Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Sentimental


__ADS_3

Karena Aji sedang pergi ke warung, Kia lah yang disuruh ibu Lani untuk mengantar sarapan ke kamar Ara.


Sebenarnya Kia masih takut, tapi dia nggak mau membuat kakaknya merasa di jauhi.


Di depan pintu kamar Ara, Kia berhenti, ia melihat ke setiap sudut kamar Ara mencari keberadaan mahkluk yang semalam dia lihat.


Ara yang melihatnya pun di buat heran dengan tingkah adiknya itu. Apa lagi dengan ekspresi Kia yang ketakutan.


" Ada apa Ya? kok nggak masuk cuma berdiri disitu?" tanya Ara.


" Ini mau masuk mbak."


" Nyari apaan sih, mukamu ketakutan gitu, emang di kamar ku ada setannya ya?"


Walaupun sebenarnya Kia takut, sebisa mungkin Kia menyembunyikan rasa takutnya, tatapi tetap saja terlihat oleh Ara.


" Nggak mbak, cuma semalem mimpi buruk aja, masih ke ingat terus dan takut." Kia mengelak.


Kia masih belum siap menceritakan apa yang dia lihat sebenarnya, karena Kia juga belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, takutnya malah membuat kakaknya semakin kepikiran.


Maafin Kia mbak, Kia belum bisa cerita. Kia masih mau memastikan dulu sebenarnya apa yang terjadi. Sebelum Kia sama Aji yakin. Kalau cerita juga nggak ada yang percaya takutnya malah dikira mengada - ada.


" Sama dong Ya, semalem mbak juga mimpi buruk. Untung dibangunin Aji."


" Emang mbak mimpi apa?"


" Serem banget pokoknya, di kejar setan."


" Mbak Ara lupa berdoa kali sebelum tidur?"


" Bisa jadi sih Ya, hehehe."


" Nih mbak sarapan dulu ya."


" Aji mana?"


" Aji ke warung mbak, kayaknya tadi disuruh ibuk beli gas."


" Oh, kamu nggak sarapan Ya?"


" Kia tadi udah sarapan bareng ibuk."


Ara tertunduk, air matanya menetes.


" Maafin mbak Ya, mbak jadi ngerepotin kalian."


Kia yang melihat mbak nya menangis pun merasa kasian, Kia mendekat lalu memeluknya.


" Stt mbak nggak boleh gitu, mbak nggak ngerepotin, mbak sakit karena mbak disuruh istirahat sementara."


" Tapi mbak nggak tau Ya, sampai kapan mbak begini. Mbak merasa jadi beban."


" Mbak jangan mikir yang aneh - aneh, selama ini mbak sudah bekerja buat biaya sekolah Kia sama Adek. Mbak pasti lelah kan? mbak rela nggak nerusin sekolah, lebih memilih mencari uang agar kita bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kia seneng bisa merawat mbak meskipun mungkin tak sebanding dengan capeknya mbak kerja buat biaya sekolah Kia. Kia yakin mbak pasti sembuh, mbak bukan beban. Kia sayang banget sama mbak Ara, mbak Ara harus yakin kalau mbak akan sembuh. Kita akan usahakan semua yang kita bisa agar mbak bisa cepat sembuh. Mbak nggak bisa jalan, ada kaki Kia, Kia bisa mengendong mbak jalan - jalan kemanapun mbak mau pergi."


Tak kuasa menahan tangis, Kia pun ikut menangis.


" Mbak juga bisa pakai kaki ku, aku laki - laki pasti kuat gendong mbak ke mana saja." Kata Aji yang tiba - tiba datang dengan senyum manisnya.


" Udah dong jangan nangis, nanti kalau ibuk dengar loh." Kata Aji lagi, berusaha menenangkan ke dua wanita kesayangannya itu.


" Terimakasih, kalian adik - adik mbak, mbak juga sayang banget sama kalian. Mbak bersyukur punya adik - adik yang cantik, ganteng dan baik kaya kalian. Mbak sayang banget sama kalian."


" Kita juga." Balas Kia dan Aji bersamaan,


Mereka pun saling berpelukan.


" Mbak sarapan dulu ya, Aku temenin." Kata Aji.


