
Mas Danang pun sampai dirumah Ara bersama mas Anto.
Pak Nariman dengan ramah menyambut kedatangan mereka, bu Lani pun sibuk menyiapkan minuman dan kue kering untuk disuguhkan.
Sambil menunggu bu Lani membawakan minuman, mas Danang bertanya - tanya tentang keadaan Ara, dan pak Nariman pun menjelaskan semuanya.
" Bagaimana nak? apa kira - kira nak Danang bisa membantu anak saya?"
" Saya juga belum bisa memastikannya pak, saya perlu melihat langsung keadaan putri bapak dulu."
" Baiklah, sebaiknya minum dulu baru nanti akan bapak antar menemui putri saya."
Setelah menikmati secangkir teh, dan berbincang - bincang, Danang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ara, ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi dengan Ara.
" Mari nak Danang saya antar."
" Baik pak, maaf merepotkan."
" Tidak perlu sungkan nak, anggap saja rumah sendiri."
Dikamar Ara, ada Aji dan Kia sedang berbincang dan bersenda gurau dengan Ara.
" Silahkan masuk nak, itu anak saya Kia, yang ditempat tidur itu Ara, dan yang laki - laki itu Aji."
" Baik pak. Terimakasih."
Nampak nya kali ini kasusnya lumayan sulit. Gadis ini memang cantik sekali. Badan mungilnya benar - benar mengemaskan. Batin Danang.
Hanya dengan melihat Ara, dia sudah tau kondisinya. Dia juga tertarik karena kecantikan Ara.
Danang, meskipun berprofesi sebagai paranormal, ia terbilang masih muda, umurnya baru 30 tahun. Penampilannya kekinian, tidak terlihat seperti dukun pada umumnya.
Saat Danang masuk ke kamar, pak Nariman memberi isyarat agar Kia dan Aji untuk keluar. Supaya Danang bisa leluasa berbicara dengan Ara.
" Hay, kenalan dulu dong. Aku Danang."
" Hay, aku Ara. Kamu pasti dukun yang dibilang adik ku ya?"
" Hehehe, sepertinya begitu, tapi aku nggak suka dipanggil dukun, panggil saja aku mas."
" Hehehe, iya sih nggak kelihatan kaya dukun kok."
" Bagaimana keadaan mu sekarang? dimana yang sakit atau yang membuatmu nggak nyaman?"
" Semuanya nggak nyaman, tapi yang suka sakit sih kakinya."
" Yah sama seperti dugaan ku."
" Mas bisa nggak mencari tau siapa yang bikin aku kaya begini?"
" Nanti aku coba dulu ya Ra, soalnya ini kasusnya agak lumayan berat. Kamu mau balas dia?"
" Nggak lah mas, Ara cuma pengen tau aja."
" Tapi menurutku ini sudah keterlaluan sih Ra, ini nyawamu loh yang di incar."
" Ah biarkan saja hehehe, tapi mas bisa menolong Ara kan?"
" Aku nggak bisa janji Ra, tapi akan ku usahakan semampuku."
__ADS_1
" Aku percayakan padamu ya mas. Hehehe."
" Dengan senang hati. Ya udah kamu istirahat dulu Ra."
" Nanti habis magrib kita ketemu lagi. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dulu sama bapak mu."
" Iya mas."
Danang segera keluar dan bergabung dengan pak Nariman yang sedang menemani Anto berbincang.
" Gimana bro?" tanya Anto.
" Kasusnya rada berat ini. Mungkin aku akan menginap disini beberapa waktu."
" Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan."
" Iya, makasih sudah mengantar."
" Hati - hati dijalan nak, terimakasih sudah mampir." Kata pak Nariman.
" Iya sama - sama pak, semoga Ara lekas sembuh ya."
" Amin."
Tinggal lah pak Nariman dan mas Danang yang sedang berbincang.
" Bagaimana pak, kalau saya disini untuk beberapa waktu, apakah bapak mengizinkan?"
" Boleh saja nak, biar nanti bapak izin sama pak Rt."
" Maaf ya pak merepotkan lagi."
