
" El kita pulang dulu, kamu disini dulu ya, tolong ajarin tuh si Linda." Kata Rio kepada adiknya.
" Iya mas."
" Kita pulang dulu ya Lin," pamit istrinya Rio.
" Iya, pak bos, bu bos hati - hati dijalan."
" Iya, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Kini tinggal Linda dan laki - laki itu di dalam ruangan, Linda teramat sangat canggung, karena ini baru pertemuan pertamanya.
" Mau minum apa pak, saya buatkan."
Linda mengawali percakapan.
" Kamu sini dulu, suruh orang lain saja yang membuatkan kopi."
" Baik pak."
Linda sangat gugup serta takut.
" Kamu biasa aja dong jangan takut, anggap saja aku mas Rio."
" Ya mana bisa pak, kan beda, orangnya juga beda."
" Ya harus bisa, sini aku kasih tau apa yang harus kamu kerjakan."
Laki - laki itu memberi tahu Linda mana saja yang harus Linda urus dan Linda kerjakan, serta Linda juga di ajari bagaimana harus membuat laporan.
Tidak terasa hari sudah malam.
" Sudah selesai kan pak?"
" Sudah, kenapa memangnya? mau buru - buru pergi ya?"
" Anu pak, kan tadinya saya hari ini libur, malam ini aku mau ajak temen saya nongkrong di sini menikmati live musik pak. Saya sudah janji."
" Oh ya udah kalau begitu."
" Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu pak, dan terimakasih."
Live musik ya? boleh deh menikmatinya sebentar baru nanti pulang, toh masih jam segini juga. Batin laki - laki itu.
***
Di kosan Linda.
Ara sudah siap - siap dan menunggu kedatangan Linda.
Tring, ting, ting.
Ponsel Ara berdering.
" Assalamualaikum mbak."
" Waalaikumsalam Ra, Ra maaf ya aku nggak bisa jemput, kamu bisa bisa naik ojek online kan?"
" Bisa mbak, ya udah Ara pesan dulu ya."
" Iya hati - hati dijalan Ra."
" Iya mbak."
Linda menunggu Ara di pinggir jalan di depan Cafe. Ia khawatir karena nggak bisa menjemput Ara, dia takut Ara nyasar, atau kenapa - napa dijalan.
" Akhirnya kamu sampai juga, aku takut kamu nyasar Ra. Eh kok jalan mu pincang kaki mu masih sakit ya Ra?"
" Ya nggak mungkin lah mbak Ara nyasar, iya kaki Ara masih sakit tapi udah mendingan kok."
" Maaf ya aku nggak bisa jemput."
" Gak papa mbak, Ara tau kok pasti mbak lagi sibuk."
" Ya udah yuk masuk, kita makan dulu ya, kamu pasti belum makan, yuk aku gandeng Ra hati - hati jalan nya."
" Ya mbak, Ara belum makan lah mbak, kan tadi di kosan mbak nggak ada bahan makanan, tadi sebenarnya Ara mau masak."
" Hehehe ya maklum lah Ra, kan mbak jarang masak, mbak sering makan disini."
Mereka pun menyantap makanannya, serta menikmati live musik yang tengah berlangsung.
Mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mencurigakan sedang memperhatikan mereka di kursi paling pojok. Karena pengunjungnya ramai, jadi tidak ada yang curiga. Mereka berdua pun tidak menyadarinya.
" Mbak boleh nggak Ara nyanyi di sana?"
" Boleh banget Ra. Sebentar ya aku bilang dulu sama panitianya."
" Oke mbak."
Saat mendengar musik, Ara jadi rindu bernyanyi, sudah lama sekali Ara tidak bernyanyi. Karena saat bernyanyi itu mengingatkannya dengan Frans. Tapi malam ini ia ingin bernyanyi melepas rindunya untuk Frans. Meskipun itu pasti sakit tapi Ara harus melakukanya.
Dengan dress dibawah lutut berwarna peach, rambutnya yang digerai, ia begitu anggun berjalan kearah panggung, meskipun kakinya agak pincang.