" Udah ada adek, Kia kebelakang dulu bantuin ibuk ya mbak." Pamit Kia.


" Ya, terimakasih sarapannya Ya."


" Sama - sama mbak."


Kia ke dapur, menghampiri ibu Lani yang sedang duduk kursi sambil melamun.


" Ibuk pasti mikirin mbak Ara ya?"


" Iya Ya, ibuk bingung, sudah di bawa ke dokter tapi dokternya nggak tau sakitnya, terus gimana cara ngobatin mbak mu itu. Mbak mu pasti sedih banget, biasanya dia yang nggak bisa diem kalau dirumah. Sekarang berdiri aja nggak bisa."


" Udah ibuk jangan sedih gitu dong, kalau ibuk sedih, mbak Ara pasti ikutan sedih. Ibuk harus tenang, harus sabar, harus ceria, agar mbak Ara juga ceria. Coba besok di bawa ke rumah sakit buk hasilnya gimana, mudah - mudahan ketemu penyakitnya."


" Amin. Kamu juga harus terus temenin dan hibur mbak kamu Ya."


" Pasti buk."


***


Di kamar Ara.


" Dek sepertinya percuma juga mbak dibawa ke rumah sakit."


" Kenapa mbak? kok gitu? mbak nggak mau sembuh?"


" Mau banget sih dek, coba deh bapak suruh ke orang pinter aja, kayaknya penyakit mbak ini bukan penyakit biasa."


Akhirnya mbak Ara menyadarinya juga.


" Mbak tau dari mana?"


" Perasaan mbak aja sih dek, sebelum mbak sakit juga mbak seperti di teror, sering mimpi buruk juga, dan itu kadang sama."


Ara pun menceritakan apa yang dialaminya kepada Aji.


Mungkin dugaan ku benar, sakitnya mbak Ara ada hubungan nya dengan mahkluk hitam besar itu.


" Tapi kalau nanti bapak nggak percaya gimana?"


" Ya kamu ngomong aja dulu, nanti kalau bapak nggak percaya mbak Ara bantuin ngomong deh."


" Ya udah Aku cari bapak dulu ya mbak. Mbak nggak papa ditinggal sendiri?"


" Nggak papa, sudah biasa."


Setelah Aji pergi, tidak berselang lama, ibuk datang, masuk ke kamar Ara membawakan Ara segelas susu.

__ADS_1


" Nggak tidur Ra?"


" Eh ibuk, nggak buk Ara lagi baca buku."


" Jenuh ya dikamar terus? mau ibuk papah keluar?"


" Nggak buk disini aja,"


" Ya udah nih diminum dulu susunya."


" Ah ibuk, bentar - bentar dikasih makan di kasih susu, lama - lama Ara gemuk buk."


" Nggak papa, walaupun gemuk tetap cantik kok."


" Kalau nggak laku gimana, nanti ibuk nggak dapet mantu, hehehe."


" Ada - ada saja kamu Ra."


" Buk?"


" Iya Ra."


" Ibuk pasti lelah ya ngerawat Ara, maafin Ara ya buk, Ara malah jadi ngerepotin ibuk. Padahal Ara pengen cepat balik kerja lagi, cari duit buat bantuin ibuk." Kata Ara sambil menangis.


Kali ini Ara benar - benar di titik rapuhnya. Beberapa hari nggak bisa berjalan, ini itu harus dibantu, belum lagi mikirin soal pekerjaan, itu membuat Ara menjadi sentimental. Ara merasa menjadi beban semua orang dirumahnya.


Padahal mereka sama sekali tidak merasa di repot kan. mereka dengan tulus bergantian merawat Ara.


Mendengar perkataan putrinya, ibu Lani ingin menangis, tapi ibu Lani menahannya, dia nggak mau menunjukkan tangisnya kepada Ara, ibu Lani harus kuat di depan Ara.


Aku belum pernah melihat putriku dalam kondisi seperti ini. Hari ini dia menunjukkannya padaku, itu berarti dia dalam kondisi yang nggak baik. Dia pasti sudah lelah berpura - pura kuat. Pasti tidak mudah untuknya berada dalam kondisi seperti ini. Kasian sekali kamu Ra. Sabar ya nak, ibuk sama bapak akan berusaha agar kamu bisa sembuh seperti sedia kala.


