Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Kekhawatiran


__ADS_3

Plak!! Linda menampar Frans dengan sekuat tenaga.


" Stop! jangan tampar lagi calon suami saya!" teriak wanita itu.


" Diam dasar perempuan ******!! dan pakai baju mu aku jijik melihat mu yang tanpa busana itu, cepat pakai baju mu sebelum kamu di perkosa lelaki di samping ku ini."


Melihat kemarahan Linda wanita itu ketakutan, ia memungut bajunya yang tercecer di lantai, dan langsung bergegas pergi.


" Kenapa jadi saya?" protes Tomy.


" Diam! pegang laki - laki gila ini yang erat, dan jangan sampai lepas, aku mau melampiaskan kemarahan ku."


Wanita ini kalau lagi marah, sangat mengerikan. Batin Tomy.


Linda menampar Frans berkali - kali dan menendang perut Frans. Frans meringis kesakitan.


" Aku sudah pernah bilang padamu bukan untuk tidak menganggu Ara! apa kamu tidak paham bahasa saya pak Frans? atas dasar apa kamu berani melukai Ara hah!! katanya kamu sayang, kamu cinta? apa begini cara mu mencintainya? belum puas kah kamu membuatnya menderita pak? perasaan mu itu dimana?"


" Kalau dari awal dia mau menurut, ini semua nggak akan terjadi, Ara itu hanya milik ku, hanya aku yang boleh memilikinya!"


" Jangan mimpi! sampai mati pun aku tidak akan membiarkan kamu bersamanya!"


" Kalau aku tidak bisa memilikinya, maka yang lain juga tidak!"


Plak! Linda menamparnya lagi.


" Ingat ya pak!! pria gila sepertimu tidak pantas memiliki Ara! mulai detik ini aku tidak akan pernah mengizinkan anda menyentuhnya walau pun itu hanya sehelai rambutnya. Dia terlalu baik, meskipun anda telah membuatnya menderita tapi dia tetap memaafkan anda. Tapi anda masih tega untuk menyakitinya! saya benar - benar bingung dengan jalan pikiran anda, mungkin benar anda memang sudah gila!"


Linda meluapkan segala kekesalannya kepada Frans.


***


Di mobil Ara duduk di pangkuan Rafael, Rafael memeluk Ara dengan erat badan Ara masih gemetar ketakutan, Ara masih terus menangis, sejak masuk ke dalam mobil Ara tidak bicara sama sekali, Ara hanya menangis dan terus menangis.


Melihat Ara yang seperti ini, perasaan Rafael menjadi tidak nyaman, ada rasa sakit juga yang ia rasakan, ia menyesal karena tidak bisa menjaga Ara dengan baik.


Melihat kondisimu yang seperti ini, membuat ku juga merasa sakit rasanya. Ingin rasanya aku mematahkan ke dua tangan pria itu, karena sudah membuatmu seperti ini. Maaf kan aku yang tidak bisa menjaga mu. Apa yang sudah dia lakukan sama kamu Ra, hingga kamu menjadi seperti ini?


" Maafkan aku yang terlambat menolong mu, tenang lah kamu sudah aman sekarang. Dia tidak akan menyakiti mu lagi."


Berada dalam pelukan Rafael Ara merasa aman, pelukannya begitu nyaman.


" Pak Ara takut, sakit, Ara capek." Kata Ara lirih.


" Sudah ada aku disini, dia tidak akan datang lagi, tidur lah, semua akan baik - baik saja, kamu aman bersama ku."


Ara tertidur dalam pelukan Rafael.


" Pak cari rumah sakit yang bagus, dan tolong lebih cepat lagi."


" Baik tuan."


Rafael lalu mengabari bunda Raina.


" Bunda Ara sudah ketemu, sekarang kita dalam perjalanan ke rumah sakit."


" Apa terjadi sesuatu dengan Ara El?"


" Iya bun, Ara terluka."


" Ya udah nanti kirim alamat rumah sakitnya, bunda akan menyusul ke sana."


" Baik bun, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Pasti sakit ya Ra, tahan sebentar lagi ya, sebentar lagi kita sampai.


Sesampainya dirumah sakit, Ara langsung ditangan ni oleh dokter.


Rafael menunggunya dengan cemas.


" Bapak keluarganya pasien yang bernama Ara?"


" Benar dok,"


" Saya minta persetujuan bapak, karena pasien kaki nya patah, kita harus melakukan tindakan operasi."


" Baik dok, lakukan yang terbaik ya dok, berapa pun biayanya asalkan dokter memberikan pengobatan yang terbaik untuk Ara."


