
" Siapa kamu?" teriak Ara ketakutan.
" Hahaha!!" Suara tawa mahkluk hitam besar itu sangat menyeramkan.
" Aku mohon jangan mendekat. Jangan !!!"
" Jangan takut, akulah yang akan menjemput ajal mu, Hahaha."
" Jangan aku mohon jangan!"
" Hahaha hahahaha."
" Jangan, jangan mendekat," teriak Ara
" Mbak bangun mbak, mbak bangun, mbak Ara," Dengan lembut Aji membangunkan Ara yang sedang mengigau.
" Hah,, hufh, hufh." Ara terbangun dengan nafas ngos - ngosan dengan keringat yang bercucuran.
" Atur nafas dulu mbak, mimpi buruk lagi ya?" Aji membantu Ara bangun serta mengelap keringat Ara.
" Iya dek."
" Nih diminum dulu air putihnya mbak."
" Makasih dek."
" Mau ke kamar mandi mbak?"
" Nggak dek."
" Apa ada yang sakit?"
" Nggak kok dek."
" Ya udah Aji ke kamar mandi dulu ya mbak."
" Iya."
Aji pergi ke kamar mandi, namun Aji merasa seperti ada yang mengikuti nya dari belakang. Bulu kuduk Aji merinding.
Aji berjalan kembali ke kamar, namun ada sekelebat bayangan hitam di samping nya. Karena merasa takut Aji semakin mempercepat jalanya.
Sesampainya di kamar Ara, Aji melihat Ara.
Ara terlihat sangat kurus, rambut berantakan, disekitar mata Ara menghitam, wajahnya Ara putih pucat, Kaki Ara separuh mulai menghitam.
Aji ketakutan melihat penampilan Ara yang seperti itu.
" Dek, ada apa?" tanya Ara, karena Aji sedari tadi mematung di depan pintu dengan ekspresi ketakutan.
" Dek," Ara memanggilnya lagi, tapi Aji masih tidak mendengarnya.
" Adek!!"
" Eh iya mbak." Aji tersadar, dan melihat Ara dengan intens.
Mbak Ara balik seperti semula. Tadi itu ilusi ku atau apa, kenapa keadaannya mbak Ara sangat menakutkan?
" Ada apa sih dek?"
" Nggak ada apa - apa kok mbak."
" Tapi kok melamun? di panggil - panggil nggak dengar."
" Masak sih? mungkin karena masih ngantuk mbak."
" Ya udah tidur lagi yuk mbak. Sini aku bantuin berbaring."
" Terimakasih dek."
Aji kembali berbaring di samping Ara.
Ara masih terjaga dan tidak bisa tidur kembali. Sejak sering mimpi buruk, Ara tidak bisa tidur dengan nyenyak, Ara selalu ketakutan apa lagi kalau tidur sendiri.
Semakin hari kurasakan tubuhku semakin lemah, kaki ku juga terasa sakit bahkan tidak ada redanya. Apalagi selalu mimpi di kejar makhluk menyeramkan itu, walaupun mimpi tapi terasa nyata, membuatku takut untuk tidur. Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku.
Ara juga merasakan bahwa tubuhnya semakin lemah. Ditambah lagi dengan apa yang bapaknya katakan tadi, Ara masih bingung dengan siapa yang nggak suka dengan dirinya.
Ara pun terjaga hingga pagi. Dan membangunkan ke dua adiknya untuk bersiap ke sekolah.
" Dek bangun, Kia bangun, udah pagi loh, kalian harus sekolah."
" Kia masih ngantuk mbak,"
" Tapi udah pagi ini, bangun terus mandi."
" Kok mbak Ara jam segini udah bangun sih?"
" Kan udah pagi Ya,"
" Ya udah Kia mandi dulu y mbak."
" Iya, dek bangun dek."
" Udah bangun mbak, tapi masih males mandi."
" Nanti kesiangan loh."
" Nggak, kan aku cepat mandinya, mbak Ara nggak tidur ya?"
" Hehehe nggak, nggak bisa tidur."
Pasti gara - gara mimpi buruk jadi mbak Ara takut mau tidur lagi, kasian banget mbak Ara.
Pagi - pagi sekali ibu Lani juga sudah terbangun, mencari bunga dan juga daun beringin untuk Ara mandi, seperti yang bapak Nariman perintahkan semalam.
