Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Mbak Linda


__ADS_3

๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Hanya kamu yang bisa


Tanpa terasa kau curi hatiku


Dengan berbeda caramu


Menaklukkan hati kecilku


Berjuta rayuan yang pernah kurasa


Namun tak pernah tersentuh


Tak ada yang mengesankan ku


Tapi semua berbeda


Saat kau ada di sini


Mempesona Kan aku selalu


Hanya kamu yang bisa


Membuat aku jadi tergila-gila


Membuat aku jatuh cinta


Karena tak ada yang lain sepertimu


Berkali ku mencoba


Berpaling dengan makhluk indah lainnya


Namun tak pernah kurasakan bila


Seindah bercinta ku denganmu, oh


Tapi semua berbeda


Saat kau ada di sini


Mempesona Kan aku selalu


Hanya kamu yang bisa


Membuat aku jadi tergila-gila


Membuat aku jatuh cinta


Karena tak ada yang lain sepertimu


Berkali ku mencoba


Berpaling dengan makhluk indah lainnya


Namun tak pernah kurasakan bila


Seindah bercinta ku denganmu


kamu yang bisa


(Membuat aku jatuh cinta)


(Karena) tak ada yang lain sepertimu


Berkali ku mencoba


Berpaling dengan makhluk indah lainnya


Namun tak pernah kurasakan bila


Seindah bercinta ku denganmu


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Lagu dari Tiket mengawali pagi Ara. Membuat dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri adalah rutinitas paginya, sambil bernyanyi dan berjalan ke sana kemari.


Yah Ara memang sering melakukan sesuatu sambil bernyanyi, menurutnya itu membuatnya tambah bersemangat.


Tok tok tok.


Ada yang mengetuk pintu kosan Ara.


" Iya sebentar." Serunya.


Ara pun bergegas membukakan pintu.


" Eh mbak Linda. Masuk dulu yuk mbak?"


" Berangkat bareng yuk Ra?"


" Bentar mbak, Ara belum sarapan. Sarapan dulu yuk bareng Ara, mau nggak mbak? kebetulan juga Ara masak banyak nih."


" Oh ya mau banget dong, dengan senang hati tentunya, kebetulan juga aku belum sarapan Ra hehehe."


" Tapi cuma seadanya loh mbak."


" Yang penting enak, bisa dimakan, dan bikin kenyang Ra."


" Iya mbak, semoga mbak Linda suka dengan rasanya."


" Dari baunya aja udah enak banget Ra."


" Ya udah yuk mbak sini duduk, mari kita sarapan."


Linda merupakan sahabat Ara serta teman kerja Ara, kosan nya pun tepat di samping kosan Ara.


Linda yang lebih dulu bekerja di tempat itu, sebelum Ara, meskipun keduanya terhitung baru bertemu, namun keduanya sudah menjalin persahabatan dan sangat akrab satu sama lain. Ara memang orang nya ramah, baik dan mudah bergaul.


Dimana pun dia berada pasti sangat mudah untuk beradaptasi dan mendapatkan teman.


Linda juga orang nya baik, dia lebih dewasa di banding Ara, dengan sifatnya yang penyayang, membuat Ara nyaman seperti punya kakak perempuan.


Linda juga tidak terganggu dengan sifat manja yang dimiliki Ara, malah terkadang Linda begitu gemas dengan Ara. Selain sebagai sahabat, Linda juga menganggap Ara seperti adik nya.


" Em enak banget masakan mu Ra, sering - sering ajakin aku dong makan bareng gini, nanti gantian lah aku yang belanja bahannya."


" Bisa diatur lah mbak, hehehe. Syukur deh kalau mbak Linda suka masakan Ara."


" Ini beneran enak, aku aja nggak bisa loh masak se enak ini."


" Mbak Linda mah berlebihan mujinya, nanti Ara terbang loh."


" Hahaha kaya balon aja terbang. Eh kenapa kamu nggak buka restoran aja, atau cafe gitu, masakan kamu enak loh, nggak kalah kok sama masakan yang sering aku beli."


" Itu butuh modal yang besar mbak, Ara belum berani merambah ke dunia bisnis, saat ini masih harus kerja dulu, buat bantu ibuk sama nabung. Mungkin kalau kedua adik ku udah lulus semua bisa tuh mulai usaha dan semoga uang tabungan Ara juga udah terkumpul."


" Aku salut banget sama kamu, bisa mengesampingkan semua keinginan kamu, demi keluarga mu. Besok kalau udah siap mau buka usaha kasih tau aku ya Ra, biar kita bisa usaha bareng."


" Iya mbak, tapi mungkin masih lama deh, nunggu adik ku lulus dulu."