" Silahkan nak Danang istirahat dulu dikamar Aji. Sudah ibu bersihkan, sejak Ara sakit, adik - adiknya tidur di kamar Ara. Jadi beberapa hari ini kamarnya kosong. Semoga nak Danang betah, maaf ya nak seadanya begini." Kata bu Lani yang baru saja datang.
" Tidak apa - apa buk. Ini sudah sangat cukup, bapak sama ibuk juga jangan sungkan, anggap saja Danang ini anak sendiri ya buk."
" Iya nak, Silahkan istirahat dulu, ibuk mau masak dulu, nanti kalau sudah matang kita makan bersama."
" Baik buk, terimakasih."
***
Di kamar Ara.
Setelah Danang keluar dari kamar Ara, Aji dan Kia berbondong - bondong masuk kembali ke kamar Ara.
Mereka penasaran dengan apa yang Danang dan Ara bicarakan.
" Mbak kepo dong hehehe."
" Apaan si Ya?"
" Tadi mbak Ara bicara apa saja dengan om ganteng?"
" Om ganteng siapa? oh maksud mu mas Danang?"
" Iya, tadi agak lama kan bicara berdua nya. Mbak sudah tau siapa yang bikin mbak kaya gini?"
" Belum Ya, tadi mas Danang cuma tanya - tanya mana yang sakit gitu."
__ADS_1
" Oh kirain udah mulai pengobatannya."
" Belum, mungkin habis magrib nanti."
" Tapi kenapa aku merasa nggak suka ya mbak sama mas Danang." Aji ikut bicara.
" Nggak suka kenapa dek?" Tanya Ara penasaran.
" Ya nggak tau mbak, pokoknya nggak suka aja rasanya."
" Kelihatannya dia orang baik, ramah juga, ibuk sama bapak pun kelihatan menyukainya." Kata Kia.
Kenapa firasat ku mengatakan dia bukan orang baik ya, sepertinya ada yang nggak beres dengan dia. Ah semoga ini hanya firasat ku saja.
" Ya mbak, kelihatanya memang begitu." Imbuh Aji.
" Mungkin karena dia orang yang baru kamu kenal, jadi kamu masih asing dek, mungkin kalau nanti sudah kenal perasaan mu akan berubah." Kata Ara.
" Yah semoga mbak."
Sambil menunggu makan siang Aji menemani Ara ngobrol banyak hal, sementara Kia membantu bu Lani di dapur memasak dan menyiapkan makanan.
" Mbak Aji mau jujur tapi mbak jangan takut ya."
" Iya, mau cerita apa?"
" Semenjak mbak sakit, aku sering melihat penampakan."
" Oh ya? dimana?"
" Di kamar mbak."
" Serius dek?"
" Iya."
" Apa yang kamu lihat?"
" Banyak mbak, tapi yang sering mahkluk hitam besar, dia seperti menempel dengan mbak Ara."
" Hitam besar, em aku sering melihatnya di mimpi, dia yang suka mengejar aku dek, apa mungkin itu mahkluk yang sama ya?"
" Mungkin, sebelum mbak sakit juga Aji mimpi aneh mbak."
" Mimpi apa?"
" Serem deh pokoknya, intinya kaki mbak ada ularnya, ada sosok hitam besar juga dan ada laki - laki di depan mbak, yang tertawa melihat mbak tersiksa, dia juga menusuk mbak pake belati."
" Kok serem banget sih dek mimpi mu."
" Iya mbak, habis mimpi itu, aku jadi sering lihat setan. Tapi yang bikin aku penasaran, siapa laki - laki itu? apa yang membuat mbak begini?"
" Memang nggak kelihatan wajahnya?"
" Nggak mbak, aku melihatnya dari belakang, jadi wajahnya nggak kelihatan."
" Mungkin itu hanya mimpi saja dek, bunga tidur, nggak ada hubungannya dengan laki - laki itu."
" Ya siapa tau mbak. Makanya aku juga penasaran siapa yang membuat mbak begini."
__ADS_1
" Sama dek mbak juga begitu. Meskipun dia ingin nyawa mbak, tapi mbak juga nggak ingin membalasnya, mbak cuma mau tau saja siapa dia, dan apa salah mbak ke dia, mbak akan minta maaf."