Setelah mendapatkannya dan menyiapkannya, lalu ibu Lani membantu Ara mandi.
" Ini air bunga untuk Ara mandi buk?"
" Iya, ini saran dari mbah Rijan."
" Kok ada daun nya juga?"
" Iya itu daun beringin."
" Oh, kok jadi kaya kuburan ya buk, Ara disiram pake air kembang, hehehe."
" Hus, kalau ngomong jangan begitu. Semoga saja dengan mandi ini kamu bisa sembuh."
" Iya buk, semoga."
" Mandi bunga biar kamu tambah cantik."
" Memang Ara nggak cantik ya buk?"
" Cantik, cantik banget tapi kok belum bawa mantu buat ibuk?"
" Hahaha apa hubungan nya sih buk? belum saat nya, nanti kalau sudah saatnya Ara pasti bawa pulang."
" Makanya mandi kembang biar makin sumringah."
" Ibuk bisa aja."
Selesai mandi dan berganti pakaian, ibuk mengajak Ara untuk duduk kebun belakang, untuk berjemur.
Ibu Lani menyiapkan sarapan untuk Ara.
" Ara sudah mandi buk?" tanya bapak.
__ADS_1
" Sudah, itu lagi berjemur di kebun belakang pak."
Bapak pun pergi untuk menghampiri Ara.
" Bagaimana keadaanmu Ra?"
" Ara baik - baik saja pak, sudah lebih baik." Jawabnya dengan senyuman manisnya.
Melihat tubuh anaknya yang semakin kurus, membuat hati pak Nariman seperti tersayat.
Baru beberapa hari sakit, kenapa kamu sudah sekurus ini Ra.
" Ara nggak makan banyak ya?"
" Makan banyak kok pak, minum susu terus pak. Ara gemuk ya pak? Ara kan cuma tidur, makan, tidur makan, hehehe."
Melihat putrinya tertawa, pak Nariman juga menyungging senyum di wajahnya.
" Nggak kok, Mau gemuk mau kurus, putri bapak tetap cantik. Ya udah bapak berangkat ke sawah dulu."
" Bapak sudah sarapan?"
" Sudah tadi bareng adik - adik mu. Kamu juga nanti sarapan bareng ibuk ya Ra."
" Iya pak."
" Bapak gendong Ara ke kamar dulu ya?"
" Nggak pak, nanti bapak malah keberatan kan Ara udah gede."
" Nggak Ra, kasian ibuk loh nanti nggak kuat gendong kamu ke kamar."
" Ya udah yuk, yey Ara seneng bisa di gendong lagi sama bapak hahaha."
" Iya bapak Rindu masa kecil kamu dulu, yang selalu minta gendong, waktu berlalu terlalu cepat, putri bapak sudah segede ini sekarang."
" Aku tetap putri kecil bapak kok,"
" Iya, makanya kamu harus cepat sembuh ya, bapak sedih melihat putri cantik bapak ini sakit."
" Iya pak. Ara sayang banget sama bapak."
" Begitu juga bapak, bapak juga sayang banget sama kamu."
Dengan hati - hati pak Nariman meletakkan Ara di tempat tidurnya.
" Makan yang banyak, jangan banyak pikiran ya nak. Bapak ke sawah dulu ya Ra?"
" Iya pak, bapak hati - hati."
" Iya Ra."
Ara mencium tangan bapak, dan bapak mencium kening Ara.
Bagi seorang anak perempuan bapak adalah cinta pertamanya, lelaki yang mempertaruhkan jiwa raganya demi sesuap nasi untuk mengenyangkan perut anaknya.
Lelah pasti iya, tapi ketika melihat senyum anak nya lelah itu menjadi tak seberapa.
***
Bu Lani masuk ke kamar Ara dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Ara.
" Sarapan dulu Ra."
" Em bau nya enak banget, ibuk masak apa?"
" Masak makanan kesukaan mu, agar kamu makanya banyak."
" Ibuk makan bareng Ara ya,"
" Iya,"
" Iya, duh manja banget ini putri ibuk."
" Pengen aja makan di suapin ibuk."
" Kondisi kamu gimana Ra?"
" Udah baikan buk, udah lebih baik dari kemarin. Ibuk tenang saja, jangan banyak pikiran ya?"
" Iya Ra, Ara harus kuat, makan yang banyak, biar cepat sembuh."