" Tentu pak, kami akan melakukan yang terbaik."


" Terimakasih dok, oh iya boleh kah saya menemui Ara sebelum operasi dok?"


" Silahkan pak."


Rafael masuk ke dalam ruang rawat Ara, melihat kondisi Ara yang terbaring lemah, membuat Rafael tidak tega.


" Bagaimana keadaan mu?" tanya Rafael dengan lembut.


" Ara baik pak, terimakasih bapak sudah menyelamatkan Ara." Jawabnya dengan nada yang lemah.


" Ra bisa kah kamu berhenti memanggil ku bapak?"


" Lah kenapa pak?"


" Aku nggak suka, kalau kamu yang manggil kesannya aku jadi tua banget."


" Hehehe bapak memang sudah tua kan?"


Kamu masih bisa tertawa Ra ditengah rasa sakit yang kamu rasakan. Kamu memang keras kepala, kamu pasti tidak ingin membuat kita khawatir. Batin Rafael.


" Belum setua itu. Panggil mas saja ya."


" Rasanya jadi aneh pak, sudah terbiasa panggil bapak."


" Mulai sekarang biasakan panggil mas. Aku minta maaf Ra, tidak bisa menjaga mu dengan baik, maaf sudah terlambat menyelamatkan mu."


" Ehm, pak, eh mas maksudnya, Ara saja nggak nyangka loh mas mau mencari Ara. Terimakasih banyak sudah menyelamatkan Ara, kalau bapak nggak datang, Ara nggak tau apa yang akan mas Frans lakukan ke Ara."


" Berhentilah menyebut nama pria itu Ra, mulai sekarang berhentilah mengingatnya. Aku tidak mau hal ini terjadi lagi. Apa kamu masih mencintainya?"


" Entah lah pak, yang Ara tau saat ini Ara sangat kecewa dengan dia."


" Aku nggak mau dengar kamu menyebut namanya lagi."


" Baik pak, terimakasih."


" Berhentilah panggi pak Ra."


Ini pak El kenapa sih? nggak kesambet kan?


" Ya susah sudah kebiasaan, lagian bapak kan memang bos Ara."


" Berarti kalau bukan bos kamu, kamu mau panggil saya mas?"


" Mungkin."


" Mau nggak Ra jadi pacar saya?"


Ha!! ini aku nggak salah dengar kan? wah kayaknya tadi kepala pak El ke bentur sesuatu deh makanya omongan nya jadi ngelantur begitu, apa kepalanya tadi kena hantam mas Frans?


" Hah!!! apa pak? sepertinya Ara salah dengar."


" Aku mau kamu jadi pacar ku."


Baru juga patah hati, masih galau, malah ditembak dadakan. Ah pak El bikin bingung aja, mau nolak tapi dia sudah baik sudah nolongin kan jadi nggak enak, mau diterima, tapi aku belum siap untuk memulai lagi saat ini. Dia baik sih ganteng, walaupun kadang nyebelin. Tapi aku belum ada rasa.


" Jangan bercanda dengan Ara pak, Ara lagi malas bercanda."


" Kapan aku pernah bercanda dengan mu? apa lagi masalah perasaan."


" Ara belum siap menjalin hubungan lagi pak, ini masih terlalu menyakitkan buat Ara."


" Aku akan menunggu, aku akan menyembuhkan mu secara perlahan, percaya atau tidak itu terserah kamu, yang penting beri aku kesempatan, dan ingat lupakan laki - laki itu. Sekarang sudah bisa panggil mas kan?"

__ADS_1


" Belum, kan Ara belum menerima bapak."


" Baiklah aku akan menunggu."


" Ara!! kamu nggak papa kan?" Tanpa mengetuk pintu, Linda langsung masuk berlari dan memeluk Ara.


" Aw sakit mbak."


" Haduh maaf, sakit banget ya?"


" Ya begitulah mbak,"


" Semuanya sudah beres tom?" Tanya Rafael kepada Tomy.


" Beres bos."


" Sudah kamu patahkan tangannya?"


" Nggak sempat bos, polisi keburu datang, wanita itu tuh kelamaan ngamuknya dengan lelaki itu, sampai saya tidak punya kesempatan."


" Ya udah nggak papa, lain kali kalau ketemu lagi saja."


" Pak bos sudah makan? makan dulu yuk pak, dari kemarin pak bos belum makan kan?" Ajak Tomy.


" Nanti saja."