" Ya nggak papa, biar tabungan aku juga terkumpul dulu kaya kamu."


" Kita usaha bareng ya mbak, hehehe. Oh iya mbak, Ara mau izin libur besok bisa nggak ya mbak?"


" Wah kayaknya nggak bisa deh ra, soalnya besok banyak barang yang dateng. Mungkin lusa baru bisa."


" Em ya udah deh, nanti aku izin sama bos, semoga lusa bisa di bolehin libur."


" Kamu mau pulang ya Ra?"


" Iya mbak,"


" Kangen keluarga ya?"


" Iya mbak, sama kemarin dikabarin adik ku, kalau ibuk sakit mbak."


" Ibu mu sakit apa Ra?"


" Ara juga nggak tau mbak, ibuk nggak mau di bawa ke dokter, kata adik ku sakit kepala, tapi ya Ara takut mbak, sakit nya ibuk bukan sakit kepala biasa"


" Ya mudah - mudahan hanya masuk angin biasa ya ra, dan cepat sembuh."


" Amin mbak, makasih doanya mbak,"


" Ya udah berangkat yuk,"


" Naik motor mbak kan ya? hehehe"


" Iya lah, kalau kamu nggak mau ya sana jalan kaki."


" Mau banget lah mbak, dapat tumpangan gratis. Hehehe."


" Siapa bilang gratis, kamu harus ajak aku sarapan masakan mu tiap pagi."


" Deal, Hahaha."


Mereka pun berangkat sambil bercanda bersama.


***

__ADS_1


" Ra pulang bareng yuk, atau kamu mau mampir kemana?" Ajak Linda.


" Nggak kayaknya mbak, mau langsung pulang. Ara capek banget nih,"


" Nggak mau main kemana gitu dulu?"


" Nggak mbak, besok malah bangunnya kesiangan hahaha."


" Dasar, tidur tempat aku aja ya Ra biar rame, ntar gantian aku yang tidur tempat kamu."


" Wah seru tuh kayaknya."


" Iya pasti rame."


" Besok ya mbak, aku tidur tempat mbak Linda."


" Oke. Ya udah pulang yuk."


Setelah selesai bekerja, ternyata Ara sudah di jemput sang pujaan hati. Frans sudah dari tadi menunggu nya.


" Ra aku pulang duluan ya, noh kamu sudah ditungguin pacarmu."


" Oke mbak, hati - hati dijalan, sampai ketemu di kosan, hehehe."


Ara sedikit berlari kecil menghampiri Frans, yang sudah menunggunya di pinggir jalan.


" Pelan - pelan aja Ra nggak usah lari. Nanti jatuh"


" Takut kelamaan jalan, kasian mas nunggunya, hehehe."


Seperti biasa biarpun badan lelah, kalau sudah bertemu dengan sang pujaan hati, semangatnya langsung kembali. Senyum ceria adalah ciri khasnya dari Ara.


" Kalau buat kamu nggak papa Ra."


" Tumben panggilnya Ra, nggak Dek?"


" Nggak tau, suka aja panggil kamu Ra."


" Lebih manis ya, hehehe."


" Bisa dibilang begitu."


" Mau masak apa hari ini mas?"


" Nggak usah masak Ra, tadi aku sudah beli ayam bakar, sama bakso kesukaan mu."


" Kok banyak banget sih mas?"


" Anggap aja permintaan maaf karena tadi pagi nggak bisa jemput kamu."


" Apaan sih mas, Ara ngerti kok, Ara juga nggak marah. Tadi pagi Ara nebeng sama mbak Linda. Kan Ara bisa tiap hari bareng mbak Linda, nggak usah di antar kerjanya, Ara nggak mau ngerepotin mas terus, masak iya tiap hari diantar jemput terus."


" Kalau bisa malah mas pengen nya gitu, tiap hari antar jemput kamu, bisa tiap hari ketemu kamu, biar kamu juga nggak di godain cowok lain. Kalau pagi mas nggak bisa antar, pulangnya mas usahakan jemput Ara kalau mas nggak lembur ya,"


" Siapa juga yang mau godain Ara?"


" Tiap kamu keluar dari toko, banyak cowok yang lewat ngeliatin kamu, kamu tuh kaya magnet, daya tariknya luar biasa."


" Sok tau."


" Ya tau lah, kan sebelum kamu keluar mas selalu nunggu disini. Dan di sana selalu ada cowok yang berkerumun, dan kalau kamu keluar langsung deh mereka ngelihatin kamu."


" Ya kan cuma ngelihatin aja mas, ya wajar lah kan yang penting nggak diapa - apain."


