Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Rencana


__ADS_3

" Bukan kah sudah dari dulu ibuk ngerawat kamu Ra, tapi ibuk nggak merasa capek. Bukanya ibuk suka kamu sakit, tapi dengan kamu sakit begini kita jadi bisa ngumpul kan, ibuk seneng banget lihat keluarga kita ngumpul. Ibuk yakin sebentar lagi kamu akan sembuh. Sejak kapak anak ibuk jadi cengeng begini?" Ibu Lani berusaha menghibur Ara.


" Iya buk, Ara pengen cepet sembuh, Ara pengen masak, Ara bosen cuma duduk dan tidur."


" Ibuk tau, sabar ya nak, pasti sebentar lagi kamu sembuh."


" Terimakasih ya buk untuk semuanya."


" Sama - sama sayang. Harus kuat, harus sabar ya? pasti Ara bisa."


" Iya buk."


" Ya udah Ara istirahat ya,"


" Ibuk nggak sibuk kan? temenin Ara tidur siang. Ara pengen dipeluk ibuk."


" Duh anak ibuk kok manja banget, kapan ibuk dapet mantunya kalau masih manja begini."


" Hehehe, sebentar lagi buk."


***


Aji menyusul bapaknya ke sawah untuk menyampaikan hal yang tadi dikatakan oleh Ara.


Di gubuk kecil di pinggir sawah, Aji bersama dengan bapaknya berbincang.


" Ada apa dek, kok sampai nyusul bapak kesini?"


" Maaf ya kalau aku ganggu kerjaan bapak. Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama bapak."


" Tumben, hal penting apa?"


" Ini soal mbak Ara pak."


Mungkin ini saatnya aku menceritakan mimpi dan apa yang aku lihat.


Semoga cerita ku ini lebih meyakinkan agar bapak percaya.


Aji pun menceritakan mimpinya dan apa yang dia lihat kepada pak Nariman.


" Bagaimana menurut bapak?"


" Mungkin cara itu bisa di coba dek. Pokoknya kita harus melakukan apa yang kita bisa untuk mencari kesembuhan mbak mu."


" Iya pak, lalu siapa menurut bapak yang bisa kita mintain tolong?"


" Mungkin ke tempat mbah Rijan dulu di kampung sebelah."


" Yah semoga ini bisa jadi jalan buat kesembuhan mbak Ara ya pak?"


" Bapak juga berharap begitu, nanti malam bapak akan coba tanya ke sana."


" Iya pak. Udah siang nih pak, pulang dulu makan siang yuk pak."


" Iya, ini bapak juga sudah selesai, pasti ibuk mu juga sudah menunggu."


***


Sesampainya dirumah hanya ada Kia yang sedang menyiapkan makanan.


" Loh tumben mbak Kia yang siapin? ibuk mana mbak?" tanya pak Nariman.


" Ibuk lagi dikamar mbak Ara pak."


" Oh,"

__ADS_1


" Ya udah sana bapak mandi dulu, terus makan bareng."


" Iya nduk."


Aji yang mendengar kalau ibuk dikamar Ara langsung menyusulnya.


Ibuk tidur rupanya.


Ternyata ibuk menyadari kedatangan Aji.


" Stt pelan - pelan mbak mu baru saja tidur."


" Iya buk."


" Bapak sudah pulang dek?"


" Sudah buk, mbak Kia juga sudah menyiapkan makanannya."


" Ya udah ayuk makan dulu."


" Ibuk duluan aja, aku capek buk mau nemenin mbak Ara tidur juga, nanti aku makanya kalau mbak Ara sudah bangun aja buk."


" Ya udah kalau begitu, ibuk temenin bapak makan dulu."


***


Selesai makan siang.


" Ara sudah makan buk?" tanya pak Nariman.


" Belum pak, Ara belum bangun."


" Oh iya tadi ibuk dikamar Ara ya?"


" Iya pak, Ara tidurnya minta ditemenin, jadi ibuk ikutan ketiduran."


" Iya pak, tapi ibuk senang. Ibuk jadi merasa nostalgia lagi ke waktu mereka kecil dulu."


" Nanti malem bapak mau ke rumah mbah Rijan buk, mau menanyakan kondisi Ara ke sana, siapa tau mbah Rijan bisa membantu."


