Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Rujak


__ADS_3

Di tempat lain.


" Ah sial aku gagal menemui Ara!! Lelaki itu ternyata sangat melindungi Ara."


Frans sangat marah dan kesal karena tidak berhasil menemui Ara.


" Sedikit lagi aku pasti bisa bertemu dengannya kalau saja si pria itu tidak datang terlalu cepat. Ra aku rindu dengan mu, secepatnya aku pasti akan menemui mu, kali ini aku harus berhasil, aku pasti bisa bertemu dengan mu, dan membawamu pergi."


Frans belum menyerah, ia masih mengusahakan segala cara agar bisa bertemu dengan Ara.


***


Di rumah Rafael.


Rafael dengan bunda sedang menikmati sarapannya.


" Ehm, ganteng banget sih anak bunda, kemeja sama dasi baru ya El?" goda bunda.


" Iya, tuh bunda sudah tau, pasti mau ngeledek ya?"


" Hehehe, iya nggak lah."


" Ara dimana bun? nggak ikut sarapan bareng?"


" Ara lagi bantuin simbok masak, kan nanti abah sama ustad Agus mau kesini."


" Kok kesini lagi sih bun?"


" Ya mungkin penyembuhan Ara belum tuntas El."


" Aku nggak bisa bantu ya bun, soalnya nanti aku ada meeting."


" Iya nggak papa El."


" Bunda." Panggil Ara.


Ara mendatangi bunda dengan membawa sepiring kecil makanan untuk bunda Raina cicipi.


" Iya sayang. Ada apa?"


" Bunda cicipi ini deh, ada yang kurang nggak?"


" Coba sini. Emmm sudah enak, apa pun yang kamu masak pasti enak."


" Ehm apaan tuh?" tanya Rafael kepo.


Ara langsung menatap ke arah Rafael.


Eh aku nggak salah liat kan? itu kemeja sama dasi yang aku pilihkan beneran di pakai pak El?


Ternyata aku nggak salah pilih, pak El tambah ganteng pakai kemeja itu. Aku kira karena yang milihin aku, dia nggak mau pakai.


" Mau tau aja, apa mau tau banget pak?" goda Ara.


" Berisik, aku mau itu, cepat bungkus sekarang.'' Perintah Rafael.


" Kamu mau bawa bekal El? tumben. Ya udah Ra tolong buatkan bekal buat El ya?"


" Iya bunda tunggu sebentar ya, Ara siapkan dulu."


" Jangan lama - lama." Imbuh Rafael.


" Kamu nanti pulangnya jam berapa El?" tanya bunda Raina.


" Belum tau bun, oh ya bun nanti awasin si Agus itu jangan biarkan dia dekat - dekat dengan Ara."

__ADS_1


" Lah, kenapa begitu?"


" Ya kalau Ara dekat dengan Agus, berarti Ara nggak bisa jadi menantu bunda loh, katanya bunda pengen Ara jadi menantunya bunda?"


" Oh iya juga ya, ya deh nanti bunda awasin."


" Awasin terus ya bun, jangan biarkan mereka ngobrol hanya berdua saja."


Kalau saja nggak ada meeting penting, pasti aku pilih libur ngantor buat awasin tuh Agus agar nggak godain Ara, yah semoga saja deh bunda beneran mau bantu awasin Agus.


" Bunda nih bekal nya sudah siap." Ara memberikan kotak makan segi empat yang terdiri dari tiga susun itu.


" Berikan ke El dong sayang, kan yang mau bawa bekal dia."


" Em nih pak!"


" Ya udah bun, aku berangkat ya, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam nak, hati - hati bawa mobilnya, dan jangan telat makan ya?"


" Iya bunda."


Rafael berjalan keluar meninggalkan bunda Raina dan Ara.


" Huh dasar bos pelit, bilang terimakasih kek atau apa. Langsung pergi gitu aja." Gerutu Ara yang di dengar bunda Raina. Bunda Raina tersenyum mendengar Ara yang menggerutu.


" Ya begitulah anak bunda Ra, tapi sebenarnya dia baik loh."


" Tapi kok beda jauh ya sama bunda sifatnya?"


" Hahaha, bunda sendiri juga heran Ra."


" Bisa gitu ya bun?"


" Hahaha nyatanya bisa kan, hahaha, oh iya Ra apa sudah beres semuanya? ada yang bisa bunda bantu nggak?"


" Iya sayang."


***


Abah Ismail dan ustad Agus pun sudah datang.


Seperti biasa setelah mengobrol ringan, lanjut dengan pengobatan Ara, masih dengan metode ruqyah yang ternyata itu bisa menyembuhkan Ara.


