Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Mengobati Ara


__ADS_3

Danang menunaikan ibadah sholat magrib terlebih dahulu, sebelum bersiap untuk mengobati Ara.


Masih mengenakan sarung dan baju koko, Danang meminta pak Nariman menyiapkan alas untuk Ara berbaring di lantai.


" Maaf pak, bisa minta tolong untuk menyiapkan alas, karena saya ingin Ara berbaring dilantai."


" Baik nak, tunggu sebentar bapak siapkan dulu ya."


Pak Nariman dibantu Aji menyiapkan hal yang Danang minta.


Setelah Aji membantu Ara berbaring, Danang meminta semua orang supaya menjauh dari nya dan juga Ara.


" Kamu siap Ra?" tanya Danang.


" Siap mas."


" Ini mungkin sangat sakit, semoga kamu bisa menahannya ya?"


" Ara akan usahakan mas."


Danang duduk bersila di sebelah Ara. Danang mulai memejamkan matanya, danang juga merapal kan sesuatu, yah semacam doa atau mantra, mereka pun tidak mengetahuinya.


" Argh, sakit!" teriak Ara.


" Tolong hentikan ini sakit sekali." Ara berteriak lagi.


Ara pun menjerit kesakitan.


Semua yang menyaksikan itu tidak tega melihatnya. Terutama bu Lani, ingin sekali ia berlari memeluk Ara.


" Tolong, jika kalian tidak tega melihatnya bisa menunggu diluar, ini bukan Ara, melainkan mahkluk yang menempel padanya, makhluk itu merasuki tubuh Ara."


Sesuai perintah Danang, pak Nariman, ibu Lani dan Kia pun keluar dari kamar, dan menunggu diluar, hanya Aji yang masih bertahan di sana.


Firasatnya tentang danang membuatnya tidak bisa membiarkan kakaknya hanya berduaan saja, dia juga harus tetap memastikan bahwa kakaknya baik - baik saja. Dia sebenarnya juga tidak tega, tapi dia menguatkan hatinya, untuk selalu memastikan keadaan Ara.


Ara masih terus berteriak dan menjerit, bahkan sampai mengelijang.


" Saya tidak akan menghentikan ini, jika kamu tidak memberitahu saya, siapa yang menyuruhmu menyakiti gadis itu." Kata Danang.


" Hahaha, jangan harap." Kata makhluk itu yang masih di tubuh Ara.


Kemudian Danang merapal kan sesuatu lagi, hingga membuat Ara menjerit.


" Arghgggg, hentikan! dasar manusia bodoh!"


Cacian demi cacian di ucapkan makhluk itu.


" Aku akan menghentikannya jika kamu mau ikut saya."


" Baiklah."


Ara seperti langsung pingsan. Dan Danang masih duduk bersila sambil memejamkan matanya.


Danang membawa makhluk itu ke dunia lain.


" Sekarang bicaralah, atau aku akan membuatmu kesakitan lagi."


" Pria itu sangat mencintai gadis ini, dia menyuruh tuan ku, agar mengirim ku dan perlahan membunuh gadis ini. Kamu mungkin bisa mengusir saya, tapi yang paling kuat ia lah yang bersemayam di kaki gadis ini, hahahaha, kamu tidak akan bisa mengalahkannya, gadis ini pelan - pelan pasti akan mati, mereka sudah masuk di setiap aliran darahnya, hahaha."


" Pergilah makhluk terkutuk, aku pasti bisa menyembuhkan gadis ini!!"


" Hahaha, kamu nggak akan sanggup wahai manusia."


Makhluk itu pun menghilang dari hadapan danang.


Danang pun kembali ke raganya dan membantu menyadarkan Ara.


" Ara bangun. Ra kamu dengar saya? Ra?" berulang kali danang menyadarkan Ara, namun Ara tidak kunjung membuka mata.


" Biar saya yang mencoba mas." Aji menawarkan diri.


" Apa kamu bisa?" tanya Danang dengan nada yang mengejek.


" Biarkan saya mencoba."


Aji duduk di samping Ara, membelai pelan pipi Ara.


" Mbak Ara, bangun mbak, mbak Ara." Dengan nada yang lembut Aji membangunkan Ara. sama seperti saat Aji membangunkan Ara saat mimpi buruk.


" Emh."


Perlahan Ara mengerjapkan matanya, pelan - pelan Ara membuka mata dan melihat sekeliling.