Ara memilih menyayikan lagu dari papinka, Masih Mencintainya.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Jika teringat tentang dirimu
Berlinang air mataku
Ku rindu saat-saat bersamamu
Kasih sayangmu padaku
Namun kini kau bukan milikku
Dan berakhir sudah cintaku
Biarkan saja hatiku bicara
Ku masih sayang padamu
Aku selalu mendoakan mu
Agar kau bahagia
Bersama dirinya
Selamanya
Mengapa mudahnya hatimu mendua
Ku lapangkan dada walau aku terluka
__ADS_1
Semoga bahagia bersama dirinya
Karena kau telah memilih dia
Betapa sakitnya apa yang ku rasa
Tuhan kuatkan lah hatiku yang terluka
Semoga ku bisa tuk melupakannya
Karena ku masih mencintainya
Namun kini kau bukan milikku
Dan berakhir sudah cintaku
Biarkan saja hatiku bicara
Ku masih sayang padamu
Aku selalu mendoakan mu
Agar kau bahagia
Bersama dirinya
Selamanya
Mengapa mudahnya hatimu mendua
Ku lapangkan dada walau aku terluka
Semoga bahagia bersama dirinya
Karena kau telah memilih dia
Betapa sakitnya apa yang kurasa
Tuhan kuatkan lah hatiku yang terluka
Semoga ku bisa tuk melupakannya
Karena ku masih mencintainya.
Prok prok prok prok.
Tepuk tangan dari penonton menandakan telah berakhirnya lagu yang Ara bawakan.
Malam ini penampilan Ara begitu cantik, serta suaranya yang indah, membuat semua orang yang ada disitu terpukau, tidak terkecuali pria tampan di kursi paling belakang, dan pria misterius yang sejak tadi mengawasinya.
Apa lagu ini adalah isi hatimu Ra? apa kamu masih mencintaiku? maafkan aku yang sudah menyakitimu Ra, apakah kita masih bisa bersama lagi seperti dulu Ra? aku harus bisa bertemu dengan mu bagaimana caranya Ra. Batin laki - laki misterius itu.
Yah laki - laki itu adalah Frans, Frans yakin kalau Linda tau dimana Ara makanya dia memantau gerak gerik Linda, bukan hanya Linda tau dimana Ara, tapi ternyata Linda bersama dengan Ara. Frans sangat senang karena rupanya tidak sulit untuk mencari Ara. Dia tinggal menunggu waktu yang pas untuk bertemu dengan Ara.
Ternyata perempuan yang bersama Linda cantik, suaranya juga bagus. Namun sepertinya dia terkena ilmu sihir yang membuat kakinya pincang, dan ada yang mengirim pelet juga, kasian juga cewek ini. Dan sepertinya laki - laki di ujung sana juga sedang memperhatikan mereka. Seperti apa perempuan ini kenapa banyak sekali hal jahat yang mengelilinginya. Aku jadi penasaran.
Rupanya Rafael menyadarinya, memang dari tadi Rafael juga memperhatikan Linda, karena sifatnya yang mudah heboh, lalu ada gadis cantik yang bersamanya itu menarik perhatiannya.
" Astaga, astaga Ara, ya ampun ternyata suaramu bagus banget."
" Nggak usah heboh deh mbak, suara Ara biasa saja kok."
" Gila!! tadi penampilan kamu keren banget, pasti kalau kamu nyanyi disini tiap malem, di jamin pasti cafenya makin rame."
" Nggak mau lah mbak, tadi Ara cuma pengen nyari pelampiasan aja biar lega."
" Ehm," Pria tampan itu mendekati kursi yang Ara dan Linda duduki.
" Oh iya kenalin pak ini Ara, sahabatku dan juga yang akan kerja dirumah bapak."
" Iya saya Ara pak."
" Rafael. Boleh saya ikut duduk disini."
Saat Rafael menjabat tangan Ara, Rafael merasakan ada sesuatu yang salah dengan Ara. Rafael memang juga peka seperti Aji.
Sepertinya dugaan ku memang benar ada yang menyantet dirinya dan ada yang mengguna - guna dia. Apa aku harus menolongnya? kalau dia memang benar akan berkerja menjaga bunda itu berarti aku harus menolongnya. Yah lihat nanti lah gimana. Batin Rafael.
" Silahkan pak," jawab Linda.
" Terimakasih."
*****
Rafael Raindi Narendra berusia 28 tahun. Tubuhnya tinggi, badannya atletis dan parasnya yang rupawan sungguh sedap dipandang mata.
Rafael anak dari ibu Raina dan bapak Narendra.
Rafael juga adik dari Mario Raindi Nahendra yaitu pak Rio bosnya Linda. Keluarga Narendra adalah pengusaha ternama.
