Pemuja Pembawa Petaka

Pemuja Pembawa Petaka
Tamu 2


__ADS_3

" Sudah, ini kenapa jadi pada ribut sih. Jadi gimana bah, apa Ara bisa disembuhkan?" tanya bunda Raina.


" Kalau Allah menghendaki pasti bisa buk, nak Ara bisa mengaji?"


" Bisa bah," jawab Ara.


" Sekarang Ara pakai mukena dulu, kita akan meruqyah kamu."


" Baik bah."


Abah Ismail, ustad Agus, Rafael dan bunda Raina duduk melingkari Ara. Bersama - sama mereka membacakan ayat - ayat suci Al Qur'an.


Tubuh Ara terasa panas, dan sekujur tubuhnya terasa sakit luar biasa.


Ara menangis karena tidak kuasa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


" Uhuk, uhuk." Ara batuk serta memuntahkan banyak darah. Ara pingsan dan jatuh di pangkuan Rafael.


Bunda Raina menjadi panik, begitu juga Rafael namun sikapnya yang dingin mampu menutupi kepanikan dan kekhawatirannya pada Ara.


" Astagfirullah Ara, abah ini bagaimana? kenapa Ara muntah darah banyak sekali."


" Tenang buk, tidak apa - apa itu malah bagus, berarti memang kiriman ilmu gaib yang ada di badan nak Ara bisa keluar, namun ini belum sepenuhnya, nak Ara masih harus di ruqyah terus. Sihir yang dikirim ini memang sudah merasuk cukup dalam buk. Jadi wajar saja kalau membuat nak Ara sampai seperti ini."


" El bawa Ara ke kamarnya," perintah bunda Raina.


" Baik bunda."


" Terimakasih bah sudah mau menolong Ara, Ara itu sudah saya anggap sebagai putri saya." Kata bunda Raina.


" Sama - sama buk, saya senang jika bisa menolong Ara, oh iya ini saya bawa ketan hitam tolong nanti disangrai dan di tumbuk, lalu di seduh dan tolong suruh Ara meminumnya."


" Baik bah,"


" Lusa saya akan kesini lagi untuk memastikan keadaan Ara."


" Baik bah, saya sangat senang abah bisa membantu Ara, sekarang abah dan ustad mari kita makan dulu."


" Jadi merepotkan ibuk ini."


" Saya tidak merasa seperti itu bah, saya senang bisa menjamu abah, tapi ya cuma seadanya."


" Terimakasih buk, ini sudah lebih dari cukup."


Rafael tidak ikut makan bersama, ia menunggu Ara di kamarnya hingga siuman.


" Eh bapak, maaf Ara merepotkan lagi, dan terimakasih."


" Makanya cepat lah sembuh agar tidak merepotkan."


" Iya pak."


" Masih sakit?"


" Sedikit pak, cuma lemas saja, bentar lagi juga sudah sembuh."


" Bagus kalau begitu."


Mbok Yem datang membawa segelas teh hangat untuk Ara.


" Ini nduk diminum dulu."


Ara berusaha bangun untuk duduk namun agak sulit, Rafeal yang tidak tega melihatnya akhirnya membantunya.


" Terimakasih pak."


Mbok yem menyodorkan segelas teh, melihat Ara yang masih lemas, ia membantu Ara memegangi gelasnya.

__ADS_1


" Terimakasih mbok, maaf Ara jadi merepotkan."


" Tidak nduk, simbok tidak merasa seperti itu."


Ustad Agus datang ke kamar Ara.


" Bagaimana keadaan mu Ra?" tanya nya.


" Sudah lebih baik ustad," jawabnya dengan senyuman manisnya.


Kenapa aku tidak rela saat melihat Ara tersenyum seperti itu kepada laki - laki lain. Batin Rafael.


" Bagus kalau begitu, nih nanti kamu taburkan di sekeliling tempat kamu tidur, tidur dibawah lebih baik."


" Baik, terimakasih ustad, terimakasih banyak."


" Sama - sama, senang bisa membantumu, oh iya tapi nanti jangan kaget ya kalau melihat ada banyak macan di sekitar kamu tidur, mereka akan membantu menjagamu dan menangkal hal gaib jika mereka mengirimnya lagi."


" Baik tad, terimakasih sekali lagi."


" Dan jangan lupa di pertimbangkan apa yang tadi saya katakan, saya serius ingin menikah dengan mu."


