Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Rafael Raindi Narendra


__ADS_3

Rafael Raindi Narendra berusia 28 tahun. Tubuhnya tinggi, badannya atletis dan parasnya yang rupawan sungguh sedap dipandang mata.


Rafael anak dari ibu Raina dan bapak Narendra.


Rafael juga adik dari Mario Raindi Nahendra yaitu pak Rio. Keluarga Narendra adalah pengusaha ternama.


Namun beberapa tahun yang lalu pak Narendra meninggal dunia karena penyakit jantung yang dideritanya. Bisnis, usahanya di kelola oleh ke dua anak laki - lakinya.


***


" Lin bisa tolong ambilkan saya minum."


Perintah Rafael.


" Iya pak." Jawab Linda. Linda faham mungkin Rafael ingin bicara berdua dengan Ara. Linda pun pergi meninggalkan mereka berdua.


" Ehm, apa benar kamu yang akan bekerja dirumah ku?"


" Eh maksudnya apa ya pak?" tanya Ara bingung, Ara belum tau kalau Rafael adalah adiknya Rio.


" Linda belum cerita ya? saya adiknya mas Rio."


" Oh ya? duh maaf ya pak Ara nggak tau."


" Iya nggak papa. Maaf sebelumnya kalau saya lancang ,sepertinya kamu di guna - guna seseorang, apa kah benar?"


" Iya pak, tapi kok bapak tau?"


" Tau, saya bisa membantumu kalau kamu mau."


" Asalkan itu tidak merepotkan bapak, dan bayarannya nggak mahal saya mau pak."


" Saya nggak meminta bayaran, cukup kamu jaga bunda dengan benar, saya nggak mau orang yang menjaga bunda malah sakit - sakitan."


Bapak ini mulutnya kalo ngomong lebih pedes dari cabai, siapa yang penyakitan coba.


" Saya akan usahakan semampu saya untuk memberikan yang terbaik dalam menjaga ibu bapak."


" Bagus, saya akan berusaha membantumu, untuk bebas dari jerat itu."


Dari kejauhan Linda mengawasi Rafael yang mengobrol dengan Linda, Linda takut Rafael akan melakukan yang tidak - tidak kepada Ara, pertemuan nya tadi dengan Frans membuat nya menjadi lebih over protektif kepada Ara. Dia tidak mau sahabat serta orang yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu disakiti lagi oleh orang lain.


Dipojok ruangan Linda akhirnya melihat orang misterius itu, meskipun memakai topi dan masker, Linda sudah hafal betul dengan postur tubuh Frans.


" Duh gawat, jangan sampai Frans menemui Ara. Gimana ya?" Linda sangat khawatir.


Dengan cepat Linda membawa Ara masuk keruangan bosnya. Dan Linda juga spontan menarik tangan Rafael untuk ikut pergi bersamanya.


" Ada apa mbak? kenapa mbak Linda seperti ketakutan dan untuk apa membawa Ara kesini?"


" Nurut sama aku ya Ra, kamu disini dulu sebentar, aku mau bicara penting dengan pak Rafael."


" Iya mbak," Ara tidak mau menyusahkan Linda dengan banyak bertanya, lebih baik dia menurut dengan apa kata Linda.

__ADS_1


Linda menarik tangan Rafael untuk mengikutinya keluar dari ruangan. Melihat muka Rafael, Linda tau pasti dia akan marah, karena Linda dengan seenaknya menarik tangan Rafael.


" Et tunggu pak, jangan marah dulu. Saya minta maaf sebelumnya karena sudah tidak sopan dengan bapak dengan lancang memegang tangan bapak. Tapi tadi bahaya pak."


" Ada apa memangnya?"


" Ada orang gila pak, pak maaf saya harus minta tolong sama bapak, tolong bawa Ara pulang bersama bapak ya hari ini."


" Loh kenapa? kamu ini semakin ngelunjak saja."


" Kali ini saja pak, saya mohon, tolong lah pak."


Sepertinya ada yang tidak beres. Batin Rafael.


" Oke, tapi kamu harus menceritakan dulu ada apa dan apa alasannya."


" Duh pak ceritanya panjang."


" Ya sudah kalau begitu saya tidak bisa menolong mu."