" Pak El, kita juga belum makan loh, Ara juga belum, pak El nggak mau gitu beliin makanan buat kita, kemarin buru - buru saya lupa bawa dompet pak." Protes Linda.


" Nih kamu aja yang beli, biar dianterin Tomy."


" Bilang aja mau berduaan dengan Ara pak. Ya udah deh karena pak El sudah membantu mencari Ara, kali ini aku maafin, jagain Ara yang bener, awas kalau sampai ilang lagi." Sindir Linda.


****


" Assalamualaikum," salam bunda Raina saat masuk ke kamar rawat Ara.


" Waalaikumsalam." Ara dan Rafael menjawab serentak.


Bunda Raina menangis melihat kondisi Ara.


" Pasti sakit ya nak? maafin bunda ya sayang bunda nggak bisa jagain kamu." Kata bunda Raina sambil membelai rambut Ara.


" Ini bukan salahnya bunda kok."


" El ini bunda bawakan baju ganti, cepetan mandi sana lihat tuh kamu lusuh banget."


" Terimakasih bunda, aku mandi dulu ya."


Saat Rafael sudah masuk ke kamar mandi.


Ara kembali memeluk erat bunda Raina sambil menangis.


" Ada apa sayang? cerita sama bunda, mana yang sakit, sini biar bunda usap - usap."


" Ara takut dan juga sakit bunda."


" Sekarang kan sudah ada bunda ada El juga, jangan takut lagi. Cerita sama bunda yuk? biar Ara lega."


" Saat Ara bertemu dengan mas Frans Ara seneng bun, karena selama ini jujur Ara masih merindukannya. Tapi rasa kecewa Ara juga masih ada karena dia bohongin Ara, makanya Ara nggak mau saat kemarin dia minta balikan, dia ingin menikah dengan Ara, dia minta diberi kesempatan. Tadi nya Ara ingin mempertimbangkan lagi, tapi setelah itu ada wanita yang datang, ternyata dia calon istrinya, dan mereka bercumbu di depan mata Ara bun, Ara merasa jijik dengan mas Frans, perasaan Ara hancur."


" Dan dia yang membuatmu begini? yang memukulmu sampai begini?"


" Iya bunda."


Rafael mendengarkan Ara bercerita kepada bunda dibalik pintu kamar mandi.


Gadis itu ternyata dari tadi menahan tangis dan rasa sakitnya di depan ku. Dia juga mengalami hal yang buruk dirumah lelaki itu, aku pasti akan membuat perhitungan dengan pria gila itu saat bertemu dengan nya, bisa - bisa nya dia membuat Ara sampai seperti ini.


" Mulai sekarang lupakan dia ya sayang, dia tidak baik untuk mu, dia tega menyakitimu sampai seperti ini. Bunda nggak mau kamu mengingat dia lagi."


" Iya bunda,"


" Kamu tidak memberi kabar ibu mu?"


" Nggak bunda, Ara takut ibu malah khawatir dan jadi kepikiran."


***


Di saat Ara tengah dibawa Frans, Sukma memberi tahu Aji.


Ini kenapa ya kok perasaan ku jadi nggak enak, dan aku kepikiran terus dengan mbak Ara.


Wuss buku tulis Aji terbalik dengan sendiri nya, lalu muncul tulisan ARA DALAM BAHAYA.


Ini pasti ulah Sukma. Aku harus keluar dulu untuk bertanya apa yang terjadi. Perasaan ku memang tidak pernah salah, apa yang sudah terjadi dengan mbak Ara?


Jam pelajaran tengah berlangsung, Aji meminta izin untuk ke toilet sebentar.


Sesampainya di dalam toilet Aji memanggil Sukma.


Tidak butuh waktu lama, Sukma langsung muncul di hadapan Aji.


" Uma apa yang terjadi dengan mbak Ara?"


" Aku juga tidak tau, tapi sama dengan mu aku merasa mbak Ara dalam bahaya."


" Coba aku telpon dia dulu."


Berkali - kali Aji menghubungi Ara dan juga Linda namun sama, tidak ada yang menjawab telponnya.


" Aku harus gimana uma? ini pasti ada yang terjadi dengan mbak Ara."


" Berdoalah, tenang dan jangan panik pasti Ara akan baik - baik saja. Sekarang fokuslah dulu dengan pelajaran mu, sambil menunggu kabar dari Ara."


" Baik lah, terimakasih uma."


" Tenang lah, jangan mudah panik semua akan baik - baik saja." Sukma menenangkan Aji, dengan senyuman manisnya.


