ara sedih.


Ntah kenapa pikiran Aji langsung tertuju di sana.


Nggak, nggak aku nggak boleh menduga - menduga, lagian belum tentu benar. Wajar sih mbak Ara sudah punya pacar, mbak Ara kan sudah bukan remaja lagi, sebentar lagi juga menikah. Semoga mbak Ara di pertemukan dengan laki - laki yang baik ya mbak.


" Dek, dek!"


" Iya mbak Kia, apa?"


" Kok ngelamun sih?"

__ADS_1


" Nggak ngelamun, cuma lagi mikir ada pr apa tadi. Oh iya mbak nanti aku belajarnya di sini aja mbak?" Aji bertanya kepada Ara.


" Iya boleh, emang nggak ke ganggu?"


" Nggak lah mbak."


" Aku ikut juga ah, mau ngerjain pr nya disini." Kia tak mau ketinggalan.


" Boleh, tapi jangan ribut ya, nggak boleh debat." Ara mengingatkan.


" Iya mbak." Jawab Aji dan Kia serentak.


Malam harinya mereka belajar dengan tenang dikamar Ara.


Kia dan Aji juga memutuskan untuk menemani Ara. Jadilah mereka berdua tidur dikamar Ara.


Aji tidur di samping Ara, Ara tidur ditengah.


" Ara,, "


Ara mendengar ada yang memanggil namanya.


" Ara."


Itu suara mas frans.


" Ara."


" Mas itu kamu kan?"


Ara ingin berjalan mencarinya, tapi Ara tidak bisa bergerak. Ara menoleh kebelakang tenyata dia peluk makhluk hitam dari belakang.


" Arrrkkkhhhh,"


Ara teriak ketakutan.


" Tolong lepasin aku."


" Ara."


Suara Frans memanggil namanya masih terdengar.


" Mas Frans tolongin Ara."


Tidur Aji terusik, Aji mendengar Ara berbicara sesuatu. Aji pun terbangun.


" Mas Frans tolongin Ara."


" Mas tolong."


Mbak Ara mengigau rupanya. Siapa Frans? apa yang sebenarnya mbak Ara impikan, kenapa sampai mengigau minta tolong.


" Mbak Ara, bangun mbak."


" Mbak bangun mbak."


" Akh, hufth , huh."


Ara pun akhirnya terbangun, dengan nafas yang terengah-engah.


Aji membantu Ara untuk duduk. Lalu


Aji mengambilkan minum untuk Ara.


" Ini mbak diminum dulu."


" Makasih dek."


" Mbak Ara mimpi buruk ya?"


" Iya."


" Apa mbak Ara sering mimpi buruk."


" Akhir - akhir ini mbak sering mimpi buruk dek. Mimpi hal yang sama."


" Siapa Frans mbak? tadi mbak mengigau manggil nama Frans."


" Em,"


" Kalau mbak belum mau cerita nggak papa."


Dari jawaban Ara yang ragu, Aji tahu bahwa Ara memang belum mau bercerita.


" Maaf mbak belum bisa cerita sekarang dek."


" Nggak papa mbak, aku ngerti mbak."


Pasti hal yang menyakitkan ya mbak? sampai mbak belum sampai hati menceritakannya. Aji bertanya di dalam hati.


" Dek bangunin mbak Kia dong. Aku mau ke kamar mandi."


" Lha memang kalau sama Aku kenapa?"


" Ya nggak papa, emang adek mau nganter mbak ke kamar mandi?"


" Dengan senang hati mbak, kasian juga mbak Kia kalau dibangunin."


" Iya juga ya, tapi sama kamu nggak papa dek?"


" Iya nggak papa."


" Nanti kamu tunggu diluar aja ya?"


" Iya mbak."

__ADS_1


Aji pun memapah Kia untuk membantunya ke kamar mandi. Namun Aji tidak tega melihat Ara yang berjalan nya dengan raut wajah yang kesakitan, Aji langsung membopong Ara.


Meskipun Aji anak paling kecil, namun badannya lebih besar.


" Eh, kamu kuat gendong mbak dek, nggak keberatan?"