" Iya buk."
****
Selama Ara sakit, setiap pulang dari sekolah Aji langsung mencari Ara ke kamar dan menemaninya makan.
Setelah Aji berganti pakaian, dia segera ke dapur, menyiapkan makan untuk dirinya dan juga untuk kakaknya.
Ibu Lani sangat senang saat melihatnya, meskipun Aji anak laki - laki tapi dia begitu luwes mengurus kakaknya.
Sebenarnya Kia juga sama, tapi Kia disibukan dengan tugas sekolah nya, sering pulang sore karena ada pelajaran tambahan.
" Sini ibuk bantu dek."
" Makasih buk. Ibuk sudah makan?"
" Sudah le, tadi makan sama bapak."
" Oh iya kapan bapak mau ketempat nya mbah Weryo buk?"
" Mungkin nanti malam."
" Oh, ya bagus deh buk, lebih cepat lebih baik. Nanti keburu terlambat. Aku belum siap kehilangan mbak Ara."
" Maksud kamu apa dek? kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya ibuk dengan wajah bingung nya.
Duh, pasti bapak nggak cerita semuanya ke ibuk, pantas aja ibuk tenang - tenang saja. Mungkin bapak nggak mau membuat ibu khawatir. Berarti aku salah ngomong ini, aduh, gimana jelasinnya ke ibuk ya?
" Gini buk, tadi disekolah aku tanya temen aku di kampung sebelah, dia satu RT dengan mbah Weryo. Katanya mbah Weryo akan mengunjungi anaknya ke kota S, dan akan di sana beberapa hari. Takutnya nanti bapak ke sana, mbah nya udah pergi." Elak Aji.
Aji memang mencari informasi dari teman - temannya mengenai mbah Weryo ini. Itulah mengapa Aji tau kabar tentang rencana kepergian mbah Weryo dari temannya yang rumahnya tidak jauh dari tempat mbah Weryo tinggal.
" Oh gitu, kamu nakutin - nakutin ibuk saja. Ara pasti sembuh dek, keadaannya sudah membaik sekarang."
Untung saja ibuk nggak nanya - nanya lebih jauh lagi. Aku kan nggak bisa bohong sama ibuk.
" Syukurlah buk kalau gitu. Ya sudah aku bawa ini ke kamar mbak Ara dulu ya buk."
" Mau ibuk bantuin nggak?"
" Nggak buk, bisa sendiri kok."
" Hati - hati bawanya."
" Iya buk."
Semenjak Ara sakit pintu kamarnya tidak pernah di tutup rapat.
Aji merasa merinding saat tepat berada di depan pintu kamar Ara.
Hawa dingin menyeruak dari dalam kamar Ara berserta wangi kembang yang membuat Aji semakin takut.
Aji memberanikan diri membuka sedikit pintu lalu masuk, Ara terlihat tengah tertidur pulas.
Ini kan masih siang, kenapa dikamar mbak Ara dingin banget, dan hawanya nggak enak. Kok jadi horor gini ya kamar nya mbak Ara.
Mbak Ara masih tidur rupanya, pules banget tidurnya kasian kalau dibangunin.
__ADS_1
Tapi pasti mbak Ara belum makan.
Bangunin aja deh.
" Mbak bangun, ayo makan dulu."
" Eh kamu sudah pulang dek?"
" Sudah mbak."
" Kia mana?"
" Mbak Kia mungkin hari ini pulang sore lagi mbak."
" Oh, mbak mau ke kamar mandi dulu dek."
" Oke, yuk aku bantu, pelan - pelan ya mbak bisa kan agak jalan pelan?"
" Bisa dek,"
" Kalau sakit nggak usah dipaksa, nanti aku bopong saja mbak."
" Sama latihan jalan pelan - pelan dek."
" Iya mbak."
Saat Aji menunggu Ara, Aji mendengar suara - suara gaduh di kamar Ara, padahal di kamar itu tidak ada siapapun.
Aji berjalan dengan pelan ingin membuka pintu kamar Ara. Saat Aji ingin membuka pintunya, Ara memanggilnya.
" Dek, adek."
" Iya mbak. Mbak Ara sudah?"
" Sudah dek."
Aji mengantar Ara kembali ke kamarnya. Dengan pelan Aji membantu Ara berbaring.