Uma terimakasih, selalu mengingatkan aku untuk menjadi lebih baik. Senyuman mu nyatanya selalu ampuh untuk menenangkan ku.


Tak bisa aku pungkiri sekarang aku sering baper sama nih makhluk halus. Kenapa kamu cantik dan manis banget sih, baik lagi. Duh ternyata makhluk halus pun bisa meresahkan hati ku begini.


" Hey, kok malah melamun sih, sana balik ke kelas."


" Ah, oke, ya udah aku kelas dulu ya, terimakasih uma."


" Tuh anak kadang aneh deh." Gumam Sukma.


Dirumah Ara.


Firasat seorang ibu itu, banyak benarnya.


Dari kemarin perasaan ibu Lani memang sudah tidak tenang, ada rasa sedih, cemas dan gelisah.


Saat tengah bersantai dengan suami dan kedua anaknya bu Lani mengutarakan apa yang dirasakannya, dan ternyata Aji pun sudah merasakannya juga.


" Pak perasaan ibuk kok nggak enak ya pak? ada apa ini, dan kenapa ibuk kepikiran terus dengan Ara."


" Mungkin karena ibuk merindukan mbak Ara." Jawab Kia.


" Kia benar, bisa jadi ibuk terlalu memikirkan Ara." Imbuh Bapak.


Aji hanya terdiam, di dalam hatinya ia mengiyakan perkataan ibu nya, bahwa memang telah terjadi sesuatu dengan Ara. Namun Aji tidak berani mengungkapkannya, ia takut membuat semuanya khawatir, dan lagi dia juga belum tau pasti apa yang terjadi dengan Ara.


" Ibuk, sekarang kan sudah malem, ibuk istirahat saja dulu, besok pagi kita telpon mbak Ara ya."


Kata Aji.


" Iya Aji benar buk, kita istirahat dulu yuk, besok pagi kita telpon Ara untuk memastikan." Imbuh bapak.


" Baik pak."


Tinggal Kia dan Aji di ruangan itu.


" Dek kamu tau sesuatu ya?"

__ADS_1


" Kok mbak Kia tau?"


" Dari dulu kan memang kamu kalau soal mbak Ara pasti sensitive seperti ibuk, dan Kia juga merasa apa yang ibuk katakan tadi benar. Aku berkata seperti itu untuk menenangkan ibuk."


" Iya mbak, memang dari tadi perasaan Aji juga tidak nyaman, dan Aji sudah berusaha telpon mbak Ara dan mbak Linda tapi tidak di jawab. Semoga besok saat ibuk telpon mbak Ara, mudah - mudahan di angkat, biar ibuk tidak khawatir lagi."


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan mbak Ara?"


" Aku juga tidak tau mbak."


" Apa mungkin penyakitnya kambuh lagi?"


" Bisa jadi mbak."


" Tapi kok mbak Ara tidak memberi tahu kita?"


" Nggak tau juga mbak."


" Sudah malam, mbak ngantuk mbak tidur duluan ya dek."


" Iya mbak,"


***


Ara sudah keluar dari ruang operasi, Bunda Raina dan Rafael yang setia menemani Ara.


Linda tidak bisa menemani Ara, karena pekerjaan Linda banyak, dan mengharuskannya untuk segera kembali ke kota S, dan Tomy juga harus kembali ke perusahaan untuk bekerja. Sedangkan Rafael bisa bekerja dari rumah sakit.


" Bunda makan dulu ya, biar aku yang nungguin Ara, nanti gantian, bunda dari tadi belum makan loh."


" Melihat Ara begini bunda nggak nafsu makan El,"


" Nanti kalau bunda sakit, siapa yang mau merawat Ara bunda, Ara juga pasti sedih kalau bundanya sakit. Bunda tunggu sini, biar aku yang beli makanan buat bunda."


" Nggak usah El, bunda saja yang keluar sama sekalian bunda mau beli baju buat ganti, mau beli juga buat Ara, kemarin bunda buru - buru jadi lupa bawa baju ganti."


" Ya sudah bunda hati - hati ya."


" Iya sayang, kabarin kalau Ara sudah sadar yah."


" Iya bunda."


Ara menangis sambil berteriak ketakutan, mungkin di bawah alam sadarnya dia mengalami trauma karena kejadian kemarin.


Rafael menggenggam tangan tangan Ara.


" Ara hey bangun, tenang lah ada aku disini, kamu aman bersama ku, Ra, buka matamu."


" Hiks, hiks."


" Hey, kamu aman sekarang, ada aku disini tenang ya."