" Bukan kah sudah dari dulu ibuk ngerawat kamu Ra, tapi ibuk nggak merasa capek. Bukanya ibuk suka kamu sakit, tapi dengan kamu sakit begini kita jadi bisa ngumpul kan, ibuk seneng banget lihat keluarga kita ngumpul. Ibuk yakin sebentar lagi kamu akan sembuh. Sejak kapak anak ibuk jadi cengeng begini?" Ibu Lani berusaha menghibur Ara.


" Iya buk, Ara pengen cepat sembuh, Ara pengen masak, Ara bosen cuma duduk dan tidur."


" Ibuk tau, sabar ya nak, pasti sebentar lagi kamu sembuh."


" Terimakasih ya buk untuk semuanya."


" Sama - sama sayang. Harus kuat, harus sabar ya? pasti Ara bisa."


" Iya buk."


" Ya udah Ara istirahat ya,"


" Ibuk nggak sibuk kan? temenin Ara tidur siang. Ara pengen dipeluk ibuk."


" Duh anak ibuk kok manja banget, kapan ibuk dapet mantunya kalau masih manja begini."


" Hehehe, sebentar lagi buk."


***


Aji menyusul bapaknya ke sawah untuk menyampaikan hal yang tadi dikatakan oleh Ara.


Di gubuk kecil di pinggir sawah, Aji bersama dengan bapaknya berbincang.


" Ada apa dek, kok sampai nyusul bapak kesini?"


" Tumben, hal penting apa?"


" Ini soal mbak Ara pak."


Mungkin ini saatnya aku menceritakan mimpi dan apa yang aku lihat.


Semoga cerita ku ini lebih meyakinkan agar bapak percaya.


Aji pun menceritakan mimpinya dan apa yang dia lihat kepada pak Nariman.


" Bagaimana menurut bapak?"


" Mungkin cara itu bisa di coba dek. Pokoknya kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk mencari kesembuhan mbak mu."


" Iya pak, lalu siapa menurut bapak yang bisa kita mintain tolong?"


" Mungkin ke tempat mbah Rijan dulu di kampung sebelah."


" Yah semoga ini bisa jadi jalan buat kesembuhan mbak Ara ya pak?"


" Bapak juga berharap begitu, nanti malam bapak akan coba tanya ke sana."


" Iya pak. Udah siang nih pak, pulang dulu makan siang yuk pak."


" Iya, ini bapak juga sudah selesai, pasti ibuk mu juga sudah menunggu."


***


Sesampainya dirumah hanya ada Kia yang sedang menyiapkan makanan.


" Loh tumben mbak Kia yang siapin? ibuk mana mbak?" tanya pak Nariman.


" Ibuk lagi dikamar mbak Ara pak."


" Oh,"


" Ya udah sana bapak mandi dulu, terus makan bareng."


" Iya nduk."


Aji yang mendengar kalau ibuk dikamar Ara langsung menyusulnya.


Ibuk tidur rupanya.


Ternyata ibuk menyadari kedatangan Aji.


" Stt pelan - pelan mbak mu baru saja tidur."


" Iya buk."


" Bapak sudah pulang dek?"


" Sudah buk, mbak Kia juga sudah menyiapkan makanannya."


" Ya udah ayuk makan dulu."

__ADS_1


" Ibuk duluan aja, aku capek buk mau nemenin mbak Ara tidur juga, nanti aku makanya kalau mbak Ara sudah bangun aja buk."


" Ya udah kalau begitu, ibuk temenin bapak makan dulu."


***


Selesai makan siang.


" Ara sudah makan buk?" tanya pak Nariman.


" Belum pak, Ara belum bangun."


" Oh iya tadi ibuk dikamar Ara ya?"


" Iya pak, Ara tidurnya minta ditemenin, jadi ibuk ikutan ketiduran."


" Manja banget ya gadis - gadis kita ya buk, hehehe."


" Iya pak, tapi ibuk senang. Ibuk jadi merasa nostalgia lagi ke waktu mereka kecil dulu."