Anak ini sepertinya punya kemampuan juga. Batin Danang.


" Dek mbak dimana?" tanya Ara yang masih sedikit linglung.


" Mbak dirumah, mbak bilang sama aku dimana yang sakit?" tanya Aji khawatir.


Ara memejamkan mata lagi, terdiam sebentar, mungkin sedang mengingat hal sebelumnya.


" Dek mbak mau minum."


" Ya tunggu, aku ambilkan teh hangat dulu ya mbak."


" Eh jangan! ambilkan sebotol air putih saja." Perintah danang.


Aji mengambilkan sebotol air putih dan memberikannya kepada Danang.


Danang membuka tutupnya dan merapal kan sesuatu lalu meniupnya ke air di dalam botol itu. Danang menyuruh Ara untuk meminumnya.


Sudah tidak lagi mendengar teriakan Ara, ibu Lani, pak Nariman dan Kia pun masuk kembali ke kamar Ara.


" Pak, ini Ara tidak boleh lagi tidur di ranjang, Ara harus tidur di bawah." Perintah Danang.


" Iya nak, biar nanti ibuk yang akan merapikan dan menyiapkan tempatnya." Kata pak Nariman.


" Dan nggak boleh minum teh, kopi atau susu, harus minum air putih terus pak."


" Baik nak. Akan bapak ingat."


" Ya sudah, sebaiknya Ara istirahat dulu, besok pagi mulai latihan berjalan dan akan saya bantu."


" Iya mas." Jawab Ara.


Pak Nariman menemani Danang mengobrol santai di depan.


Sementara ibu Lani Kia dan Aji dikamar Ara sedang menyiapkan tempat tidur Ara yang baru di lantai.


" Buk mas Danang tuh baik ya, ganteng lagi." Kata Kia.


" Iya, ngomongnya sopan, sama orang tua juga lemah lembut, rajin sholat lagi. Benar - benar pria yang sholeh." Bu Lani pun ikut memuji.

__ADS_1


Ara yang mendengar ibu dan Kia memuji danang, hanya diam saja, di dalam hatinya pun juga setuju dengan apa yang dikatakan ibu Lani dan Kia.


Sementara Aji firasatnya tentang Danang malah semakin tidak enak, Aji semakin tidak menyukai danang ntah apa alasannya.


Padahal dimata orang tua dan kakak - kakaknya danang itu seorang pria sholeh yang baik dan punya sopan santun.


Tapi di dalam hati Aji, Aji semakin tidak menyukai danang.


Dari apa yang mata ku lihat, dia memang laki - laki yang baik, sampai detik ini aku belum melihat kesalahannya, tapi kenapa hati ku tidak yakin bahwa mas Danang adalah pria sebaik itu. Sebenarnya siapa mas Danang ini, kenapa aku selalu merasa dia juga orang yang berbahaya.


Selesai membereskan kamar Ara, ibuk ke dapur dengan Kia untuk membuat makan malam.


Sementara Ara dikamar ditemani Aji, selama Aji dirumah dia tidak pernah meninggalkan Ara sendirian.


" Dek bisa nggak minta tolong, tolong panggilkan mas Danang, suruh kesini." Pinta Ara.


" Mau ngapain sih mbak, aku tuh nggak suka satu ruangan sama dia."


" Ini penting dek, ada hal yang aku mau bicarakan sama dia."


" Tapi nggak lama ya? nggak pake lama, harus sebentar."


" Iya dek, kamu itu kenapa to?"


" Ya aku nggak suka aja sama dia mbak, aku juga nggak suka kalau mbak deket - deket sama dia, apa lagi mbak cuma mau berdua sama dia."


" Duh manisnya, cemburu ya, ciee."


" Mbak ini aku serius, aku nggak lagi bercanda."


" Oke, oke. Baiklah, mbak janji cuma sebentar, mbak cuma mau tau, siapa yang membuat mbak kaya gini. Memang kamu juga nggak penasaran dek?" bujuk Ara agar Aji mengizinkan dirinya bertemu dengan mas Danang.


Sangat tergambar jelas, bagaimana nggak sukanya Aji terhadap Danang, Ara pun bisa melihatnya.


Ara sangat tau bagaimana karakter Aji, sekali dia nggak suka, mau di paksa sebagaimana pun pasti tetap nggak suka.


Ara menghormati itu.


" Iya penasaran sih mbak."