Seperti ruqyah sebelumnya, Ara merasakan sakit yang luar biasa, namun kali ini Ara tidak muntah darah. Selesai di ruqyah Ara merasa badan Ara sangat nyaman, seperti ada sesuatu yang lepas dari tubuh Ara. Sekilas Ara melihat ada bayangan yang lepas dari tubuh Ara, itu membuat Ara bisa bernafas lega, seolah ada tali yang lepas, tali yang selama ini mengikat dada nya.


" Bagaimana keadaan mu sekarang nak?" tanya abah Ismail.


" Sudah lebih baik bah, abah, ustad terimakasih."


" Sama - sama nak Ara, walaupun sudah ada lepas, tapi ingat untuk selalu meruqyah dirimu sendiri ya, dan teruskan minum ketan hitamnya sampai minggu depan."


" Baik bah."


" Karena urusan kami sudah selesai, kami pamit ya buk, terimakasih untuk jamuan nya."


" Saya yang harusnya berterimakasih bah, karena abah bersedia mengobati Ara."


" Itu sudah jadi kewajiban kita untuk saling menolong buk."


" Oh ya Ra, kalau ada waktu main lah ke pesantren ya." Kata ustad Agus kepada Ara.


" Insyaallah ustad, kapan - kapan ya." Jawab Ara.


" Iya ustad Agus, kapan ada waktu saya akan mengajak Ara main ke pesantren." Imbuh bunda Raina.

__ADS_1


" Baik lah buk, kita pamit, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." Jawab Ara dan bunda Raina serentak.


" Apa benar nak kamu sudah baikan?" tanya bunda Raina.


" Sudah bunda, Ara sudah jauh lebih baik."


" Syukurlah kalau begitu."


" Ya udah bunda istirahat gih, Ara mau bantu mbok Yem beres - beres dulu."


" Iya sayang, kamu kalau udah selesai istirahat juga, pasti capek ya sibuk dari pagi. Bunda duluan ya."


" Iya bunda."


Ara membantu mbok Yem beres - beres hingga selesai.


" Terimakasih ya nduk cah ayu, sudah bantu - bantu simbok."


" Lah ini kan juga kerjaan Ara mbok."


" Tapi tugas kamu harusnya cuma menemani buk Raina."


" Ara mah apa aja mau mbok, apa yang bisa Ara kerjain juga pasti Ara kerjain. Oh iya mbok, ada yang jual rujak nggak ya, kayak nya seger nih panas - panas gini makan rujak."


" Ada nduk, di depan gang sebelah rumah ini, nggak jauh dari sini. Kalau mau biar simbok yang belikan ya?"


" Simbok istirahat saja, Ara bisa beli sendiri kok, kan nggak jauh, sambil jalan - jalan juga mbok, biar nggak jenuh."


" Simbok temenin ya nduk?"


" Nggak usah, simbok pasti capek, simbok istirahat saja ya, Ara cuma sebentar kok."


" Ya sudah kalau begitu, hati - hati ya nduk."


" Iya mbok, nanti kalau bunda tanya bilang Ara beli rujak sebentar ya mbok."


" Iya nduk."


***


Diluar rumah Rafael, dari jarak yang agak jauh Frans masih mengintai Rumah Rafael.


Dia belum menyerah agar bisa menemui Ara.


Setiap ada yang keluar dari pintu gerbang Frans selalu berharap bahwa itu Ara.


Dan benar saja, kali ini memang Ara keluar sendiri, bahkan jalan kaki.


" Itu seperti Ara? yah benar itu memang Ara, Akhirnya Ra, aku bisa bertemu dengan mu."


Frans lalu melajukan mobil nya untuk mengejar Ara.


***


Ara keluar rumah, dan melewati pos satpam.


Pak Joko sedang dikamar mandi, jadi pak joko tidak tau bahwa Ara keluar rumah.


Saat pak Joko kembali ke pos, pak joko melihat pintu gerbangnya terbuka sedikit.


Pak joko segera berlari dan menutup pintu gerbangnya, sebelum menutup pintu gerbang nya pak Joko keluar dan mengecek sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


Saat menoleh ke kiri, pak Joko melihat perempuan yang dipaksa naik ke mobil.

__ADS_1


" Loh itu kan mobil yang selalu mengintai rumah ini. Dan perempuan tadi kok dari belakang mirip mbak Ara ya? wah gawat aku harus tanya mbok Yem nih mbak Ara dirumah atau tidak."


Dengan buru - buru pak Joko menutup pintu gerbangnya dan langsung berlari ke rumah besar untuk mencari mbok Yem.


__ADS_2