" Tapi aku nggak suka, kamu ditatap pria lain."


" Iya mas, iya. Cemburu ya? hehehe"


" Iya lah pasti."


" Ya udah yuk pulang, Ara lapar."


" Hem."


*******


Sesampainya di rumah Frans, seperti biasa Ara langsung membersihkan diri dan menyiapkan makan malam untuk mereka.


Setelah selesai makan malam, sebelum Ara pulang mereka ngobrol santai seperti biasa.


" Mas?"


" Iya Ra."


" Ara mau ngomong."


" Iya ngomong aja Ra, mau ngomong apa?"


" Apa sih Ra? jangan bikin mas penasaran dong."


" Anu, lusa Ara pulang mas, ibuk sakit."


" Loh kok mendadak pulangnya?"


" Ya nggak mendadak juga mas, kan masih lusa."


" Kok kamu nggak ada cerita kalau ibuk sakit?"


" Aku juga baru tau kemarin malam mas, Kia baru nelpon kemarin, ngasih tau kalau ibuk sakit."


" Lama kamu pulang nya Ra?"


" Nggak tau mas, kan Ara nggak tau ibuk sakit apa, ya semoga saja ibuk cuma masuk angin biasa saja."


" Yah semoga saja begitu,"


" Selama Ara pergi mas baik - baik ya, makan yang benar, jangan begadang mas, nggak baik buat kesehatan."


" Ya mas nggak janji, kalau nggak ada kamu sebagian semangat mas hilang Ra."


" Jangan gitu dong mas, jangan buat Ara khawatir."


" Asal kamu perginya jangan lama ya?"


" Iya mas, kalau memang ibuk baik - baik saja, Ara usahain cepat balik kesini nya."


" Tapi mas nggak bisa nganter ya Ra kalau kamu perginya lusa,"


" Nggak papa kok mas, Ara kan bisa naik bus."


" Jangan tinggalin mas lama - lama ya Ra? mas nggak bisa lama - lama jauh dari kamu."


" Ya mas, nanti di usahakan Ara cepat balik ke sini."


" Malam ini Ara nginep sini aja ya?"


" Nggak bisa mas, Ara nggak mau ah."


" Mas janji nggak bakal aneh - aneh. Mau ya Ra?"


" Em gimana ya?"


" Kan lusa kamu pergi, biarkan malam ini aku bersama mu."


" Oke, tapi Ara tidur di ruang tamu ya."


" Yah mas nggak bisa peluk dong."


" Ya udah kalau nggak mau, Ara pulang aja."


" Oke, oke. Tapi sebelum tidur kita ngobrol dulu ya."


" Iya mas. Aku telpon mbak Linda dulu ya mas, mau ngabarin kalau aku nggak pulang ke kosan, soal nya tadi udah janjian mau tidur bareng."


" Silahkan."


Mereka menghabiskan malam dengan ngobrol berdua, hingga Ara ketiduran di depan tv. Frans pun mengendong tubuh mungil Ara memindahkan nya ke kamar tamu.


" Bagaimana mas bisa jauh dari kamu Ra, mas nggak bisa kehilangan kamu, mas sangat menyayangimu. Malam ini maafin mas ya, mas tidur dengan Ara, biarkan mas memeluk Ara."


Frans mencium kening Ara, lalu mengecup pelan bibir Ara, Frans tidak mau menganggu tidur nyenyak Ara.


Frans pun terlelap di samping Ara, sambil memeluk sang pujaan hatinya itu sepanjang malam.


Pagi harinya.


Ara merasa ada sesuatu yang berat menindih tubuh Ara, membuat Ara sulit bergerak dan nggak bisa bangun.


Ehh, berat banget.


Kok susah ya mau bangun, ada sesuatu yang berat yang menimpa aku. Oh iya kan semalam aku nginep tempat mas Frans. Jangan - jangan mas Frans ini.


Benar saja setelah Ara membuka mata, tangan dan kaki Frans sudah menumpang atas tubuh Ara.


Ini aku dikira guling kali ya.


Ara memeriksa pakaian nya, pakaiannya masih utuh, dan juga tidak ada yang sakit di tubuhnya.


S**epertinya mas Frans nggak macem - macem semalem.


Kali ini Ara nggak marah walaupun mas udah bohongin Ara. Mengingat besok Ara akan pulang. Bangun dulu ah, bikin sarapan.

__ADS_1


Pelan - pelan Ara beranjak dari tempat tidur agar tidak membangunkan Frans.


Ara bergegas menuju dapur membuat sarapan agar tidak kesiangan. Mengingat Frans juga akan ke kantor.