" Makanya, mbak mau tanya dulu,"


" Oke, tapi sebentar ya."


" Iya dek."


*****


Aji menghampiri Danang yang sedang ngobrol santai dengan pak Nariman.


" Mas dipanggil mbak Ara." Katanya dengan ketus.


" Ada apa?"


" Nggak tau, tanya sendiri aja ke sana."


" Aku kemar Ara dulu ya pak." Pamit Danang kepada pak Nariman.


" Iya nak."


Danang pun berjalan menuju kamar Ara. Tinggal lah Aji dan pak Nariman di ruang tamu.


" Kok nggak sopan banget sih dek sama mas Danang, bicaranya kok ketus banget." Pak Nariman menegur Aji.


" Bapak malah ingin kamu mencontoh nak Danang. Sholatnya rajin, sama orang tua juga sopan banget."


" Nggak bapak, nggak ibuk, nggak Kia sama saja, memuji dia setinggi langit, sepertinya guna - guna yang mas itu berikan agar kalian menyukainya benar - benar manjur." Ceplos Aji.


" Hus, kamu itu kalau ngomong jangan ngawur dek, emang kamu tau dia pake guna - guna?"


" Ya nggak tau, kan aku cuma asal nebak."


" Itu fitnah namanya dek, nggak baik. Kalau kamu nggak suka, ya jangan ketus begitu bicaranya, kamu harus menghormatinya, dia lebih tua dari kamu." Nasehat pak Nariman.


" Iya pak."


***


Dikamar Ara.


Danang sudah berdiri di depan pintu kamar Ara.


" Aku masuk ya Ra?"


" Silahkan mas, maaf menganggu mas Danang."


" Nggak kok Ra, ada apa? apa ada yang sakit?"


" Nggak kok mas. Ada yang mau Ara tanyakan."


" Pasti mau tanya siapa orang dibalik sakit mu ya?"


" Hehehe, iya mas. Mas sudah tau kan?"


" Tau, tapi mungkin nggak detail."


" Ya mas kasih tau Ara saja, apa yang mas tau."


" Intinya yang mengirim sakit mu ini adalah orang yang mencintaimu. Dari yang aku simpulkan, kemungkinan dia pria yang tergila - gila padamu."


" Ha? siapa mas?"


" Mana aku tahu." Jawab Danang sambil menaik turun kan bahunya.


" Yang mencintai aku?" tanya nya bingung.


Siapa? pria? selama ini aku berhubungan dengan pria hanya dengan mas Frans.


Eh tunggu, kata bapak dukun dari kota J,,


mas Frans di kota J.


Apa mungkin itu dia? apa mungkin dia tega? dan apa alasannya?


" Ra, Ara?"


" Eh iya mas."


" Malah melamun."


" Lagi mikir mas."


" Jangan di pikirkan lagi Ra, kalau memang dia sayang dia nggak akan tega nyakitin kamu."

__ADS_1


" Ara masih mengingat - ingat mas, kira - kira siapa dan Ara pernah berbuat salah apa padanya."


" Sudah lah, jangan banyak pikiran itu bisa menghambat kesembuhan mu."


" Iya mas."


" Ya sudah, kamu istirahat ya."


" Iya mas, terimakasih."


" Iya."


Ibu Lani menyiapkan makan malam, setelah siap lalu memanggil semua nya untuk makan malam, kecuali Ara. Aji juga lebih memilih makan bersama di kamar Ara.


***


Pagi ini Aji dibuat dilema, Aji harus pergi ke sekolah, disisi lain dia berat banget meninggalkan Ara.


Semenjak kedatangan Danang, Aji memang tidak tenang meninggalkan Ara. Dia merasakan Ara akan berada dalam bahaya lagi jika membiarkan Ara bersamanya.


" Mbak aku pamit mau ke sekolah, ingat mbak jangan dekat - dekat dengan mas Danang ya. Harus jaga jarak."


" Iya dek, ya sudah gih berangkat keburu siang."


" Tapi kok rasanya berat ya ninggalin mbak."


" Nggak usah lebay deh, ada Kia sama ibuk sama bapak. Sana berangkat, sekolah yang benar."


" Iya mbak."


Aji mencium tangan Ara lalu berpamitan dengan yang lain dan berangkat.


Setelah Aji keluar dari kamar Ara, Kia lalu masuk ke kamar Ara, dengan wajah yang muram."