Namun beberapa tahun yang lalu pak Narendra meninggal dunia karena penyakit jantung yang dideritanya. Bisnis, usahanya di kelola oleh ke dua anak laki - lakinya.
***
" Lin bisa tolong ambilkan saya minum."
Perintah Rafael.
" Iya pak." Jawab Linda. Linda faham mungkin Rafael ingin bicara berdua dengan Ara. Linda pun pergi meninggalkan mereka berdua.
" Ehm, apa benar kamu yang akan bekerja dirumah ku?"
" Eh maksudnya apa ya pak?" tanya Ara bingung, Ara belum tau kalau Rafael adalah adiknya Rio.
" Linda belum cerita ya? saya adiknya mas Rio."
" Oh ya? duh maaf ya pak Ara nggak tau."
" Iya nggak papa. Maaf sebelumnya kalau saya lancang ,sepertinya kamu di guna - guna seseorang, apa kah aku benar?"
" Iya pak, tapi kok bapak tau?"
" Tau, saya bisa membantumu kalau kamu mau."
" Asalkan itu tidak merepotkan bapak, dan bayarannya nggak mahal saya mau pak."
" Saya nggak meminta bayaran, cukup kamu jaga bunda dengan benar, saya nggak mau orang yang menjaga bunda malah sakit - sakitan."
Bapak ini mulutnya kalo ngomong lebih pedes dari cabai, siapa yang penyakitan coba.
" Saya akan usahakan semampu saya untuk memberikan yang terbaik dalam menjaga ibu bapak."
" Bagus, saya akan berusaha membantumu, untuk bebas dari jerat itu."
Dari kejauhan Linda mengawasi Rafael yang mengobrol dengan Linda, Linda takut Rafael akan melakukan yang tidak - tidak kepada Ara, pertemuan nya tadi dengan Frans membuat nya menjadi lebih over protektif kepada Ara. Dia tidak mau sahabat serta orang yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu disakiti lagi oleh orang lain.
Dipojok ruangan, Linda akhirnya melihat orang misterius itu, meskipun memakai topi dan masker, Linda sudah hafal betul dengan postur tubuh Frans.
__ADS_1
" Duh gawat, jangan sampai Frans menemui Ara. Gimana ya?" Linda sangat khawatir.
Dengan cepat Linda membawa Ara masuk keruangan bosnya. Dan Linda juga spontan menarik tangan Rafael untuk ikut pergi bersamanya.
" Ada apa mbak? kenapa mbak Linda seperti ketakutan dan untuk apa membawa Ara kesini?"
" Nurut sama aku ya Ra, kamu disini dulu sebentar, aku mau bicara penting dengan pak Rafael."
" Iya mbak," Ara tidak mau menyusahkan Linda dengan banyak bertanya, lebih baik dia menurut dengan apa kata Linda.
Linda menarik tangan Rafael untuk mengikutinya keluar dari ruangan. Melihat muka Rafael, Linda tau pasti dia akan marah, karena Linda dengan seenaknya menarik tangan Rafael.
" Et tunggu pak, jangan marah dulu. Saya minta maaf sebelumnya karena sudah tidak sopan dengan bapak dengan lancang memegang tangan bapak. Tapi tadi bahaya pak."
" Ada apa memangnya?"
" Ada orang gila pak, pak maaf saya harus minta tolong sama bapak, tolong bawa Ara pulang bersama bapak ya hari ini."
" Loh kenapa? kamu ini semakin ngelunjak saja."
" Kali ini saja pak, saya mohon, tolong lah pak."
Sepertinya ada yang tidak beres. Batin Rafael.
" Oke, tapi kamu harus menceritakan dulu ada apa dan apa alasannya."
" Duh pak ceritanya panjang."
" Ya sudah kalau begitu saya tidak bisa menolong mu."
" Baik lah pak saya ceritakan tapi ini versinya singkatnya, kalau diceritakan lama."
" Ya terserah kamu."
Linda pun menceritakan semuanya kepada kepada Rafael.
" Jadi tolong ya pak, jaga Ara, jangan sampai dia bertemu dengan laki - laki itu."
" Apa laki - laki yang kamu maksud yang pakai topi dan masker di pojokan tadi?"
" Iya pak. Kok bapak tau?"