Seperti biasa sudah jadi kebiasaan Ara bernyanyi sambil memasak.


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Jangan Rubah Takdirku'ย -Andmesh Kamalengย .


Di Setiap doaku


Di setiap air mataku


Selalu ada kamu


Di Setiap kataku


ku sampaikan cinta ini


Cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hati nya.


Bersama sampai akhir


Di Setiap kataku


Ku sampaikan cinta ini


Oh cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hati nya.


Bersama sampai akhir


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hati nya.


Bersama sampai akhir


๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ๐ŸŽผ


Frans yang sedari tadi memperhatikan Ara. Frans sengaja tidak nyamperin Ara karena ingin menikmati lagu yang Ara nyanyikan. Serta menikmati pemandangan yang memanjakan mata yang ada di depannya.


Pagi - pagi udah dimasakin wanita cantik, sungguh pemandangan yang indah, serasa sudah punya istri. Kenapa Ara tambah cantik ya kalo lagi masak, apa lagi rambutnya yang di cepol membuat leher indah nya terpampang, benar - benar sungguh menggoda.


Bagaimanapun caranya, kamu harus jadi milik ku Ra.


Grep!


Frans memeluk Ara dari belakang, sambil mencium i tengkuk Ara.


" Ih mas geli tau, sana gih mandi dulu terus sarapan. Nanti kesiangan loh."


" Bentar lagi Ra, masih pengen kaya gini."


" Ya jangan cium - cium gitu geli ah, Ara juga bau mas belum mandi."


" Nggak papa, aku suka kok bau badannya Ara. Coba nyanyi lagi, lagu nya bagus, suaranya juga, yang nyanyi cantik lagi."


" Ogah, udah Ah Ara mau mandi terus sarapan."


" Yah Ra mas kan masih pengen berduaan, kan besok kamu udah pulang."


" Udah siang mas, nanti malah telat kerjanya."


" Bentar lagi sayang bentar aja, lima menit aja eh nggak sepuluh menit lagi ya, hanya sepuluh menit."


" Itu lama mas, nanti telat. Kan belum sarapan juga."


" Sebentar lagi kan kamu pergi, juga nggak tau mau berapa lama di sana. Cuma sepuluh menit aja sebelum kamu pergi."


" Iya mas, gimana kalau hari ini libur saja."


" Nggak bisa Ra, mas nanti ada rapat penting. Di kantor lagi sibuk - sibuknya makanya mas nggak bisa antar kamu."


" Oh gitu, tapi Ara capek kalau kalau berdiri begini 10 menit lagi. Em gendong ke ruang tv Ara mau di pangku."


" Siap sayang mau di gendong depan apa belakang?"


" Kaya semalem mas gendong Ara aja."


" Emang tau kalau semalem di gendong?"


" Tau dong, masak iya orang tidur jalan sendiri ke kamar hehehe. Ya udah gendong keburu 10 menitnya habis."


" Siap calon istriku."


Frans pun membopong Ara dari dapur sampai ruang tamu. Dengan postur tubuh Frans, membopong tubuh mungil Ara bukan lah hal yang berat.


Sesampainya di ruang tamu, Ara pun duduk dipangkuan Frans dan bersandar di dada bidangnya dengan begitu manja. Frans pun merangkul Ara dengan begitu Erat.


" Posisi ini membuat mas nggak bisa nahan Ra."


" Nahan apa?"


" Pengen nidurin kamu saat ini juga."


" Ara nggak ngerti, Ara masih polos."


" Hahaha, makanya mas ajarin yuk."


" Ogah, belum waktunya, nikah dulu baru benar."


" Hahaha katanya polos tapi langsung faham arah mas kemana."


" Ya Ara nggak bodoh kali mas, walaupun polos tapi ya tau dikit kalau soal hal itu."


" Iya gadis mungil ku yang cantik."


" Ara masih betah begini, tapi waktu 10 menitnya udah habis."


" Kenapa waktu berjalan cepat bangat ya kalau lagi sama kamu. Ya udah mas mau cium dulu."


" Cium?"


" Iya?"


" Nggak mau, Ara malu."


" Kening aja sama pipi sayang. Ya?"


" Iya deh."


Cup, cup , cup.


Frans mencium kening dan kedua pipi Ara.


Cup!


Ara mengecup singkat bibir Frans, sebelum berlari ke belakang.


" Ih curang, Ara balik sini!! Ra, Ara!"


" Hahaha Ara mau mandi mas."


" Dasar ya, malah godain mas, balik sini kalau berani."


" Hahahaha."


Mereka pun bergegas mandi, sebelum menikmati sarapan yang sudah di siapkan Ara.

__ADS_1


__ADS_2