Tak sengaja mata Aji menatap pojokan kamar Ara.
Mata Aji menangkap ada sosok hitam besar di sana.
Itu, itukan mahkluk yang selalu menempel dengan mbak Ara. Kenapa sekarang di sana?
" Dek, hei?"
" Iya mbak."
" Ngelihatin apa sih? dipojokan ada apa?"
" Nggak ada apa - apa mbak, tadi aku kira tikus, sepertinya bukan."
Mbak Ara nggak bisa melihatnya. Berarti cuma aku yang melihatnya.
" Mbak Ara pakai parfum apa sih, kok kamarnya jadi wangi kembang begini?"
" Masak sih dek? mbak tadi pagi mandi pakai kembang sama apa gitu aku nggak tau, katanya itu dari mbak Rijan. Nggak mungkin kan wanginya sampai sekarang?"
" Ya nggak tau juga sih mbak."
Kenapa mahkluk itu bisa lepas dari mbak Ara? apa mungkin ada hubungan nya dengan mbak Ara mandi kembang arahan dari mbah Rijan. Tapi kata bapak ini hanya sementara.
" Ya udah yuk makan, mbak udah lapar."
" Siap tuan putrinya Aji."
" Hahaha, ternyata kamu bisa manis juga ya dek."
" Ya tergantung sama siapa sih mbak. Hehehe."
" Jangan ke sembarang cewek ya dek?"
" Nggak kok, cuma sama mbak aja."
" Oh iya sebentar lagi ujian ya?"
" Udah ujian mbak, makanya tadi pulangnya nggak siang banget."
" Tapi kok pulangnya siang banget?"
" Oh tadi nongkrong dulu sama temen mbak."
" Biasakan langsung pulang dek, jangan keluyuran."
" Iya mbak, besok nggak akan di ulang lagi."
" Bagus, oh iya mau nerusin kemana dek?"
" Belum tau mbak, kayaknya ke sekolahan mbak Kia saja deh mbak."
" Ya nggak papa, tempat Kia sekolah kayaknya fasilitasnya juga lengkap. Belajar yang benar, biar lulus dengan nilai yang baik dek."
" Iya mbak, aku usahain. Tapi kalau nggak seperti yang mbak harapkan bagaimana?"
" Nggak papa dek, yang penting kan udah berusaha."
Aji menemani Ara hingga malam tiba, seperti biasa Aji dan Kia juga belajar di kamar Ara.
***
" Buk bapak berangkat dulu ya?"
" Iya pak, nggak minta ditemenin Aji?"
" Nggak buk, bapak sendiri aja, Aji juga lagi belajar."
" Ya udah, hati - hati dijalan ya pak."
" Iya buk."
Pak Nariman berangkat dengan penuh harapan. Harapan semoga mbah Weryo bisa menyembuhkan putrinya.
Harapan itu begitu besar. Melihat putrinya tidak bisa berjalan itu membuat hatinya sakit. Andai bisa ditukar, pak Nariman ingin menggantikan posisi putrinya.
Sesampainya di tempat tujuan. Pak Nariman mengetuk pintu.
Beberapa kali ia mengetuknya, pintunya tidak terbuka, bahkan tidak ada yang menyahutnya.
Akhirnya pak Nariman bertanya ke tetangga terdekat rumah mbah Weryo.
" Maaf buk mau tanya, mbah Weryo kemana ya?"
" Oh mbah Weryo pergi ke tempat anaknya pak. Baru beberapa menit yang lalu berangkat."
" Kira - kira berapa lama ya buk?"
" Waduh pak, saya kurang tau kalau soal itu."
" Oh, ya udah buk, terimakasih informasinya."
Raut wajah pak Nariman langsung berubah. Kesedihan dan kekecewaan sangat tergambar jelas di wajahnya.
Harapan yang dia bawa pupus sudah.
Pak Nariman bingung harus bagaimana, sementara putrinya sudah tidak punya banyak waktu lagi.
Maafin bapak Ra, tapi bapak nggak akan menyerah, bapak akan terus berusaha. Bapak akan usahakan semua yang bapak bisa untuk menyembuhkan mu nak. Kamu akan baik - baik saja Ra. Sabar ya nak, bapak akan coba cari cara lain.
Ara yang kuat, Ara harus kuat, bertahan lah sebentar lagi Ra.
__ADS_1