" Kok malah ke rumah mbah Mijan sih pak, nggak ke dokter?"


" Ya kita kan nggak tau buk, barang kali ada gangguan dari luar, makanya bapak akan bertanya ke sana. Ke dokter sudah kita coba, tapi tidak membuahkan hasil kan buk, dokter juga tidak tau penyakit apa yang Ara derita."


" Iya ya pak. Ya sudah ibuk ikut keputusan bapak saja gimana baiknya."


" Ya buk, ini juga merupakan salah satu usaha kita, untuk mencari kesembuhan Ara, kita harus mencari alternatif lain."


" Ya pak, semoga ada hasil ya pak."


" Ya semoga buk, bapak juga berharapnya begitu."


***


Dikamar Ara.


Ara terbangun, melihat siapa yang terbaring disisinya membuatnya tersenyum.


Bukan lagi ibu yang berada di sampingnya namun malah Aji.


Duh ganteng banget sih adik ku ini, udah ganteng banget, baik, perhatian lagi.


Pasti beruntung banget nanti yang akan menjadi istrimu dek.


Mbak berharap kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan dan bahagia selalu.

__ADS_1


Kia masuk membawa nampan berisi makan siang untuk Ara.


" Eh mbak Ara sudah bangun? kebangun gara - gara Kia ya mbak?"


" Enggak, emang udah bangun dari tadi kok."


" Ya bagus deh, jadi bisa langsung makan kan? nih udah Kia bawain."


" Aduh makasih ya Ya. Maaf mbak masih harus ngerepotin kamu terus."


" Nggak kok mbak, o ya mbak nggak bangunin tuh si adek."


" Nggak tega, kayaknya pules banget tidurnya, sepertinya dia kecapekan."


" Tapi dia belum makan loh mbak. Katanya tadi makanya nungguin mbak Ara bangun."


" Masak sih? ya udah mbak makanya nungguin dia bangun aja, aku juga belum terlalu lapar kok."


" Hehehe mau makan aja ribet mbak."


" Hehehe iya ya? namanya juga sayang."


" Efek kelamaan jomblo ya mbak, hahaha."


" Tau aja kalau mbak jomblo, emang kamu udah punya pacar?"


" Belum juga sih, hahaha."


" Ya udah kita sehati berarti."


" Sehati apa karena nggak laku ya mbak? hahaha"


Ara pun ikut tertawa karena kekonyolan adiknya itu.


Gelak tawa mereka, mengusik tidur Aji.


" Apaan sih, berisik banget mbak Kia."


" Loh kok cuma aku sih dek? kan mbak Ara juga ketawa."


" Tapi tawa mbak Ara nggak sekeras tawa mbak Kia."


" Huh pilih kasih. Buruan bangun, mbak Ara mau makan nungguin kamu bangun tuh."


" Iya kah mbak?" Aji bertanya kepada Ara.


" he.em."Jawab Ara.


" Kenapa nungguin aku sih mbak, kenapa mbak nggak makan duluan saja, kalau nggak kenapa mbak nggak bangunin aku sih."


" Mbak Ara udah nunggu dari tadi loh, sudah hampir dua jam an, sampai kelaparan, dia nggak tega mau bangunin kamu karena tidurmu pules banget." Kata Kia ingin menjahili adiknya.


" Kenapa mbak nggak makan duluan sih mbak, kan aku jadi nggak enak, mana aku lama lagi tidurnya." Aji merasa bersalah.


" Hehehe, Kia kamu jahil banget emang. Mbak juga baru bangun kok dek, nungguin kamu karena mbak belum lapar juga." Kata Ara.


" Mbak Kia ambilin aku makan dong?" suruh Aji.


" Males banget, ambil aja sendiri."


" Mbak sekali aja loh. Aku malas bangun, aku juga sudah lapar."


" Iya, iya aku ambilin, dasar manja."


" Mbak Kia juga."

__ADS_1


Ara hanya tergelak melihat tingkah adiknya. Yah itu merupakan hiburan tersendiri buat Ara.


Keberadaan ke dua adiknya adalah salah satu anugrah terbesarnya.


__ADS_2