" Nanti malem bapak mau ke rumah mbah Rijan buk, mau menanyakan kondisi Ara ke sana, siapa tau mbah Rijan bisa membantu."


" Kok malah ke rumah mbah Mijan sih pak, nggak ke dokter?"


" Ya kita kan nggak tau buk, barang kali ada gangguan dari luar, makanya bapak akan bertanya ke sana. Ke dokter sudah kita coba, tapi tidak membuahkan hasil kan buk, dokter juga tidak tau penyakit apa yang Ara derita."


" Iya ya pak. Ya sudah ibuk ikut keputusan bapak saja gimana baiknya."


" Ya buk, ini juga merupakan salah satu usaha kita, untuk mencari kesembuhan Ara, kita harus mencari alternatif lain."


" Ya pak, semoga ada hasil ya pak."


" Ya semoga buk, bapak juga berharapnya begitu."


***


Dikamar Ara.


Ara terbangun, melihat siapa yang terbaring disisinya membuatnya tersenyum.


Bukan lagi ibu yang berada di sampingnya namun malah Aji.


Duh ganteng banget sih adik ku ini, udah ganteng banget, baik, perhatian lagi.


Pasti beruntung banget nanti yang akan menjadi istrimu dek.


Mbak berharap kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan dan bahagia selalu.


Kia masuk membawa nampan berisi makan siang untuk Ara.


" Eh mbak Ara sudah bangun? kebangun gara - gara Kia ya mbak?"


" Enggak, emang udah bangun dari tadi kok."


" Ya bagus deh, jadi bisa langsung makan kan? nih udah Kia bawain."


" Aduh makasih ya Ya. Maaf mbak masih harus ngerepotin kamu terus."


" Nggak kok mbak, o ya mbak nggak bangunin tuh si adek."


" Nggak tega, kayaknya pules banget tidurnya, sepertinya dia kecapekan."


" Tapi dia belum makan loh mbak. Katanya tadi makanya nungguin mbak Ara bangun."


" Masak sih? ya udah mbak makanya nungguin dia bangun aja, aku juga belum terlalu lapar kok."


" Hehehe mau makan aja ribet mbak."


" Hehehe iya ya? namanya juga sayang."


" Efek kelamaan jomblo ya mbak, hahaha."


" Tau aja kalau mbak jomblo, emang kamu udah punya pacar?"


" Belum juga sih, hahaha."


" Ya udah kita sehati berarti."


" Sehati apa karena nggak laku ya mbak? hahaha"


Ara pun ikut tertawa karena kekonyolan adiknya itu.


Gelak tawa mereka, mengusik tidur Aji.


" Apaan sih, berisik banget mbak Kia."


" Loh kok cuma aku sih dek? kan mbak Ara juga ketawa."


" Tapi tawa mbak Ara nggak sekeras tawa mbak Kia."


" Huh pilih kasih. Buruan bangun, mbak Ara mau makan nungguin kamu bangun tuh."


" Iya kah mbak?" Aji bertanya kepada Ara.


" he.em."Jawab Ara.


" Kenapa nungguin aku sih mbak, kenapa mbak nggak makan duluan saja, kalau nggak kenapa mbak nggak bangunin aku sih."


" Mbak Ara udah nunggu dari tadi loh, sudah hampir dua jam an, sampai kelaparan, dia nggak tega mau bangunin kamu karena tidurmu pules banget." Kata Kia ingin menjahili adiknya.


" Kenapa mbak nggak makan duluan sih mbak, kan aku jadi nggak enak, mana aku lama lagi tidurnya." Aji merasa bersalah.


" Hehehe, Kia kamu jahil banget emang. Mbak juga baru bangun kok dek, nungguin kamu karena mbak belum lapar juga." Kata Ara.


" Mbak Kia ambilkan aku makan dong?" suruh Aji.


" Males banget, ambil aja sendiri."


" Mbak sekali aja loh. Aku malas bangun, aku juga sudah lapar."


" Iya, iya aku ambilkan, dasar manja."


" Mbak Kia juga."


Ara hanya tergelak melihat tingkah adiknya. Yah itu merupakan hiburan tersendiri buat Ara.

__ADS_1


Keberadaan ke dua adiknya adalah salah satu anugrah terbesarnya.


__ADS_2