" Baik lah pak saya ceritakan tapi ini versinya singkatnya, kalau diceritakan lama."


" Ya terserah kamu."


Linda pun menceritakan semuanya kepada kepada Rafael.


" Jadi tolong ya pak, jaga Ara, jangan sampai dia bertemu dengan laki - laki itu."


" Apa laki - laki yang kamu maksud yang pakai topi dan masker di pojokan tadi?"


" Saya memperhatikan dia dari tadi, dan sepertinya memang dia sedang mengawasi kalian tadi."


" Kenapa bapak nggak bilang sih?"


" Apa dia yang tadi bertengkar dengan mu?"


" Iya pak."


" Apa dia juga yang sudah menyantet Ara?."


" Kok bapak tau?" Linda terkejut ternyata Rafael tau tentang santet Ara, padahal Linda tidak menceritakannya.


" Tau, dia juga di sedang dipelet seseorang."


" Ah yang benar saja pak? ya ampun malang sekali nasib sahabat ku, jadi orang cantik ternyata mengerikan ya."


" Mungkin juga ada dia punya musuh."


" Nggak lah pak, Ara bukan orang yang suka cari musuh, dia anaknya kelewat baik. Kalau mungkin ada yang tidak suka itu baru mungkin iya."


" Ya siapa tau kan."


" Bapak belum mengenal Ara, nanti kalau bapak sudah mengenalnya akan tau, percuma juga saya jelasin. Oh iya jangan kasih tau Ara kalau tadi saya bertengkar dan bertemu dengan mantannya ya pak, nanti biar saya saja yang cerita kalau waktunya sudah pas."

__ADS_1


" Iya, duh kamu ini merepotkan sekali, baru juga bertemu."


" Ya maaf pak, habis saya mau minta tolong ke siapa lagi, lagian Ara kan juga pegawai bapak."


" Baiklah karena dia pegawai ku juga, aku akan menolongnya."


" Makasih ya pak."


" Hem,"


Kemudian Linda masuk kembali menemui Ara.


" Ra maaf ya kerjaan mbak banyak, karena sekarang semua urusan cafe diserahin ke aku, jadi sekarang kamu harus ikut pulang sama pak El ya."


" Ya mbak nggak papa, maaf ya Ara jadi ngrepotin."


" Nggak kok, aku yang harusnya minta maaf padahal aku udah janji mau menghabiskan waktu berdua. Tapi ternyata aku malah sibuk."


" Nggak papa mbak, Ara ngerti kok. Mbak Linda jangan capek - capek ya. Makan yang banyak."


" Iya cantik, nanti kalau nggak sibuk aku bakal samperin kamu ke sana."


" Iya mbak,"


" Ya udah yuk aku antar sampai parkiran, pak El sudah menunggu di sana."


Linda mengandeng Ara membantunya berjalan supaya Ara tidak terjatuh.


" Pak titip sahabat saya ya, jagain."


" Iya bawel."


" Apaan sih mbak, ya udah Ara berangkat, terimakasih untuk waktunya ya mbak, mbak jaga diri ya."


" Ya cantik kamu juga ya."


" Ya mbak."


Mereka pun berpelukan sebagai salam perpisahan.


Maaf ya Ra, aku harus berbohong, ini semua demi kamu, aku tidak mau kamu disakiti dia lagi Ra, aku ingin kamu bahagia. Kalau waktunya sudah pas, aku pasti akan cerita, tapi tidak sekarang, aku tau sekarang kamu sedang menata kembali hati mu. Dan aku tidak mau menghancurkannya dengan apa yang akan aku ceritakan, karena apa yang akan aku ceritakan itu pasti akan membuatmu terluka.


" Pak kita ke kosan mbak Linda dulu ya?"


" Mau ngapain lagi?"


" Mau ngambil baju sama keperluan yang lain pak."


" Tidak usah, nanti beli lagi saja."


" Tapi pak?"


" Saya bos nya disini."

__ADS_1


" Baik pak," jawab Ara patuh


Dasar orang kaya, nggak tau apa cari duit itu susah. Kan sayang kalau beli lagi, yang kemarin nggak kepakai.


__ADS_2