" Duh kenapa kok wajah cantiknya itu di tekuk gitu?"


" Mbak, Kia bingung." jawabnya dengan nada manja.


" Kenapa lagi?"


" Kia mau kuliah, tapi,,"


" Tapi kenapa?"


" Kia bingung harus, ngekos atau pulang pergi. Kalau kos, berarti aku jauh dari kalian."


" Tapi kalau mau pulang pergi dari rumah jauh dek, kasian badan mu juga, belum lagi sudah capek, masih harus berkendara jarak jauh. Mbak takut kamu kenapa - kenapa dijalan."


" Tapi aku nggak bisa jauh dari kalian mbak, hiks." Tangis Kia pecah.


Selama ini Kia memang tidak pernah berpisah dari keluarganya.


Apa lagi Kia anak yang manja, dan kalau memilih tinggal di kos an dia harus mandiri, pisah jauh dari orang tua.


Ara tau apa yang membuat adiknya itu bimbang. Ara pun demikian, sebenarnya ia juga tidak rela kalau Kia jauh dari dirinya, dan lepas pengawasan dari kedua orang tuanya. Tapi disisi lain, dia ingin adiknya menggapai mimpinya.


" Coba nanti kamu bicarakan sama ibuk bapak Ya gimana baiknya."


" Iya deh mbak nanti aku bicarakan sama ibuk bapak."


Pembicaraan keduanya terhenti saat mas Danang datang.


" Maaf ganggu ya cantik. Aku mau mengajak Ara belajar berjalan."


" Oh silahkan mas," Kia mempersilahkan.


" Tapi Ara belum mandi mas," protes Ara.


" Nggak papa Ra, yuk aku bantu pelan - pelan."


" Iya mas, maaf jadi merepotkan."


" Ini juga merupakan tugas ku Ra, jangan sungkan."


Kia izin kebelakang untuk mencari ibunya serta membahas hal yang tadi membuatnya kebingungan.


Sementara Ara dipapah Danang, dengan telaten dan sabar Danang membantu Ara berjalan di halaman belakang. Halaman belakang rumah Ara memang cukup lebar.


" Kalau sakit nggak usah di paksa Ra, semampu mu saja ya."


" Iya mas, sudah nggak terlalu sakit kok. Sudah agak mendingan."


" Ya syukurlah kalau memang sudah ada kemajuan, semoga lekas sembuh ya Ra."


" Iya mas semoga."


Tapi aku berharap sebaliknya Ra. Aku ingin lebih lama dekat dengan mu. Paras mu yang memikat, sikap manja mu yang membuatmu terlihat semakin manis. Kebaikanmu membuatmu terlihat begitu indah. Aku telah jatuh cinta padamu Ra.


Bisa menyentuhmu, dan melihatmu sedekat ini, aku ingin begini lebih lama lagi. Batin Danang.


Yah rupanya Danang sudah jatuh hati dengan Ara. Namun Ara tidak menyadarinya.


Ara menganggap Danang hanya seperti kakaknya saja.


" Sudah cukup, istirahat dulu Ra, dilanjut besok lagi."


" Sejauh ini sudah bagus, kamu benar - benar semangat latihannya. Pengen banget sembuh ya?"


" Iya mas, capek berminggu-minggu hanya duduk dan tidur hehehe."


" Sebentar lagi pasti sembuh."


" Iya. Mas bisa tolong panggilkan ibuk."


" Emang mau perlu apa sama ibuk?"


" Ara keringetan mau mandi."


" Yuk aku papah sampai kamar mandi, terus nanti aku panggilkan ibuk."


" Maaf ya mas merepotkan."


" Nggak kok Ra."


Aku malah senang Ra, bisa sedekat ini dengan mu, aku ingin lebih lama lagi seperti ini.


Bu Lani membantu Ara mandi dan menyiapkan baju gantinya.


Mandi membuat Ara lebih segar, apa lagi kini badannya sudah membaik. Kakinya juga sudah tidak sesakit dulu lagi, sudah bisa berdiri walaupun cuma sebentar.


Ara tengah menyisir rambutnya, sambil melamun. Ara masih sangat penasaran dengan apa yang di katakan Danang semalam.


Siapa dia? apa mungkin mas Frans? kalau memang iya, apa alasannya. Aku disini menunggunya untuk melamar ku, tapi kenapa dia tidak datang, dan malah kiriman penyakitnya yang datang.

__ADS_1


__ADS_2