Setelah beberapa menit berlalu Ara sudah agak tenang.


" Pak bunda mana?"


" Bunda lagi keluar cari makan, ada perlu apa? bilang sama aku juga sama saja."


" Nggak kok pak, aku hanya tidak enak hati saja sudah merepotkan bapak sama bunda. Padahal Ara datang kan untuk kerja."


" Tuh tau, makanya biar nggak merepotkan menikah lah dengan ku."


" Apaan sih bapak, bercanda mulu ih."


" Aku serius Ra, siapa tau kamu nggak mau jadi pacar ku tapi mau jadi istriku, bukan kah wanita itu suka kepastian?"


" Iya sih pak, tapi ya jangan nikah sekarang juga, Ara masih sakit."


" Berarti kamu mau?"


" Nanti Ara pikir - pikir dulu ya pak."


" Dasar kamu, iya jangan lama - lama. Nih hp kamu dari tadi bunyi terus, ibuk kamu nelpon tapi aku nggak berani angkat, takut salah omong."


" Terimakasih pak, aku telpon ibuk dulu ya pak, tapi bapak diem aja ya?"


" Iya."


Ara menghubungi ibu nya balik, karena pasti ibunya khawatir telpon dia berkali - berkali tapi tidak di angkat.


" Halo buk assalamualaikum."


" Waalaikumsalam Ra, kamu kenapa nggak angkat telpon ibuk sih Ra. Ibuk telpon kamu dari pagi loh."


" Buk ibuk lupa ya? kan Ara lagi kerja buk, jadi hp nya Ara tinggal dikamar, ada apa buk?"


" Duh maaf ya Ra, ibuk nggak kepikiran, soal nya dari kemarin perasaan ibuk nggak enak, ibuk takut kamu kenapa - napa."


" Iya buk, nggak papa, ibuk sehat?"


" Sehat Ra, kamu sendiri gimana nak?"


" Ara juga sehat buk."


" Syukurlah kalau begitu, ibuk jadi tenang, ya udah kalau lagi kerja, maaf ibuk ganggu, jaga kesehatan ya Ra."


" Iya buk, ibuk juga. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Maaf ya buk, Ara terpaksa bohong, Ara takut ibuk jadi kepikiran, maaf ya buk, nanti kalau Ara sembuh, Ara akan pulang.


Setelah panggilan dari bu Lani berakhir, dan panggilan baru masuk dari Aji. Kali ini vidio call.


" Haduh gimana nih, adek mau vidio call lagi." Ara panik.


" Angkat saja." Kata Rafael.


" Ya nanti dia tau dong pak, aku dirumah sakit." Jawan Ara.


" Kalau dia seperti mu, dia nggak akan bilang, pasti dia juga mikirnya sama seperti kamu, jawab saja."


Ara pun menjawabnya sesuai perkataan Rafael.


" Halo dek assalamualaikum." Sapa Ara.


" Waalaikumsalam mbak. Mbak nggak papa kan? itu kenapa muka cantiknya jadi begitu? pasti sudah terjadi sesuatu ya?"


" Iya dek, tapi udah nggak papa kok."


" Kok bisa kaya gitu sih mbak? siapa yang membuat mbak kaya gitu?"


" Mas Frans dek, tapi jangan bilang ibuk ya?"


" Dia lagi, dia lagi, kenapa dia seneng banget menyiksa mbak sih, apa selama ini masih kurang. mbak masih di rumah sakit ya?"


" Iya habis operasi dek, kaki mbak patah."


" Ya Allah mbak, kok bisa sih sampai separah itu, aku nyusul ke sana ya mbak?"


" Jangan lah dek, nanti ibuk malah tau, besok saja kalau mbak sudah membaik, mbak akan pulang."


" Tapi siapa yang jagain mbak di sana?"


" Tenang aja dek, ada bunda sama pak El, mereka baik sama mbak."


" Syukurlah mbak kalau begitu, cepat sembuh ya mbak, maaf aku nggak bisa jagain."


" Nggak papa ganteng, kamu fokus belajar saja ya, mbak baik - baik aja kok. Bentar lagi juga pasti sembuh."


" Pasti sakit banget ya mbak?"


" Nggak terlalu kok, mbak kuat kok, kamu jangan khawatir ya?"


" Iya mbak, ya udah mbak istirahat ya, hati - hati di sana ya mbak, kalau nggak ada yang jagain mbak pulang aja nanti aku jemput."

__ADS_1


" Iya ganteng, terimakasih, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


__ADS_2