" Ya nggak lak mbak, badan Aji lebih besar dari badan mbak Ara, badan mbak mungil gini nggak berat sama sekali."


Aji lalu mendudukkan Ara di kursi yang sudah tersedia di kamar mandi, semenjak Ara sakit, memang kursi itu diperuntukkan untuk dirinya.


Aji dengan sabar menunggu Ara diluar kamar mandi, sampai Ara memanggilnya dan membawa Ara ke kamar lagi.


" Makasih ya dek, maaf udah ngerepotin."


" Nggak papa mbak. Nggak ngerepotin."


" Ya udah yuk balik tidur lagi."


" Iya mbak."


Aji membantu Ara berbaring dan juga menyelimuti kakinya, saat Aji menyentuh kaki Ara, kaki Ara sangat dingin.


" Kakinya sakit banget ya mbak?"


" Nggak kok dek, cuma sakit sedikit."


" Mau aku pijitin, kaki mbak Ara dingin banget?"


" Nggak usah dek, yuk tidur lagi, besok kan kamu harus sekolah.


" Nggak sekolah mbak, besok hari minggu."


" Apa iya?"


" Iya, besok aku bisa nemenin mbak seharian dirumah, pasti mbak jenuh banget ya?"


" Nggak juga, kan ada ibuk. Kadang ibuk nemenin mbak ngobrol. Emang besok kamu nggak ada acara main sama temanmu?"


" Nggak mbak, besok acaranya nemenin mbak."


" Duh mbak jadi seneng banget, ada temennya."


Mbak pasti jenuh dirumah, biasanya kan mbak yang nggak bisa diem, ngerjain semua pekerjaan rumah, sekarang hanya bisa duduk, bahkan berdiri pun nggak bisa. Sebenarnya siapa sih mbak, yang tega membuat mu kaya gini?


" Ya udah yu tidur lagi, mbak ngantuk banget."


" Iya mbak."


Pagi - pagi sekali Kia sudah terbangun, dan dia juga membangunkan Aji.


" Dek bangun. dek bangun."


" Apaan sih mbak."


" Stttt jangan kenceng - kenceng, nanti mbak Ara bangun."


" Ada apa sih mbak."


" Ayuk keluar sebentar."


" Ini masih pagi buta mbak."


" Iya tau, mbak mau ngomong."


Aji sebenarnya masih malas bangun. Dengan langkah gontai dia mengikuti Kia dari belakang dan masuk ke kamarnya, Kia menutup pintunya dengan rapat.


" Ada apa mbak?" tanya Aji bingung, Aji yang masih ngantuk dia kembali tiduran di kamarnya.


" Tadi mbak melihat sesuatu."


" Ha sesuatu apa?"


" Ada hantu di kamar mbak Kia."


" Hantunya seperti apa?" tanya Aji santai.


" Aku nggak lihat jelas karena takut, tapi aku juga nggak yakin itu mimpi atau beneran, soalnya aku masih setengah tidur. Ada sosok hitam besar di ujung tempat tidur, tepatnya di ujung kaki mbak Ara. Terus Dia kayak megangin kaki mbak Ara."


" Terus?"


" Kok terus - terus sih dek, kamu nggak takut apa? kamu nggak kaget?"


" Nggak, aku sering lihat juga."


" Ha!!!!???"


" Duh jangan teriak mbak, nanti ngebangunin semua orang."


" Oh iya maaf. Kamu nggak takut?"


" Awalnya takut, tapi lama - lama nggak, soalnya sering lihat, makhluk itu memang seperti menempel dengan tubuh mbak Ara."


" Kok kamu nggak cerita sih dek?"


Aji lalu menceritakan mimpi serta hal yang sering dia lihat di kamar Ara.


" Aku takut mbak nanti malah dikira mengada - ada."


" Iya juga ya."


" Duh gimana ya aku takut."


" Udah lah mbak santai Aja. Kalau mbak malah menjauhi mbak Ara gara - gara takut, kan kasihan mbak Ara apa lagi sekarang dia nggak bisa jalan. Mbak harus bersikap biasa kaya aku."


" Mbak nggak seberani kamu dek, tapi mbak akan berusaha."

__ADS_1


__ADS_2