" Baik."


" Ya sudah saya sama abah mau pamit dulu, lusa kita akan ketemu lagi."


Ara ingin turun dari ranjang, namun di cegah sama Rafael.


" Mau kemana?"


" Mau antar ustad sama abah kedepan pak."


" Kamu disini saja, kamu masih lemas, biar saya yang mengantar."


" Tapi pak."


" Waalaikumsalam."


" Nampaknya kita harus bersaing El." Kata ustad Agus.


Rafael paham apa yang dikatakan ustad Agus.


" Dia akan menjadi milikku. Kamu jangan berharap."


" Hahahaha, masih belum tau hasil akhirnya, belum tentu dia mau sama kamu."


" Hem, liat saja nanti."


" Kalau dia memilihku kamu jangan sakit hati."


" kamu sebaliknya juga begitu."


" Hahaha."


Ustad Agus adalah sahabat Rafael dulu di pesantren, mereka seumuran. Mereka juga belajar bareng, namun Rafael memutuskan untuk keluar dari pesantren dan belajar bisnis untuk meneruskan perusahaan milik keluarganya.


Sedangkan Agus, memilih tetap di pesantren dan menjadi ustad membantu abah mengajar di pesantren.


***


Dikamar Ara.


" Sepertinya den El suka sama nduk Ayu."


" Simbok ini bisa aja, mana mungkin mbok, dia seorang pengusaha sukses pasti banyak lah kenalan dia sesama pengusaha yang lebih cantik, lha Ara ini siapa? cuma gadis desa."


" Simbok sudah lama ikut ibuk Raina, dari simbok masih muda, dan den El masih kecil. Simbok hafal betul sikap dan sifatnya. Nduk ayu pingsan tadi, dia sangat khawatir, nungguin nduk ayu disini hingga nduk ayu siuman, dia juga sampai tidak ikut makan loh nduk."

__ADS_1


" Masak sih mbok?"


" Iya."


" Ya udah biar nanti Ara saja yang mengantarkan makanannya ke kamar pak Rafael mbok."


" Tapi nduk ayu masih sakit kan?"


" Ara nggak sakit mbok, Ara nggak papa, cuma lemas saja tadi sekarang sudah nggak papa."


" Ya sudah simbok siapkan dulu makanannya."


" Nggak usah mbok, biar Ara saja."


Ara segera beranjak dari tempat tidur menuju ke dapur ditemani mbok Yem.


Ternyata di sana sudah ada bunda Raina.


" Eh sayang kamu nggak papa kan? ada yang sakit?"


" Nggak kok bunda, Ara baik - baik saja, badan Ara juga rasanya lebih enakan."


" Syukurlah, bunda ikut senang."


" Oh iya bunda sudah makan?"


" Sudah tadi bareng sama abah sama ustad, ini bunda menyiapkan makanan buat El."


" Bun, em,"


" Ada apa Ra?"


" Itu,,,"


" Itu buk, nduk ayu yang mau mengantarkan makanannya den El ke kamarnya."


" Benar Ra?"


" Iya bun, apa boleh?"


" Boleh, boleh sayang, nih sudah siap tinggal Ara antar ke sana."


" Terimakasih bunda. Oh iya bunda istirahat saja, biar nanti piring kotornya Ara yang beresin. Ara antar ini dulu ya bun."


" Iya sayang."


" Buk, biar piring kotornya simbok saja yang beresin. Ibuk silahkan istirahat."


" Sudah berapa kali saya bilang mbok, jangan panggil saya ibuk, panggi saya Raina saja, anggap saja saya ini anak ibuk."


" Tapi saya nggak enak buk."


" Ya sudah panggi saya nduk saja, sama seperi simbok manggil Ara."


" Baik lah."


" Oh iya, simbok tolong bereskan ini, aku mau menyangrai ketan hitam ini dulu buat obat Ara ya mbok."


" Iya nduk, nduk ayu itu orang yang baik,"


" Iya mbok, saya senang jika Rafael bisa mendapatkan istri seperti Ara."


" Simbok lihat sepertinya den El tertarik dengan nduk ayu."


" Sepertinya juga begitu mbok, aku harap Ara juga bisa membuka hatinya buat El."


" Seiring berjalanya waktu pasti bisa nduk, karena den El juga laki - laki yang baik."

__ADS_1


" Kita doakan saja mbok."


__ADS_2