" Saya memperhatikan dia dari tadi, dan sepertinya memang dia sedang mengawasi kalian tadi."
" Kenapa bapak nggak bilang sih?"
" Apa dia yang tadi bertengkar dengan mu?"
" Iya pak."
" Apa dia juga yang sudah menyantet Ara?."
" Kok bapak tau?" Linda terkejut ternyata Rafael tau tentang santet Ara, padahal Linda tidak menceritakannya.
" Tau, dia juga di sedang di pelet seseorang."
" Ah yang benar saja pak? ya ampun malang sekali nasib sahabat ku, jadi orang cantik ternyata mengerikan ya."
" Mungkin juga, dia punya musuh."
" Nggak lah pak, Ara bukan orang yang suka cari musuh, dia anaknya kelewat baik. Kalau mungkin ada yang tidak suka itu baru mungkin iya."
" Ya siapa tau kan."
" Bapak belum mengenal Ara, nanti kalau bapak sudah mengenalnya akan tau, percuma juga saya jelasin. Oh iya jangan kasih tau Ara kalau tadi saya bertengkar dan bertemu dengan mantannya ya pak, nanti biar saya saja yang cerita kalau waktunya sudah pas."
" Iya, duh kamu ini merepotkan sekali, baru juga bertemu."
" Ya maaf pak, habis saya mau minta tolong ke siapa lagi, lagian Ara kan juga pegawai bapak."
" Baiklah karena dia pegawai ku juga, aku akan menolongnya."
" Makasih ya pak, oh iya pak soal pelet tadi dan santetnya yang masih ada, bisakah bapak membantu saya mencarikan orang yang bisa mengobatinya, tenang saja nanti saya yang akan bayar, bapak tinggal mencari orangnya saja, tolong saya ya pak, tolong saya sekali lagi, saya tidak mau Ara kenapa - napa pak, dia itu sudah seperti adik saya."
" Hem, kamu ini memang merepotkan."
" Tolong ya pak, pliss."
" Iya nanti saya pertimbangkan dulu." Jawab Rafael, dia ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Linda, yang menurutnya sangat cerewet, Rafael dibuat pusing olehnya.
" Terimakasih pak, kabarin saya nanti ya pak."
" Hem."
Kemudian Linda masuk kembali menemui Ara.
" Ra maaf ya kerjaan mbak banyak, karena sekarang semua urusan cafe diserahin ke aku, jadi sekarang kamu harus ikut pulang sama pak El ya."
" Ya mbak nggak papa, maaf ya Ara jadi merepotkan."
" Nggak kok, aku yang harusnya minta maaf padahal aku udah janji mau menghabiskan waktu berdua. Tapi ternyata aku malah sibuk."
" Nggak papa mbak, Ara ngerti kok. Mbak Linda jangan capek - capek ya. Makan yang banyak."
" Iya cantik, nanti kalau nggak sibuk aku bakal samperin kamu ke sana."
" Iya mbak,"
" Ya udah yuk aku antar sampai parkiran, pak El sudah menunggu di sana."
Linda mengandeng Ara membantunya berjalan supaya Ara tidak terjatuh.
" Pak titip sahabat saya ya, jagain."
" Iya bawel."
" Apaan sih mbak, ya udah Ara berangkat, terimakasih untuk waktunya ya mbak, mbak jaga diri ya."
" Ya cantik kamu juga ya."
" Ya mbak."
Mereka pun berpelukan sebagai salam perpisahan.
Maaf ya Ra, aku harus berbohong, ini semua demi kamu, aku tidak mau kamu disakiti dia lagi Ra, aku ingin kamu bahagia. Kalau waktunya sudah pas, aku pasti akan cerita, tapi tidak sekarang, aku tau sekarang kamu sedang menata kembali hati mu. Dan aku tidak mau menghancurkannya dengan apa yang akan aku ceritakan, karena apa yang akan aku ceritakan itu pasti akan membuatmu terluka.
" Pak kita ke kosan mbak Linda dulu ya?"
" Mau ngapain lagi?"
" Mau ngambil baju sama keperluan yang lain pak."
" Tidak usah, nanti beli lagi saja."
" Tapi pak?"
" Saya bos nya disini."
__ADS_1
" Baik pak," jawab Ara patuh
Dasar orang kaya, nggak tau apa cari duit itu susah. Kan sayang kalau beli lagi, yang kemarin nggak kepakai.